
Happy reading 😊
***
Adit dan keluarga besar dari papa dan mamanya langsung mengurusi pemakaman papanya saat itu juga. Rumah orangtua Adit telah dipadati banyak pelayat, mulai dari tetangga, teman dan rekan bisnis papanya.
Salma, mama Tari dan Eowyn terus berada di sekitar mama Mei yang sejak di rumah sakit tadi sering pingsan dan menangis histeris. Kepergian suaminya begitu mendadak. Bahkan sebelum sang suami jatuh di kamar mandi, ia masih mendapat gombalan mesra meskipun usia mereka tak lagi muda.
Terlihat Zahra dan bu Meta yang baru saja datang, menghampiri Adit dan Rayyan di depan untuk mengucapkan bela sungkawa. Mereka berdualah yang menghandle pekerjaan Rayyan ketika siang tadi ia mendapat telepon dari Salma jika sang kakek dilarikan ke rumah sakit. Setelahnya, Zahra berlari kecil menuju Eowyn dan memeluknya.
"Sabar ya, Wyn. Lo yang kuat biar bisa nenangin nenek dan orangtua lo." Zahra berucap lirih sambil mengusap punggung Eowyn yang dengan erat memeluknya.
Eowyn hanya mengangguk sambil menyeka air matanya. "Makasih ya, Zah."
Persiapan untuk pemakaman telah selesai. Meskipun waktu telah menunjukkan hampir pukul delapan malam, para pelayat masih terus berdatangan. Beberapa saat yang lalu, kedua orangtua Zach datang untuk melayat. Ibu Zach memberitahu jika Zach akan datang terlambat karena ia dan rekan timnya masih banyak pekerjaan.
Sesaat sebelum pemberangkatan jenazah, rekan setim Eowyn datang. Mereka menemui Adit terlebih dahulu, dan kemudian menyalami anggota keluarga yang lain. Zach melangkah dengan cepat ke arah Eowyn yang berdiri di sebelah Rayyan. Zach membungkuk pada Rayyan dan menyampaikan rasa duka citanya.
"Sayang...." ucap Zach lirih begitu berada di dekat Eowyn.
Tangannya terulur meraih tangan Eowyn, seakan ingin menyalurkan kekuatan pada Eowyn yang terlihat begitu terpukul atas kepergian kakeknya itu.
"It's OK, kakekmu telah tenang disurga." sambung Zach.
Eowyn hanya mengangguk sambil tersenyum ke arah Zach. Ingin rasanya ia menghambur ke dalam pelukan Zach sambil menangis dan terisak dengan kencangnya. Tapi itu tidak mungkin, semua keluarganya bahkan menahan kesedihan yang mendalam demi menjaga kondisi neneknya agar tidak kembali pingsan.
"Tadi ayah sama bunda udah kesini sebentar, karena kakek dan nenek cuma di rumah sama Ronald. Mereka takut Ronald enggak bisa ngurusin."
"Iya. Aku yang minta ayah bunda untuk dateng." Zach menggenggam tangan Eowyn dengan erat. "Maaf ya, aku baru bisa datang."
"Enggak masalah. Di kantor kan lagi banyak kerjaan."
__ADS_1
Setelah semuanya siap, rombongan pengantar jenazah bergerak menuju tempat pemakaman keluarga. Mama Mei yang memaksa ikut serta ke pemakaman membuat seluruh keluarga menjadi cemas jika nanti beliau akan kembali pingsan. Entah berapa kali beliau pingsan sejak di IGD tadi. Namun Salma dan mamanya selalu berada disampingnya untuk menguatkannya.
Adit masuk ke dalam liang lahat untuk mengantarkan kepergian papanya di tempat peristirahatan terakhirnya. Sebagai anak satu-satunya, inilah tugas terakhir yang harus ia lakukan pada sang Papa.
Sementara Rayyan menenangkan Eowyn yang diam-diam terisak sambil merangkul lengannya. Dibelakangnya ada Rafa, Alita dan Zahra, serta Zach berdiri persis di sebelah Eowyn. Zach terus melirik ke Eowyn yang begitu nyaman menangis dilengan Rayyan. Dirinya merasa iri, merasa Eowyn belum sepenuhnya mempercayai dirinya sebagai tenpat berbagi suka dan duka.
Namun pikiran itu buru-buru ditepisnya. Ini adalah kehilangan dikeluarga Eowyn. Dengan hubungan mereka yang masih dalam hitungan hari, tentu Eowyn akan lebih memilih bahu sang kakak yang memang selalu menjadi pelindungnya sedari kecil.
