
Happy reading 😊
***
Pagi ini, Rayyan dan Zahra telah bersiap untuk kembali bertemu dengan Pak Martin. Menikmati sarapan di restoran yang berada di lantai 3 sambil menikmati pemandangan kota Bandung, Zahra terlihat menyantap sarapannya dengan lahap.
"Kamu kelaperan, Zah?" tanya Rayyan yang melihat Zahra dengan lahap dan sering bolak-balik mengambil makanan yang dihidangkan di restoran hotel itu.
"Hmm... enggak juga, Pak. Cuma saya seneng aja liat ada banyak makanan disini, makanya saya cobain satu-satu." jawab Zahra sambil tersenyum malu.
"Aku pikir kamu kelaparan, enggak taunya porsi makan kamu sebanyak itu. Berarti selama ini, kamu sering kurang kenyang dong kalo makan sama aku?"
"Kenyang, Pak. Mungkin ini efek kemarin saya enggak enak badan dan kurang banyak makan, jadi sekarang dirapel hehehehe...."
"Jadi... kamu udah sehatan?"
Zahra menggelengkan kepalanya. "Tapi mendingan daripada kemarin sih, Pak."
"Kamu yakin bisa ikut pertemuan ini? Aku udah bilang kalo jadwalnya mungkin bisa sampai sore atau malam kan?"
"Iya Pak, semoga aja kuat."
"Kalo masih sakit, istirahat aja di kamar. Aku bisa pergi menemui pak Martin sendiri."
"Dih, Bapak! Terus ngapain dong saya jauh-jauh ikut kesini?"
"Ya nemenin aku, biar pas dimobil ada temen ngobrolnya." jawab Rayyan dengan santai lalu meminum jusnya.
"Kan Bapak sendiri yang bilang kalo meeting kali ini penentuan buat saya. Kalo saya enggak ikutan meeting, berarti saya enggak kerja lagi dong Pak?"
Rayyan mengangguk. "Iya, enggak usah kerja. Itu lebih baik."
__ADS_1
Zahra menunduk, kembali menatap makanannya yang masih tersisa separuh porsi dan kini nafsu makannya telah hilang. Bagaimana bisa Rayyan seenaknya sendiri menyuruhnya untuk tidak bekerja? Apa pula hak Rayyan menyuruhnya untuk tidak bekerja. Zahra benar-benar merasa kesal.
***
Seperti yang diminta pak Martin, Rayyan dan Zahra memenuhi undangan untuk berkunjung ke perusahaannya. Perusahaan pak Martin bergerak dibidang telekomunikasi, namun sedang mencoba peruntungan untuk mendirikan sebuah taman hiburan besar. Rayyan mengejar kerja sama dengan pihak pak Martin agar dapat mendirikan hotelnya di dalam kawasan taman hiburan tersebut.
Pertemuan pagi ini lagi-lagi diisi dengan obrolan ringan antara pak Martin dan juga Rayyan. Sama seperti semalam, keduanya terlihat begitu seru mengobrol hingga melupakan kehadiran Zahra dan Dani, sekertaris pak Martin.
"Ahh maaf kita keasikan ngobrol sendiri." ucap pak Martin sambil tersenyum kepada Dani dan juga Zahra.
"Mari kita ke ruang rapat sekarang, kita akan bahas mengenai kerjasama kita disana." ajak pak Martin sambil beranjak dari duduknya.
Rapat yang berlangsung ternyata memakan waktu yang cukup lama. Bahkan ini telah lewat dari jam makan siang. Pak Martin begitu teliti dan detail dalam usulannya mengenai konsep hotel yang akan dibangun di tempat usahanya. Kali ini, Zahra dibuat sibuk untuk mencatat hampir setiap perkataan yang diucapkan pak Martin. Karena baginya, semua ucapan Beliau penting semua.
Setelah meeting selesai, diluar dugaan semuanya berlangsung lebih cepat. Karena suatu hal, pak Martin harus menyudahi pertemuan mereka dan menyepakati kontrak kerjasama dengan pihak Rayyan. Zahra bernafas lega, setidaknya posisinya aman sekarang. Karena Rayyan menjanjikan jika kerjasama kali ini berhasil, maka Rayyan tidak akan memecatnya.
Waktu makan siang memang telah berlalu hampir dua jam yang lalu. Dalam perjalanan mereka menuju parkiran mobil, Rayyan mengajak Zahra untuk makan siang diluar terlebih dahulu.
"Kenapa?" Rayyan ikut berhenti dan menengok ke arah Zahra yang nampak pucat itu.
"Saya mau ke toilet bentar, boleh kan? Pengen muntah saya, Pak."
