MENIKAH

MENIKAH
S2 - Copy Paste


__ADS_3

Happy reading 😊


***


Begitulah gosip, menyebar dengan begitu cepatnya apalagi jika beritanya terkait skandal. Mungkin sekarang semua orang di perusahaan Rayyan tengah membicarakan dirinya dan juga Zahra. Rayyan memang tidak mengetahui siapa orang pertama di kantornya yang menyebarkan gosip itu. Namun ia yakin, kalau Nadine-lah sumber utamanya.


Rayyan begitu yakin mencurigai Nadine karena hanya dialah yang ikut ke Bali dan memergokinya keluar dari kamar Zahra. Meskipun Nadine tidak bekerja di kantornya, tapi Rayyan yakin Nadine memiliki maksud tersendiri. Bisa jadi karena merasa marah padanya setelah pertengkaran mereka di lokasi proyek, atau karena ketidaksukaannya kepada Zahra.


Jam pulang kantor telah lewat beberapa menit yang lalu. Namun Zahra dan Rayyan masih sibuk dengan pekerjaan mereka yang sempat tertunda akibat drama tangisan Zahra tadi.


"Kalian mau lembur, Zah?" tanya bu Meta sambil merapikan tasnya.


"Enggak, bu. Ini udah selesai kok, bu Meta mau balik sekarang?"


"Aku tunggu sampai pak Rayyan keluar ruangannya deh ya."


Zahra menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, lalu mematikan laptopnya dan mulai berkemas.


"Ayo pulang sekarang, Zah." ucap Rayyan yang baru saja keluar dari ruangannya.


Lelaki itu telah menenteng tas kerjanya dengan tersenyum lebar sambil berjalan menuju meja bu Meta dan juga Zahra.


"Bu Meta bareng kami aja, rumah bu Meta searah dengan Zahra kan?" sambung Rayyan.


"E-enggak usah, Pak. Suami saya jemput kok, ini udah sampai di depan."


"Kalo gitu kita turun barengan ya bu?" Zahra berucap sambil menggenggam tangan bu Meta.


Bu Meta tersenyum, lalu mengusap punggung tangan Zahra dengan lembut. "Udah aku bilang kalo kamu enggak perlu takut, tuh ada pak Rayyan yang siap sedia ngelindungin kamu." Bu Meta melirik sekilas ke arah Rayyan sambil tersenyum.

__ADS_1


"Jadi kamu lebih gandeng tangan bu Meta daripada tanganku?" Rayyan memandangi tangan kanannya dengan tatapan tak percaya.


Zahra memanyunkan bibirnya, Rayyan selalu saja cemburu diwaktu yang tidak tepat.


"Ayolah turun, kasian suami bu Meta kelamaan nunggu di bawah." imbuh Rayyan sambil meraih tangan Zahra dan menggandengnya.


Ketiga turun secara bersama-sama, meskipun bu Meta sendiri merasa canggung karena harus berada ditengah-tengah dua orang yang sedang kasmaran ini namun berusaha keras menyembunyikannya dihadapan publik.


Zahra terlihat gusar saat lift akan sampai di lobi. Dirinya tahu pasti dia akan semakin ramai diperbincangkan, apalagi dengan kondisi sekarang dimana tangan Rayyan menggenggam tangannya dengan erat.


Denting suara lift terdengar. Rayyan melangkah keluar dengan menggandeng Zahra, diikuti oleh bu Meta yang ada di belakang mereka. Ini adalah kali pertama Rayyan menunjukkan hubungannya dengan Zahra saat berada di kantor. Dan tentu hal ini menarik karyawan yang berada di lobi, bahkan beberapa dari mereka sengaja memotret dan memvideo momen itu. Tentu saja untuk bahan gosip yang selanjutnya hehehehe....


***


Setelah makan malam, Adit meminta Rayyan untuk menemuinya di ruang kerjanya. Rayyan sudah tahu apa alasan papanya memintanya bertemu itu, pastilah papanya telah mendengar gosip yang seharian ini beredar di kantornya.


Tok... tok...


"Duduk. Kamu tau kan kenapa papa nyuruh kamu kesini?" Adit berucap dengan nada yang serius. Tatapannya terlihat seperti harimau yang telah siap menerkam mangsanya.


Rayyan mengangguk, lalu duduk di sofa single yang berseberangan dengan papanya.


"Bisa kamu jelaskan kejadian yang sesungguhnya, Rayyan?" nada marah itu mulai keluar, namun Adit masih menahannya. Ia harus tahu kebenarannya dari anaknya.


