MENIKAH

MENIKAH
S2 - Bali (6)


__ADS_3

Happy reading 😊


***


Kunjungan ke proyek memang bukan sesuatu yang disukai oleh Zahra karena panas dan berdebu. Belum lagi sedari tadi Nadine yang dengan sengaja mencari perhatian dari Rayyan, untuk sekedar memasang pengait helm proyek atau meminta Rayyan untuk menggandengnya saat berjalan di jalan yang tidak rata.


"Lagian udah tau kunjungan liat proyek, malah pake high heels." guman Zahra sambil menggelengkan kepalanya.


Sebenarnya ia merasa cemburu, namun ia menahannya karena ia tahu Nadine hanya mencoba untuk memancing emosinya. Wanita itu mungkin masih mengharapkan kekasihnya untuk kembali dalam pelukannya. Wajar saja Nadine begitu menginginkan Rayyan karena pastilah sosok Rayyan telah berubah menjadi laki-laki yang lebih menarik dibandingkan saat sekolah menengah dulu.


"Zah, ambilin air mineral dong dua botol. Cepatan ya." ucap Nadine sambil tersenyum sinis padanya.


Zahra memutar bola matanya malas. "Biasanya, jika seseorang membutuhkan pertolongan orang lain maka dia akan mengucapkan kata 'tolong'. Anak kecil aja tau akan hal itu." sindir Zahra sambil mengecek ponselnya.


Nadine merasa kesal. Matanya melotot ke arah Zahra dengan sorot yang membunuh. Merasa kekasihnya sedang menjadi incaran kemarahan Nadine, Rayyan yang sedang berbincang dengan pimpinan proyek pun langsung menghentikan pembicaraannya.


"Meja tempat minuman lebih dekat denganmu Nadine, jadi lebih baik kamu jalan kesana sendiri untuk mengambilnya daripada dari tadi sibuk disini untuk menyuruh Zahra. Dan asal kamu tahu, Zahra itu asistanku, bukan asistanmu. Jadi tolong jangan seenaknya pada Zahra." geram Rayyan dengan pelan.


"Apa karena dia kekasihmu, jadi kau membelanya?"


"Tentu saja. Bukankah memang hal seperti ini yang harus aku lakukan?"


"Lalu bagaimana denganku dulu, Rayyan? Kamu bahkan memutuskanku dengan sebuah alasan yang konyol. Kamu bahkan enggak mau memperjuangkanku sama sekali."


"Jangan bahas masa lalu, Nadine. Semuanya sudah lama berakhir."

__ADS_1


Nadine tersenyum sinis. "Sekarang kamu bahkan enggak ada bedanya sama Andrew, Rayyan. Kamu bahkan tidur dengannya kan?"


Rayyan tercengang. Jika Nadine berkata demikian, pasti Nadine telah salah sangka karena melihatnya keluar dari kamar Zahra pagi tadi.


"Ternyata benar ya kamu tidur dengan wanita murahan itu?"


"Jaga ucapanmu, Nadine." Rayyan mencengkeram dengan keras pergelangan tangan Nadine.


"Jangan pernah sebut Zahra dengan kata-kata seperti itu. Kamu enggak tahu apa yang sebenernya terjadi padaku dan juga Zahra. Jadi jangan berspekulasi dan menarik kesimpulan sesukamu sendiri!" Rayyan menghempaskan pergelangan tangan Nadine dengan keras. Lalu menghampiri Zahra yang sedari tadi menonton pertengkaran kecil yang ada di depan matanya.


Rayyan menggandeng tangan Zahra, membawanya pergi dari lokasi proyek untuk masuk ke dalam sebuah mobil yang tadi membawanya dan Zahra.


"Kembali ke hotel sekarang, Pak." ucap Rayyan pada sang sopir.


***


Dan sekarang, keduanya telah berada di kamar Zahra. Sejak berada di mobil tadi, Rayyan hanya diam saja dan sibuk menelpon beberapa orang terkait dengan proyek di Bali. Zahra yang terduduk di pinggir ranjang memandangi Rayyan yang masih sibuk menelpon sambil memandangi ke arah luar jendela.


"Kenapa diem aja pas Nadine nyuruh-nyuruh kamu kayak gitu?" ucap Rayyan sesaat setelah menutup panggilannya dan menatap Zahra dengan tajam.


"Diem aja gimana? Aku udah galak loh sama dia."


"Terus kenapa dia masih aja gangguin kamu?"


"Ya mana aku tahu, emang kak Nadine aja yang seneng gangguin aku. Terutama pagi tadi tuh." Zahra menjadi kesal saat mengingat perkataan Nadine tadi pagi.

__ADS_1


"Dia bilang apa?" kini Rayyan telah duduk disamping Zahra, sembari merangkul bahu kekasihnya itu. Nada bicaranya juga mulai merendah, tidak seperti tadi yang terdengar begitu emosi.


"Kayaknya dia ngeliat kamu keluar dari kamar ini. Dia bilang... aku ngerayu kamu, gunain tubuhku untuk merayumu dan morotin kamu demi ngebantu ekonomi keluarga."


"Kenapa kamu enggak bilang ke aku pagi tadi?"


"Ya gimana bisa ngomong kalo dia aja nempel kamu mulu." Zahra mendengkus kesal.


"Terus kamu jawab apa?" Rayyan mengusap lembut punggung Zahra untuk menenangkannya.


"Ya aku bilang kalo kita pacaran. Aku juga bilang dia iri aja karena kamu tidur sama aku. Pengen kali dia dulu pas kalian pacaran belum kamu apa-apain. Pengen aku colok juga tuh tadi matanya, melototnya udah kayak nenek lampir aja. Belum lagi dia sok manja minta kamu pegangin pas jalan di proyek. Lagian udah tau mau ninjau ke lokasi, masih aja pake heels. Emang dasar caper!" Zahra terlihat kesal. Bahkan ia terlihat mengerucutkan bibirnya diakhir perkataannya.


"Makanya kamu harus bisa tegas sama dia. Jangan karena perasaan enggak enak hati atau gimana terus kamu diem aja pas dia manja-manjaan sama kamu. Itu kalo tadi kamu diem aja, mungkin udah beneran aku sumpel mulutnya biar enggak nyerocos terus."


"Pertengkaran perempuan emang menakutkan ya?" Rayyan terkekeh. "Istirahat gih, nanti sore mau jalan-jalan?"


"Kemana?"


"Kemana aja, ini kan hari terakhir kita disini. Nanti kalo udah balik ke rumah kan bakal susah ketemu waktunya untuk jalan-jalan."


Belum sempat Zahra menjawab, ponsel Rayyan berdering. Menampilkan nama Rafa disana. Rayyan menghela nafasnya, kenapa adik-adiknya ini senang sekali mengganggunya.


"Aku akan kembali ke kamar. Dia akan lebih cerewet dari Eowyn kalo tau aku ada disini."


"Dan dia akan lebih memerasmu dibanding Eowyn semalam."

__ADS_1


Keduanya sama-sama tertawa sebelum akhirnya Rayyan beranjak dari duduknya.


"Istirahat ya, aku angkat telpon dulu." ucap Rayyan sambil mengecup kening Zahra lalu keluar dari kamarnya.


__ADS_2