
Happy reading 😊
***
Nadine refleks memejamkan matanya saat menyeruput minuman yang baru saja disajikan oleh Zahra. Perempuan itu langsung buru-buru mengambil tisu untuk mengelap bibirnya dan buru-buru mengambil botol minumnya dari dalam tas.
"Kau mau meracuniku?" ucapnya dengan nada dingin dan menatap sinis ke arah Zahra.
Zahra tidak kaget dengan ekspresi yang ditampilkan Nadine sekarang. Ia bahkan sudah menduganya saat sedang membuatnya tadi. Berbeda dengan Zahra, Rayyan justru memandangi Nadine dengan tatapan tidak suka.
"Tidak, saya enggak bermaksud demikian kak Nadine. Memang tidak semua orang menyukai minuman yang asam seperti itu. Tapi, itu saya buat berdasarkan takaran yang disukai pak Rayyan. Segelas air dingin dengan perasan tujuh butir jeruk nipis dan tanpa gula."
"Tujuh? Apa kau berniat merusak lambungku?" ucap Nadine bersungut-sungut.
"Pak Rayyan bilang itu enak, kak. Seger. Mungkin pak Rayyan begitu menerapkan prinsip pepatah 'when life gives you lemons, make lemonade'. Jadi asamnya minuman ini enggak berasa bagi pak Rayyan, bukankah begitu pak?" Zahra memiringkan kepalanya ke arah Zahra sambil menyeringai.
"Kau benar." jawab Rayyan datar dan dengan terpaksa meraih gelas berisi minuman yang sama dengan Nadine. Minuman yang menurut Zahra adalah minuman favoritnya saat ini dan begitu menyegarkan. Katanya.
Menyeruput dengan pelan, Rayyan sekuat tenaga tidak menampilkan ekspresi seperti yang Nadine lakukan tadi. Rayyan benar-benar menahannya sekuat tenaga, meminum sambil menatap tajam ke arah Zahra yang masih menyeringai kepadanya.
"Kamu beneran suka minum ini, Rayyan?" tanya Nadine sambil melongo saat Rayyan telah meminum setengah dari isi gelas. Ia yang sekali seruput saja sudah kewalahan dengan rasa asamnya yang tak tertahankan.
"Ini enak." jawab Rayyan dengan menganggukkan kepalanya dan meletakkan gelasnya di meja.
Zahra mengerjapkan matanya, menatap Rayyan yang ternyata meminum begitu banyak. Rasa khawatir langsung menyeruak dalam diri Zahra, akankah bosnya itu baik-baik saja setelahnya? Ia juga merutuki dirinya sendiri, mengapa sampai harus membawa-bawa jeruk nipis ini dalam perkataannya tadi.
"Baiklah, kita mulai pembicaraan mengenai proyek di Bali sekarang." ucap Rayyan.
***
Pembahasan mengenai proyek di Bali berlangsung cukup lama. Selama pembahasan, Zahra cukup susah memfokuskan dirinya karena merasa khawatir dengan Rayyan. Terlebih, saat Zahra melihat Rayyan adanya keringat yang muncul dipelipis Rayyan. Itu keringat karena Rayyan merasa gerah atau menahan sakit diperutnya? Dua pertanyaan itu berputar-putar dikepala Zahra selama meeting.
"Jadi kita ke Bali dalam beberapa hari lagi. Kau setuju Rayyan?" ucap Nadine dengan mata yang berbinar.
Zahra memutar bola matanya dengan malas. Hampir dua jam berada di ruangan ini rasanya ia benar-benar mual harus terus-terusan melihat Nadine yang menggoda Rayyan. Bahkan untuk meninjau proyek saja, dia terlihat begitu bersemangat seperti mau pergi kencan saja!
"Itu terlalu cepat. Bagaimana dengan jadwalku minggu depan, Zah?" Rayyan bertanya sambil menoleh ke arah Zahra.
"Sebentar saya liat dulu, Pak." Zahra menggeser layar ditab-nya untuk mengecek jadwal Rayyan.
__ADS_1
"Jika Bapak akan pergi ke Bali sepertinya bisa di hari Selasa hingga Kamis. Karena hari Jumat ada rapat dengan pak Adit." jelas Zahra.
"Yaahhh, sayang sekali. Padahal aku ingin kita bisa sekalian jalan-jalan bareng pas weekend disana." Nadine mengerucutkan bibirnya.
"Cih, sok imut!" Zahra menertawakannya dalam hati sambil menggelengkan kepalanya dengan perlahan.
"Kalau kamu mau, kita pergi di hari yang disebutkan oleh Zahra tadi. Jika tidak mau juga tidak masalah. Aku bisa meninjaunya sendiri."
"Aku enggak bilang kalo aku enggak mau kan? Baiklah, kalo gitu aku akan membooking tiket pesawat dan hotel untuk kita ya." Nadine meraih ponsel ditasnya dengan begitu bersemangat.
"Tidak perlu." Rayyan menyentuh pergelangan tangan Nadine. "Zahra yang akan memesankan segala kebutuhanku disana, kamu pesanlah untuk keperluanmu sendiri."
"Kenapa? Kan bisa sekalian, Rayyan." Nadine memaksa.
