
Happy reading 😊
***
Rayyan menggeram, menahan kekesalannya saat Nadine memasuki ruangannya. Setelah mengalihkan pekerjaannya pada orang lain, menyebar gosip yang tidak benar di kantornya, kini gadis itu muncul kembali.
Zahra memang cukup terkejut saat mengetahui Nadine datang kembali ke kantor Rayyan, namun setelahnya ia bisa mengendalikan diri. Belajar dari pengalamannya beberapa kali berhadapan dengan Nadine, Zahra hanya butuh keberanian untuk tidak gentar dalam menghadapi gertakan Nadine.
Ia harus menjadi dirinya seperti saat di Bali kemarin. Meskipun akhirnya gosip itu tersebar dan menyudutkan dirinya, namun cara itu berhasil membuat Nadine mundur dan enggan bertemu dengannya dan Rayyan.
"Alex berhalangan hadir hari ini, jadi aku terpaksa mengambil alih kembali tugas ini. Aku harap... kalian enggak keberatan untuk bertemu kembali denganku." senyumnya pada Rayyan dan Zahra bahkan masih sama. Padahal Rayyan berharap Nadine akan muncul dengan perasaan bersalahnya dan meminta maaf.
"Tidak masalah. Bagiku siapa saja yang menangani proyek ini aku tidak mempermasalahkannya." jawab Rayyan sambil menerima sebuah map yang disodorkan oleh Nadine.
Nadine melirik ke arah Zahra yang duduk satu sofa dengan Rayyan. Dia tersenyum sinis saat pandangan matanya bertemu dengan tatapan mata Zahra.
"Aku dengar, ada kehebohan di kantor ini beberapa hari yang lalu."
"Hm. Bukannya itu karenamu?" tembak Rayyan.
"Aku ya? Tapi... aku enggak mengira kalo akan jadi seheboh ini." Nadine tersenyum, lalu menyilangkan kakinya dan bersedekap.
__ADS_1
"Aku hanya bertemu dengan teman SMA kita dulu, lalu kami bercerita. Memang ada adiknya disana saat itu, dia bekerja disini. Dan... aku enggak tahu kalo dia akan menyebarkan gosip itu, apalagi sampai bikin heboh begini. Aku minta maaf ya." Nadine berucap dengan santai. Dia bahkan menyelipkan senyum manisnya yang membuat Zahra menjadi jengah.
"Yang kamu bicarakan itu bosnya, jadi wajar kalo gosipnya langsung heboh begitu." ketus Zahra. "Lagian ya, kalo memang merasa bersalah harusnya minta maaf dengan baik. Bukan malah senyam-senyum kayak enggak bersalah gitu."
"Sayang...." Rayyan berkata lirih sambil menggenggam tangan Zahra.
Rayyan berusaha menenangkan Zahra yang tersulut emosinya. Karena gosip kemarin, seluruh karyawan di kantor langsung merendahkannya.
"Ahhh, apa aku harus bersujud dan mencium kaki kalian sambil menangis? Ayolah Zah, ini ketidaksengajaan. Lagian... hal itu memang terjadi diantara kalian kan waktu di Bali kemarin? Jadi, aku pikir kalian memang lebih baik diam begini dan tidak membela diri."
"Apa yang sebenarnya terjadi di Bali antara aku dan Zahra tidak ada hubungannya denganmu, Nadine! Jadi tolong jangan mencampuri urusan kami. Mau kami tidur bersama atau tidak, itu urusan kami. Dan karena kamu tidak tahu yang sebenarnya terjadi, aku mohon jangan menyebar berita konyol seperti itu lagi. Terlebih dengan menyudutkan Zahra."
Rayyan memang tidak terlihat marah. Nada bicaranya pun datar, tidak ada intonasi suaranya yang dinaikkan. Namun lewat tatapan matanya pada Nadine, itu menjelaskan jika Rayyan benar-benar marah sekarang. Nadine tahu akan hal itu. Kedekatan mereka saat SMA dulu cukup membuat Nadine paham akan Rayyan.
"Aku tidak bilang jika aku menyalahkanmu. Tapi jika kau menyadarinya, aku sangat bersyukur." Rayyan menegakkan duduknya dan semakin menatap tajam ke arah Nadine.
