MENIKAH

MENIKAH
S2 - Family


__ADS_3

Seperti pagi-pagi sebelumnya, Salma selalu menyibukkan dirinya di dapur untuk menyiapkan sarapan bagi keluarga tercintanya. Mempunyai suami yang begitu mencintainya serta 3 orang anak yang menyayanginya, Salma benar-benar bersyukur akan anugerah yang diberikan Tuhan dalam hidupnya.


Sekarang ia dibantu oleh asisten rumah tangga yang baru, karena bu Sari memutuskan untuk pensiun 2 tahun yang lalu. Salma tidak bisa melarang, bu Sari telah semakin menua dan hanya ingin menikmati usia senjanya bermain dengan cucunya, anak dari Asep.


"Bu, ini ayamnya mau diungkep sekarang atau nanti?" Tanya Bi Yati, asisten rumah tangga yang baru.


"Sekarang aja ya Bi, nanti kalo udah dingin baru disimpen di kotak terus taruh di freezer kayak biasanya." jawab Salma sembari menyusun piring di meja makan.


"Tolong lanjutin ya Bi, saya mau ke atas dulu." sambungnya.


Ia segera berjalan menuju kamarnya, membangunkan Adit yang sepertinya malah kembali terlelap setelah solat subuh tadi.


"Mas...." ucap Salma sembari mengusap lengan Adit yang tertidur di sofa.


Adit mengerjapkan matanya, lalu menggeliat sambil menutup mulutnya karena menguap.


"Udah jam 6 lebih, siap-siap gih. Tadi aku udah siapin baju kerjanya, aku mau bangunin anak-anak dulu."


"Mereka udah gede, Sal. Pada bisa bangun sendiri, emang kamu enggak bosen bangunin mereka mulu?"


Salma tersenyum. "Kalo aku bosen, aku enggak akan bangunin Mas Adit kayak barusan."


"Tadi Rayyan nge-WA, dia udah booking penerbangan untuk besok Jumat."


"Oiya?" seru Salma begitu bahagia. Bagaimana tidak bahagia, setelah Rayyan memutuskan untuk kuliah di luar negeri, ini adalah akhir dari penantiannya. Anak pertamanya itu telah menyelesaikan gelar MBA-nya dan akan kembali ke rumah, itu berarti ia tak lagi harus menahan kerinduannya pada Rayyan lagi.


"Aku udah bilang sama Rayyan, setelah sampai sini enggak ada waktu untuk main-main. Dia harus segera penyesuaian kerja di kantor."


"Jangan keras gitulah, Mas. Kasih Rayyan waktu, mungkin dia juga pengen ketemu teman-temannya kan?"


"Dia bisa ketemu pas weekend, sayang. Perusahaan Papa kamu harus ada yang segera ambil alih, aku juga pengen tau hasil belajarnya Rayyan itu kayak gimana."


Salma mengangguk. "Dia pasti akan hebat sepertimu, kalian kan copy paste hehehehe...."


"Udah, buruan siap-siap. Aku ke kamar Eowyn dan Rafa dulu," imbuh Salma lalu mengecup bibir Adit sekilas dan beranjak keluar kamar.

__ADS_1


Usia mereka memang tak lagi muda, namun keduanya memilih untuk tetap romantis satu sama lain demi menguatkan ikatan cinta mereka. Terlebih sekarang, anak-anak mereka telah tumbuh dewasa. Tak ada lagi yang bisa menghalangi waktu mereka untuk bermesraan karena anak-anaknya telah memiliki kesibukan sendiri.


Salma memasuki kamar Eowyn yang didominasi dengan warna dusty pink itu. Terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi yang menandakan Eowyn telah bangun sebelum sang Mama membangunkannya.


Gadis kecil itu kini telah berusia 22 tahun dan sedang disibukkan dengan urusan skripsinya. Ia seperti Salma ketika muda, hanya fokus terhadap pendidikannya dan belum pernah dekat dengan lelaki mana pun. Terlebih, sikap sang Papa dan kedua saudara laki-laki yang begitu protektif padanya membuatnya takut untuk memiliki hubungan dengan seorang lelaki.


"Eowyn... kamu mau pergi ke kampus?" tanyanya dari depan pintu kamar mandi.


Eowyn yang telah menyelesaikan ritual paginya segera membuka pintu kamar mandi, berjalan keluar dengan mengenakan kaos dan celana pendek serta handuk di kepalanya.


"Enggak ada, Ma. Hari ini aku enggak ada bimbingan, tapi aku ada janji mau ke toko buku sama Zahra. Cari buku referensi untuk skripsi, Ma. Boleh kan?"


Salma mengangguk. "Ajak Zahra mampir kesini, udah lama dia enggak main ke rumah."


"Oke, Ma. Nanti aku bilang ke Zahra." jawab Eowyn seraya mengecup pipi Salma.