Belum juga Rayyan menyetujui permintaannya, Zahra telah lebih dulu menyerahkan tas selempang dan tas laptopnya kepada Rayyan. Gadis itu buru-buru berlari menuju toilet yang tak jauh dari tempat mereka berhenti tadi. Rayyan dengan sigap berlari mengikuti Zahra, lalu berubah menjadi kikuk saat berpapasan dengan seorang perempuan yang baru saja keluar dari toilet.
Ini toilet wanita, tidak mungkin Rayyan menerobos masuk meskipun mengkhawatirkan Zahra yang tadi mengeluh ingin muntah. Menunggu beberapa saat diluar, Rayyan berkali mengalihkan pandangan dari ponselnya menuju ke arah pintu toilet wanita disampingnya. Sudah lebih dari lima menit dan Zahra belum juga keluar. Dirinya semakin tidak nyaman kala harus beradu pandang dengan karyawan wanita yang keluar atau masuk ke dalam toilet tersebut.
"Udah mendingan, Zah?" tanya Rayyan begitu melihat Zahra keluar dari toilet tersebut.
"Lemes banget saya, Pak. Makanan yang saya makan tadi pagi kayaknya keluar semua, mana siang ini belum makan pula." keluh Zahra sambil menyandarkan tubuhnya di dinding depan toilet.
"Yaudah, kita balik ke hotel aja. Masih kuat kan? Nanti makan siangnya pesen aja dari hotel, biar dianterin ke kamar." Rayyan berucap sambil menyeka keringat yang berada di kening Zahra menggunakan sapu tangannya.
__ADS_1
"Duuhh... ini kenapa sih pake ngelap keringat segala!" Zahra bergumam dalam hati.
"Kuat enggak jalan sampai parkiran?" tanya Rayyan begitu selesai dengan urusan menyeka keringat.
"Emang kalo saya enggak kuat Bapak mau gendong saya sampai parkiran?" jawab Zahra dengan asal. Namun Rayyan justru berjongkok didepannya, seolah menyuruh Zahra naik ke punggungnya.
"Bapak ngapain?" tanya Zahra dengan terkejut begitu melihat posisi Rayyan yang sekarang.
"Katanya kamu minta gendong kan?" Rayyan menoleh ke belakang dan berucap dengan santai.
"Iiihh... enggak, Pak. Saya cuma bercanda kok, saya masih kuat Pak jalan sampai mobil." merasa malu menjadi perhatian orang yang keluar masuk toilet, Zahra menarik tangan Rayyan untuk berdiri dan berjalan menuju parkiran.
"Tadi kamu bilang lemes, ini jalannya masih bisa ngebut juga Zah." goda Rayyan saat tangannya ditarik oleh Zahra menuju parkiran mobilnya.
"Malu tau Pak, diliatin banyak orang gitu. Lagian Bapak ngapain sih pake jongkok segala?"
"Ya kan kamu sendiri yang bilang, kalo kamu enggak kuat jalan aku mau gendong enggak? Giliran mau aku gendong, malah ditarik-tarik gini." Rayyan tersenyum menatap tangan kanannya yang digenggam dan ditarik oleh Zahra sedari tadi.
"Saya kan cuma bercanda, Pak."
"Terus sekarang, kamu ngapain ngajak aku kesini?" tanya Rayyan yang seketika menghentikan langkah Zahra.
Zahra melihat ke sekeliling, mencoba mengingat dimana tadi pagi Rayyan memarkir mobilnya.
"Bapak... parkir mobilnya dimana sih? Saya lupa." ucap Zahra dengan polosnya dan sontak membuat Rayyan tertawa.
"Makanya, kalo buru-buru itu jangan main asal tarik." Rayyan membetulkan posisi tangannya, lebih tepatnya sekarang tangannya yang menggandeng tangan Zahra. "Aku parkir di sebelah sana." sambungnya sambil melangkah pelan dan menggandeng Zahra yang kepalanya tertunduk karena malu.
"Udah jauh-jauh sampai sini, ehh taunya salah. Kuat enggak jalan sampai sana? Atau mau aku gendong aja?" Rayyan kembali menggoda Zahra yang masih tertunduk itu.
Kalo seperti iini keduanya tidak mirip seperti bos dan personal assistant-nya. Dengan tangan kanan Rayyan yang menggandeng Zahra dan tangan kirinya yang mencangklong tas selempang milik Zahra serta menenteng tas laptop, ya mungkin keduanya sudah mirip sebagai sepasang kekasih. Hanya mirip loh ya, kan mereka belum jelas statusnya hehehehehe....
__ADS_1