MENIKAH

MENIKAH
S2 - Menagih


__ADS_3

Happy reading 😊


***


Rapat sore itu berjalan lancar, seperti biasanya. Yang berbeda, sore ini semua orang yang ikut rapat menyalami dan memberikan ucapan selamat pada Rayyan dan Zahra. Tentu saja hal itu disambut baik oleh Rayyan. Terlebih memang suasana hatinya sedang bahagia sejak kemarin. Rayyan bahkan tidak marah saat harus menunggu salah seorang anggota divisi yang kehilangan file-nya dan harus mencari copian file didivisinya.


Pernikahan mereka yang akan berlangsung bulan depan tentu saja menjadi perbincangan hangat dikalangan karyawan. Tak jarang komentar negatif itu datang dan memojokkan Zahra. Namun bukan Rayyan jika menanggapi hal tersebut dengan serampangan, Rayyan justru terlihat santai dan berkali-kali menenangkan Zahra agar tidak terlalu memikirkan gosip itu.


"Lagian ngapain sih dipikirin terus? Toh mereka ngomongin kamu juga enggak pada mikirin perasaan kamu kan?" komentar Rayyan dengan santai.


Diperjalanan pulang sore itu, lalu lintas cukup padat dan mengharuskan Rayyan memperlambat laju mobilnya. Sejak keluar area kantornya tadi, Zahra terus menggerutu perihal gosip kehamilannya yang menyebar dikalangan karyawan. Karena gosip itulah yang membuat para karyawan berspekulasi jika pernikahan ini diadakan secepat mungkin agar perut Zahra tidak keburu membuncit.


"Gara-gara kamu sih pas di Bali itu pake tidur sekamar sama aku. Coba aja kalo kamu bisa nahan diri, pasti gosip ini enggak akan ada?" Zahra kembali menggerutu. Jika Rayyan begitu bahagia dengan pertunangannya, Zahra justru merasa tertekan dengan banyaknnya komentar miring kepadanya.


"Siapa yang bisa menjamin? Misal aku enggak tidur sekamar sama kamu waktu di Bali itu, apa kamu pikir gosip soal kehamilanmu ini bakal enggak ada?" Rayyan melirik ke arah Zahra sekilas, menatap gadis yang kini resmi sebagai tunanangannya itu sedang terlihat kesal.


"Aku yakin gosip akan tetap ada, sayang. Gosip bahwa kamu menggodaku selama bekerja misalnya." Rayyan tersenyum nakal ke arah Zahra.


"Cih, siapa pula yang menggoda? Yang ada juga aku yang digoda!" Zahra semakin menggerutu namun justru membuat Rayyan semakin terkekeh.


"Udahlah, gosip itu akan menghilang seiring berjalannya waktu. Mereka nanti juga akan menemukan jawabannya sendiri dengan menghitung jumlah bulan saat kamu melahirkan nanti. Seperti itu kan yang netizen sering lakukan dimedia sosial?"


"Kamu mah enak enggak ada yang berani gosipin. Dari kemarin aku mulu yang kena getahnya."


"Hahahahaha... ya terus mau kamu gimana? Apa aku hamilin kamu aja sekalian terus aku bikin pengakuan biar langsung kelar itu gosipnya." ucapan Rayyan ini langsung mendapat hadiah pukulan dilengannya.

__ADS_1


"Jangan sembarangan kalo ngomong."


"Ya lagian kamu suka banget mikirin omongan orang-orang. Mereka juga enggak akan mau denger penjelasan kamu, sayang. Jadi ya udahlah, kamu enggak usah terlalu mikirin. Nanti kalo mereka udah dapet gosip baru juga kamu dilupain, iya kan?"


Zahra mengangguk samar, membenarkan apa yang dikatakan oleh Rayyan. Sebenarnya memang ia tidak ingin terlalu memusingkan gosip yang beredar ini. Namun ia juga merasa kesal karena dirinya yang selalu menjadi sasaran komentar negatif. Padahal selama ini bos merekalah yang selalu menggodanya.


"Kita makan malam di rumahmu ya? Aku kangen masakan bunda." ucap Rayyan sembari mengusap rambut Zahra yang masih terlihat kesal itu dengan tangan kirinya.


Zahra kembali mengangguk, sebelum akhirnya ponsel Rayyan berdering dan menampilkan nama Rafa disana.


