MENIKAH

MENIKAH
Mama


__ADS_3

Persiapan perayaan ulang tahun Rayyan yang pertama cukup menyibukkan Salma. Meskipun hanya akan mengundang keluarga dan teman dekat, namun Salma ingin segala sesuatunya terlaksana dengan persiapan yang matang. Selain itu, ia juga disibukkan dengan Rayyan yang semakin aktif bergerak. Selalu mencoba berdiri sendiri untuk meraih benda-benda disekitarnya, belum lagi rengekan yang selalu dikeluarkan Rayyan jika keinginannya untuk dilarang oleh sang ibu.


"Itu bahaya, Rayyan. Kalo figuranya kamu banting dan pecah, kamu bisa terluka" jelas Salma pada Rayyan yang ingin mengambil figura foto pada nakas.


Rengekan itu kembali muncul. Salma memijat pelipisnya, seharian ini ia benar-benar lelah. Salma melirik ke arah jam dinding yang menunjukkan hampir pukul sembilan malam. Rayyan belum mau tidur, dan Adit juga beberapa hari ini mulai sering pulang larut.


Salma menggendong Rayyan dan membaringkannya diatas ranjangnya. "Tidur ya, nak. Mama udah capek banget"


Namun Rayyan malah kembali berdiri dan berpegangan pada hedboard kasur. Entah kenapa anak kecil ini 'baterainya' masih saja full, padahal biasanya juga Rayyan telah tertidur lelap.


Tak berapa lama, pintu kamar terbuka. Rayyan langsung berseru heboh ketika menatap Adit yang baru saja masuk ke kamar sambil menenteng tas kerja serta jasnya.


"Kenapa belum tidur?" tanya Adit sambil meraih Rayyan dalam pelukannya.


"Tau tuh mas, capek aku ngeladeninnya" jawab Salma sambil kembali membaringkan tubuhnya diranjang.


"Tidurlah, Rayyan biar sama aku"


"Mas Adit aja belum mandi, sini Rayyan biar aku susuin aja mas"


Adit menggeleng. "Udah, kamu tidur aja. Rayyan juga anteng kok, kayaknya dia mau tidurnya sama aku"


Salma memandangi Rayyan yang terlihat menikmati ayunan pelan sambil menyandarkan kepalanya dibahu Adit dengan mata yang hampir terpejam. Padahal sebelum Adit datang, anak itu masih begitu lincahnya.


"Kenapa bisa segampang itu sih? Tadi sama aku susah banget, malah ngerengek mulu" Salma mendudukkan dirinya.


Wajahnya terlihat lelah, dan mungkin terselip perasaan kecewa karena Rayyan dengan begitu mudahnya tertidur dipelukan Adit tanpa harus menyusu.


Adit berjalan mendekati Salma sambil tersenyum, tangan kanannya terulur untuk mengusak rambut Salma perlahan.


"Rayyan mungkin kangen papanya, akhir-akhir ini kan aku sering lembur, waktunya sama aku berkurang, bahkan hampir enggak ada sama sekali. Dia tetep akan selalu butuh kamu, Sal. Liat aja besok, pasti dia juga balik nempel mulu sama kamu"


Salma terdiam sejenak. "Mas, besok aku boleh ke rumah mama? Bu Sari lagi ga enak badan, seharian ini ga ada yang bantuin aku ngurus Rayyan. Cuma mau pipis aja susah karena dia ga bisa ditinggal"


"Boleh. Berangkat pagi aja, bareng aku sama Asep. Nanti baliknya aku jemput, aku akan usahain untuk balik sore"


Salma segera memeluk pinggang Adit yang masih berdiri dihadapannya. "Ga kebayang kalo punya anak dua terus masih kecil-kecil gini, mas"


"Kan kita bisa pake jasa babysitter. Kamu sih dari dulu aku tawarin ga mau mulu"


Salma menggelengkan kepalanya. "Belum butuh banget, mas"

__ADS_1


"Tapi barusan kamu ngeluh ga bisa ngimbangin tenaganya Rayyan"


"Tapi seenggaknya kan aku masih bisa handle, mas. Ya meskipun kewalahan juga"


"Kamu kalo ada apa-apa, bilang ke aku ya. Jangan dipendem sendirian. Aku ga mau nanti kamu ngerasa ngelakuin semua ini sendirian, terus jadi mendem emosi, dan jadinya Rayyan yang jadi sasaran"


"Enggaklah, mas. Emangnya aku gila sampai ngelampiasin apa-apaan ke Rayyan"


"Aku cuma nasehatin, sayang. Tau sendiri kan banyak berita ibu nyiksa anaknya karena jengkel sama suaminya"


"Tapi kan aku ga jengkel sama mas Adit"


"Ya makanya tadi aku bilangin kalo ada apa-apa buat cerita, kan kita bisa selesaikan dengan segera"


Salma mengangguk. "Sabtu nanti Widya sama Taufik lamaran, mas"


"Eh? Seriusan?"


