MENIKAH

MENIKAH
Baby


__ADS_3

"Mas Adit nyuruh Arga buat mata-matain aku di sekolah ya?" tanya Salma saat menyusul Adit yang sudah lebih dulu berbaring dikasur. Ia duduk bersandarkan headboard dengan tangan yang terlipat didepan dadanya.


Pagi tadi, Arga langsung melapor pada Salma perihal pesan singkat yang diterimanya dari Adit. Arga tertawa geli, mengatakan seolah Salma seperti anak SD yang suka jajan sembarangan di pinggir jalan.


Adit hanya mengangguk sambil tersenyum. "Cuma dia yang bisa ngikutin kamu di dalam sekolah, ga mungkin kan aku nyuruh Asep"


"Tapi kan ga gitu juga, mas. Kayak aku suka makan sembarangan aja" Salma mencebikkan bibirnya.


"Enggak gitu maksudku, Sal. Aku cuma pengen mastiin apapun yang kamu makan itu makanan yang sehat dan bergizi. Enggak berupa makanan yang pedes, makanan instan atau makanan yang kita sendiri ga tau proses pembuatannya bersih atau enggak"


"Mas Adit terlalu parnoan"


"Buat jaga-jaga, sayang. Aku ga pengen sesuatu terjadi sama kamu dan anak kita gara-gara kamu salah makan" Adit mengusap perut Salma dan mengecupnya beberapa kali.


"Kita udah nungguin dia lama banget, wajar kalo aku jadi seprotektif seperti sekarang ini sama kamu" tangan Adit masih saja mengelus perut Salma dengan pelan.


"Aku tau, mas. Tapi percayalah, aku bisa jaga diriku sendiri dan kandungan ini dengan baik" Salma mengelus pipi Adit.


"Sini, rebahan disini" Salma menepuk pahanya, dan Adit langsung merebahkan kepalanya dipangkuan Salma. Dengan tangan yang masih mengusap perut dan sesekali mengecup perut itu dengan gemasnya.


"Mengandung, melahirkan, dan membesarkan anak itu enggak mudah. Aku ga pengen kita melakukan kesalahan yang akan kita sesali dikemudian hari. Aku akan mencurahkan segalanya dalam mendidik anak kita nanti, aku ga mau ada kesalahan. Kalo kita salah dalam mendidik, kita ga akan bisa lagi menukarnya"


"Emang mas Adit anak kita itu barang mau ditukar segala"


"Hahahaha... maksudku, waktunya Sal. Bukan anaknya yang ditukar. Emangnya kita bisa tukar kemana?"


"Mulai ga jelas deh" Salma mencubit pipi Adit. "Aku bisa bayangin, kalo anak kita cewek pasti mas Adit akan over protective banget sama dia"


"Hahahaha... kayaknya begitu, Sal. Mungkin aku akan jadi papa dengan imej galak dihadapan pacarnya nanti. Kalo perlu aku akan mengikuti kemana pun mereka pergi kencan"


"Hahahaha... jangan berlebihan, anakmu bisa susah jodoh nanti karena enggak ada yang berani buat ngedeketin"


"Aku cuma ga pengen ada yang macem-macem sama dia" Adit kembali mengecup perut Salma. "Tapi kalo cowok, aku pasti akan cemburu padanya. Dia pasti akan banyak menyita perhatianmu untuknya"

__ADS_1


"Mau cowok atau cewek itu sama aja, mas. Karena bagi seorang ibu itu, anak adalah dunianya"


Adit mengangguk. "Tapi kumohon jangan melupakan biangnya anak-anak, Sal. Tanpa usaha dari jutaan pasukanku, sel telurmu hanya akan luruh setiap bulannya"


Saat keduanya tertawa bersamaan, tiba-tiba tawanya terhenti saat merasakan sebuah gerakan dari perut Salma. Tidak begitu kencang, seperti sebuah kedutan namun dapat dirasakan keduanya.


"Mas Adit... ngerasainnya?" tanya Salma dengan terbata dan mata yang berkaca-kaca.


Adit mengangguk, lalu mengangkat kepalanya dan mendekat pada perut Salma. "Kamu merespon obrolan kami, nak? Kamu mau ikutan ngobrol sama papa mama ya?" kata Adit lalu menciumi perut Salma kembali.


