MENIKAH

MENIKAH
S2 - Ngegombal


__ADS_3

Happy reading 😊


***


Eowyn baru saja diantar pulang ke rumah oleh Zach. Ini adalah Sabtu malam, malam dimana para kawula muda banyak yang keluar untuk bermalam mingguan. Zach dan Eowyn begitu semangat dengan acara malam minggu mereka. Meskipun melewatkan waktu hanya dengan menonton film dan makan malam bersama. Waktu baru belum genap menunjukkan pukul sepuluh malam, namun Zach telah mengantar Eowyn pulang. Selain karena pesan kedua orangtuanya agar tidak pulang terlalu malam, Zach juga merasa takut kepassa bosnya jika membawa keluar anak gadisnya hingga larut malam.


"Lahh? Rafa? Tumbenan lo di rumah?" seru Eowyn dengan nada tak percaya saat melihat sang adik yang sedang menonton TV bersama Mama Papanya.


"Masuk bukannya salam malah godain adiknya." omel Salma pada Eowyn.


"Udah ma, tadi pas masuk rumah. Mungkin Mama Papa aja yang enggak denger hehehehe...." Jawab Eowyn sambil nyengir kuda dan menyalami kedua orangtuanya itu.


"Apaan, gue aja enggak denger lo ngucap salam." celetuk Rafa yang masih asik menonton TV sambil tiduran di sofa.


"Jangan nyari masalah deh, Fa!" dengus Eowyn kesal sambil memukul paha Rafa dan duduk disofa yang sama dengan Rafa. "Lo tumbenan di rumah? Kan mobil lo baru, enggak dipake kencan sama Alita?"


Rafa hanya menggelengkan kepala, merasa malas menimpali perkataan kakaknya karena pasti ia akan kena bully.


"Kenapa? Lo berantem sama Alita?"


"Enggak. Berisik lo ahh, enggak kedengeran tuh tadi dia ngomong apaan!"


"Kalian kalo mau berantem, di taman belakang sana. Papa mau nonton film ini." Adit mencoba melerai kedua anaknya itu. Meskipun ia tahu jika keduanya hanya berdebat untuk saling mengejek tanpa pernah menjadi pertengkaran serius.


"Kak Eowyn tuh, Pa. Baru ngerasain kencan aja songong."


"Elo tuh yang songong!"


"Udah diem! Pusing nih Mama. Kalian ini kalo enggak ada salah satu aja nyariin, giliran ketemu selalu aja berantem."


Adit mengusap punggung Salma perlahan. "Kita pindah nonton di kamar aja, Ma. Sekalian malam mingguan."


"Yaa Allah Papa... tega banget sih ngompor-ngomporin Rafa." ucap Rafa dengan wajah memelas.


"Deritamulah." jawab Adit dengan singkat.


"Inget umur, Pa. Yakali usia segini masih aja malam mingguan." Rafa mencoba mengolok Papanya.


"Emangnya kenapa? Emang ada aturannya yang boleh malam mingguan itu usia berapa aja? Lagian ya Fa, Mamamu ini mau sampai nanti cucunya banyak juga masih cantik. Eowyn sama pacarmu aja kalah."


"Halah, Papa ngomong gitu karena takut enggak dikasih jatah kan?"


Niat hati ingin mengejek papanya, namun Rafa justru mendapat lemparan bantal sofa dari mamanya.


"Rafa bercanda Ma... Pa... hehehehe...." kilahnya sambil menunjukkan kedua jarinya yang membentuk huruf V.

__ADS_1


"Ayo." Adit mengulurkan tangannya pada Salma dan beranjak meninggalkan ruang keluarga.


"Bener-bener... mantep deh malam mingguan di kamar." Rafa menggoda Papa Mamanya yang tengah menaiki tanggan menuju kamar mereka di lantai dua.


"Mulut lo kebiasaan! Sama orangtua aja kayak gitu." Eowyn menyentil bibir Rafa.


Eowyn dan Rafa masih bertahan di ruang keluarga. Meskipun sering melemparkan kata-kata untuk saling mengejek, namun seakan enggan untuk memisahkan diri.


"Abang pergi?" tanya Eowyn sambil mendongak menatap lantai dua di rumahnya.


Rafa hanya menganggukkan kepalanya, sambil mengganti channel TV melalui remote ditangannya.


"Kemana?"


"Enggak tau gue, paling ngumpul sama temen-temennya."


Eowyn hanya ber-oh ria mendengat penuturan Rafa.


"Zahra cerita ke gue, beberapa hari yang lalu dia marahin abang."


"Hah? Seriusan?" Rafa menganga tak percaya. Selama ini, mereka berdua saja tidak berani untuk beradu argumen dengan sang abang. Rayyan memang sosok yang mereka takuti. Tidak ada masalah saja sorot matanya pada kedua adiknya itu selalu menakutkan, gimana ceritanya jika mereka sampai membuat kesalahan pada Rayyan?


"Hebat juga tuh kak Zahra hahahaha.... Abang dimarahin kenapa?"


