MENIKAH

MENIKAH
S2 - Dua Acara


__ADS_3

Happy reading 😊


***


"Lo mau bawa gue kemana sih, Wyn?" tanya Zahra pada Eowyn.


Sesaat setelah ia dan Rayyan sampai di parkiran restoran, Eowyn yang nampak cantik dengan balutan gaunnya itu menggandengnya entah kemana yang mereka tuju.


"Udah, lo diem aja. Dan ikutin apa yang gue suruh ya."


"Tapi seenggaknya jelasin dulu dong lo bakal bawa gue kemana."


"Ssstttt... udah sampai nih."


Mereka masuk ke sebuah ruangan yang sepertinya telah beralih fungsi menjadi ryang make up malam itu. Eowyn menggiring Zahra ke sebuah tirai yang dipasang menyerupai fitting room.


"Lo pake baju itu ya, Zah. Habis itu ntar dandan dulu bentar disini." ucap Eowyn sambil menunjuk ke sebuah gaun yang ada di dalam fitting room dan sebuah meja rias.


"Gue belum mandi, Wyn. Sayang banget gaunnya kena keringat gue."


"Udah, buruan ganti. Abang gue mana peduli lo mau mandi atau enggak, Zah. Dia udah cinta mati sama elo."


"Lagian ngapain sih pake ganti baju segala, kan cuma makan malam doang."


Eowyn berdecak kesal. Kenapa Zahra menjadi secerewet ini sejak mengenal abangnya.


"Waktu kita cuma tiga puluh menit, Zah. Buruan deh lo ganti baju terus dandan yang cantik. Malam ini tuh eeee... abang ngajakin kita makan malam romantis, jadi harus dandan yang cantik. Abang juga ganti baju kok ditemenin Zach."


"Makan malam romantis ngapain pake ngajakin kalian segala."


"Buruan ya, kalo masih ngomong juga gue gantiin baju lo nih." ancam Eowyn yang kemudian berhasil membuat Zahra menutup tirainya dan mulai berganti baju.

__ADS_1


Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya Zahra keluar dengan gaun yang Eowyn pilihkan tadi. Gaun yang entah keberapa hingga akhirnya mendapat pesetujuan dari abangnya itu.


Eowyn kembali menggiring Zahra untuk duduk di depan meja rias, lalu menyuruh dua orang yang juga ada di dalam kamar itu untuk mulai merias Zahra. Sesekali Eowyn memperhatikan jam tangan diponselnya, seolah dirinya benar-benar terdesak oleh waktu. Hingga akhirnya persiapan Zahra pun selesai, dan Eowyn kembali bertugas untuk membawa Zahra masuk ke dalam restoran, tempat kejutan itu akan dimulai.


"Kok sepi sih, Wyn?" tanya Zahra saat mendapati suasana restoran ternama itu begitu lengang.


"Hm. Disewa sama mami." jawab Eowyn sambil menggandeng Zahra yang agak kesulitan berjalan karena gaun panjangnya dan high heels-nya.


"T-tante Salma yang sewa? Dalam rangka apa?"


"Ya buat abanglah, kita kan mau makan malam sama abang." Eowyn mulai kehabisan kesabaran saat Zahra terus bertanya padanya. Eowyn hanya takut dirinya akan keceplosan dan menggagalkan kejutan yang akan mencapai puncaknya itu.


Memasuki sebuah ruangan utama di restoran itu, Zahra terkejut dengan suasana ruangan yang telah disulap layaknya sebuah pesta yang romantis karena adanya lilin dan bunga disana. Rayyan telah berdiri tak jauh darinya, yang tampak begitu gagah dan makin tampan dengan setelan jasnya.


Mata Zahra tiba-tiba menghentikan langkahnya, matanya berkaca-kaca saat Rayyan mendekat padanya. Bukan karena akhirnya Eowyn melepaskan genggaman tangannya dan menyerahkannya pada Rayyan, tapi karena melihat seluruh anggota keluarganya dan juga keluarga Rayyan berada disana.


"Nangisnya ntar aja, Zah. Aku bahkan belum ngomong sesuatu ke kamu." bisik Rayyan yang kemudian menggandengnya berjalan menuju tengah ruangan.


Ada sebuah lingkaran dengan kelopak bunga dan lilin yang telah disiapkan dengan begitu rapinya. Bahkan tak jauh dari sana terdapat banner dengan tulisan namanya dan juga Rayyan pada dinding berhias banyaknya bunga itu.


"Seharian ini aku sibuk sama hape dengan segala panggilan yang terus masuk untuk nyiapin ini, Zah. Dengan bantuan Mama, Eowyn dan juga Rafa." sambung Rayyan.


Zahra tersenyum sambil mengusap air mata disudut matanya. Sekarang Zahra tahu apa penyebab dirinya diabaikan seharian ini, ternyata Rayyan sedang berusaha keras untuk menyiapkan sebuah kejutan untuknya.