"Katakan yang sebenarnya. Jangan bohongi Papa, dan jangan ada yang kamu tutup-tutupi untuk melindungi dirimu atau juga Zahra, Rayyan. Dalam kasus ini bukan hanya nama kalian yang sedang dibicarakan, namun juga perusahaan. Jika berita ini sampai ke luar dan para investor mendengar selentingan kabar ini, mereka pasti akan meremehkanmu."


Rayyan mengangguk, lalu menghirup oksigen untuk menenangkan dirinya dan mulai menjelaskan kejadian yang sesungguhnya pada papanya. Kejadian dimana ia yang merengek untuk tidur di kamar Zahra selama di Bali meskipun Zahra menolaknya, bahkan Rayyan juga menjelaskan apa yang terjadi saat ia dan Zahra bersama.


Ditengah penjelasan dari Rayyan, Salma masuk ke dalam ruang kerja untuk ikut serta mendengarkan penjelasan anaknya. Ia begitu terkejut ketika suaminya pulang kerja dengan membawa kabar miring seperti itu.

__ADS_1


"Kita enggak tidur bareng dalam artian yang itu, Pa... Ma.... Kita cuma tidur sebelahan, yaaaa... Rayyan peluk Zahra sih." Rayyan menggaruk kepalanya saat mulai menceritakan sesuatu yang seharusnya menjadi rahasianya dengan Zahra.


"Sama... kissing doang. Beneran cuma itu, Pa... Ma.... Enggak ada hal lain lagi, apalagi yang menyangkut hubungan intim dan sejenisnya." sambung Rayyan.


"Apa segitu pengennya kamu untuk cepet-cepet tidur sama Zahra? Kamu bisa nikahin dia, Rayyan. Bukan harus melakukan suatu hal yang seperti ini! Gimana jadinya kalo pada saat itu ternyata ada operasi satpol PP?" ucap Adit dengan geram.


"Coba kamu bilang ke Papa Mama kalo kamu pengen cepet nikah sama Zahra, pasti kita izinin, Rayyan. Enggak sampai kamu melakukan hal kayak gini. Gimana juga nanti kamu akan jelasin ini ke keluarga Zahra? Mereka pasti akan benci sama kamu karena kamu udah seenaknya aja sama anak gadis mereka." imbuh Adit.


"Maaf Pa... Ma...." jawab Rayyan sambil tertunduk. Ia menyesal karena tidak berpikir sejauh itu. Ia mungkin tidak akan peduli dengan gosip yang tersebar di kantornya, tapi ia lupa tidak memikirkan keluarga Zahra.


"Jalani hubungan yang serius sama Zahra. Jangan cuma kamu ambil enaknya doang dan memanfaatkan Zahra. Kamu juga bisa habis ditangan Eowyn." Adit memperingatkan dan dijawab dengan anggukkan kepala oleh Rayyan.


"Istirahatlah, Papa tau hari ini kamu kecapekan."


Sesaat setelah ucapan papanya, Rayyan keluar meninggalkan ruang kerja papanya. Adit masih berusaha menahan amarahnya, lalu menoleh ke arah istrinya yang duduk di sebelahnya. Salma malah seperti menahan tawa terhadapnya.


"Kenapa ketawa?" tanya Adit kebingungan.


"Kamu enggak tau kenapa?" Salma balik bertanya, dan menggelengkan kepalanya.


"Rayyan itu the real copy paste-mu. Dua puluh tahunan yang lalu, jika almarhum papa tau anaknya suka bawa pacarnya untuk pacaran di apartemennya, papa pasti akan marah kayak gini. Aku bener kan?"


Penjelasan Salma barusan langsung membuat Adit gelagapan. Salma benar, dirinya dulu juga melakukan hal sama seperti Rayyan. Beruntungnya tak ada seorang pun yang tahu tentang hal itu, jadi dirinya aman dari terkaman papanya dulu.


Adit menghela nafasnya, lalu menarik tubuh Salma dalam pelukannya.


"Aku lupa kalo memang buah jatuh tak jauh dari pohonnya." ucap Adit dengan lirih sambil mendaratkan sebuah kecupan di kening Salma.


***

__ADS_1


*Maklum yaaa Papa Adit kan usianya udah lebih dari setengah abad, jadi lupa dulu mudanya gimana. Duuhhh... kasian abang yang udah kena marah papa Adit 😅😅


Votenya jangan lupa ya, terima kasih udah selalu setia nungguin lanjutan ceritanya* 😘😘


__ADS_2