MENIKAH

MENIKAH
S2 - Sengaja


__ADS_3

Happy reading 😊


***


Karyawan restoran itu tampak berpikir, hingga akhirnya meminta Rayyan untuk menunggu sebentar. Karyawan itu masuk ke dalam, mungkin meminta izin kepada seseorang. Rayyan makin dibuat tak sabar dan terus melongok ke dalam, menunggu karyawan itu keluar kembali.


"Silahkan, Pak. Bapak diperbolehkan masuk."


Rayyan bergegas masuk, mengedarkan pandangannya pada suasana restoran yang tampak lengang itu.


"Ini disewa?" tanya Rayyan sambil menoleh ke arah pegawai restoran yang berjalan mengikutinya.


"Iya, Pak. Untuk acara makan malam keluarga."


Rayyan sedikit lega. Jika memang ini adalah acara keluarga, berarti pemilik mobil sedan hitam itu sudah pasti bagian dari keluarga Zahra. Namun tiba-tiba pikirannya memikirkan hal yang tidak-tidak.


"Tidak mungkin ini acara perjodohan kan? Ketika dua keluarga bertemu untuk makan malam bersama, itu juga disebut acara makan malam keluarga, kan?"


Belum juga Rayyan berdamai dengan pikirannya sendiri, mata Rayyan telah menangkap sosok Zahra yang terlihat bercanda dengan seorang laki-laki. Raut wajah Zahra bahkan tampak berbeda tiga ratus enam puluh derajat dengan saat di kantor seharian ini.


Dada Rayyan seolah sesak, merasa tidak rela melihat kekasihnya kini melebarkan tawanya pada laki-laki lain. Sementara seharian ini, dirinya justru kebagian sikap cuek Zahra. Bahkan tidak ada panggilan sayang sekali pun.


Rayyan berjalan mendekati Zahra yang berdiri berhadapan seorang laki-laki di depan stand meja yang menyajikan berbagai menu makanan. Zahra yang mengetahui kedatangan Rayyan langsung membalikkan badannya, tak ada lagi senyuman di wajahnya. Kini raut wajahnya telah kembali ke raut wajah yang seharian ini dipamerkan kepadanya.


"Kita bicara sebentar, Zah." ucap Rayyan sambil meraih tangan Zahra, bermaksud untuk mengajak Zahra berbicra di luar sebentar.


"Disini saja." Zahra melepaskan tangan Rayyan yang memegang pergelangan tangannya.


Rayyan tersenyum tipis, tak menyangka mendapat penolakan dari Zahra hanya untuk sekedar menggandengnya. Tatapan Rayyan beralih pada sosok laki-laki yang masih berdiri tak jauh dari Zahra.


"Enggak apa-apa, dia enggak mencampuri urusan kita. Katakan apa yang ingin kau katakan."


"Siapa dia?" tanya Rayyan sambil melirik kembali ke arah laki-laki itu.

__ADS_1


Zahra nampak menoleh ke belakang, menatap laki-laki yang sedari tadi membuat Rayyan merasa cemburu.


"Dia? Kalo ingin tahu siapa dia, kenalan aja sendiri." Zahra menggeser kakinya, bermaksud agar tidak menghalangi Rayyan jika ingin berkenalan dengan laki-laki yang berada di belakangnya.


"Zah!" Rayyan tampak menggeram, menahan amarahnya saat merasa kekasihnya benar-benar sedang menyebalkan sekarang.


Zahra masih diam saja, namun matanya menatap lekat pada Rayyan. Beberapa kali memalingkan wajah dan menghela nafasnya, Rayyan benar-benar sedang bertarung dengan dirinya sendiri. Ia harus berjuang menahan emosinya, agar tidak meledak sekarang ini. Bahkan saat dia belum mendapatkan penjelasan apa-apa dari Zahra.


"Kamu mungkin lupa kalo hari ini aku berulang tahun, Zah." Rayyan berucap dengan menatap ke arah Zahra. Tatapannya masih sendu, seolah kecewa dengan Zahra seharian ini yang tidak memperhatikannya.


"B-benarkah?" gumam Zahra dengan lirih.


"Aku enggak akan mempermasalahkannya kalo memang kamu lupa. Tapi tolong jangan lagi bersikap menyebalkan seperti ini, Zah. Kamu bahkan menjauhiku seharian ini, tapi malah pergi makan malam dengan dia." Rayyan menjeda perkataannya. Dadanya begitu sesak. Jika ia tidak malu dengan usianya yang baru saja bertambah sekarang ini, mungkin saja ia telah merengek sedari tadi.


"Aku tidak meminta kado apapun darimu, Zah. Cukup berikan aku penjelasan tentang apa yang terjadi kepadamu hari ini." sambung Rayyan.