"Ini perjalanan bisnis, semuanya harus melalui prosedur kantor." kilah Rayyan. "Maaf Nadine, aku sedang menunggu klien penting dan akan tiba beberapa menit lagi. Jika pembahasanmu telah selesai, aku mohon segeralah pulang karena aku harus bersiap."
"Begitukah?" Nadine merasa kecewa karena secara tidak langsung Rayyan telah mengusirnya. Pandangannya langsung terarah menuju Zahra yang tampak gelagapan saat matanya bertatapan dengannya.
Zahra hanya tersenyum kaku, ia bahkan tidak tahu siapa tamu yang sedang ditunggu oleh bosnya ini. Karena seingatnya, sore ini Rayyan tidak memiliki agenda bertemu dengan siapapun.
"Baiklah kalo begitu, aku pulang dulu. Kedepannya kita akan sering bertemu Rayyan." Nadine mengusap lengan Rayyan sambil tersenyum, lalu beranjak dari sofanya dan keluar meninggalkan ruangan Rayyan.
"Pak?" Zahra mendekat pada Rayyan. "Bapak sakit?"
"Menurutmu?" jawab Rayyan sambil menatap dingin ke arah Zahra.
"Ya kan tadi Bapak sehat-sehat aja, terus sekarang tiba-tiba kayak gini."
"Gara-gara jeruk nipismu tuh, Zah. Udah niat ya kamu nyiksa saya." Rayyan masih bergelung disofa sambil memegangi perutnya.
"Ya habisnya Bapak tadi mesum! Yaudah saya bales pake jeruk nipis simpanan bu Meta aja yang ada di pantry."
Merasa tidak terima karena dituduh mesum, Rayyan langsung beranjak duduk dan menatap kesal ke arah Zahra.
"Mesum kamu bilang? Itu kalo cowok lain yang liat bakal dibiarin aja, Zah. Mereka bakal lama-lamain waktu biar bisa liat tubuh bagian atas kamu itu. Harusnya kamu bersyukur aku kasih tau kamu soal hal itu."
"Tapi kan juga Bapak liat!"
"Ya orang pas di depan mataku gitu masa iya aku enggak liat, Zah?"
__ADS_1
Zahra langsung menunduk sambil menyilangkan tangannya di depan dadanya.
"Sekarang tolong cariin obat, Zah. Beneran melilit banget nih rasanya." Rayyan kembali merebahkan dirinya.
"I-iya, Pak. Saya keluar sebentar untuk cari obatnya." Zahra bergegas keluar untuk bertanya pada bu Meta mengenai obat untuk perut melilit.
Setelah lumayan lama, Zahra kembali dengan banyaknya barang bawaan ditangannya.
"Lama banget sih, Zah? Sakit banget nih!" Rayyan mengomel saat Zahra baru saja masuk ke ruanganya.
"Saya kan cari dulu, Pak. Bapak pikir saya bisa sulap." jawabnya sambil meletakkan barang bawaannya dimeja.
"Duduk dulu, Pak. Kata bu Meta ngatasin perut melilit bisa pake jahe, ini diminum dulu air jahenya."
Rayyan menuruti perkataan Zahra, ia segera duduk dan menyeruput uluran secangkir air jahe dari Zahra yang duduk di pinggiran sofa.
"Pedes banget sih, Zah. Hari ini kamu emang niat buat ngerjain aku ya?"
"Namanya air jahe, Pak. Kalo manis ya air gula namanya." jawab Zahra sembari meletakkan cangkir itu dimeja.
"Itu apalagi?" tanya Rayyan saat melihat Zahra memegangi botol minumnya yang berwarna pink itu.
"Tadi saya nyari bantalan buat ngompres enggak ada, Pak. Ini isinya air anget, buat ngompres perut Bapak untuk ngurangin sakitnya. Saya biasa pake cara ini kalo pas nyeri haid, Pak."
"Kamu pikir aku lagi haid?"
"Udah deh, Bapak nurut aja. Ini Bapak taruh diperut yang terasa sakit." Zahra mengulurkan botol minumnya, namun Rayyan tidak menerimanya. Ia justru kembali membaringkan tubuhnya disofa sambil menarik keluar kemeja dan kaos dalamnya.
"Bapak mau ngapain?" Zahra terkejut saat melihat mengeluarkan kemeja dan kaos dalamnya lalu menyingkapnya ke atas, memperlihatkan perutnya dengan jelas. Yang terlihat berbentuk kotak-kotak tapi bukan papan catur, tapi disebutnya roti sobek.
Zahra memalingkan wajahnya sambil memejamkan matanya. Mungkin wajahnya benar-benar memerah sekarang seperti baru saja berjemur dibawah terik matahari.
"Kamu yang kompreslah! Anggap aja itu sebagai bentuk pertanggung jawabanmu atas minuman spesial buatanmu tadi." ucap Rayyan sambil tiduran berbantal salah satu lengannya dan menyeringai ke arah Zahra.
***
Ciiieeee... Zahra liat roti sobeknya abang! Hahahaha.... Gapapa Zah, kalo enggak sengaja itu enggak dosa. Lagian juga abang Rayyan kan nyodorin ehehehehe....
Votes-nya jangan lupa yaaaa... siapa tau ntar dikasih tambahan episode kayak minggu lalu 😅
__ADS_1