MENIKAH

MENIKAH
S2 - Bali (3)


__ADS_3

Happy reading 😊


***


Melarikan diri bukanlah sesuatu yang mudah. Sejauh mana kau berlari, pasti akan diketemukan juga. Sama halnya dengan Rayyan dan Zahra, mereka telah berjalan sejauh mungkin dari toko tempat mereka dan Nadine sebelumnya bersama, namun Nadine dapat menemukannya. Mungkin karena Nadine menyadarinya dengan cepat, sehingga dapat langsung mengejar kemana perginya sang mantan kekasihnya itu.


"Kenapa aku ditinggalin sih?" Nadine menggerutu sambil memukul lengan Rayyan yang tengah membantu Zahra memilihkan tas anyam. Bibirnya juga tampak cemberut layaknya anak kecil yang sedang kesal.


Zahra memutar malas bola matanya. Bagaimana bisa ia sudah harus langsung berurusan dengan rubah licik disaat sedang seharusnya ia menikmati masa indahnya berpacaran yang baru resmi beberapa hari.


"E-enggak, kita enggak ninggalin. Kamunya aja yang enggak denger pas kita panggil-panggil tadi." jawab Rayyan dengan santai.


"Tasnya bagus!" raut wajah Nadine langsung berubah sumringah saat memandangi sebuah tas anyam yang Rayyan pegang.


"Apa tante Salma tertarik dengan tas ini? Mungkin saja aku bisa membelinya empat sekaligus, jadi mama kita, aku dan juga Eowyn memiliki tas yang sama." imbuhnya dengan menampilkan senyum lebar dan wajah sumringahnya.


Oh ya Tuhan!


Nadine memang benar-benar terlalu kepedean. Zahra tahu bahkan sejak dua tahun berteman akrab dengan Eowyn dan sering main ke rumahnya, tak sekalipun dari mereka menyinggung kedekatannya dengan Nadine. Eowyn bahkan pernah bercerita jika mereka anti membicarakan Nadine karena Rayyan yang selalu tidak menyukai topik pembicaraan itu. Tapi sekarang wanita ini malah bersikap seolah-olah sudah menjadi seseorang yang dekat saja!


"Tidak! Tas ini untukku dan juga Eowyn." Zahra berucap ketus sambil mengambil alih tas yang masih dipegang Rayyan. "Kalo kak Nadine mau, pilih saja yang lain."


"Ya ampun, Zah. Kamu enggak perlu berlebihan kayak gini. Kalo memang aku mau beli untuk tante Salma, aku akan beli tas yang lebih mahal dan bermerk dibanding tas ratusan ribu ini." cibir Nadine dengan menatap sinis ke arah Zahra.


"Ahhh, syukur deh kalo gitu." Zahra bergegas meninggalkan tempat mereka sedang berdiri dan berjalan menuju meja kasir.


Sementara Rayyan, nampak kebingungan. Bagaimana bisa ia dihadapkan dengan.situasi seperti ini? Ini sudah seperti mengajak jalan dua istri yang kemudian saling berebut perhatian darinya.


Tidak... Tidak....


Tidak ada dua istri. Untuk mendapatkan seorang Zahra saja ia sampai harus menurunkan harga dirinya pada Rafa. Rayyan tak akan mau lagi berurusan dengan adik bungsunya itu lagi untuk urusan percintaan.


"Aku akan temenin Zahra ke kasir dulu."

__ADS_1


"Rayyan!" Nadine menarik lengan kaos Rayyan saat Rayyan akan berbalik badan untuk meninggalkannya.


"Kenapa sih harus ngurusin dia? Kamu kan bosnya dia!"


Rayyan melepaskan cengkeraman tangan Nadine pada kaosnya dengan perlahan. "Maaf, Nadine."


Rayyan buru-buru pergi meninggalkan Nadine dan menghampiri Zahra yang tengan mengantri di kasir. Jika dulu Rayyan tidak mengalami kesulitan saat berpacaran dengan Nadine, namun kini ia benar-benar kelimpungan untuk menghadapi Zahra. Yah, mungkin karena telah lama Rayyan tidak menjalin hubungan dengan siapa pun. Jadi skill-nya menjadi tumpul dan tak semahir Rafa, yang begitu ahli dengan berbagai karakter perempuan.


***


Zahra melangkahkan kakinya memasuki lobi hotel dengan kesal. Semua rencana kencan yang telah disusun Rayyan tidak ada yang berjalan. Bahkan hanya untuk sekedar berjalan di pantai sambil bergandengan tangan dan menikmati sunset pun tidak bisa mereka lakukan.


