
Happy reading 😊
***
Eowyn berlari kecil menuju mobil Zach. Sesaat setelah masuk ke dalamnya, Zach langsung mendaratkan sebuah kecupan dipipi Eowyn.
"Kau sudah kenyang?" tanya Zach.
"Iya, makanannya begitu banyak dan lezat. Kamu udah makan malam, sayang?"
Zach menganggukkan kepalanya. "Tentu saja. Jika aku belum makan malam pasti kau akan mengomel sekarang. Benarkan?" canda Zach yang kemudian ditertawakan oleh keduanya.
"Baiklah, ayo pulang sekarang."
Zach melajukan mobilnya meninggalkan restoran milik Andrew. Setelah beberapa saat perjalanan, Zach menghentikan mobilnya di depan sebuah taman yang ramai pedagang kaki lima.
"Kau mau beli sesuatu?" tanya Eowyn kebingungan.
"Nanti, setelah aku mendengarkan penjelasan darimu." Zach melepaskan seatbelt-nya dan memutar tubuhnya hingga menghadap Eowyn.
"P-penjelasan apa?" tanya Eowyn dengan ragu.
"Aku melihat kalian berpelukan di dalam restoran tadi, jadi aku keluar lagi dan memutuskan untuk menunggumu di mobil. Bisa kau jelaskan apa yang sebenarnya terjadi, sayang?" Zach menggenggam tangan Eowyn.
"Katakan yang sebenarnya, aku tidak akan marah. Aku yakin kamu tidak akan membohongiku." Zach mengecup punggung tangan Eowyn.
"T-tidak ada yang terjadi, sayang. Kami hanya makan malam, lalu... Andrew bilang aku harus membayarnya dengan pelukan."
"Pelukan?"
Eowyn mengangguk, dan dirinya mulai panik jika Zach akan sangat marah kepadanya.
"Sebenarnya... sudah sejak lama Andrew mendekatiku, sejak SMA. Tapi... abang dan Rafa selalu menghalanginya. Bahkan hanya untuk sekedar bertukar pesan denganku."
"Memangnya... Andrew kenapa?"
"Dulu... abang dan Andrew menyukai seseorang yang sama, namun gadis itu lebih memilih abang. Karena Andrew tidak terima, jadi..." Eowyn menjeda perkataannya cukup lama, hingga membuat Zach makin tak sabaran. Eowyn tidak tahu apakah harus mengatakan semuanya secara detail atau tidak.
__ADS_1
"Jadi?" Zach mengulangi kata yang diucapkan Eowyn tadi.
"Jadi Andrew mengancam abang kalo dia akan memacariku. Andrew... terkenal dengan gaya pacarannya yang bebas, dia juga bilang kalo... dia... akan memastikan aku berakhir di ranjangnya."
Penjelasan Eowyn membuat Zach sangat terkejut. "Kenapa baru mengatakannya sekarang?" nada bicara Zach telah naik satu tingkat.
"Kau janji tidak akan marah padaku." mata Eowyn mulai berkaca-kaca.
"Aku tidak marah, sayang. Tapi seharusnya kau mengatakan ini sejak awal jadi aku tidak akan memberikanmu izin untuk menemuinya. Bagaimana jika sesuatu terjadi padamu tadi?"
"Tapi disana ada banyak orang, sayang. Itu sebabnya aku berani datang sendiri. Terlebih, Andrew juga anak dari teman papa. Aku... tidak bisa mengabaikannya."
Zach mengehela nafasnya dengan kasar, lalu kembali mengecup punggung tangan Eowyn dengan lembut. "Malam ini aku benar-benar merasa gagal untuk menjagamu. Lain kali, akan kupastikan kau selalu pergi denganku, sayang. Tidak ada penolakan, oke?"
Eowyn mengangguk, ia merasa lega jika masalah ini dapat teratasi dengan baik.
"Mau turun dan beli cemilan?" ucap Zach sambil mengusap rambut Eowyn dengan lembut.
***
Sekarang, Rayyan beserta dengan kedua orangtuanya sedang duduk berhadapan di ruang kerja papanya. Setelah makan malam tadi, Rayyan mengatakan jika ada hal penting yang harus dibicarakan dengan mereka.
"Iya, Pa. Rayyan udah yakin."
"Kalian baru kenal beberapa saat, Rayyan. Bahkan kalian berpacaran belum lebih dari tiga bulan kan?" kini mama Salma yang buka suara.
