MENIKAH

MENIKAH
S2 - Mengelak


__ADS_3

Happy reading 😊


***


"Abang nanti ke Bandung ya sama Zahra?" tanya Eowyn saat sedang sarapan bersama keluarganya.


Rayyan yang duduk di sebelahnya hanya mengangguk, sambil terus melahap makanannya.


"Cuma berdua doang, Bang? Enggak sama bu Meta?" Eowyn bertanya kembali.


Lagi-lagi Rayyan tidak menjawab, ia hanya menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan adiknya itu.


"Diihh, itu mau ketemu klien atau kencan, Bang? Mana besok malam minggu pula, pasti rame tuh." Rafa menggoda abangnya.


"Diem, Fa!" Rayyan menggertak sambil melotot ke arah Rafa yang duduk dihadapannya, bersebelahan dengan mamanya.


"Udah, ini mau pada berantem atau makan? Heran, udah pada gede tapi masih berantem aja." keluh Salma.


"Enggak berantem, mamaku sayang. Kalo kita berantem, pasti papa udah maju duluan tadi buat jitakin kita satu per satu." Rafa menyandarkan kepalanya dibahu mamanya, mencoba untuk menenangkannya.


"Masih pagi, ma. Jangan cemberut gitu dong, nanti kerutan mama yang diwajah pada muncul loh. Jadi berkurang deh cantiknya." Rafa kembali merayu mamanya.


"Rafa!" Adit memperingati Rafa yang sedari tadi menggoda Salma.


"Nah lo yang punya marah." Eowyn bergumam sambil menunduk dan menahan senyumannya.


"Maaf, Pa hehehehe.... Rafa kan cuma nenangin mama." jawab Rafa sambil cengar-cengir.


"Rayu pacarmu sana, jangan istri Papa."


"Hahahaha... iya deh Pa, iya. Maaf ya." Rafa menunjukkan dua jarinya yang membentuk huruf V pada sang papa, yang membuat papa serta mamanya tak bisa menahan senyum setelahnya.


"Kamu yakin bisa menggaet kerjasama dengan mereka, Rayyan?" tanya Adit.


"Semoga aja bisa, Pa. Doakan ya Pa... Ma...." jawab Rayyan.


"Semoga berhasil, nanti kabarin Papa jika kamu butuh bantuan." Adit menyeka mulutnya. "Kalian terusin aja makannya, Papa berangkat duluan karena harus mampir ke rumah nenek. Kamu lanjutin makannya aja, sayang. Aku akan keluar sendiri, Asep udah siap di depan." Adit meminta Salma yang akan beranjak dari kursinya untuk kembali duduk. Ia kemudian mencium kening Salma dan bergantian menyalami anak-anaknya yang telah mengantri untuk bersalaman.


"Bang, berarti motor enggak dipake dong weekend ini? Rafa boleh pinjem enggak?" Rafa mencoba merayu abangnya.


"Emang mobil lo kenapa? Uang lo habis enggak bisa isi bensin?" cibir Rayyan.


"Iihhh enggak gitu, Bang. Aku sekarang udah hemat tau, iya kan ma?" Rafa melirik ke arah mamanya yang masih asik makan.

__ADS_1


"Duit motor itu ditabungan masih utuh, Bang. Duit bulanan dari Papa juga selalu ada sisa aku." lanjut Rafa.


"Udah tobat dia, Bang. Lagi belajar jadi cowok setia katanya hahahahaha...." sindir Eowyn.


"Terus?" Rayyan menjawab dengan cuek.


"Gue kangen boncengan sama Alita, Bang."


"Beli motor lagi aja."


"Mahal tau, Bang. Duitku yang ditabungan bisa langsung habis ntar."


"Laahhh... anak mama udah tau mahal juga ya sekarang? Dulu aja taunya minta doang tanpa mikirin harga." Salma menggoda Rafa sambil mengusap kepala anaknya dengan lembut. Sementara Rayyan dan Eowyn tak bisa menahan tawanya.


"Mama kok gitu sih, jadi sedih nih aku." Rafa sengaja memasang wajah sedih yang dibuat-buat.


"Coba aja mama tau cewek kayak Alita gitu, mama beli sepuluh deh biar kamu enggak bandel dari dulu." Salma mencubit pipi Rafa dan membuat anak bungsunya itu merintih kesakitan.


"Jangan dong, ma. Satu aja enggak habis-habis, malah mau dikasih sepuluh. Bisa dag dig dug mulu aku ma kalo kebanyakan Alitanya ehehehehe...."


"Jadi boleh kan, Bang?" Rafa beralih menatap Rayyan.


Rayyan hanya menjawabnya dengan anggukkan. "Kuncinya ada di meja kamar. Kalo enggak ketemu minta tolong Mama atau bi Yati buat bantuin nyari, jangan lo berantakin kamar gue."


"Siap, Bang. Ehhh, tapi ada bensinnya kan Bang?"


"Cih, kayaknya." cibir Rafa.


