
Happy reading 😊
***
Beberapa hari kemudian...
Tibalah hari keberangkatan Rayyan dan Zahra untuk meninjau proyek mereka di Bali. Tugas kantor kali ini, berasa seperti liburan bagi Rayyan. Selain karena pergi dengan Zahra dengan status mereka yang telah berubah menjadi berpacaran, Rayyan bahkan mengatur jadwalnya sepadat mungkin agar memiliki banyak sisa waktu dihari berikutnya untuk berduaan dengan Zahra.
Pagi tadi, Rayyan menjemput Zahra di rumahnya untuk berpamitan juga pada keluarga Zahra. Kedua orangtua mereka telah saling mengetahui hubungan keduanya, meskipun mereka berdua masih sama-sama malu untuk go public selama beberapa hari ini resmi berpacaran.
Dengan mengenakan baju dengan warna senada, Rayyan dan Zahra sudah seperti pasangan yang akan pergi honeymoon. Bahkan mereka sengaja membawa baju dengan warna yang sama untuk beberapa hari di Bali.
"Sayang, ada apa?" tanya Rayyan sambil menghampiri Zahra yang terfokus pada ponselnya dan memperlambat langkahnya.
Zahra menunjukkan ponselnya kepada Rayyan. "Mantanmu ini dari tadi telpon dan nge-chat mulu. Padahal hari ini juga enggak ada ngebahasa soal kerjaan kenapa dia rempong banget sih?" Zahra menggerutu. Lalu Rayyan mengambil ponsel Zahra untuk kemudian mematikan daya ponsel itu dan mengantonginya di saku celananya.
"Ayo." Rayyan menggandeng tangan Zahra. "Biarin aja dia nunggu, emang sejak awal kita enggak pernah mengiyakan untuk melakukan perjalanan bersama dengannya kan?"
Nadine memang selalu mendesak Rayyan perihal jadwal penerbangannya ke Bali. Rayyan tau jika Nadine pasti ingin terus dekat dengannya, oleh sebab itu ia memilih untuk tidak menjawabnya karena ia benar-benar ingin menikmati waktu bersama Zahra disela-sela pekerjaannya.
"Tapi ganggu banget tau enggak. Nanti dia pasti ngomel ke aku karena waktu itu aku bilangnya kita ambil penerbangan pertama."
"Enggak usah khawatir, aku yang akan ngurusin dia. Oke?"
"Apa dulu Nadine seagresif itu?"
"Saat SMA?" tanya Rayyan dan dijawab anggukan kepala oleh Zahra.
"Enggak, dulu memang dia terkenal supel. Dia bahkan termasuk pemalu, aku juga enggak tau sejak kapan dia jadi seperti ini."
"Mungkin sejak ia tahu jika mantan pacarnya telah kembali dan berubah menjadi pria yang tampan."
"Waahh... jadi kamu memujiku tampan?"
__ADS_1
"Iyalah! Kalo enggak tampan, mana bisa aku terpesona."
"Hmm... benarkah?"
"Sayang, coba sekarang kamu pikir deh. Misal wajahmu biasa aja bahkan cenderung jelek, ditambah ngomongnya ketus, dingin banget sama orang. Mana bisa kayak gitu dijadiin modal untuk ngegaet cewek."
"Ternyata kamu pemilih juga." Rayyan mencubit pipi Zahra dengan gemas.
"Bukan pemilih, sayang. Aku pikir semua cewek pasti akan mudah terpesona karena cowok ganteng." Zahra melingkarkan tangannya pada lengan Rayyan. "Tapi kamu tenang saja, karena aku udah punya kamu dengan sejuta pesonanya."
"Sejak kapan bibir ini jadi pinter ngomong manis kayak gini. Kalo lagi enggak ditempat umum, udah langsung aku cium nih!" kata Rayyan yang kemudian mendapat cubitan dilengannya dari Zahra.
***
"Rayyan!" Nadine memanggil sambil menghampiri Rayyan dan Zahra yang baru saja tiba di lobi hotel.
Nadine sepertinya telah bersiap untuk pergi jalan-jalan, mungkin karena bosan menunggu Rayyan yang tak kunjung tiba.