Salma mengangguk. "Yang aku tahu sih cuma dari pihak Taufik yang maunya cepet-cepet"


"Gapapa, kalo udah dewasa terus pengen nikah ya emang harus cepet disegerakan. Nanti kita pikirin kadonya buat mereka ya"


Salma mengangguk. "Sini, Rayyan ditidurin aja mas. Udah merem juga dari tadi"


"Disini aja, seharian ini dia lagi rewel, makan juga agak susah. Ntar pasti bakal sering kebangun buat nyusu"


"Yaahhh, aku ga bisa tidur sambil meluk kamu dong?"


"Ngalah dulu sama anaknya" jawab Salma sambil meraih tubuh Rayyan dan menidurkannya diranjang.


🎎


Keesokan harinya, Adit mengantarkan Salma dan Rayyan ke rumah mertuanya. Dengan adanya mama mertuanya, itu akan cukup membantu Salma yang mulai kewalahan menghadapi Rayyan.


"Minggu depan acaranya Rayyan jadi, Sal?" tanya mama Tari pada Salma yang sedang mengajak Rayyan bermain di taman belakang.


"Jadi dong, ma. Aku udah pusing nyiapin segala sesuatunya masa enggak jadi"


"Ya kan mama nanya, siapa tau diundur atau gimana gitu"


"Hahahahaha... enggak, ma. Cepet banget ini tau-tau Rayyan udah setahun aja"

__ADS_1


"Bakalan segera nambah adiknya Rayyan dong kalo gitu" goda mama Tari.


Salma menggeleng. "Aku belum berani, ma. Ngurus Rayyan aja kewalahan banget aku"


"Ya kan bisa pake babysitter"


"Mama mah ga beda jauh sama mas Adit kalo udah ngomongin soal anak"


"Hahahahaha... ya kan mama anaknya cuma satu, Sal. Kalo kamu bakal punya anak lebih dari satu, tentu mama bakal seneng banget karena kamu ga ngikutin jejak mama"


"Ya tapi ga sekarang, ma. Seenggaknya sampai Rayyan lulus ASI dulu"


"Gapapa kali, Sal. Rayyan juga udah makan, nanti juga dia pasti mau minum sufor. Sekalian ribetnya gitu ngurus anak kkecil jaraknya juga ga kejauhan hehehehehe"


"Mama iihhh... kenapa mama yang jadi semangat gini sih? Mama aja yang nambah anak lagi, nanti aku susul"


"Hahahaha... kalo sekarang mama hamil terus lahiran bisa diketawain banyak orang, Sal. Dikira ga mau kalah sama kamu"


"Ya makanya sabar sih, ma. Aku aja masih berasa ngilunya dibekas jahitannya, udah main disuruh cepet-cepet hamil lagi"


"Harapan mama untuk punya cucu banyak kan dari kamu doang, Sal"


"Lagian mama kenapa dulu anaknya cuma satu doang? Padahal mama enak lahirannya normal, punya anak sampai sebelas pun juga ga masalah"


"Dikiranya mama mau bikin klub bola apa" jawab mama Tari sambil memukul lengan Salma. "Mama ngurusin kamu aja udah repot, gimana kalo sebelas?"


"Naaahhhh, itu mama tau"


"Ya kan beda kondisi, Sal. Dulu mama jauh dari orangtua dan mertua yang bisa dimintain tolong buat bantuin momong. Ga kayak kamu deketan gini"


"Tapi kan bisa pake jasa babysitter, ma?"


"Alasannya utamanya lebih pada lahirannya sih, Sal. Itu jahitan mama panjang, luar dalam, mungkin bukan jahitan lagi namanya. Diobras kali ya hahahahaha"


"Hahahahaha... mama kira itu ngejahit ujung kain"


"Abisnya kata dokter jahitannya banyak luar dalam dan ga keitung. Mau kencing, mau buang air jadi tersiksa"


Salma menggeser tubuhnya mendekati mama Tari dan memeluknya dari samping. "Makasih ya ma untuk semuanya, maaf kalo Salma sering nyusahin mama"


Mama Tari tersenyum. Anaknya ini meskipun sudah menjadi seorang ibu masih saja keluar sifat manjanya. "Udah, malu tuh diliatin Rayyan" kata mama Tari sambil mengelus bahu Salma.

__ADS_1


Rayyan merangkak mendekat ke arah Salma dan mama Tari yang masih berpelukan. Suara ocehan lucu keluar dari bibirnya seakan melarang Salma untuk memeluk oma tercintanya.


"Kamu kalo ada yang lain aja mamanya dilupain" ucap Salma sambil meraih Rayyan dalam gendongannya dan mulai menciumi pipi Rayyan.


__ADS_2