
Seperti sebelumnya, makan malam keluarga itu berjalan dengan begitu serunya. Para orangtua begitu antusias menceritakan kisah mereka bersama saat dibangku SMA. Mereka bercerita dengan begitu semangatnya, menimpali satu sama lain dan tertawa bersama. Adit dan Salma pun ikut larut dalam acara reuni para orangtuanya itu.
Tidak ada pilihan lain, akan lebih tidak sopan jika keduanya malah memilih untuk meninggalkan meja makan dan berduaan di kamar. Karena pertemuan inilah yang selalu menjadi ajang melepas segala penat rutinitas yang telah mereka jalani. Berbagi cerita dan kenangan masa lalu yang menyenangkan sambil menikmati makanan yang enak bersama orang-orang terkasih.
Setelah orangtua papa Bagas dan mama Tari pulang, Salma membantu mama Mei dan mbak Tini beberes ruang makan. Pekerjaan itu tentunya lebih cepat selesai karena dikerjakan oleh tiga orang. Sementara papa Hari dan Adit memilih untuk mengobrol di balkon belakang rumah.
"Minuman angetnya, pa" ucap Salma yang membawakan teh herbal untuk ayah mertua dan suaminya itu.
"Ohh, terimakasih banyak Sal. Malah jadi betah nanti papa sama Adit ngobrol disini"
"Gapapa pa, lagian kan besok hari Minggu"
"Duduk di sebelah Adit, papa mau ngomong sebentar"
Salma mengangguk dan duduk di sebelah suaminya dengan tangan yang masih memegang nampan.
"Papa belum minta maaf ke kamu. Maafkan papa karena terlalu banyak ngasih kerjaan ke Adit, jadi... kamu malah terabaikan. Maksud papa hanya karena ingin Adit terbiasa menghandle pekerjaan itu. Jadi ketika papa pensiun, dia sudah sepenuhnya siap gantiin papa"
"Papa ga perlu minta maaf, ini bukan kesalahan papa. Justru Salma yang harusnya minta maaf karena ga bisa ngertiin kondisinya. Maaf juga karena Salma sampai harus meninggalkan rumah dan menelantarkan anak papa ini" jawab Salma lalu menggenggam tangan Adit.
"Itu wajar, Sal. Papa ngerti kamu butuh waktu untuk itu semua. Papa harap nantinya kamu akan jauh lebih sabar, dan tentunya akan selalu setia mendampingi Adit"
"Pasti, pa"
"Tidurlah, kalian terlihat lelah. Papa masih mau disini dulu"
"Jadi papa ngusir kita nih?" celetuk Adit.
"Haish, bukannya ngusir. Kalian emang harus istirahat sekarang, sana pergilah. Berduaan di kamar, atau kalo kalian mau jalan-jalan menikmati suasana malam juga gapapa. Kalian butuh banyak waktu untuk berdua hahahaha"
"Iya deh kita pergi, mungkin papa juga mau berduaan sama mama" jawab Adit sambil mengangkat cangkir teh miliknya.
"Selamat malam, pa" ucap Salma yang kemudian mengikuti langkah Adit masuk menuju kamarnya.
"Aku masih belum nemu tempat kencan outdoor kita untuk besok pagi" ucap Adit saat Salma baru saja masuk ke dalam kamar. Ia menyeruput minumannya, lalu meletakkannya dimeja belajar disudut kamarnya.
__ADS_1
"Hahahaha... makanya, kencan itu jangan di apartemen mulu mas. Biar mas Adit tau tempat-tempat mana yang bagus untuk kencan"
Adit menggelengkan kepalanya. "Justru aku ga mau kayak gitu. Kalo aku ngajakin kamu ke tempat yang dulu sering aku kunjungin dengan seseorang sebelum aku mengenalmu, itu malah akan meyakitkanmu jika kamu tau ada cerita masa laluku dibalik tempat itu"
"Jadi?"
