
Happy reading 😊
......................
Ini adalah minggu kedua Zahra resmi menyandang status menjadi istri Rayyan. Diminggu pertama, keduanya langsung menghabiskan waktu bersama selama seminggu untuk honeymoon. Karena itu pula, Zahra tidak merasakan bagaimana rasanya ditinggal suami kerja dan dia menunggu di rumah tanpa pekerjaan.
Beberapa hari ini Zahra menyibukkan diri dengan memasak dan membuat kue untuk Rayyan. Beberapa hari yang lalu ia juga berkunjung ke rumah mertuanya, dan siang tadi Zahra mengunjungi orangtuanya untuk membantu bundanya di warung makan milik keluarganya.
"Enak?" tanya Zahra saat Rayyan mulai melahap pindang patin buatannya.
"Enaklah. Kamu kan jago masak kayak mama sama bunda." Rayyan memuji istrinya dengan tulus.
Rayyan tidak berbohong, masakan Zahra memang sangat enak. Tak kalah dari masakan mamanya. Bahkan saat awal melihat Zahra memasak, dirinya merasa takjub dan beruntung memiliki istri yang paket komplit seperti Zahra.
"Tadi siang dibawain bunda ikan patin, aku bingung mau dimasak apaan. Yaudah aku bikin pindang patin aja."
"Kamu enggak usah bingung soal masak, apapun yang kamu masak pasti akan aku makan. Kalo kamu enggak sempet atau males masak, aku juga enggak masalah. Kita bisa pesan makanan atau makan diluar."
Zahra mengangguk. Dia merasa sangat beruntung memiliki suami seperti Rayyan. Semoga saja kemesraan seperti ini akan bertahan selama, bukan semata karena status mereka yang masih pengantin baru saja.
"Tadi ngapain aja di warung bunda?"
"Kayak biasanyalah. Bantuin ngelayanin orang yang beli makan, beresin piring kotor, cuci piring juga."
__ADS_1
"Warung makan bunda mau digedein enggak? Atau seenggaknya nambah karyawan, biar bunda bisa istirahat di rumah. Kamu juga enggak perlu bantuin kayak tadi."
Dengan cepat Zahra langsung menggelengkan kepalanya. "Bunda enggak akan mau, sayang. Bunda akan lebih milih capek di warung daripada berdiam diri di rumah."
"Aku cuma khawatir. Usia bunda udah enggak muda lagi, harus banyak istirahat. Bunda kan bisa duduk aja dimeja kasir. Aku juga enggak mau kamu digenitin sama laki-laki yang beli di warung makan bunda. Atau malah bisa-bisa kamu viral di socmed."
Zahra meletakkan alat makannya, tangannya menutup mulutnya yang tertawa begitu kerasnya. "Kok bisa sih kamu punya pemikiran kayak gitu? Mana mungkin ada yang genit sama aku, sementara aku sendiri udah bersuami."
"Ya bisalah. Mereka mana tau kalo kamu udah nikah?"
Zahra menggeser kursinya, mendekat pada Rayyan yang masih asik menikmati makan malamnya. "Sayang, liat deh. Kamu ngasih aku cincin nikah dengan berlian segede ini, yakali mereka enggak tau kalo aku udah nikah? Tadi pas aku mau nyuci piring aja karyawan bunda pada heboh. Pada takut berliannya copot terus ilang hahahahaha...."
Rayyan telah menyelesaikan makannya. Setelah mengelap mulutnya dan meminum minumannya, kini giliran Rayyan yang memposisikan duduknya menghadap ke arah Zahra.
"Aku enggak masalah kalo berliannya ilang karena kamu bantuin nyuci piring di warung makan bunda. Tapi aku takut kamu ilang karena kecantol customer bunda."
"Aku serius, Zah." wajah Rayyan berubah menjadi serius sekarang, dan Zahra tahu ini bukan waktu yang tepat untuk bercanda.
"Aku juga serius, sayang. Aku enggak akan terpikat sama pria mana pun selain kamu."
Rayyan tertawa sambil mencubit pipi Zahra dengan gemas. "Sekarang aku yakin kalo dulu pasti kamu sering digombalin Rafa, makanya jadi ketularan gini ngomongnya."
......................
__ADS_1
"Sal...." panggil papa Adit saat baru saja keluar kamar mandi.
"Kenapa sih, mas? Aku lagi siapin baju kamu disini."
Papa Adit tersenyum. Tadinya ia pikir istrinya itu masih di kamar anak-anak mereka karena pintu kamar masih dibiarkan terbuka. Dengan handuk yang melilit dipinggangnya, papa Adit berjalan untuk menutup pintu kamar dan berbalik mendekati mama Salma.
Usianya memang tidak lagi muda, tapi tetap saja dirinya masih terlihat seksi dimata mama Salma. Begitu pun sebaliknya, itulah sebabnya hubungan keduanya tak kalah romantisnya dengan hubungan Rayyan dan Zahra yang baru dua minggu sah menjadi suami istri itu.
"Hari ini aku cuma setengah hari di kantor."
"Kenapa?" tanya mama Salma sambil membantu papa Adit berpakaian.
"Mama mau nginep kesini, tapi minta Rafa yang jemput. Mama juga bilang pengen main ke rumah orangtuamu dulu."
"Oiya? Kalo gitu nanti aku nyusul ke rumah mama kali ya."
Papa Adit menggelengkan kepalanya sambil mengancingkan kancing kemejanya. "Di rumah aja, aku pengen manja-manjaan sama kamu. Mumpung rumah sepi dan enggak ada anak-anak."
"Hahahahaha.... ya ampun, mas. Malu sama umur tau! Harusnya kan Rayyan sama Zahra yang mesra-mesraan gini, mereka yang masih pengantin baru dan masih produktif."
"Memangnya kenapa? Bermesraan sama istri kan enggak pandang usia. Kamu udah jadi kayak Rafa aja sekarang yang selalu enggak suka kalo liat kita mesra-mesraan."
Mama Salma hanya mengendikkan bahunya, sambil tersenyum dan memungut handuk yang tadi dikenakan oleh suaminya.
__ADS_1
"Bahkan aku masih bisa ngehamilin kamu biar dapet adik buat Rafa." sambung papa Adit yang kemudian melabuhkan kecupan manisnya dipipi mama Salma.
"Enggak. Pabrikku udah tutup!" seru mama Salma meninggalkan papa Adit yang sedang bersiap untuk ke kantor.