MENIKAH

MENIKAH
S2 - Rayyan


__ADS_3

Hari ini adalah hari kepulangan Rayyan. Rafa telah pergi ke bandara sejak satu jam yang lalu. Sementara Salma sibuk menyiapkan hidangan makan malam bersama Eowyn dan Bi Yati. Kedua orangtua Salma dan Adit juga telah berkumpul di rumah mereka. Semuanya begitu bahagia menyambut kepulangan Rayyan.


Adit yang baru saja pulang dari kantor segera menyalami kedua orangtua dan mertuanya. Lalu melangkahkan kakinya menuju dapur, mencari istri tercintanya yang biasa menyambutnya saat pulang.


"Sibuknyaaaaa... sampai lupa menyambut suaminya pulang kerja." ucap Adit sambil mengecup pipi Salma dari samping.


Keduanya tidak merasa canggung meskipun ada Eowyn dan Bi Yanti disana. Bagi Eowyn, ia justru senang melihat Mama Papanya yang tetap masih romantis meskipun sudah tidak muda lagi.


"Nanggung, mas. Ini bentar lagi harus dikeluarin dari oven." jawabnya sambil menunjuk kue yang masih berada di dalam oven.


"Lagian mas Adit juga tadi enggak ngabarin bakal balik dari kantor jam berapa." imbuhnya.


Adit mengangguk. "Tadi ada meeting, aku enggak bisa pastiin selesainya jam berapa. Enggak taunya selesai lebih cepet." jelas Adit sambil menyomot buah yang sedang dipotong Eowyn.


"Iiihhh... Papa! Belum cuci tangan juga." seru Eowyn.


"Hmmm... galaknya sama kayak Mama." Adit mengacak rambut Eowyn sambil tersenyum.


"Buruan mandi, mas. Bentar lagi aku ke atas untuk siapin baju gantinya."


"Oke." Adit berbalik badan dan segera meninggalkan dapur.


"Ma... aku udah selesai." ucap Eowyn sembari menyuci tangannya.


"Udah? Thank you ya. Kamu temenin kakek sama nenek aja tuh."


"Males ah, Ma. Pasti nanti pada ngecengin aku mulu."


"Isshhh... sama kakek neneknya sendiri enggak boleh gitu. Kakek nenek bukannya ngecengin, kamunya aja yang terlalu serius nanggepinnya." ucap Salma sembari mengeluarkan kue dari oven dan meletakkannya dicooling rack.


"Ayo buruan. Mama mau ke atas dulu siapin baju buat Papa." sambung Salma sembari mendorong tubuh Eowyn keluar dari dapur.


🍀


"Enggak lecet kan mobil gue?" adalah pertanyaan pertama yang Rayyan ucapkan saat berjalan menuju tempat parkir.


"Yaelah bang, mana berani aku bikin lecet. Bisa disita motorku sama Papa."


Rayyan tersenyum, lalu membuka pintu penumpang disamping kemudi.


"Abang enggak mau nyetir?" tanya Rafa sembari menyodorkan kunci mobil pada Rayyan.


"Enggak, gue capek. Tolong masukin koper gue ya." pinta Rayyan yang kemudian langsung duduk tenang dikursi penumpang.

__ADS_1


Kepulangannya kali ini dirasanya cukup membahagiakan. Ia tak harus lagi berjauhan bersama keluarganya, terlebih ia dapat setiap saat menyantap masakan Mamanya yang selalu menjadi favoritnya sejak kecil.


"Lo buat masalah lagi?" tanya Rayyan memecah keheningan perjalanan.


"Enggak, kenapa?"


"Papa cerita kalo kamu sama Eowyn harus kerja selama liburan semester besok untuk dapetin uang jajan."


"Ahhhh... itu mah Papa aja yang sentimen sama aku."


Rayyan berdecih, lalu meninju lengan Rafa cukup keras.


"Awww... sakit, bang!" pekik Rafa sambil melotot ke arah Rayyan.


"Coba kalo lo nurutin semua omongan gue dari dulu, enggak bakal lo pusing soal uang jajan. Pacar aja yang lo pusingin, main-main mulu kerjaannya."


"Yaa Allah, bang. Ya kalo enggak sekarang, kapan lagi main-mainnya? Besok kalo udah kerja, mana ada waktu santai kayak sekarang."


"Maksud gue, lo terlalu santai ngejalanin hidup. Enggak punya patokan pencapaian hidup, gitu-gitu aja."


"Ceh, sialan!" umpat Rafa sambil menyunggingkan senyum tipisnya pada sang Abang.


"Eowyn gimana?"


"Aman. Tapi Andrew udah balik dari UK, dia pasti bakal ngontak Eowyn lagi."


"Iya-iya, kakak Eowyn!" Rafa sengaja mengucapkannya dengan nada tinggi.


"Jangan pukul-pukul gitu sih, Bang. Lagi nyetir juga, ntar kalo kenapa-kenapa gimana?"


