
Happy reading 😊
***
Seminggu berlalu setelah perjalanan bisnis mereka ke Bali, Rayyan dan Zahra menjalani rutinitas pekerjaan mereka seperti semula. Nadine bahkan menyerahkan tugas yang sebelumnya ia handle kepada karyawannya yang lain karena enggan untuk bertemu dengan Rayyan maupun Zahra.
Rayyan sendiri tidak masalah, terlebih pembahasan proyek itu menjadi lebih fokus tanpa terselip obrolan pribadi seperti yang dilakukan Nadine sebelumnya.
"Zah... ada yang mau aku tanyain. Tapi kamu jangan marah ya?" ucap bu Meta yang baru saja sampai di mejanya setelah makan siang di kantin bawah.
"Apaan bu?" Zahra menoleh sekilas, lalu kembali menggerakkan jari-jarinya meneka. tuts keyboard laptopnya.
Bu Meta merogoh ponselnya, lalu menyodorkannya pada Zahra. "Di kantor lagi rame pada bahas soal ini di whatsapp pribadi."
Zahra menerima ponsel milik bu Meta. Matanya membelalak ketika membaca isi percakapan dalam pesan itu.
"Bu Meta... dapet dari mana?" Zahra menyerahkan kembali ponsel itu dengan gemeteran.
"Temen aku yang ngirimin screenshoot-an itu tadi pas makan siang di kantin. Dia... tanya ke aku barang kali aja aku tau gitu. Karena kan... aku kerja bareng pak Rayyan sama kamu."
"Sumpah demi Allah bu, itu semuanya enggak bener. Aku... aku emang pacaran sama pak Rayyan, tapi... kita enggak sampai sejauh itu." Zahra menangis.
Sebenarnya sejak di Bali minggu lalu, Zahra telah mengatakan pada Rayyan jika gosip ini pasti akan tersebar. Gosip tentang Rayyan dan dirinya yang tidur bersama atau bahkan gosip menjijikkan yang menyebutnya telah menggoda bosnya itu.
__ADS_1
"Sorry, Zah. Bukan maksud aku untuk bikin kamu nangis. Aku percaya semua yang kamu jelasin ke aku. Tadi... aku tanya karena aku juga penasaran, Zah." Bu Meta mengulurkan beberapa lembar tisu sambil mengusap punggung Zahra yang kini telah menangis itu.
"Dari minggu lalu aku udah bilang ke Pak Rayyan kalo gosip seperti ini akan beredar, bu. Dan bener aja kan, sekarang sekantor ini pada ngomongin aku." ucap Zahra disela-sela isak tangisnya.
"Jadi... gosip ini bermula karena ada suatu kejadian di Bali ya, Zah?"
Zahra menganggukkan kepalanya, lalu menyeka air matanya yang sedari tadi mengalir dengan derasnya.
"Kak Nadine... kayaknya enggak sengaja liat pak Rayyan keluar dari kamar hotel aku, bu. Pas disana dia juga udah nuduh aku kalo aku yang ngerayu pak Rayyan demi morotin uangnya. Padahal enggak sama sekali, bu. Pak Rayyan emang semalaman ada di kamarku, kita emang tidur berdua karena pak Rayyan yang keukeh. Tapi cuma sekedar tidur sebelahan doang, bu. Enggak ada hal kayak yang mereka omongin dichat tadi." Zahra kembali terisak.
"Ya begitulah, Zah. Sesuatu yang orang liat cuma sekilas, nyebarnya bisa fatal kayak gini. Udah ah, jangan nangis lagi. Ntar aku yang enggak enak sama pak Rayyan karena udah bikin pacarnya nangis."
Zahra terkekeh, namun air matanya masih saja mengalir.
Zahra tertawa, tangannya kembali meraih tisu untuk menyeka air matanya. "Baru dua mingguan kok bu, tapi udah dapet ujian yang kayak gini."
"Sabar sih, Zah. Dalam setiap hubungan, ujian itu selalu ada. Itu juga sebagai penguat hubungan kalian kan. Sekalian belajar juga, Zah. Nanti kalo udah nikah kayak aku malah masalahnya macem-macem lagi. Perkara handuk basah yang tergeletak di kasur aja bisa bikin berantem sama suami."
Masih mencoba menenangkan dirinya, tangisan Zahra belum juga berhenti saat Rayyan membuka pintu ruang kerjanya. Rayyan keluar dengan membawa beberapa map ditangannya. Dan ia terkejut sekaligus melangkahkan kakinya dengan cepat ke kursi yang diduduki oleh Zahra.
"Kamu kenapa nangis?" Rayyan menyerahkan map itu pada bu Meta, lalu setengah berjongkok untuk memandangi wajah Zahra yang masih tertunduk berurai air mata itu.
"Liat dihape bu Meta tuh. Gosip yang aku takutin minggu lalu beneran kesebar tuh!" Zahra mendengus kesal.
__ADS_1
Rayyan memalingkan wajahnya, menatap bu Meta yang tampak canggung itu. Namun dengan segera bu Meta menyodorkan ponselnya ke Rayyan agar bosnya itu tahu penyebab sang kekasih menangis sampai tersedu.
Rayyan mengerutkan dahinya, merasa sangat marah atas pemberitaan yang tidak berdasarkan fakta itu. Lebih-lebih banyak perkataan disana yang menyudutkan bahkan memfitnah Zahra.
Rayyan menyerahkan kembali ponsel itu pada pemiliknya, lalu menarik Zahra dalam pelukannya sambil memberikan usapan lembut dipunggung kekasihnya itu.
"Aku akan selesaiin semuanya, kamu enggak usah khawatir. Aku juga akan ngomong ke Nadine karena pasti dialah yang menyebarkan gosip ini ke salah satu karyawan disini."
"Harus banget ketemu dia?" Zahra mendorong bahu Rayyan dan melepaskan pelukannya. "Aku enggak kasih izin!" imbuh Zahra dengan nada yang kesal.
"Ya tapi kalo enggak ketemu dia gimana masalah ini bisa selesai, sayang? Enggak mungkin kan aku panggil satu per satu orang yang gosipin kita."
"Pasti ada cara lain, Yang. Enggak harus dengan kamu ketemu dia. Kalo kamu tetep ngeyel ketemu dia, mulai besok aku berhenti kerja jadi PA kamu."
"Eh? Jangan gitu dong. Oke... oke... aku akan pikirkan cara lainnya, tapi janji jangan nangis lagi karena masalah ini."
Bu Meta langsung pura-pura sibuk merapikan map dokumen di mejanya yang sebenarnya telah rapi itu. Dirinya sekuat tenaga menahan senyum menjadi saksi pertengakaran pasangan baru yang terkesan sangat menggemaskan itu. Bahkan bosnya yang selalu memasang wajah galak, ternyata benar-benar bertekuk lutut pada Zahra. Bukan karena Rayyan sedang berlutut di depan Zahra sekarang, namun bertekuk lutut untuk mengiyakan semua perkataan Zahra.
***
Votenya jangan lupa, biar daku semangat untuk nulis lanjutannya ya ehehehehe....
Thank you 😘😘
__ADS_1