MENIKAH

MENIKAH
Terulang


__ADS_3

"Mbak, apa terjadi sesuatu?" tanya Asep penasaran.


Sejak keluar dari apartemennya tadi, ia melihat Salma berulang kali menyeka air matanya. Bahkan sesekali terdengar suara isakan dari jok belakang.


"Enggak ada apa-apa, Sep. Aku cuma dapet kabar buruk dari temen" Salma berbohong. Tidak mungkin kan dia bercerita jika suaminya menyembunyikan seorang wanita di apartemen tempat tinggal mereka dulu.


Asep terlihat bingung. Disituasi seperti ini, ia dibuat bingung harus melakukan apa. Apakah ia harus menepikan mobilnya terlebih dahulu dan memberikan Salma waktu untuk menangis? Apakah dia harus menelpon majikannya dan memberitahukan jika istri majikannya itu sedang menangis? Atau setidaknya ada cara lain yang bisa dia gunakan untuk menenangkan Salma dan menghentikan tangisannya? Aaahhh, itu benar-benar memusingkan. Terlebih lagi dia tidak memiliki pengalaman dengan seorang wanita.


Akhirnya, Asep memilih tetap melajukan mobilnya menyusuri jalan menuju rumah majikannya. Berkendara dalam tenang dan diam, agar tidak menambah waktu Salma yang masih saja terdengar menangis.


Perasaan leganya muncul ketika mereka telah masuk ke dalam kawasan perumahan majikannya. Sesaat setelah mobil berhenti tepat di teras rumah, Salma masih duduk ditempatnya. Asep melirik sekilas ke arah spion depan, terlihat Salma tengah menyeka sudut-sudut matanya dengan tisu.


"Tolong kamu bawa turun kardus sepatu ini ya, Sep. Taruh di dekat sofa ruang tengah aja" Salma akhirnya buka suara.


Terdengar jelas jika Salma belum selesai dengan acara menangisnya. Suaranya yang keluar terdengar seperti tertahan, matanya juga masih dipenuhi genangan air mata yang siap meluncur dengan derasnya.


"Baik, mbak"


"Dan tolong bilang ke bu Sari kayaknya saya ga akan makan malam. Persiapkan saja makan malam untuk mas Adit. Saya akan beristirahat di kamar, tolong jangan ganggu apapun itu alasannya"


Asep mengangguk. Tanpa menoleh dan menatap Salma yang masih duduk di jok belakang, Asep kembali mengiyakan permintaan Salma.


Tak berselang lama, Salma membuka pintu mobil dan keluar. Ia berjalan dengan cepat, seperti berlari kecil. Tanpa berkata dan menghiraukan apapun, ia segera menuju kamarnya.


Salma mendudukkan dirinya dipinggiran kasur. Ingatannya kembali memutar kejadian dia mendapati sosok penghuni yang sedang tinggal di apartemen milik suaminya. Sedari tadi ia mencoba untuk menenangkan pikirannya, mencoba untuk meyakinkan dirinya bahwa semua dugaannya adalah salah. Namun semuanya sia-sia. Emosi dirinya lebih menguasai hingga tidak menerima alasan apapun.


Tangisannya kembali tumpah, dadanya benar-benar terasa sesak. Terlebih jika mengingat kalau suaminya pernah memiliki hubungan khusus dengan wanita itu. Alasan apa yang mendasari suaminya untuk memberikan ijin tinggal wanita itu disana?


🎎


"Kenapa sepi sekali?" tanya Adit kepada bu Sari yang tengah menyiapkan menu makan malam dimeja makan.


Adit baru saja pulang. Biasanya, Salma akan menyapanya begitu ia masuk ke dalam rumah.


"Iya mas, dari sore mbak Salma ada di kamar. Asep bilang mbak Salma mau istirahat dan ga mau diganggu"


"Kenapa?" Adit terlihat bingung dan meminta penjelasan lebih lanjut.

__ADS_1


"Saya kurang tau ya, mas. Tapi... tadi Asep sempet cerita kalo mbak Salma nangis dimobil sepanjang perjalanan pulang"


Adit mengernyitkan dahinya. "Tolong tutup dulu makanannya ya, bu. Saya liat Salma dulu ke atas"


"Baik, mas"


Dengan langkah lebarnya, Adit menaiki anak tangga dan berjalan menuju kamarnya. Ia mengetuk dua kali dan memanggil nama Salma sebelum akhirnya membuka pintu karena tak mendapat jawaban dari istrinya.


Dilihatnya Salma dengan duduk disofa jendela yang belum tertutup tirainya. Salma memeluk kedua lututnya dengan tatapan ke depan yang terlihat kosong. Bahkan ia sampai tidak menyadari jika Adit telah berjalan menuju tempat dia duduk dan kemudian duduk dihadapannya.


"Sal..." ucap Adit dengan menyentuh lengan Salma yang membuat Salma terlonjak kaget.


Menatap Adit yang telah duduk dihadapannya kembali membuat perasaan Salma kembali kacau. Ia segera mengganti posisi duduknya, menurunkan kakinya ke bawah dan bergeser menjauhi Adit.


"Kamu kenapa?" tanya Adit yang semakin dibuat penasaran.


Salma melirik tajam menatap Adit. "Harusnya aku yang tanya mas Adit kenapa?"


"Maksud kamu apa sih, Sal?"


"Mas Adit selingkuh kan?" tuduh Salma dengan menatap Adit.


Adit terperanjak dengan tuduhan Salma barusan. Angin apa yang menghembus ke arah istrinya hingga membuatnya menuduh Adit melakukan perbuatan hina seperti itu?


"Maksud kamu apa sih, Sal? Kenapa tiba-tiba nuduh aku kayak gini?"