"Itu sudah cukup, ma. Mama sama Papa bahkan cuma punya waktu sebulan untuk saling kenal tanpa status berpacaran tapi berhasil juga kan?" Rayyan menjawab sambil menggoda kedua orangtuanya.
"Kondisi ini tidak bisa disama ratakan, Rayyan. Meskipun sama-sama menikah, nantinya permasalahan yang akan kalian hadapi juga berbeda dengan yang mama papa hadapi selama ini." papa Adit berucap dengan tegas. Membuat Rayyan yang masih dalam mode bercandanya langsung diam seketika.
"Rayyan yakin, Pa. Rayyan udah siap untuk menanggung segala kebutuhan Zahra serta menjaga dan melindunginya."
"Kamu mau nikah cepet-cepet karena gosip yang beredar kemarin? Atau karena ada alasan lain?" selidik mama Salma.
"Ya karena gosip juga sih, ma. Tapi... sepenuhnya Rayyan pengen nikah karena emang udah yakin sama Zahra."
"Bukan karena udah kebelet?" kata mama Salma sambil memandang tajam ke arah Rayyan dan tangannya yang bersedekap.
__ADS_1
Rayyan gelagapan, mamanya ini tepat sasaran sekali. Namun Rayyan tetap mencoba untuk menenangkan dirinya yang gugup karena ditatap tajam oleh mama dan papanya.
"Iyaaaa... karena itu juga. Daripada ntar Rayyan kebablasan malah dosa kan, jadi yaaaa... mending diSAH-in aja biar kalo kita mau gimana-gimana udah halal. Enggak jadi bahan gosipan orang juga."
"Anakmu tuh, diem-diem kayak Rafa juga ternyata." kata mama Salma sambil menepuk paha papa Adit.
"Ya anak kamu jugalah, Sal. Kan kita bikinnya bareng."
"Duuhhh... entah sifat itu sebenernya nurun dari siapa sih, mas? Tapi seingetku emang kamu semesum itu saat awal kita baru nikah." mama Salma memijit pangkal hidungnya.
Rayyan menahan tawa. Baru sekaranglah terungkap ternyata sifat mesum yang ada dalam dirinya dan Rafa itu menurun dari sang Papa. Rayyan bisa bayangkan bagaimana mesumnya sang papa setelah kedua orangtuanya resmi menikah. Terlebih, keduanya kan menikah karena perjodohan dan tanpa berpacaran. Pasti papanya begitu liar!
"Ngetawain papa kamu ya?" suara papa Adit mengagetkan Rayyan yang tengah bermain di dunia imajinasinya.
"Enggak kok, Pa hehehehe...." Rayyan tersenyum manis ke arah papanya. "Jadi... direstuin enggak nih Rayyan buat ngelamar dan nikahin Zahra. Kalo diagama, anak yang udah dewasa terus minta nikah itu harus disegerakan kan pa... ma...? Biar enggak terjadi zina."
"Pinter ngomong kamu sekarang. Gara-gara konsultan cintanya Rafa sih. Coba konsultan cintamu itu papa, pasti masih kaku aja kamu." ucap mama Salma sambil melirik ke arah suami dan anaknya.
Papa Adit beranjak dari duduknya, berjalan menuju meja kerjanya dan membuka sebuah laci. Setelahnya, papa Adit menyodorkanbbenda itu pada Rayyan.
"Kartu apaan nih, Pa?"
"Kartu apartemen papa. Itu apartemen yang papa beli waktu papa masih kuliah sambil kerja dengan almarhum kakek. Memang kecil, tapi cukup kalo untuk kalian tempati sementara waktu awal menikah nanti." jawab papa Adit.
"Oohhh, jadi ini apartemen yang sering jadi tempat staycation rahasianya papa sama mama?" Rayyan kembali menggoda kedua orangtuanya.
"Itu cuma dipinjemin, nantinya kamu harus usaha beli rumah sendiri, Rayyan."
"Siap, ma. Rumah mah pasti beli, tapi nanti nunggu Zahra oke dulu hehehehe... Jadi, Rayyan direstuin kan ini?"
Papa Adit dan mama Salma mengangguk bersamaan dan tersenyum. Rayyan yang merasa begitu bahagia langsung beranjak dari duduknya dan memeluk kedua orangtuanya secara bersamaan.
***
Orangtuanya abang udah oke nih! Terus yang mau dilamar sama keluarganya gimana ya? 🤔
Vote-nya jangan kelupaan ya ehehehehe
__ADS_1