"Katanya mau meeting penting, ehh... enggak sengaja ketemu kak Nadine. Dipeluk dong abang sama kak Nadine hahahahaha...."


"Bukan karena itu. Kata Zahra habis itu abang jadi nge-blank, jalan aja sampai nginjek sepatunya Zahra mulu. Disemprotlah sama Zahra, dan lo tau? Zahra ngatain abang cowok lembek karena enggak bisa move on selama bertahun-tahun." tawa Eowyn terdengar setelah selesai menceritakan kronologis kejadiannya pada Rafa.


"Kak Zahra ngatain abang cowok lembek? Masa sih?"


"Nih lo liat sendiri aja kalo enggak percaya." Eowyn menyodorkan ponselnya yang telah menampilkan pesan dari Zahra pada layarnya.


"Gue penasaran gimana wajahnya abang pas disemprot sama kak Zahra hahahaha.... Emang bener-bener tiada duanya deh itu kakak cantik."


"Lo jangan bilang ke abang kalo gue cerita hal ini ke elo. Ntar Zahra bisa terancam posisinya."


"Hahahaha... siap! Kita kan kalo urusan gosip dan aib gini mah selalu akur." Rafa menaik turunkan kedua alisnya.


Tak berapa lama, pandangan mereka teralihkan ke ruang tamu setelah suara pintu terbuka terdengar. Rayyan yang mengenakan pakaian casual dan sneakernya baru saja pulang, entah dari mana.


"Abang dari mana?" tanya Eowyn.


"Nongkrong. Kamu baru balik?"


"Enggak, udah dari tadi kok Bang. Ini lagi ngobrol sama Rafa."

__ADS_1


"Lo ngapain enggak malem mingguan, Fa?" tanya Rayyan sambil mendudukkan dirinya di sofa yang berhadapan dengan Eowyn dan Rafa.


"Alita sama sekeluarganya lagi ke rumah sodaranya yang di Solo."


"Cih! Biasanya kalo pacar lo berhalangan gitu, lo tetep keluar buat nyari mangsa lain." cibir Rafa sambil merebut remote TV dari tangan Rafa.


"Sekarang enggaklah, Bang. Aku beneran serius ini sama Alita."


"Udah tobat dia, Bang hahahaha...." timpal Eowyn.


"Baguslah kalo begitu." Rayyan menjawab tanpa menatap Rafa.


"Abang juga harus buruan tobat. Cepet cari pacar Bang, biar enggak hidup dalam bayang-bayang mantan mulu."


Seketika itu juga Rayyan langsung melayangkan tatapan yang sangat tajam ke arah Rafa.


"Bercanda Bang, maaf hehehehe...."


Namun permintaan maaf tidak digubris oleh Rayyan. Rafa kembali mendapat hadiah lemparan bantal sofa untuk kedua kalinya.


"Yaa Allah, gini amat sih hidup gue sehari tanpa malam minggu."


"Lo masih beruntung ya enggak gue lempar pake ini." Rayyan menunjukkan remote TV ke arah Rafa.


"Ampun Bang. Itu kalo kekencengan ntar bikin gue amnesia. Ntar kalo gue jadi lupa, terus Alita pergi nyari cowok baru gimana dong? Gue mana bisa hidup tanpa dia, Bang."


"Bukan urusan gue. Gue eneg sama kata-kata yang keluar dari mulut lo, Fa."


"Kenapa? Abang terhanyut ya dalam setiap kata-kata yang aku ucapkan?" Rafa tersenyum lebar sambil menunjukkan deretan giginya yang putih dan rapi.


Rayyan hanya memutar bola matanya malas, lalu pergi meninggalkan dua adiknya setelah meletakkan remote yang tadi ia pegang di atas meja.


"Bukannya terhanyut, kata-kata lo bikin mual tau enggak Fa." Eowyn menyahuti sambil terfokus pada ponselnya.


"Halah, sok-sokan bilang mual. Bilang aja elo enggak pernah digombalin sama pak Zach. Iya kan?"


"Gue juga enggak butuh gombalan kali, Fa. Dengan lo ngegombalin gitu kan enggak jaminan selamanya cintanya bakal buat elo, bosen juga tahu!"


"Eiitttsss... jangan salah! Gombalan itu penting disetiap hubungan. Lo denger sendiri kan tadi Papa ngegombal soal mama? Itulah yang bikin suatu hubungan itu ada manis-manisnya. Lo tuh masih newbie, enggak paham soal percintaan gini." cibir Rafa.


"Sialan lo!" geram Eowyn sambil beranjak dari duduknya dan meninggalkan Rafa sendirian di ruang keluarga.


***


Maaf ya kemarin enggak update karena ada masalah sama lambung saya. Ini juga baru ngetiknya semalam, tapi sengaja saya setting ke up malam ini biar bisa ngedit-edit dulu hehehehe....

__ADS_1


Vote, likes, sama comments-nya jangan lupa. Trus juga jangan lupa mampir untuk baca Cupcake's Love sama Lean On Me. Terima kasih 😘


__ADS_2