MENIKAH

MENIKAH
S2 - Aneh


__ADS_3

Happy reading 😊


***


Rafa memang berpengalaman. Dan sesuai dugaannya, hari ini sikap Zahra mulai berubah. Zahra menolak untuk dijemput Rayyan saat akan berangkat bekerja dengan alasan akan berangkat bersama kakaknya.


Sesampainya di kantor, Zahra bahkan bersikap menjaga jarak dengan Rayyan. Bahasa yang ia gunakan kembali formal, percakapannya hanya menyangkut pekerjaan dan tidak menjawab saat Rayyan mengajukan pertanyaan mengenai perubahan sikapnya.


Diantara banyaknya pekerjaan yang menumpuk untuk dicek, Rayyan justru merasa benar-benar pusing karena Zahra. Hampir sebagian besar lobus frontal-nya hanya memikirkan Zahra. Tak bisa sedikit pun diajak berkonsentrasi pada tumpukkan map didepannya.


"Zah, tolong ke ruanganku bentar." ucap Rayyan pada sambungan intercom-nya.


Ini adalah sambungan yang kesekian kalinya. Rayyan menelpon dan meminta Zahra masuk hanya untuk menanyakan pertanyaan yang sama.


"Ya Pak, ada apa?" tanya Zahra begitu mendekat ke meja kerja Rayyan.


Rayyan yang tengab menyandarkan punggungnya sambil memijat pangkal hidungnya langsung beranjak dari duduknya dan mendekat pada Zahra.


"Kamu kenpa sih, Zah? Hari ini aneh banget deh." tanya Rayyan sambil meraih tangan kanan Zahra dan menggenggamnya.


"Saya? Tidak terjadi apa-apa pada saya, Pak." Zahra menjawab dengan kalimat yang sama. Bahkan gadis itu dapat menahan emosinya dengan baik karena mengucapkan kalimat itu dengan santai, seperti sedang tidak terjadi apa-apa.


Rayyan menghela nafasnya, lalu menarik Zahra dan memeluknya.


"Jangan gini sih, Zah. Kalo ada apa-apa diomongin bareng gitu. Aku enggak bisa kamu diemin kayak gini."


Zahra berusaha untuk tetap bersikap tenang. Meskipun parfum dan pelukan Rayyan sekarang benar-benar hampir meruntuhkan bentengnya, namun ia harus tetap bertahan.


"Saya enggak diemin, Bapak. Buktinya dari tadi Bapak ngajak ngomong juga saya jawab kan?"


"Tapi aku enggak suka kamu manggil aku 'Bapak' lagi, Zah. Panggil aja 'sayang' kayak biasanya." Rayyan melepaskan pelukannya, lalu memandangi wajah Zahra yang tampak tenang itu.

__ADS_1


"Ngomongnya juga jangan formal gitu, sayang." Rayyan memelas, benar-benar menampilkan wajah sendunya yang selama ini hampir tak pernah diperlihatkannya.


Zahra menatap wajah sendu kekasihnya. Sebenarnya ia merasa kasihan, namun sekali lagi ia harus bertahan. Hanya sekali ini saja!


"Jika tidak ada lagi yang Bapak butuhkan, saya permisi dulu, Pak." ucap Zahra sambil melepaskan genggaman tangan Rayyan dan keluar ruangan.


Rayyan masih terpaku ditempatnya, memandangi Zahra seperti sekarang benar-benar mengacaukan pikirannya. Rayyan segera merogoh ponselnya disaku celana dan mendial nomer telepon seseorang.


"Fa... bantuin gue." ucapnya begitu sambungan telepon itu tersambung.


***


Melangkahkan kakinya dengan cepat saat keluar kantor, Zahra bukan hanya menghindari tatapan sinis karyawan lain karena gosip yang sedang menerpanya, tetapi juga menghindari Rayyan yang sedari tadi terus memaksanya untuk pulang dan makan malam bersama.


Sebuah mobil sedan hitam telah menunggunya di depan perusahaan. Berlari kecil untuk memangkas waktu, Zahra segera meraih handle pintu mobil itu dan buru-buru masuk ke dalam.


Dari kejauhan, Rayyan yang melihat Zahra memasuki mobil hitam itu langsung melajukan mobilnya untuk membuntutinya. Berulang kali Rayyan mencoba menghubungi Zahra, namun nampaknya Zahra enggan untuk menerima panggilan teleponnya.