"Aku sama sekali tidak mau tahu bahkan sampai mencampuri kehidupanmu, Nadine. Jadi sebaiknya kau juga melakukan hal sama padaku. Kita memang berteman, bahkan dulu kita pernah dekat. Tapi jangan jadikan alasan itu agar kau bisa bertindak sesuka hatimu padaku. Dan satu lagi, jangan pernah libatkan Zahra dalam setiap pembicaraanmu. Aku enggak akan tinggal diam."
Nadine merasa kesal. Senyum manis yang sedari tadi dia pamerkan kini menghilang. Nadine mengepalkan tangannya, gerahamnya mengetat karena merasa ditolak. Rayyan telah membencinya sekarang, itu berarti dia tidak memiliki kesempatan lagi untuk mendekat dan merebut hati Rayyan.
Sementara Zahra hanya diam saja. Zahra bagaikan penonton yang sedang menyaksikan pertandingan sengit dari bangku penonton. Zahra bukannya tidak ingin membela diri, namun ia merasa Rayyan telah cukup membelanya. Terlebih Nadine tidak menyukainya, jadi apapun yang dikatakan oleh Zahra pasti akan diindahkannya begitu saja.
__ADS_1
"Sudah kubilang aku tidak bermaksud demikian, Rayyan. Jadi tidak seharusnya kau menuduhku." Nadine masih mencoba untuk membela diri, meskipun kini air mukanya telah berubah dari yang sebelumnya.
"Dengan kau membicarakan hal yang tidak kau ketahui kebenerannya itu sudah merupakan perbuatan yang salah, Nadine. Apalagi jika kau mengetahui adik dari temanmu bekerja disini. Kau pasti memiliki maksud dengan mengatakannya pada mereka kan?" tanya Rayyan dengai menyeringai ke arah Nadine.
"A-apa maksudmu, Rayyan?" Nadine tergeragap.
"Entahlah, aku hanya menduga." Rayyan kembali menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. "Aku akan mempelajari dulu berkas yang kau beri barusan. Jika aku menyetujuinya, Zahra akan menghubungimu. Atau mungkin menghubungi Alex. Kau boleh pergi jika sudah tidak ada perihal pekerjaan yang harus kita bicarakan, Nadine."
Nafas Nadine memburu, Rayyan benar-benar membuatnya kesal. Kekesalannya bertambah melihat Rayyan yang dengan sengaja kembali mempertontonkan kemesraannya pada Zahra. Rayyan dengan sengaja merangkul bahu Zahra, bahkan mengusap lembut rambut Zahra yang digelung itu.
Dulu, Nadine menyukai sikap manis Rayyan yang demikian. Usapan lembut tangan Rayyan pada rambutnya selalu membuat hatinya berdesir tak karuan. Namun kini, dia melihat sendiri Rayyan melakukan hal itu pada gadis lain. Meskipun dia dan Rayyan tak lagi memiliki suatu hubungan, namun Nadine merasa cemburu.
"Baiklah, aku akan pergi. Mungkin kalian membutuhkan waktu untuk bermesraan disini." Nadine mencoba untuk menyindir. Dia tak mau terlihat kkalah bahkan dihadapan Zahra yang akan membuatnya semakin ditertawakan oleh Zahra
"Jika kau tidak ingin pergi, aku tidak masalah. Mungkin kau ingin lihat kegiatan apa saja yang aku dan Zahra lakukan saat berduaan. Jadi kau bisa mengupdate berita yang kau sebarkan sebelumnya."
"Kau gila, Rayyan!" Nadine segera menyambar tasnya lalu keluar meninggalkan ruangan Rayyan. Nadine bahkan dengan sengaja membanting pintu saat menutup pintu ruangan Rayyan.
Lagi-lagi Nadine kalah. Kekesalannya bertambah saat mengetahui jika Rayyan begitu membela Zahra. Ingatannya kembali pada momen ketika dia dan Rayyan masih berpacaran. Nadine merasa sakit hati, karena Rayyan tidak memperjuangkannya hanya karena ancaman Andrew pada Eowyn. Dan kini, Rayyan malah begitu mati-matian membela Zahra.
***
__ADS_1
Maaf ya kalo jadi jarang update. Authornya lagi banjir orderan roti kekinian itu tuh, jadi mainannya pindah ke mixer sama oven 😂🙏 Tapi ini diusahakan untuk up rutin kayak dulu ya, meskipun sehari cuma 1 eps hehehehe...
Votes-nya ya jangan lupa, terima kasih banyak 😘