"Teruslah menendang perut mama mulai sekarang. Tendang yang kenceng, mama ga keberatan" ucap Salma sambil mengelus perutnya.


🎎


"Sehat-sehat ya, nak. Kalo mama makan sembarangan, tendang keluar aja ya. Bilang sama papa kalo mama makan makanan yang papa larang"


Itulah kalimat yang selalu Adit bisikkan setiap pagi sebelum keduanya pergi bekerja. Apalagi diusia kehamilan Salma yang telah menginjak tujuh bulan ini, respon dari bayi yang masih di dalam perut Salma itu semakin aktif. Ia selalu memberikan pergerakan setiap menerima usapan atau kata-kata yang terlontar dari Salma, Adit, kedua neneknya yang sudah begitu tidak sabar menunggunya lahir, juga teman-teman Salma yang sering meminta ijin untuk mengelus perutnya.


Salma memuntahkan makanannya sesaat setelah Adit masuk ke dalam kamar sepulang kerja tadi. Tas kerjanya pun masih ia tenteng ke dalam kamar mandi, lalu meletakkannya diambang pintu.


Adit berjalan mengambil handuk kecil dan mengelap mulut Salma yang baru saja dibasuh. Matanya merah dan masih berair setelah memuntahkan isi perutnya.


"Tadi diajakin Nisa sama temen-temen departemennya pada makan rujak"


"Pedes kan sambelnya?"


"Namanya juga sambel, mana ada yg ga pedes mas"


"Kenapa dimakan?"


"Enak mas, itu kan juga buah-buahan isinya. Bukan yang makanan instan dan sebagainya" ucap Salma sambil berjalan keluar kamar mandi dan membaringkan tubuhnya di kasur.


"Tapi pedes, Sal" jawab Adit dari dalam kamar mandi, lalu berjalan keluar dengan menenteng tasnya dan melepaskan jas dan dasinya didekat ranjang.

__ADS_1


"Kamu tau sendiri kan anaknya nurut banget sama aku, masih aja ngumpet-ngumpet makan makanan yang aku larang"


Salma segera mendudukkan dirinya, sambil mengusap perutnya. "Lagian aneh banget sih, mas. Aku makannya tadi jam 11an, udah masuk makanan lainnya pas makan siang sama sore tadi. Kenapa pas mas Adit balik muntahnya malah rujak? Bukannya makanan yang terakhir aku makan, atau semuanya gitu"


Adit berjongkok didepan Salma, lalu mengusap dan mencium perut Salma. "Good job, baby. Terimakasih udah mau dengerin papa. Kamu emang anak papa!"


"Belum lahir aja kalian udah bersekongkol"


🎎


Nisa yang meja kerjanya berada disebelah Salma, seolah ketagihan untuk terus mengelus perutnya. Nisa akan tertawa saat merasakan tendangan dari bayi yang dikandung Salma itu.


"Bikin sendiri sih, Nis. Gue ga bisa ngoreksi nih kalo lo gangguin gue terus" dengus Salma sambil memundurkan kursinya. "Ga, buruan deh ga usah kelamaan. Pacarmu udah ga sabar pengen hamil juga nih"


"Kamu minta dihamilin sekarang?" ucap Arga dengan santainya dan mendapat lemparan pulpen dari Nisa.


"Kan Salma disini cuma tinggal beberapa minggu lagi, ntar aku kangen ga bisa ngelus-elus dia lagi"


"Nanti aja diuyel-uyel pas dia udah lahir" ucap Salma sambil merapikan lembar koreksiannya.


"Emang boleh kita main ke rumah kamu tiap waktu?" tanya Nisa dengan semangat.


"Kita?" Salma tampak berpikir.


"Ya kan aku sama Arga udah sepaket sekarang hehehehehe"


Arga tersenyum dan menggelengkan kepalanya saat mendengar penuturan Nisa. Tapi ia tetap terfokus pada lembar koreksian yang menumpuk.


"Hahahahaha... buruan diupgrade dong, Ga. Jangan paket hemat mulu yang cuma buat berdua, tambahin anak juga biar jadi paket komplit"


"Gue nabung dulu, duit gue ga sebanyak suami lo yang dulu mau ngawinin lo tinggal kedip aja udah pada siap"


"Lo kata suami gue jin!" Salma melempar sebungkus permen dimejanya ke arah Arga.

__ADS_1


__ADS_2