"Enggak akan, paling lengan lo doang yang kenapa-kenapa." jawab Rayyan cuek sambil terus mengecek ponselnya.


"Masih jomblo, Bang?"


Rayyan mengernyitkan dahinya sambil menoleh ke arah Rafa. "Maksud lo?"


"Rafa tanya, sekarang status abang masih jomblo nih?"


"Masihlah."


"Beuh, jomblo aja bangga bener." cibir Rafa.


"Emang apa yang bisa lo banggain dengan status pacaran lo itu?"

__ADS_1


"Enggak kesepianlah, kayak abang hahahahaha...."


"Mau gue pukul lagi?" ancam Rayyan yang telah melirik tajam ke arah Rafa dan tangan kanannya yang telah diangkat ke atas.


"Hahahaha... janganlah, Bang. Gue kan tanya doang. Emang... selama di LA abang enggak ada naksir cewek gitu? Bule kan mantep tuh, Bang."


Rayyan tidak merespon perkataan Rafa, fokus matanya masih tertuju pada ponselnya.


"Gue doain jadi bucin lo bang kalo lo jatuh cinta lagi ntar." gumam Rafa yang masih dapat didengar oleh Rayyan karena jarak mereka yang tidak terlalu jauh.


Lagi-lagi Rayyan memilih untuk tidak merespon perkataan Rafa. Karena bagi Rayyan, merespon setiap perkataan Rafa hanya akan menggiringnya pada naiknya tekanan darah dalam dirinya.


🎎


Kedatangan Rayyan di rumah disambut meeiah oleh para anggota keluarga. Kedua neneknya bahkan seperti enggan untuk berjauhan dari cucu pertama mereka itu, mengalahkan Salma yang tidak mendapat tempat untuk berdekatan dengan anak sulungnya itu.


Setelah acara makan malam keluarga selesai, semuanya duduk di ruang keluarga untuk berbincang. Banyak hal yang dibahas, bukan hanya tentang masa-masa kuliah Rayyan selama di LA, namun juga membahas masa kecil tiga bersaudara itu. Menghindari pembahasan tentang pekerjaan, Adit memilih untuk memfokuskan waktu sekarang untuk family time saja.


"Udah hampir pukul sebelas, sepertinya kita harus istirahat. Rayyan pasti juga butuh istirahat kan?" ucap Bagas.


Acara family time itu pun akhirnya berakhir, dan menyisakan Salma yang membantu Bi Yati untuk beberes di dapur.


"Kamu belum tidur?" tanya Salma saat melihat Rayyan berjalan mendekati kulkas untuk mengambil air minum.


Rayyan mengangguk. "Nungguin Mama." jawabnya singkat.


"Kenapa? Papa aja udah duluan ke atas dan enggak nungguin Mama kok." canda Salma yang berhasil membuat Rayyan tersenyum. Ia tahu, pasti ada sesuatu yang ingin Rayyan katakan padanya.


Setelah mencuci tangannya dan meminta Bi Yati untuk segera beristirahat, Salma menghampiri Rayyan yang masih berdiri di depan kulkas sambil memegangi botol minumnya.


"Kemarilah." pinta Salma sambil merentangkan kedua tangannya.


Tanpa menunggu lagi, Rayyan segera melangkahkan kakinya dan masuk dalam pelukan sang Ibu.


"Kamu memang udah dewasa Rayyan, sampai terlalu jaim untuk sekedar memeluk dan bilang kangen sama Mama." ucap Salma sambil mengusap punggung Rayyan.


"Aku kangen banget sama Mama." ucap Rayyan sambil mengeratkan pelukannya pada ibunya.


Ia memang bukan anak manja, tetapi ia juga sangat dekat dengan ibunya seperti dua saudaranya yang lain. Bagaimana mungkin ia tidak memiliki bonding yang kuat dengan Salma jika sejak kecil segala kebutuhannya dan adik-adiknya selalu dihandle langsung oleh Salma.


"Kau tau, Mama selalu nunggu kamu untuk ngomong jujur seperti itu sama Mama. Hanya untuk sekedar bilang kangen ke Mama aja kamu jaim banget, harusnya kamu belajar sama Rafa yang suka ngomong ceplas-ceplos."


"Tapi kan barusan udah aku bilang kangen ke Mama." gerutu Rayyan sembari melepaskan pelukannya.

__ADS_1


Salma tersenyum, lalu mengusap wajah Rayyan dengan lembut. "Jangan malu untuk ngomong apapun sama Mama. Sampai kamu ubanan pun, kamu bakal tetep jadi Rayyan kecil Mama yang dulu suka minta gendong karena cuma pengen dipeluk."


Rayyan tersenyum mengingat masa kecilnya yang mungkin begitu manja kepada Mamanya. Dulu, ia begitu takut perhatian Salma padanya berkurang karena kehadiran dua adiknya. Sehingga ia sering merajuk minta digendong demi bisa berlama-lama memeluk sang Ibu.


__ADS_2