"Aku ga menyesal dulu cuma berduaan di apartemen"
"Iyalah, mau ngapain aja enggak ada yang bakal gangguin" dengus Salma kesal. Ia segera mengakhiri perawatan kulit wajahnya dan berjalan menuju tempat tidur.
Belum juga sampai di kasur, langkahnya sudah ditahan terlebih dulu oleh Adit yang kemudian menariknya masuk dalam pelukan hangatnya.
"Kita akan kunjungi berbagai tempat berdua, mengukir kisah kita disana untuk kita kenang dimasa mendatang. Untuk kita saling berbagi cerita dan menceritakannya pada anak-anak kita nanti. Bukan kisahku dengan orang lain, atau pula sebaliknya, tapi ini kisah kita"
Kenapa kata-kata Adit barusan terdengar romantis ditelinga Salma? Padahal sebelumnya ia merasa cemburu akan kisah cinta Adit yang dulu.
Salma mendongakkan kepalanya, menatap wajah Adit yang kini menunduk untuk menatap wajahnya.
"Kenapa?" tanya Adit bingung karena Salma hanya menatapnya tanpa berbicara sedikit pun.
"Berubah? Jadi power rangers?"
"Hahahaha... enggak lucu"
"Jadi maksud kamu aku berubah bagaimana?" tanya Adit sambil menyelipkan anak rambut dibelakang telinga Salma.
"Kenapa sekarang sering banget ngomong romantis? Mas Adit baca itu dimana?"
Pertanyaan Salma barusan sontak membuat Adit menjadi tergelak.
"Itu... yang ada dipikiranku, sayang. Aku ga mempelajarinya dari man pun" bibirnya mengecup kening Salma.
Salma hanya tersenyum, dalam hati ia berharap sifat romantis suaminya itu akan bertahan selamanya. Ia berharap akan lebih sering mendengar kata-kata romantis yang diucapkan Adit untuknya.
"Kenapa lagi sekarang?" tanya Adit yang kembali menangkap respon aneh dari istrinya itu.
__ADS_1
Salma menggelengkan kepalanya. "Mas Adit mau malam mingguan romantis ga?"
Adit mengernyitkan dahinya. Malam mingguan romantis? Apa Salma akan memintanya makan malam di luar dengan cahaya lilin sekarang? Atau jalan-jalan keluar seperti saran papanya tadi?
"Kamu mau melakukannya?" tanya Adit.
Salma menganggukkan kepalanya, lalu melepaskan tangannya dari pelukan Adit. Ia berjalan menuju rak buku kecil di dwkat meja belajar, mengambil gitar akustik milik Adit yang dibungkus case warna hitam itu.
"Kita duduk di balkon kamar, trus mas Adit main gitar sambil nyanyi buat aku. Mau kan mas?" ucap Salma dengan senyum manisnya.
"Cuma itu? Aku kira kamu pengen candle light dinner atau jalan-jalan" jawab Adit sembari berjalan menghampiri Salma dan meraih gitar yang dipegang Salma.
Ia menggandeng tangan Salma, berjalan menuju balkon kamarnya dan mulai bersiap untuk memetik gitarnya dan menyanyikan lagu-lagu romantis untuk istrinya itu.
Ini bukan kali pertama Adit bermain gitar sejak menikah dengan Salma. Sebelumnya Adit juga selalu memainkan gitarnya saat mereka menginap di rumah orangtuanya. Ia hanya memetik senar gitar semaunya sendiri, dan seringnya tanpa bernyanyi. Ia bermain gitar hanya untuk merilekskan pikirannya.
Malam ini, situasinya berbeda. Salma yang memintanya. Ditambah dengan embel-embel judul 'Malam Mingguan Romantis'. Tentu Adit akan segera mewujudkannya, memanjakan telinga Salma dengan petikan senar gitar yang indah dan lagu romantis yang dia nyanyikan untuk istri tercintanya itu.
🎶
I knew I loved you then
But you'd never know
'Cause I played it cool when I was scared of letting go
I know I needed you
But I never showed
But I wanna stay with you until we're grey and old
Just say you won't let go
Just say you won't let go
__ADS_1