Belum hilang rasa keterjutannya akan hadirnya anggota keluarganya di acara makan malam itu, kini Rayyan telah berlutut di depannya dengan sebuah kotak cincin yang terbuka dihadapannya.


"Aku mungkin bukan sosok orang romantis seperti yang kamu harapkan. Aku bahkan enggak bisa menghafal dengan baik kata-kata uang udah Rafa kasih ke aku untuk acara malam ini." Rayyan tertawa kecil, seolah menertawakan dirinya yang begitu kaku itu.


"Aku udah mengatakan ini berulang kali, bahkan kamu pun telah mengiyakannya kemarin. Malam ini... aku pengen segalanya lebih jelas aja, bukan hanya untuk kita berdua tapi juga keluarga kita. Aku juga telah meminta restu pada orangtuaku dan orangtuamu, mereka merestui hubungan kita untuk ke tahap selanjutnya. Jadi... ayo kita menikah dan hidup bersama selamanya. Tertawa bahagia bersama anak-anak kita dan melihat mereka tumbuh besar bersama. Kamu membuatku lebih bahagia dari apa yang pernah ku bayangkan, Zah. Jadi aku ingin menghabiskan seluruh sisa hidupku denganmu dan membuatmu merasakan hal yang sama dengan apa yang aku rasakan. Kita menikah ya?"


Air mata itu meluncur begitu saja tanpa permisi, membasahi pipi Zahra yang malam itu terlihat begitu cantik. Semuanya terlalu mengejutkan, dan kata-kata Rayyan barusan benar-benar membuatnya jatuh hati meskipun jauh dari kata romantis.

__ADS_1


"Rafa baru ini denger abang ngomong segitu panjangnya selain ngafalin materi pelajaran." gumam Rafa sambil menggelengkan kepalanya. Salma yang duduk disebelahnya pun tersenyum sambil mengusap punggung anak bungsunya yang tampak takjub pada abangnya.


"Aku udah bilang kan kemarin? Ayo kita menikah! Aku bersedia menghabiskan sisa hidupku bersamamu." jawab Zahra dengan mata yang masih berkaca-kaca.


Rayyan tersenyum lebar, dibarengi dengan sorak sorai keluarga mereka. Bahkan Sabian yang sedari tadi sibuk mengabadikan momen bahagia itu pun ikut berteriak saat Zahra mengiyakan ajakan Rayyan.


Setelah memasangkan cincin pada jari Zahra dan mencium punggung tangan kekasihnya, Rayyan segera berdiri dan memeluk Zahra dengan begitu eratnya.


"Terima kasih, sayang." bisiknya tepat disamping telinga Zahra.


"Aku juga harus berterima kasih padamu karena telah menyiapkan segalanya."


"Berterimakasihlah pada dua adikku, dan terutama pada Mama. Karena mama yang bekerja keras demi bisa terwujudnya dua acara besar malam ini."


"Dua acara besar?" tanya Zahra sambil merenggangkan pelukannya.


"Hm. Pertunangan kita dan acara ulang tahun papa."


Sepertinya dua acara besar malam itu benar-benar berhasil. Setelah berfoto-foto bersama dalam rangka pertunangan Rayyan dan juga Zahra, mereka melanjutkan ke pesta ulang tahun papa Adit sebelum akhirnya diakhiri dengan makan malam yang begitu hangat itu.


Rayyan tentu saja tidak bisa menjauhkan dirinya dari Zahra. Tangannya seolah tak ingin berhenti untuk mengecupi punggung tangan Zahra dan terus menggenggamnya setiap ada kesempatan.


"Happy birthday, sayang. Perjalanan cinta kita masih panjang, jadi kita harus tetap bersama ya." bisik mama Salma disela acara makan malam.


"Tentu saja. Bahkan romantisme kisah cinta Rayyan malam ini enggak sebanding dengan kisah cinta kita." balas papa Adit dengan berbisik. "Setelah semua anak kita menikah, mungkin kita akan kembali seperti pengantin baru lagi. Bisa bermesraan tanpa gangguan anak-anak di rumah." goda papa Adit yang sukses membuat pipi mama Salma merona.


Usia hanyalah angka. Mau berapa pun usianya itu tidak akan menjadi penghalang seseorang untuk dapat bermesraan dengan kekasih hatinya.


Usia tidak melindungimu dari pengaruh cinta. Tapi cinta bisa membuatmu melupakan usia.


****

__ADS_1


Udah tunangan aja nih gaeessssss... bentar lagi gue harus mulai mikir adegan mantap-mantapnya abang dong ya? Atau enggak usah? 🤣🤣🤣


Votesnya jangan lupa ya! Jangan lupa juga baca Cupcake's Love dan Lean On Me bagi yang belum. Terima kasih.... 😘😘😘


__ADS_2