"Ya lo modallah, masa mau pacaran aja bensin juga nebeng sama Abang." timpal Eowyn sambil berjalan mendekati mamanya. "Aku berangkat kerja dulu ya, ma." ucapnya sambil mencium pipi mamanya.


***


Rayyan dan Zahra berangkat ke Bandung pada siang hari untuk menghindari macet. Perjalanan yang akan ditempuh selama kurang lebih dua jam ini sudah membuat Zahra sedikit malas. Bukan karena jauhnya, tapi karena membosankan karena ketika mengantarnya pulang pun Rayyan lebih banyak diam.


"Kamu sakit, Zah?" tanya Rayyan memecah keheningan yang telah berlalu selama beberapa menit lamanya ini.


"Eh? Enggak, Pak."


"Beneran? Tapi kayaknya kamu agak pucat deh." Rayyan melirik Zahra sekilas. "Kamu juga keliatan lemes."


"Saya cuma kecapekan, Pak."


"Kecapekan? Kamu kan baru izin kerja dua hari. Terus kamu capek ngapain? Capek tidur terus?"

__ADS_1


Zahra memalingkan wajahnya, merasa kesal dengan perkataan Rayyan yang barusan ia dengar.


"Bukan begitu, Pak. Kemarin saya sibuk bantuin ibu saya di warung makannya karena mbaknya yang biasa bantuin lagi izin. Jadi saya bantuin ibu saya nyuci piring di warung makannya."


"Nyuci piring doang sampai bikin kamu sakit begini?" nada Rayyan terdengar meremehkan, hingga membuat Zahra menjadi kesal.


"Bapak sih enggak tau warung makan ibu saya ramenya kayak apa, makanya bisa seenaknya ngetawain gitu." Zahra menjawab dengan kesal sambil bersedekap menatap ke depan.


"Ya gimana bisa tahu, kamu enggak pernah ngajakin aku kesana."


"Saya takut aja kalo nanti enggak pas sama selera Bapak. Warung makan ibu saya kan masakan rumahan, Pak."


"Terus kalo mama bawain bekal buatku apa kamu pikir itu dimasak oleh chef handal atau beli di restoran? Kamu belum nyoba udah men-judge duluan."


"Iya Pak, maaf." Zahra menundukkan kepalanya.


Saat keheningan mulai tercipta kembali, tiba-tiba saja Zahra kembali teringat dengan bunga tulip ungu yang ia letakkan di nakas samping tempat tidurnya.


"Eeeee... Pak, boleh saya tanya sesuatu?"


Rayyan mengangguk sambil tetap fokus menyetir. "Tanya apa?"


"Tentang bunga yang kemarin, yang Bapak kasih sewaktu saya wisuda, itu... eee... itu... dari Bapak kan?"


Untuk sesaat, Rayyan memasang ekspresi terkejut. Namun setelah itu ia dengan cepat merubah ekspresi wajahnya menjadi santai kembali.


"Kenapa kamu bisa mikir itu dari saya?"


"Ya karena bunganya sama dengan milik Eowyn, hanya beda warna. Terus... saya juga telpon bu Meta, katanya... itu bukan bunga dari bu Meta." Zahra mengucapkannya dengan hati-hati karena tidak ingin Rayyan merasa tersinggung.


"Kenapa Bapak belinya bunga tulip untuk saya dan Eowyn? Kenapa enggak jenis bunga yang lainnya aja sih, Pak? Mungkin bunga lili, anggrek atau apa gitu."


"Terus kenapa kamu enggak sebut bunga mawar?" Rayyan berucap dengan datar sambil melirik sekilas menatap Zahra.


"Yaaa... itulah. Jenis bunga lainnya pokoknya. Itu Bapak asal milih warnanya atau karena artinya?" Zahra semakin penasaran.


"Aku tau artinya." ucap Rayyan sambil mengangguk. "Kamu juga tau artinya?" imbuh Rayyan.


Kalimat yang diucapkan Rayyan barusan membuat Zahra seolah membeku sambil memiringkan tubuhnya dan menatap Rayyan.


"Mungkin artikel yang kamu baca sama dengan artikel yang aku baca." ucap Rayyan santai tanpa mempedulikan Zahra yang langsung memalingkan wajahnya, untuk menyembunyikan rona merah diwajahnya.


Tidak hanya merasa malu, perasaan kaget sekaligus bahagia dan tak percaya muncul secara bersamaan. Namun tak berapa lama, ia merasa ragu. Mungkin saja artikel yang dibaca Rayyan berbeda dengannya, jadi arti warna bunganya ditafsirkan secara berbeda. Zahra merasa tidak boleh merasa bahagia terlebih dulu, karena sejauh ini tak sekalipun Rayyan menunjukkan rasa ketertarikannya pada dirinya.

__ADS_1


***


Hari ini cukup segini dulu ya, besok dilanjutin lagi ehehehehe.... Vote, likes dan comments-nya jangan lupa. Sehat selalu ya readers 😘


__ADS_2