"Kenapa baru sampai? Waktu itu Zahra bilang kalian akan ambil penerbangan yang pertama, ternyata enggak." gerutu Nadine sambil memberikan tatapan yang tajam ke arah Zahra yang berdiri dibelakangnya.
"Sepertinya kamar kita berdekatan, tadi... aku telah bertanya pada resepsionis."
"Oh, benarkah?"
Nadine mengangguk. "Aku sengaja bertanya, kita mungkin butuh waktu untuk membicarakan tentang proyek ini lebih lanjut. Makanya aku meminta kamar yang berdekatan denganmu."
Zahra memutar bola matanya dengan malas, rasa cemburu benar-benar menguasainya sekarang ini. Bisa-bisanya Nadine bertindak jauh seperti itu. Mana ada pembicaraan bisnis yang dilakukan di kamar hotel? Yang benar saja!
"Aku dan Zahra permisi dulu, nampaknya kau akan pergi jalan-jalan kan?"
"Iya, kamu enggak mau ikut? Aku bisa menunggu kalo kamu mau ganti baju dulu."
"Ahh.. tidak, Nadine. Aku... akan tidur siang. Pergilah ya, bye...."
__ADS_1
Dengan langkah besarnya, Rayyan menuju meja resepsionis untuk melakukan check in. Disusul Zahra yang mengikutinya dibelakang.
"Kenapa? Kamu cemburu?" Rayyan menggenggam tangan Zahra saat keduanya telah berada dilift.
"Apa bisa aku bersikap biasa aja saat kekasihku sedang digoda wanita lain didepan mataku sendiri? Bagus sekali alibinya, alasannya aja bawa-bawa kerjaan. Mana ada laki-laki dan perempuan berada dalam satu kamar hotel untuk membahas pekerjaan."
"Kamu benar-benar cemburu?" Rayyan menahan kekehannya. "Sekarang aku tak lagi mempermasalahkan jawabanmu yang 'coba dulu' itu. Karena aku tau kalo kamu benar-benar mencintaiku sekarang." Rayyan berbisik tepat disebelah telinga Zahra.
Zahra berdecak kesal, kekasihnya ini sejak resmi berpacaran menjadi susah sekali untuk diajak ngobrol serius.
"Ahh... soal laki-laki dan perempuan yang berada dalam satu kamar hotel untuk membicarakan pekerjaan, apa kamu mau mencobanya?" goda Rayyan sambil mendekatkan tubuhnya menempel pada Zahra.
"Jangan aneh-aneh deh!" Zahra mendorong tubuh Rayyan dan langsung berjalan keluar saat pintu lift terbuka.
Rayyan tertawa sambil mengejar Zahra, jemari tangannya kembali menggenggam erat jemari Zahra.
"Aku bercanda, sayang. Istirahatlah, sore nanti kita akan jalan-jalan sekalian menikmati sunset. Oke?"
"Tanpa Nadine, oke?" ucap Zahra sambil menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kamarnya.
"Aku bilang kan 'kita', sayang. Itu berarti hanya aku dan kamu. Istirahatlah, aku akan menjemputmu nanti. Kecuali...."
"Kecuali apa?" tanya Zahra penasaran saat Rayyan menjeda perkataannya.
"Kecuali kalo kamu mengizinkanku untuk beristirahat di kamar ini juga."
"No! Aku akan lapor sama Eowyn kalo kamu macam-macam."
"Kenapa? Apa kamu takut terjadi sesuatu yang kita inginkan?" Rayyan kembali menggoda. Kini wajah Zahra benar-benar memerah. Zahra segera berbalik dan membuka pintu kamarnya, lalu masuk dengan buru-buru.
"Aku enggak percaya ternyata kamu juga semesum Rafa." ledek Zahra sambil menjulurkan lidahnya sebelum akhirnya menutup pintu kamarnya, meninggalkan Rayyan yang masih berdiri di depan kamarnya dengan senyuman di wajahnya.
***
__ADS_1
Maaf banget ya kemarin enggak up karena ada banyak tamu di rumah. Jadi karena saking rempongnya dan tepar, makanya enggak bisa nulis hehehehe....
Vote, like sama comment-nya jangan lupa ya, terima kasih 😘