Zahra berdehem, lalu menundukkan kepalanya beberapa saat sebelum akhirnya mendongak dan memberikan penjelasan kepada Rayyan.


"Aku harus menjauhimu hari ini demi acara makan malam ini. Acara ini bersifat pribadi, dan aku tidak bisa memberitahukannya kepadamu."


"Namanya Sabian, dia teman Rafa. kami akan-"


"Jadi kau menghindariku demi cowok seumuran Rafa ini, Zah?" Rayyan tak bisa lagi menahan emosinya. Rasa cemburu itu telah menguasainya, meluap begitu saja dan butuh pelampiasan.


"Sejak kapan kalian menjalin hubungan, hah?" rahang Rayyan mengeras. Masih banyak hal yang belum dijelaskan oleh Zahra dan ia harus mendapat jawabannya sekarang juga.


"Sudah lama, aku mengenal Sabian sejak kecil. Dan... aku menyukainya."


"Apa kamu bilang? Menyukainya?" Rayyan terkejut, berucap dengan suara yang naik satu tingkat sambil menunjuk ke arah Sabian.


Sabian yang menyadari posisinya semakin tidak aman, langsung melangkah ke depan untuk berhadapan dengan Rayyan.


"Ini sudah waktunya makan malam. Kita bisa membicarakannya sambil mengobrol." kata Sabian sambil merangkul dan mengusap bahu Zahra.

__ADS_1


"Singkirin tangan lo dari cewek gue!" Rayyan dengan sengaja mendorong tubuh Sabian dan menjauhkan tangan Sabian dari Zahra.


"Sayang...." Zahra menahan Rayyan yang mulai terpancing emosi itu. Kedua tangannga melingkar pada pinggang Rayyan, menahannya dengan erat agar tidak memulai perkelahian disana.


Rayyan menoleh ke arah Zahra yang memeluknya dengan erat, terlebih dengan disebutnya panggilan 'sayang' yang seharian ini tidak ia dengar dari Zahra.


"Kumohon hentikan, kita kesini hanya untuk makan malam." ucap Zahra saat merasakan tangan Rayyan yang mengusap punggungnya dengan lembut.


Zahra mendongakkan kepalanya, menatap Rayyan yang masih terlihat kesal itu.


"Maafkan aku, sayang. Ini semua ide Eowyn dan juga Rafa." kini giliran Zahra yang ketakutan saat memberitahukan yang sebenarnya. Rayyan pasti akan sangat marah jika tahu jika seharian ia dengan sengaja menjauhi dan mengerjainya. Tangannya masih erat memeluk tubuh Rayyan, berharap dengan begitu Rayyan dapat menahan emosinya.


"Apa maksudmu?"


"Sebenarnya... beberapa hari yang lalu kita berencana memberikan surprise ulang tahun untukmu. Dan dari situ kita sengaja minta bantuan Sabian untuk terlibat dalam acara ini. Maafkan aku, aku benar-benar minta maaf. Jadi kumohon jangan marah lagi ya?"


Rayyan merasa kesal mendapati dirinya sedang dikerjai, bahkan ia sampai cemburu pada teman Rafa yang tidak tahu apa-apa itu. Untung saya tidak ada baku hantam tadi, jika terjadi bisa panjang masalahnya.


"Please.... Ada keluarga kita disini, jadi jangan marah ya?" Zahra mengusap pipi Rayyan dengan lembut saat Rayyan tak juga bersuara.


"Fa, keluar lo! Gue jadi obat nyamuk disini." Sabian berteriak sambil mundur beberapa langkah menjauh dari pasangan yang masih saling memandang itu.


"Jadi dimana keluarga kita?"


"Ada disana." Zahra menunjuk sebuah ruangan. "Kaca itu, hanya orang dari dalam yang bisa melihat keluar. Jadi sedari tadi keluarga kita mengamati drama kita barusan dari sana."


Saat Rayyan belum selesai dengan rasa keterkejutannya, Rafa dan Eowyn keluar dengan membawa sebuah kue ulang tahun dengan beberapa lilin yang menyala disana sambil menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Dibelakangnya ada orangtua Rayyan, kakek nenek mereka, dan juga keluarga Zahra.


Rayyan terharu, menatap orang-orang yang dicintainya hadir dihari spesialnya. Matanya yang mulai berkaca-kaca ia sembunyikan dengan memeluk Zahra sebelum rombongan keluarga yang berjalan ke arahnya itu kian mendekat.


"Aku akan menghukummu, Zah. Segera setelah semua acara ini selesai." bisik Rayyan sambil memeluk Zahra dengan erat.


***

__ADS_1


Hayooo... siapa juga yang mau dihukum sama abang Rayyan? Hukumannya apaan tuh ya? Hehehehehe....


Vote, like dan comment-nya jangan kelupaan ya 😘😘😘


__ADS_2