"Jelas aku nuduh mas Adit kayak gitu, aku lihat sendiri ada Tya tinggal di apartemen yang kita tinggalin dulu" Salma menjeda perkataannya, ia duduk dipinggir ranjang yang berhadapan dengan Adit. "Mas Adit selingkuh sama dia? Atau malah... dia sudah resmi jadi nyonya kedua makanya dia bisa tinggal disana?"


"Kamu ngomong apa sih sayaaang? Ini semua ga seperti tuduhanmu itu" jawab Adit sambil beranjak dari duduknya dan duduk disebelah Salma.


Tangannya ingin mencoba memeluk Salma dari samping, namun Salma segera bangkit untuk menghindar.


"Lalu kenapa dia tinggal disana? Kenapa mas Adit kasih ijin ke dia?" bentak Salma.


"Aku tau itu apartemen mas Adit, aku ga punya hak untuk ngelarang mas Adit ngelakuin apapun yang berhubungan dengan apartemen itu. Tapi harusnya aku juga berhak tau dari mulut mas Adit sendiri tentang apapun yang terjadi. Bukan cuma soal apartemen itu, tapi juga segala sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan mas Adit" sambung Salma.


"Maaf Sal, memang seharusnya aku mengatakannya padamu"

__ADS_1


"Mas Adit sengaja nyembunyiin dia disana biar mas Adit bisa bebas bertemu kapan pun kan? Seseneng itu ya, mas Adit pacaran di apartemen?"


"Sayaaaaang... kamu ngomong apaan sih?" Adit mencoba menenangkan Salma.


Salma hanya menatap Adit. Ia hanya ingin segera mendengar jawaban yang sesungguhnya. Adit berjalan mendekati Salma dan memegang kedua bahunya.


"Aku memang salah, Sal. Harusnya aku ngomong dulu sama kamu. Jadi, Tya lagi ada masalah di rumah. Dia butuh waktu untuk berpikir jernih tanpa gangguan dari kedua orangtuanya, jadi aku kasih dia tinggal disana beberapa hari untuk nenangin diri. Cuma itu, sayang. Enggak ada kejadian lain seperti yang kamu tuduhkan ke aku tadi"


"Mas Adit masih nganggap aku istri kan? Kenapa bisa mas Adit selalai itu ngambil keputusan bodoh tanpa diskusi sama aku? Gimana kalo orang lain yang tahu dan kemudian tersebar berita yang enggak-enggak seperti tuduhanku tadi?" Salma mendorong tubuh Adit dengan kuat. Ia harus mengeluarkan segala kekesalannya yang telah ia tahan sejak sore tadi.


"Apa mas Adit masih belum mau melibatkanku dalam setiap keputusan yang mas Adit ambil? Apa aku pantas untuk menjadi istri yang mendampingi mas Adit sehingga segala keputusannya aku ga berhak tau?"


"Sal... jangan berpikiran begitu" Adit mencoba meraih tangan Salma namun ditepis dengan cepat oleh Salma. "Aku enggak bermaksud kayak gitu, Sal. Maafkan aku untuk tindakan bodohku kali ini. Tapi percayalah, ini terjadi bukan karena aku sengaja. Aku waktu itu buru-buru untuk rapat, jadi aku memutuskannya gitu aja"


"Mas Adit kan bisa ngomong sama aku setelahnya, apa memang ga sepenting itukah aku bagi mas Adit?"


Sal... hei! Please jangan ngomong kayak gitu. Maafkan aku, aku bener-bener lupa Sal. Kau tau sendiri kan aku gampang lupa kalo pekerjaan udah mulai banyak kayak gini"


"Ini yang aku ga suka dari mas Adit" Salma mulai memukul lengan Adit, dan hal itu dibiarkan oleh Adit.


"Mas Adit selalu ngebuat aku jatuh pada kesalahan ini berulang kali, kesalahan yang bikin aku keliatan bodoh karena harus menuduh suami sendiri. Setega ini sih mas Adit sama aku? Aku udah bayangin hal yang enggak-enggak. Gimana kalo papa mama atau orang lain sampai tau kejadian ini? Gimana kalo semua orang dapet kabar mas Adit lagi nyembunyiin wanita simpanannya di apartemen itu? Jahat!"


Tak ada niatan Adit untuk menghentikan tangan istrinya yang mulai memukul lengannya. Biarlah Salma meluapkan segala kekesalannya pada tubuhnya. Toh, ini semua memang terjadi karena kesalahannya.


Memang tidak seharusnya ia dengan mudahnya memberi Tya ijin tinggal disana. Meskipun itu apartemen miliknya, tapi ia juga harus berdiskusi terlebih dulu dengan Salma. Bagaimana pun juga, istri tetap harus dilibatkan dalam setiap pengambilan keputusan. Melibatkan istri dalam setiap pengambilan keputusan, sekecil apapun masalah itu, sama dengan memuliakan dan menghargai sosok istri dikehidupan seorang suami.


Jika sudah terlanjur begini, tak ada yang bisa Adit perbuat selain meminta maaf dan berjanji untuk tidak mengulanginya kembali. Ia tentu tidak bisa meminta bantuan readers sekalian untuk membelanya kan? Walaupun readers semua tau bagaimana kejadian yang sebenarnya dari awal hehehehe....


***


Have a good day, everyone 😘


Stay safe dan jaga kesehatan selalu.


Jangan lupa untuk meninggalkan jejak disetiap part-nya, yang mau vote juga boleh silahkan hehehehe....


Bagi yang belum baca Cupcake's Love dan Lean On Me boleh diperkenankan mampir 😊

__ADS_1


__ADS_2