
"Widya mau pindah ngajar disini, gue udah bilang sama pak Fathur" ucap Arga pada Salma saat mereka sedang makan siang di common room.
"Ehh seriusan, Ga? Lo ga bercanda kan?"
"Enggaklah, apa untungnya coba gue bohongin lo" Arga menyuap sesendok makanan ke mulutnya. "Daripada nyari gue lain, Widya juga bilang pengen pindah sekolah dan ngelepasin murid lesnya, yaudah gue suruh dia aja kesini"
"Yeaaayyyyy... akhirnya ngumpul juga sama Widya" mata Salma berbinar dengan senyum yang terkembang lebar.
"Kalian disini bukan buat nongkrong, tapi buat kerja"
"Yeeee... sirik aja lo! Lagian kenapa? Nisa juga cocok kok sama Widya, lo tenang aja" Salma mengelap mulutnya dengan tisu. "Ehh, Nisa ga makan siang nih jadinya?"
"Enggak tau, tadi bilangnya masih perjalanan sama bu Retno"
"Jadi gimana hubungan kalian?" goda Salma.
"Apanya?"
"Yaaaa... hubungan kalian setelah resmi pacaran hehehehe" Salma menaik turunkan kedua alisnya.
"Kepo lo!"
"Ahhh sialan lo, ga asik deh. Awas aja kalo ntar curhat-curhat ke gue ya" ancam Salma dengan mengarahkan jari telunjuk kepada Arga.
Arga tertawa. "Lo gampang senewenan sekarang. Abis honeymoon itu harusnya happy, Sal"
"Ga nyambung tau, Ga"
"Nyambunglah. Tuh kan, gue cuma bilang gitu aja lo udah manyun. Harusnya gue yang tanya lo kenapa?"
"Gue? Enggak kenapa-napa"
Arga mengangguk. "Oiya Sal, dulu... Adit kalo jemput lo mau kencan, ketemu orangtua lo dulu ya?"
"Emang kenapa?"
"Gue sebenarnya agak malu untuk selalu ketemu orangtua Nisa. Gue takut dikasih pertanyaan aneh-aneh yang nantinya gue ga bisa jawab"
"Hahahahaha... mereka gitu karena itu cara mereka untuk lebih mengenalmu, Ga"
"Tapi tetep aja, gue takut Sal. Kalo gue datengnya telat aja gimana? Jadi Nisa udah siap, pas gue dateng, kita tinggal langsing jalan gitu"
"Itu justru akan mengurangi penilaian orangtua Nisa ke elo, Ga. Enggak on time, trus juga ga mau ketemu orangtua Nisa sama dengan ga ngehargain mereka. Meskipun maksud lo bukan kayak gitu, tapi penilaian orangtua selalu punya jalan sendiri kan? Kalo lo berani macarin Nisa, harusnya lo juga berani buat ngadepin orangtuanya Ga. Gimana pun juga, mereka kan juga itungannya calon mertua hehehehe"
__ADS_1
Arga tersenyum malu. Ia menggelengkan kepalanya sambil menunduk.
"Lo serius kan sama Nisa? Ga cuma buat seneng-seneng doang?" tanya Salma dengan menatap tajam Arga.
"Emang gue ada tampang cowok jahat gitu?"
"Awas aja kalo lo mempermainkan Nisa, gue orang ketiga yang akan maju setelah ayah dan bundanya"
"Hahahaha kirain lo bakal jadi orang yang pertama"
"Hahahahaha... enggaklah, mereka yang lebih berhak marah dibanding gue" Salma tersenyum menatap Arga. "Ga usah takut kalo mau ketemu orangtua Nisa, yang penting jawab jujur aja. Mending lo terlihat ***** daripada harus bohong sama orangtua. Iya kan?"
🎎
"Sep, nanti mampir ke Pearl Garden bentar ya. Saya mau ambil barang disana" kata Salma saat baru saja masuk ke dalam mobil.
Mobil itu kemudian melaju meninggalkan sekolah tempat Salma bekerja. Melaju menuju tempat yang diminta Salma.
"Agak macet ini, mbak"
"Gapapa Sep, santai aja. Saya ga lagi buru-buru kok" jawab Salma sambil tetap terfokus pada ponselnya.
"Udah cari-cari info soal universitas, Sep?"
