MENIKAH

MENIKAH
S2 - Jodoh


__ADS_3

Happy reading 😊


***


Weekend ini, Rayyan menemani Mamanya berbelanja. Rayyan hanya ingin bersama sang Mama untuk menggantikan waktu kebersamaan yang hilang saat ia memutuskan kuliah di luar negeri.


"Kita makan siang dulu ya, Mama udah janji sama Tante Widya dan Tante Shinta." ucap Salma sambil melepaskan seatbeltnya.


"Kok Mama baru bilang? Rayyan kira mau belanja doang ke supermarket."


"Ini udah jam makan siang, Rayyan."


"Ya tau, Ma. Tapi Rayyan kira cuma makan sama Mama doang."


"Bentar doang kok, cuma makan siang aja. Ayo cepetan, mereka udah nungguin nih!"


"Bener ya Ma cuma bentar, enggak pake acara reuni atau ngeghibah. Cewek kan biasanya kalo ketemu gitu, Ma."


"Udah buruan! Kalo kamu banyak nanya, nanti makin lama waktu yang kebuang."


Rayyan segera menyusul Salma yang telah berjalan lebih dulu. Salma beruntung karena kedua anak lelakinya tidak pernah menolak jika mereka ajak pergi berbelanja. Dibanding Eowyn, Salma akan lebih memilih pergi bersama Rayyan atau Rafa yang tidak akan pernah mengomel saat harus membawa barang yang berat atau menghabiskan waktu yang terlalu lama.


Bahkan Rayyan atau Rafa tidak keberatan jika ada yang mengatakan bahwa mereka seperti simpanan tante-tante. Bagi Rafa, tidak masalah jika menjadi simpanan tante-tante, asalkan yang jadi tantenya itu adalah Mamanya yang masih terlihat cantik dan tidak seperti wanita yang hampir berusia lima puluh tahun. Pantas saja Papanya.begitu cemburuan, termasuk kepada anaknya sendiri yang sekedar ingin bermanja-manjaan dengan sang Mama.


🎎


Setelah melewati waktu yang membosankan untuk menemani mamanya makan siang bersama teman-temannya, kini waktunya mereka untuk berbelanja. Rayyan bernafas lega, berada ditengah ibu-ibu yang sedang ngumpul sungguh membosankan. Apalagi jika ia tidak diajak ngobrol karena mereka sibuk sendiri. Bahkan Mamanya, seakan lupa jika pergi ke restoran itu bersamanya.


Setelah mengambil troli dan mendorongnya mengikuti sang Mama, Rayyan mencoba untuk membuka obrolan. Dalam kesempatan seperti inilah, Rayyan bisa ngobrol membicarakan hal apapun dengan sang Mama tanpa takut ketahuan kedua saudaranya.


"Ma..." Rayyan akhirnya membuka suara setelah beberapa menit berkeliling supermarket.


"Hm?"


"Mama enggak bermaksud untuk ngejodohin Rayyan kan?"

__ADS_1


Salma kaget dan menengok ke arah Rayyan yang sedang mendorong troli di sebelahnya.


"Kenapa kamu bisa mikir kayak gitu?"


"Soalnya hari ini mama ngajakin Rayyan buat belanja, terus taunya mama juga janjian sama temen-temen mama. Rayyan cuma... menyimpulkan sendiri, Ma. Mama jangan marah kalo Rayyan salah menduga."


Salma tersenyum, lalu mengusap lengan Rayyan. "Meskipun Mama dan Papa menikah karena perjodohan, kita sama sekali enggak pernah berpikiran untuk menjodohkan kalian bertiga."


"Oiya? Kenapa Mama bisa ngomong gitu, Ma?"


Salma mengangguk. "Pernikahan itu bukan main-main, Rayyan. Kakek Nenek kalian hanya lagi beruntung aja karena Mama dan Papa bisa menerima pernikahan itu, hingga akhirnya saling mencintai, dan hidup bahagia sampai sekarang." ucapnya sambil memilih buah apel.


"Cinta memang tumbuh karena terbiasa, tapi juga butuh banyak faktor pendukung lainnya. Ngerasa nyaman satu sama lain, enggak ada orang ketiga keempat dan sebagainya yang masih berada di lingkaran hubungan pernikahan itu, dan yang terpenting bisa saling nerima satu sama lain. Contoh gampangnya Rafa. Meskipun dia seneng liat cewek cantik, tapi belum tentu dia bisa gitu aja nerima kalo Mama jodohin. Apalagi sekarang hatinya udah terpatri sama Alita. Perjodohan itu enggak segampang saling ngenalin anak cewek dan cowok yang kemudian dinikahkan lalu hidup bahagia, Rayyan."