"Weekend ini luangin waktu, wajib pokoknya. Kita akan kumpul keluarga besar, abang akan balik hari Jumat ini."


"Abang Rayyan balik minggu ini, Ma? Kok Abang enggak ngasih tau aku sih?"


"Ya kan itu karena Abang usil banget, Ma."


"Buruan keringin rambutnya, Mama mau ke kamar Rafa dulu."


Salma segera keluar kamar dan berjalan menuju kamar Rafa yang berada di seberang kamar Eowyn. Rumahnya benar-benar penuh, bahkan ia dan Adit sampai harus memangkas taman belakangnya untuk dijadikan 2 kamar tambahan. Hal itu bertujuan jika orangtua mereka datang menginap, ada kamar yang dipakai untuk tidur. Karena sejak anak-anaknya tumbuh dewasa, kamar mereka benar-benar tidak mau diganggu gugat. Terutama Rayyan, yang sangat enggan membagi kamarnya kepada siapa pun.


Rafardhan Adhitama Widjaja.


Anak bungsu Salma dan Adit yang selisih umur 2 tahun dari Eowyn ini hampir mirip seperti Rayyan, sama-sama keras kepala dan begitu protektif terhadap kakaknya, Eowyn. Bedanya, Rafa dikenal lebih playboy. Jika Rayyan baru sekali mengenalkan pacarnya kepada Salma saat SMA dulu, Rafa justru telah berulang kali membawa pulang gadis yang berbeda hampir ditiap semesternya.


Rafa masih tertidur dengan pulasnya, Salma berjalan menuju jendela dan menyibakkan gordennya. Membiarkan cahaya matahari memenuhi kamar Rafa dan membangunkan anak bungsunya itu.


"Jam berapa sih, Ma? Rafa enggak ada kelas pagi hari ini," ucap Rafa dengan suara khas orang bangun tidur.


"Kalo matahari udah cerah gini berarti udah lewat dari jam 6, Rafa. Ayo bangun, jangan males-malesan kayak gini. Kenapa semuanya mirip sama Papa sih? Abis subuhan langsung pada tidur lagi," ucapnya sambil duduk di pinggiran ranjang.

__ADS_1


Rafa mendudukkan tubuhnya, lalu mencondongkan tubuhnya, menyandarkan kepalanya dibahu Salma sambil melingkarkan tangannya pada pinggang Salma.


"Masih ngantuk, Ma. Rafa boleh ya ijin ga ikut sarapan bareng, pagi ini aja Ma."


Salma menggelengkan kepalanya. Baginya, sarapan bersama itu wajib hukumnya. "No! Enggak ada alasan untuk kamu ga ikut sarapan bareng kecuali kamu lagi sakit. Cepet cuci muka dan gosok gigi, nanti setelah sarapan kamu boleh tidur-tiduran lagi."


Rafa menegakkan tubuhnya. "Abang semalem telpon aku, tengah malem. Abang minta jemput Jumat sore besok di bandara."


"Abang minta jemput kamu?"


Rafa mengangguk. "Iya, katanya kalo Mama yang jemput nanti bikin heboh di bandara."


"Dasar Rayyan! Liat aja ntar kalo ketemu Mama siapa yang bakal lebih heboh."


"Masih pagi Mamaku sayang, jangan ngambek kayak gini. Nanti kulit Mama jadi bayak keriputnya," rayu Rafa sambil mengusap pipi Mamanya.


Salma segera menampik tangan Rafa dan memukul punggung tangannya. "Kebiasaan ngerayu cewek-cewek kamu, Fa!"


"Siapa yang ngerayu sih, Ma. Rafa kan cuma ngasih tahu. Tapi emang bener kan kalo marah-marah cepet bikin keriput?"


"Jangan kebanyakan pacaran kalo enggak mau kena hukuman lagi dari Papa."


"Tapi seenggaknya kan nilai Rafa selalu bagus, Ma. IPK Rafa semester lalu aja cumlaude."


"Bukan masalah nilainya, Rafa. Papa sama Mama enggak mau kamu kebiasaan main-main sama anak gadis orang kayak gitu, nanti kalo kebablasan gimana? Entah kamu itu mewarisi gen siapa, perasaan Papa juga dulu enggak playboy kayak kamu."


Rafa tertawa sambil menggelengkan kepalanya. "Enggak, Ma. Mama sama Papa tenang aja, Rafa pacaran enggak aneh-aneh. Cuma jalan sama nonton doang, paling kissing doang Ma"


Dengan gerakan cepat, Salma segera memukul bibir Rafa yang baru saja selesai berbicara itu.


"Awww... sakit, Ma!" pekik Rafa.


"Awas kamu ya kalo macem-macem sama anak orang!" ancam Salma sambil mencubit pipi Rafa. "Buruan cuci muka sama gosok gigi, bau tau ga!"


"Hehehehe... iya Mamaku yang cantiiiikkkkk."

__ADS_1


__ADS_2