
Happy reading 😊
***
Sesuai janjinya pada sang mama semalam, hari ini Rafa mengantar mamanya mengunjungi rumah tante Widya. Sang pemilik rumah, tante Widya dan Om Taufik, merupakan teman dekat mamanya saat berkuliah dulu.
Keluarga mereka sering bertemu. Anak sulung tante Widya dan Om Taufik bahkan seusia dengan dengannya. Namanya Wildan, yang juga dekat dengan Rafa karena saat SMP dan SMA berada di sekolah yang sama. Sedangkan anak bungsu mereka berusia tujuh tahun dibawah Wildan dan berjenis kelamin perempuan. Namanya Hanna, gadis berusia empat belas tahun nan cantik jelita.
"Ayah sama bunda lagi keluar sebentar tante, katanya beliin bakso pesenan tante. Paling sebentar lagi juga pulang." ucap Hanna setelah menyuruh mama Salma dan Rafa masuk ke dalam rumah.
"Hmm... bisa langsung makan bakso deh ini. Kamu mau kemana?" tanya mama Salma sembari meletakkan bawaannya di meja dan duduk disofa bersebelahan dengan Rafa.
"Saya bikinin minum dulu ya, Tante. Tante mau minum yang hangat atau dingin?"
"Mama gue doang nih yang ditawarin? Gue enggak ditawarin?" Rafa merajuk dan langsung membuat Hanna tertawa.
"Udah, kamu duduk disini aja. Enggak usah repot-repot bikin minuman." mama Salma menepuk sofa disebelahnya agar Hanna duduk. "Kamu di rumah sendirian?"
"Iya tante, kak Wildan lagi keluar sama temen-temennya."
"Halah, abang lo paling lagi sama pacarnya, Han." celetuk Rafa sambil tetap fokus pada layar ponselnya.
"Heh!" mama Salma memukul paha Rafa. "Emangnya Wildan kayak kamu yang kerjaannya pacaran terus?"
"Enggak terus juga kali, ma. Ini buktinya lagi nganterin mama ke rumah tante Widya."
Hanna yang melihat perdebatan kecil antara ibu dan anak itu tersenyum. Hal seperti ini memang sering terjadi jika keluarga mereka sedang berkumpul. Sosok Rafa memang dikenal Hanna sebagai anak yang jahil dan senang berkata semaunya, sehingga sering membuat mamanya atau kakak perempuannya marah.
"Naahhh, itu dia ayah sama bunda." Hanna beranjak dari duduknya dan membukakan pintu.
Tak berselang lama, dua sahabat mama Salma itu muncul dan langsung membuat kehebohan di ruang tamu siang itu. Rafa menggelengkan kepalanya. Mamanya ini sering bertemu dengan teman-temannya, tapi tetap saja seheboh ini saat bertemu. Mungkin wanita memang seperti itu.
__ADS_1
"Ayo makan bakso dulu, Fa." ucapan om Taufik langsung mengalihkan perhatian Rafa yang masih memandangi mamanya dan tante Widya dengan segala kehebohannya khas ibu-ibu.
"Ehh, iya, Om." Rafa mengangguk, lalu mengikuti semua orang yang berjalan masuk menuju ruang makan.
Rafa dengan seksama mengamati Hanna yang begitu cekatan menyiapkan alat makan. Kakinya langsung berbelok menyusul Hanna dan meraih nampan mangkok, gelas dan alat makan lainnya.
"Anak kecil gaya-gayan bawa seberat ini." Rafa mengejek dan langsung membuat Hanna berdecak kesal.
"Apaan sih, Kak? Aku kan udah gede, udah empat belas tahun tau!" jawab Hanna dengan kesal.
"SMP aja belum lulus, berarti belum gede."
"Tapi aku kan udah mens, berarti udah gede dong."
"Udaaaahhhhh!" mama Salma berucap sambil mencubit pipi Rafa. "Kebiasaan banget ini dimana pun selalu bikin gaduh."
"Cuma bercanda kok, Ma. Rafa kasian tuh sama Hanna, masih kecil gitu bawa nampan berat ntar jatuh kena kaki pasti nangis kejer dia."
"Enggaklah, anak om yang paling cantik ini enggak cengeng tau. Enak aja kamu bilang gitu." om Taufik membela Hanna sambil mengusap rambut anak bungsunya itu.
"Iya Om, percaya. Hanna masih empat belas tahun aja cantiknya bukan main, gimana kalo udah gede ntar. Duuhhh, hati-hati om. Nanti rumahnya jadi rame didatengin cowok-cowok yang mau ngajak Hanna kencan." Rafa menimpali dengan nada bercanda.
"Kamu enggak ikut antri?" goda tante Widya sambil mencolek lengan Rafa.