"Nanti ngobrol-ngobrol aja sama mas Adit baiknya ambil jurusan apa. Mas Adit bilang nanti kamu mau dimasukin ke kantornya"
"Yaahhh... jadi ngerepotin gitu dong, mbak"
"Enggak, kan cuma bantuin kamu biar nanti punya batu loncatan. Barangkali kamu pengen pindah ke perusahaan lain kan? Jadi udah ada pengalaman kerja"
"Saya ga masalah kalo harus seumur hidup terikat kerja di kantor mas Adit kok, mbak hehehehe"
"Pindah aja. Nanti habis dari kantor mas Adit trus pindah ke kantor papa saya hahahaha... Nantinya juga itu bakal dimerger jadi satu perusahaannya, jadi yang pegang mas Adit semua"
"Kenapa enggak mbak Salma aja?"
Salma menggeleng. "Saya ga mau pusing, Sep. Enakan jadi guru, ada libur pastinya tiap tahunnya hahahahaha"
"Iya sih mbak, kalo pegawai kan liburnya sesuai kalender hehehehehe"
Sesampainya di tempat tujuan, Asep segera memarkir mobilnya di parkiran basement.
"Tunggu bentar ya, Sep. Saya ambil barangnya dulu, bentaran doang kok. Kalo lama ya maaf, pasti karena lupa naruhnya dimana hehehehe" Salma merapikan isi tasnya, bersiap untuk keluar dari mobil.
__ADS_1
"Oke mbak, santai"
🎎
Setelah menekan passcode dan membuka pintu, Salma segera masuk ke apartemennya. Dahinya berkerut sesaat melihat apartemen itu sepertinya sedang berpenghuni.
"Masa iya salah masuk unit? Tapi tadi masukin passcodenya bener kok" gumam Salma.
Ia meletakkan tasnya di sofa ruang tamu, lalu mengedarkan matanya disetiap penjuru ruangan. Terdapat beberapa jejak sang penghuni. Bantal sofa yang tertumpuk disalah satu sudut sofa, beberapa piring kotor dibak cuci, serta gelas bekas diminum pada meja makan.
Salma melangkahkan kakinya menuju kamar dan mendorong pintu yang tertutup separuh itu. Terdengar suara gemericik air dari kamar mandi.
"Mas Adit?" gumam Salma.
Matanya masih tetap melihat ke sekeliling ruangan. Kamarnya masih tetap rapi, hingga matanya terasa memanas ketika pandangannya tertuju pada benda diatas meja di dekat lemari baju. Sebuah tas wanita berwarna hitam ada disana. Lalu terdapat blazer wanita di sofa sebelah meja.
Saat Salma sedang bergelut dengan pikirannya yang rumit, menebak segala kemungkinan yang tengah terjadi di apartemen ini, sesosok wanita keluar dari kamar mandi dengan mengenakan bathrobe dan handuk dikepalanya.
Sama halnya dengan Salma, wanita tersebut juga terkejut ketika melihat Salma yang tengah berdiri di ambang pintu kamar.
"Salma?"
"Kak Tya?"
Ucap keduanya secara bersamaan.
"Eehhh, maaf kak ngeganggu" Salma mencoba mencairkan suasana yang kaku itu. "Aku... kesini karena mau ambil sepatu yang aku tinggal disini" sambung Salma.
"Ooohhh... oke, Sal. Maaf ya, aku ga tau kalo kamu kesini. Aku juga lagi di kamar mandi, jadi ga denger pas kamu lagi masuk"
Salma mengangguk. "Gapapa kak, aku... aku mau ambil sepatunya dulu ya kak"
Salma segera melangkahkan kakinya mendekati lemari baju, lalu menarik kardus sepatu yang ia letakkan diatas lemari. Saat ia berbalik, ia melihat sebuah koper berukuran sedang yang terbuka disamping tempat tidur, memperlihatkan isi koper yang berisi pakaian lengkap dengan jumlah yang cukup banyak.
Ia mencoba mengatur nafas dan emosinya sebelum akhirnya melangkahkan kakinya keluar dari kamar. Salma mendapati sosok Tya yang sedang berdiri di depan kulkas dengan memegang sebuah gelas bening.
"Mau minum dulu, Sal?" tanya Tya sambil tersenyum.
"Enggak usah, kak. Aku... langsung aja ya"
Tya mengangguk. "Oke deh Sal, hati-hati di jalan ya"
Salma mengangguk dan tersenyum, lalu berjalan menuju sofa ruang tamu dan mengambil tasnya. Dengan langkah berat, ia melangkahkan kakinya keluar dari apartemennya dengan segala pertanyaan yang terus terngiang dipikirannya. Dadanya begitu sesak, matanya langsung berair dan tak dapat ditahan untuk tidak menetes keluar.
__ADS_1
Untuk apa wanita itu tinggal disana? Dia bahkan tidak merasa sungkan saat sang nyonya rumah datang berkunjung. Justru malah Salma yang merasa sungkan untuk berlama-lama disana.