Pikiran Rayyan terus melayang pada pemilik mobil sedan.hitam yang tak ia ketahui itu. Tidak mungkin kan jika Zahra mengkhianatinya? Terlebih, hubungan mereka baru berjalan beberapa saat.


Rayyan kembali mendial nomer seseorang dan menelpon sambil menyetir. Entah kemana dia harus mencari mobil sedan hitam yang tak bisa dia lacak lagi keberadaannya.


"Halo, Bang." Eowyn menjawab panggilan dari abangnya.


"Lo tau sekarang Zahra ada acara apa atau mau kemana?" tanpa basa-basi, Rayyan langsung menanyakan keberadaan kekasihnya pada sang adik.


"Laahhh... kok tanya gue sih, Bang? Abang kan pacarnya, emang kalian enggak saling ngomong apa?"


"Lo coba telpon Zahra, Wyn. Ntar kabarin gue. Dari tadi gue telpon enggak diangkat."


"Abang sama Zahra lagi marahan?"

__ADS_1


"Udah lo telpon Zahra aja, enggak usah banyak tanya!" Rayyan langsung mematikan sambungan telponnya pada Eowyn.


Pikirannya benar-benar kusut, sekusut penampilannya saat ini. Rayyan menepikan mobilnya, berusaha kembali menghubungi Zahra namun sambungan telepon itu sedang sibuk.


"Mungkin Eowyn lagi telpon dia."


Menenangkan dirinya untuk berusaha sabar menanti kabar dari Eowyn, Rayyan membuka folder galeri pada ponselnya dan mangamati foto-foto kebersamaannya dengan Zahra.


Dentingan suara pesan masuk yang ia abaikan sedari pagi, akhirnya ia buka juga. Banyak dari teman sekolah, kuliah bahkan relasi bisnisnya yang mengucapkan selamat ulang tahun. Namun Rayyan belum berniat untuk membuka pesan itu dan membalasnya satu per satu.


Kini kesedihannya bertambah, bukan hanya karena Zahra yang mengabaikannya dan bersikap mencurigakan, tapi juga Zahra yang melupakan hari ulang tahunnya? Atau Zahra memang tidak tahu jika hari ini ia bertambah usia? Rayyan tersenyum kecut meratapi pertambahan usianya yang kelabu ini.


Suara denting pesan masuk kembali terdengar, Rayyan melirik sekilas nama pengirim pesan yang ternyata ada Eowyn. Buru-buru Rayyan membuka pesan itu, dan ternyata Eowyn mengirimkan tautan lokasi yang mengatakan jika Zahra ada disana untuk makan malam.


Entah kenapa hati Rayyan langsung mencelos. Zahra bukannya makan malam dengannya namun malah dengan orang lain. Rayyan kembali melajukan mobilnya menuju lokasi yang dimaksud oleh Eowyn. Kondisi lalu lintas yang cukup padat membuat Rayyan semakin diliputi amarah.


Hingga beberapa saat kemudian, Rayyan sampai di sebuah restoran. Melirik sebuah mobil sedan berwarna hitam yang tadi ditumpangi Zahra, dada Rayyan merasa sesak. Ia lantas memarkirkan mobilnya persis disebelah mobil sedan itu.


Tak ingin membuang waktu lebih lama, Rayyan berlari memasuki restoran.


"Selamat malam, Pak. Apakah Bapak sudah melakukan reservasi atau memiliki undangan untuk ke acara makan malam hari ini?" ucap seorang karyawan restoran itu.


Rayyan mengernyitkan dahinya. "Reservasi? Eee... tidak, saya... ada seseorang yang mau saya temui di dalam."


"Tapi seluruh tempat ini sudah dibooking, Pak. Jadi Bapak tidak bisa masuk jika tidak bisa menunjukkan undangannya." karyawan itu menjelaskan dengan sopan.


"Tolong mbak, kasih saya masuk ke dalam. Sebentar aja, saya janji enggak akan berbuat keributan. Saya hanya ingin melihat seseorang di dalam."


Karyawan restoran itu tampak berpikir, hingga akhirnya meminta Rayyan untuk menunggu sebentar. Karyawan itu masuk ke dalam, mungkin meminta izin kepada seseorang. Rayyan makin dibuat tak sabar dan terus melongok ke dalam, menunggu karyawan itu keluar kembali.


"Silahkan, Pak. Bapak diperbolehkan masuk."

__ADS_1


__ADS_2