Nadine terus mengekor dan mencari perhatian dari Rayyan. Dirinya bahkan harus terus tergeser karena Nadine yang ingin selalu berada di dekat Rayyan. Menahan segala amarah yang menumpuk didadanya, Zahra hanya diam saja sepanjang perjalanan tadi.


Memasuki lift hotel, Rayyan dengan sengaja langsung mendesak Zahra ke pojok meskipun hanya beberapa orang saja yang berada dalam lift itu. Jemarinya segera bertaut dengan jemari Zahra, menggenggamnya dengan erat tak peduli jika Nadine berada disebelahnya.


"Rayyan, kayaknya aku harus ke lantai delapan. Temanku sudah berada disana, jadi aku ingin menyapanya." Nadine tiba-tiba berucap setelah sedari tadi terfokus pada ponselnya.


Rayyan hanya menjawabnya dengan anggukan dan senyuman.


Lagi-lagi Rayyan hanya menganggukkan kepalanya. Rayyan tidak peduli, ia hanya ingin segera menyelesaikan permasalahannya dengan Zahra secepat mungkin.


Pintu lift terbuka tepat di lantai kamar mereka bertiga, Rayyan dan Zahra keluar. Sedangkan Nadine tetap bertahan karena akan pergi menemui temannya.


Dengan langkah besarnya, Rayyan mengikuti Zahra yang telah buru-buru kabur darinya. Sesaat setelah Zahra membuka pintu kamarnya, Rayyan menerobos masuk ke dalam kamar saat Zahra akan menutupnya.


"Kak Rayyan ngapain sih? Keluar sana, aku mau istirahat." Zahra mencoba mengusir Rayyan dengan mendorong tubuh Rayyan yang berada di depannya.


"Siapa yang kasih kamu ijin panggil aku 'kak'?" geram Rayyan sambil mencengkeram kedua lengan Zahra.


"Yaudah, aku panggil 'Pak' aja!"


"Memangnya kita lagi ada di kantor? Kamu inget kan kamu cuma boleh panggil aku apa?"

__ADS_1


"Iyaaaa.... Udah deh kamu keluar aja, aku mau istirahat." Zahra masih terus meronta dari cengkeraman Rayyan, namun tak membuahkan hasil.


Rayyan masih mencengkeram kedua lengannya dan mendesaknya hingga membentur tembok dibelakangnya.


"Kamu cemburu kan?"


"Enggak ada pertanyaan lain? Dari siang tanyanya itu mulu." Zahra mendengkus kesal sambil memalingkan wajahnya.


"Liat aku, Zah." Rayyan melepaskan cengkeramannya, saling berpandangan dengan Zahra sebelum akhirnya mengambil tas belanjaan yang masih dipegang Zahra dan meletakkannya di lantai.


"Zah... aku udah sering bilang ke kamu aku enggak ada perasaan apapun sama Nadine. Aku cuma cinta sama kamu. Kalo ada wanita lain yang aku cintai dan sayangi, bisa aku pastikan kalo itu adalah mama sama Eowyn."


Rayyan menjeda perkataannya, mengamati ekspresi wajah Zahra yang tak menampakkan lagi wajah marahnya.


"Jangan marah kayak gitu lagi, Zah. Aku bukan Rafa yang punya berjuta untuk menenangkan wanitanya. Jadi kalo ada apa-apa kamu harus-"


"Ya usahalah, Rafa aja bisa. Kenapa kamu enggak menimba ilmu aja sama Rafa?" Zahra sengaja bergumam, menyela Rayyan yang belum selesai dengan kalimatnya.


Rayyan menatap Zahra yang kini menundukkan kepalanya dan tampak seperti sedang merajuk.


"Aku tau kamu berusaha nutupin hubungan kita dari Nadine, tapi kamu kurang tegas sama dia. Kamu masih aja berusaha ngejaga perasaannya biar enggak tersinggung."


"Zah...."


"Aku bener kan?" Zahra mendongakkan kepalanya, menatap Rayyan yang justru tersenyum saat ia sedang meluapkan kekesalannya.


"Seharian ini kamu banyak bicara, Zah." ucap Rayyan sebelum akhirnya menelusupkan satu tangannya pada leher dan pinggang Zahra, dan menyatukan bibirnya pada bibir Zahra.


Let the angry word be answered only with a kiss.


***


Hiyaaaa... semalem pada nyariin ya? Hahahaha... pede amat! 🤣🤣🤣 Maaf kemarin enggak up karena sibuk ngedonat dan ngebrownies karena banyak pesenan, jadi hari ini up-nya didobel deh ya hehehehehe....

__ADS_1


Vote-nya jangan lupa, nanti kalo masuk 100 besar aku kasih crazy up hehehehehe... 🙏😘


__ADS_2