"Jadi... Rayyan bisa kan nikah sama wanita piihan Rayyan sendiri?"


"Tentu bisa! Emangnya... sekarang kamu udah ada calonnya? Siapa? Mama kenal enggak?" tanya Salma dengan antusias.


"Hahahaha... belum ada lah, Ma. Seenggaknya Rayyan udah lega karena Mama sama Papa enggak ngejodohin Rayyan. Jadi sekarang, Rayyan bisa fokus cari pendamping hidup."


"Iya, Mamaku sayaaaang...."


"Ah iya... mama baru inget. Seminggu sebelum kamu balik, Mama ketemu sama Nadine di butik langganan Mama. Kalian masih saling berkabar kan?"


Rayyan diam sejanak, lalu menggelengkan kepalanya. "Enggak, Ma. Udah lama banget kita jarang komunikasi."


Salma hanya ber-oh ria. Ia tidak berani untuk mengorek informasi lebih lanjut. Sejak putus dengan Nadine saat SMA dulu, Rayyan memang selalu sensitif jika pembahasan telah mengarah kepada Nadine. Ya meskipun sekarang Rayyan sudah bisa lebih santai menyikapinya.


"Ma, apa... Mama sama Papa punya kriteria khusus untuk calon menantu?"


Salma kembali dibuat terkejut dengan pertanyaan Rayyan.


"Biasa aja Ma kagetnya, enggak usah sampai kayak gitu sih hehehehe...."


"Sebenernya yang lagi kamu deketin itu siapa sih, Nak? Mama jadi penasaran, dari tadi ngobrolnya soal jodoh mulu." tanya Salma.

__ADS_1


"Belum ada, Ma." Rayyan mulai gelagapan menanggapi Salma. "Maksud Rayyan, Rayyan cuma enggak mau kalo nanti Rayyan udah yakin sama seseorang tapi kepentok restu dari Papa sama Mama. Mungkin karena bukan dari kalangan pengusaha, atau mungkin... dia enggak secantik Mama gitu."


"Kamu ngomong apaan sih?" Salma memukul lengan Rayyan. "Kalo mama pribadi enggak ngelarang kamu mau nikah sama siapa aja. Asal... dia bener-bener cinta dan sayang enggak cuma sama kamu, tapi sama keluarga juga. Mama cuma pengen liat anak-anak Mama hidup berumah tangga dengan bahagia."


Rayyan hanya manggut-manggut saja mendengar penjelasan Rayyan.


"Jangan malu untuk memulai suatu pertemuan, Rayyan. Siapa tau jodoh kamu ada di salah satu pertemuan itu."


"Hehehehe... iya, Ma."


"Oiya, Zahra gimana kerjanya?"


"Bagus kok, Ma. Dia cepet belajar dari Pak Hendra dan Bu Meta."


"Dia juga cantik tuh. Mama kira dulu bakal diembat juga sama Rafa, enggak taunya punya rasa takut juga itu anak. Cuma kan usianya emang lebih tua Zahra dua tahun, jadi mungkin Zahra cocoknya sama kamu."


"Maksud Mama?" Rayyan menghentikan trolinya untuk meminta penjelasan dari Mamanya.


"Mama udah kenal Zahra setahunan ini sejak Eowyn sering ngajak dia main dan nginep di rumah. Dia anak yang baik, supel juga. Mama enggak keberatan kalo kamu punya hubungan bahkan sampai nikah sama Zahra."


"Mama bilang enggak mau ngejodohin anaknya?"


"Mama enggak ngejodohin kamu sama Zahra kok. Mama kan cuma bilang, seandainya kamu nikah sama Zahra, Mama enggak keberatan. Emang itu dibilang ngejodohin ya?"


"Yaaa... enggak sih, cuma takutnya nantinya Mama bakal ngarah kesitu."


"Hahahahaha... kamu kalo mau macarin Zahra, harus berhadapan sama Eowyn juga tau! Dia kan udah kayak kembarannya Zahra."


"Ceh! Cuma Eowyn aja."


***


Hari ini up 1 part lagi ya, besok lagi dilanjut kalo pas enggak lagi buntu hehehehe....


Jangan lupa likes, comments dan votenya. Yang belum baca Cupcake's Love sama Lean On Me bolehlah mampir dulu.

__ADS_1


Terima kasih 😘😘


__ADS_2