***


Waktu hampir menunjukkan pukul sepuluh saat Rayyan tiba di rumah. Setelah menikmati makan malam dan bercengkerama dengan keluarga Zahra, Rayyan meminta izin untuk pulang. Mendorong pintu kamarnya yang tidak tertutup rapat, Rayyan menghela nafasnya saat dugaannya tentang sosok yang menungguinya di kamar benar adanya.


"Kayak enggak ada hari esok aja sih, Fa." dengus Rayyan dengan kesal begitu memasuki kamarnya.


"Laahhh, enggak gitu, Bang. Bussines is bussines, Bang. Meskipun kita serumah, tapi Rafa akan pastiin kalau semuanya akan selesai sesuai dengan janji abang." jawab Rafa sambil tersenyum dan menaik turunkan alisnya.


"Lo udah cocok jadi dept collector, mungkin sebaiknya lo ngelamar kerja dibagian itu aja." sindir Rayyan saat adiknya itu mulai mengekorinya ke meja kerjanya.


"Hahahahaha... abang ngelucu atau gimana? Lagian ya Bang, mana ada sih dept collector yang ganteng kayak gue?"


Rayyan hanya menggelengkan kepalanya, ia hanya terlalu malas untuk menimpali Rafa jika mulai keluar sifat narsisnya ini. Rayyan menarik laci mejanya, mengeluarkan sebuah kunci disana disusul oleh sebuah Surat Tanda Nomer Kendaraan yang ia keluarkan dari dompetnya, lalu menyerahkannya kepada Rafa.


"Terima kasih banyak, Bos. Saya akan selalu siap menerima tugas dari bos lagi." kata Rafa dengan nada yang begitu senang dapat kembali mendapatkan motor soprtnya yang beberapa bulan lalu dibeli oleh Rayyan.

__ADS_1


"Lo keluar sana, duitnya gue transfer setelah gue mandi." usir Rayyan sambil melepas kancing bajunya.


"Iiihhh... enggak bisa gitu dong, Bang. Harus lunas sekarang, sekalian tau bang. Enggak baik ditunda-tunda."


Rayyan kembali menghela nafasnya. Berurusan dengan Rafa memang akan seribet ini jika menyangkut soal uang. Jiwa bisnis Rafa memang sangat bagus, tapi tidak digunakan dengan tepat. Dan Rayyan yang akan selalu menjadi korbannya. Bukan karena Rayyan tidak bisa apa-apa, tapi karena Rayyan terhitung royal pada adik-adiknya. Dan satu hal lagi yang sering dimanfaatkan oleh Rafa adalah abangnya ini terkenal tidak mau repot. Jadi dengan dia berkorban untuk berkeringat sedikit saja, nominal uang yang dia sebutkan pasti akan segera ditransfer oleh abangnya.


Rafa mengintip-intip ke layar ponsel Rayyan saat ia tengah melakukan transaksi mobile banking. Rafa penasaran dengan bonus yang dijanjikan oleh abangnya. Seharian ini membayangkan bonus besar dari abangnya sunggung membuatnya berbunga-bunga.


"Tambahin lagi dong, Bang. Masa bonusnya dikit sih?" rayu Rafa pada sang abang.


Rayyan langsung menoleh dan melemparkan tatapan tajam. "Gue udah tambahin lima juta, Fa!"


"Kuranglah, Bang. Rafa kan kerjanya ekstra, apalagi abang tiba-tiba minta majuin jadwal. Untung aja ada mama yang bantuin, coba kalo Rafa yang lakuin sendiri, pusing banget pasti, Bang."


"Yaudah, lebihannya buat mama juga berarti. Lo sendiri kan yg bilang kalo lo dibantuin mama?"


Rafa gelagapan. Harapannya untuk mendapatkan bonus besar dari abangnya hanya tinggal angan-angan.


"Lo itu harus banyak bersyukur, Fa. Bonus yang gue kasih juga udah banyak. Lo kalo segitu aja ngerasa kurang, bisa-bisa jadi koruptor ntar lo."


"Abang masa ngedoain adiknya gitu sih!"


"Gue bukan doain, gue cuma bilangin. Udah sana keluar, gue mandi terus tidur."


Dengan langkah gontainya, Rafa berjalan keluar kamar Rayyan sambil menggerutu. "Kemarin aja pas mau ngelamar, dimintain duit gampang banget. Giliran udah fix mau nikah pelitnya tingkat nasional."

__ADS_1


__ADS_2