***
Setelah proses pemakaman selesai, Adit memutuskan untuk menginap di rumah orangtuanya bersama istri dan anaknya. Meskipun ada banyak saudara darinpapa dan mamanya yang menginap, namun Adit dan Salma enggan untuk meninggalkan mamanya begitu saja.
Mama Mei terlihat lebih ikhlas. Meskipun sesekali masih menangisi kepergian suaminya, namun ia tak lagi jatuh pingsan. Kedua orangtua Salma baru saja kembali pulang ke rumah, begitu pula Alita dan Zach.
Sementara Zahra masih berada disana untuk menerima arahan dari Rayyan mengenai pekerjaan yang harus ia handle selama masa berkabung ini.
"Kalau Mr. Kimura enggak mau ketemuan tanpa aku, minta reschedule aja enggak apa-apa. Nanti kita yang ngikutin jadwalnya mereka." ucap Rayyan lalu menenggak botol minumnya.
"Pak Rayyan tuh harus makan. Bapak bukan sapi yang lagi digelonggong karena dari tadi saya ngeliat bapak cuma minum doang tanpa makan."
"Dari siang, Zah. Aku enggak nafsu makan."
"Tapi kan harus dipaksa pak meskipun cuma masuk dua suap. Bapak itu harus kuat biar bu Mei enggak semakin shock. Saya tau bapak cucu kesayangan Pak Harry, tapi bapak juga harus jaga kondisi biar pak Harry enggak sedih ngeliat kondisi bapak setelah beliau meninggal."
"Kamu pikir selamanya aku akan minum air doang?" Rayyan mulai sebal saat Zahra memulai sesi ceramahnya.
"Bukan gitu maksud saya, Pak. Maaf." Zahra menatap Rayyan yang masih terlihat kesal. "Kalo udah enggak ada yang dibahas lagi, saya permisi pulang ya Pak. Ini udah jam 11 lebih."
Rayyan mengangguk. "Aku akan minta om Asep untuk nganterin kamu."
"Ehhh... enggak usah, Pak. Saya pesen ojol aja atau naik taksi."
__ADS_1
Namun Rayyan membalasnya dengan melotot tajam ke arah Zahra, membuat gadis itu menuruti perkataannya.
***
Salma baru saja keluar dari kamar tamu yang akan dipakai tidur oleh ibu mertuanya. Setelah menutup pintu kamar dengan perlahan, Salma melangkahkan kakinya naik ke kamar sang suami. Begitu membuka pintu kamar, dilihatnya Adit yang duduk termenung di pinggiran ranjang sambil menatap ke arah luar jendela yang gordennya belum tertutup itu.
Adit menoleh, lalu berdiri untuk bertanya pada sang istri mengenai kondisi mamanya.
"Mama udah tidur?"
"Udah. Tapi... kita terpaksa memberi obat tidur tanpa sepengetahuan mama, karena mama butuh istirahat." jelas Salma sambil mendekat kepada suaminya.
"Apa... enggak apa-apa mama tidur di kamarnya?"
"Mama enggak mau tidur di kamarnya, katanya masih kebayang-bayang Papa. Jadinya tidur di kamar tamu yang biasa dipake Eowyn."
"Jadi mama tidur sama Eowyn?"
Salma mengangguk. "Ada tante Ika juga yang nemenin disana."
Adit mengangguk, lalu menghembuskan nafasnya yang seharian ini terasa berat. Salma menyentuh lengan sang suami, lalu merentangkan kedua lengannya begitu Adit menoleh ke arahnya. Tanpa menunggu lama, Adit langsung memeluknya.
"Menangislah, mas. Jangan ditahan. Kamu juga merasakan kesedihan yang mendalam karena ditinggal papa." bisik Salma sambil mengusap punggung Adit dengan lembut.
Adit mengeratkan pelukannya, bahunya berguncang pertanda isakan tangisnya mulai keluar. Pelepasan emosi kesedihan yang ia tahan dari siang tadi, saat dokter Heru mengatakan jika papanya tidak bisa diselamatkan.
***
Jadi 2 episode ini khusus untuk emak bapaknya babang Rayyan ya. Tiba-tiba aja pengen bikin cerita mereka berdua, ehh tapi dapet feel-nya malah nulis cerita yang sedih huhuhuhu.... Gapapa ya, besok dilanjut cerita yang happy-happy lagi deh. Dijeda dulu cerita sedihnya 😅
Vote, like sama comment-nya jangan pada lupa. Biar makin semangat ini nulisnya setelah baca comment dari kalian dan dapet poin banyak hahahaha...
__ADS_1
Sehat terus ya readers, jaga kondisi tubuh pokoknya 😘😘