"Boleh. Tapi harus dapet nomer antrian nomer satu."
"Iihhh, ogah aku kencan sama kak Rafa. Udah tua ntar." Hanna langsung menolak. Meskipun anak teman orangtuanya ini tampan dengan sejuta pesona, namun usia mereka yang terpaut jauh membuat Hanna menganggap Rafa sudah tua. Padahal usia Rafa sama dengan kakaknya.
"Gue juga enggak mau sama elo, masih anak-anak. Kalo minta sesuatu enggak diturutin bisa repot ntar ngurusin elo yang nangis ditempat." jawab Rafa sambil sibuk menuang bungkusan berisi bakso itu pada mangkoknya.
"Stop, Fa! Kamu kalo godain Hanna ntar mama suruh pulang loh." mama Salma mengancam, tapi Rafa mana takut dengan ancaman mamanya yang sama sekali tak menakutkan itu.
__ADS_1
"Bentar, ma. Rafa abisin baksonya dulu. Sayang kan udah dibelin om Taufik sama tante Widya jauh-jauh." Rafa menjawab dengan santai.
Mama Salma memijit pangkal hidungnya. Anak bungsunya ini benar-benar sesuatu. Nampaknya memang dengan suaminya-lah nyali Rafa bisa langsung ciut meski hanya dengan tatapan mata.
***
"Jangan nunggu pesan dari Zahra. Dia pasti lagi menikmati honeymoon-nya sama Rayyan." ucap Zach membuyarkan lamunan Eowyn.
Siang itu mereka sedang makan siang bersama dijam istirahat kantor. Sedari tadi, Eowyn terus-terusan mengecek ponselnya. Eowyn bilang sejak pesawat yang ditumpangi Rayyan dan Zahra mendarat sempurna di Lombok, Zahra tak lagi membalas pesannya. Bahkan sepertinya temannya itu mematikan ponselnya, atau bisa jadi kehabisan daya baterai, atau tidak ada sinyal, atau... karena tidak ingin bulan madunya diganggu?
Eowyn tersenyum, lalu berbalik mengusap punggung tangan Zach. "Biasanya aku juga enggak begini kalo Zahra telat balas pesanku. Mungkin karena sekarang dia udah jadi kakak iparku, jadi aku begitu pengen selalu deket sama dia."
"Jadi, gimana rasanya punya sahabat yang akhirnya jadi kakak ipar?"
"Hmmm... aku belum ngerasain dengan benar. Abang udah langsung nge-keep Zahra untuk dia sendiri. Kemarin doang bisa ketemu dan ngobrol heboh lagi, itu pun cuma sebentar karena abang ngajakin Zahra balik ke rumah mereka." Eowyn mengerucutkan bibirnya diakhir kalimat.
"Aku mungkin juga akan seperti itu saat kita menikah nanti. Berkunjung ke rumah orangtua sebentar, lalu sisa kita menghabiskan waktu hanya berduaan saja." Zach berucap dengan santai. Matanya seperti sedang menerawang, membayangkan saat nanti ia dan Eowyn akhirnya bisa mengucap janji setia sehidup semati.
Sedangkan pipi Eowyn bersemu merah mendengar kata 'pernikahan' yang diucapkan oleh kekasihnya. Melihat betapa bahagianya Zahra dan sang abang pada hari pernikahan dan saat kunjungan ke rumah kemarin, Eowyn pun merasa iri pada keduanya. Ia juga ingin menikmati masa-masa itu sesegera mungkin, dan bersama Zach.
"Apa kita harus pindah ke meja lain? Kayaknya kamu kepanasan disini?" Zach nampak bingung sambil melihat kesekeliling, mencari meja kosong yang bisa mereka tempati.
"Eh?" Eowyn tersentak. Semerah itukah wajahnya hingga membuat Zach mengira ia sedang kepanasan?
"Aku... enggak apa-apa, sayang." Eowyn mencoba meyakinkan Zach bahwa mereka tak perlu berpindah tempat.
"Kamu yakin? Tapi wajahmu tadi memerah?" Zach mengamati wajah Eowyn kembali untuk memastikan keadaan kekasihnya.
"Enggak apa-apa, itu mungkin karena... tadi... aku terlalu menatap keluar jendela, jadi... kena panas matahari mungkin."
Zach mengangguk sambil tersenyum. Sebenarnya ia tahu jika wajah Eowyn memerah karena ia membahas tentang pernikahan. Tapi Zach tidak mau semakin menggoda kekasihnya itu dan membuatnya semakin malu.
__ADS_1
"Ahh, itu pesanan kita datang. Mungkin minuman dingin pesananmu bisa segera mengurangi kegerahanmu." ucap Zach sambil mengedipkan matanya ke arah Eowyn.