
Happy reading 😊
***
Siang itu, Rafa kembali menunggui Alita yang belum selesai dengan kuliahnya. Tak pernah sedikit pun rasa malas itu hadir dalam diri Rafa meskipun harus menunggu selama empat puluh lima menit. Jika sebelumnya dengan para kekasihnya terdahu Rafa akan memilih untuk hangout dengan teman-temannya, kini Alita-lah yang selalu menjadi prioritasnya. Rafa tidak akan pernah membiarkan Alitanya menunggu, walau hanya untuk beberapa menit saja.
"Lo disini lagi, Fa?" sindir Jihan saat bertemu dengan Rafa yang duduk di kursi panjang yang berada di dekat taman. "Gue saranin mending lo pindah fakultas aja deh." Jihan melanjutkan sindirannya.
Rafa yang sebelumnya tengah asik dengan ponsel ditangannya tidak bergeming akan sindiran yang Jihan arahkan padanya. "Itu bukan urusan lo, Han." jawab Rafa dengan santai.
Jihan nampaknya tidak gentar dengan respon dingin dari mantan kekasihnya itu. Jihan malah memilih duduk disamping Rafa dan menyilangkan kakinya.
"Gue beneran penasaran dengan cewek lo yang sekarang, Fa. Gue sampai stalking akun media sosialnya dia, cantik sih. Tapi... gue penasaran aja sehebat apa dia sampai bisa bikin lo bertekuk lutut sama dia kayak gini."
Rafa menghela nafasnya. Entah kenapa sekarang ia merasa menyesal pernah menjadikan Jihan sebagai kekasihnya. Padahal saat itu banyak temannya yang telah memperingatkannya untuk tidak berurusan dengan Jihan, karena nantinya ia tidak akan bisa lepas begitu saja dari gadis itu. Dan kini, meskipun satu tahun telah berlalu, Jihan nyatanya malah mencoba untuk mengganggu Alitanya.
"Lo stalking akun cewek gue? Segitu penasarannya ya lo sampai stalking gitu?"
"Gue cuma enggak habis pikir lo bisa berubah, beda jauh dengan Rafa yang setahun lalu pacaran sama gue." Jihan mulai berbicara dengan nada tinggi. Ia pasti merasa kesal karena Rafa benar-benar telah melupakannya.
"Kita pacaran cuma tiga bulan, jadi wajar kalo lo belum tau siapa gue yang sebenarnya."
__ADS_1
"Jadi sekarang ini adalah lo yang sebenernya? Pantas aja perlakuan lo beda ya, Fa. Bahkan lo udah ngenalin cewek itu ke keluarga lo hingga begitu dekatnya. Itu yang gue lihat dari postingan cewek lo."
Rafa menganggukkan kepalanya, ia mencoba untuk segera mengusir Jihan pergi sebelum Alita selesai dengan kuliahnya. "Kita udah kenal baik dengan keluarga masing-masing. Emang cuma dia doang yang sering gue ajak ke rumah dan tiap ada acara keluarga, cuma dia dari sekian banyak cewek yang pernah gue pacarin."
"Kenapa?"
Rafa menolehkan kepalanya sambil tersenyum ke arah Jihan. "Karena dia bener-bener pilihan hati gue."
Rafa meraih tasnya dan langsung pergi meninggalkan Jihan yang begitu kesal kepadanya. Tentu saja Jihan merasa dipermainkan, meskipun saat dirinya berpacaran dengan Rafa dulu hanya karena mengincar uang Rafa saja.
***
"Mantan lagi?" tanya Alita yang ternyata sedari tadi kembali menyaksikan pertemuan Rafa dengan mantan kekasihnya. Rafa mengangguk, lalu menggandeng tangan kekasihnya itu menuju parkiran.
"Tapi aku lihat enggak seperti itu, dia kelihatan kesel sama kamu."
"Itu cuma penilaian kamu aja."
"Aku rasa kamu enggak usah lagi nungguin aku selesai kuliah deh."
"Kenapa? Kamu cemburu?" goda Rafa sambil mencuri pandang pada Alita yang nampak sedang kesal.
__ADS_1
"Aku cuma enggak mau kalau nanti ada reuni para mantanmu disini."
"Hahahaha... ini udah kedua kalinya kamu melihat Jihan, dan kamu masih tetep aja cemburu. Aku sedikit terluka karena itu berarti kau masih meragukanku." kini giliran Rafa yang memasang ekspresi wajah sedihnya, tapi tentu ini adalah ekspresi yang dibuat-buat.
"Bukannya aku enggak percaya sama kamu. Aku hanya merasa dia masih begitu mengharapkanmu."
"Hahahaha... aku udah bilang padamu untuk enggak usah khawatir akan hal itu. Yang harus kamu lakukan hanya cukup percaya sama aku aja, aku selalu menjaga prinsipku untuk enggak pernah balikan sama mantan."
"Kau yakin?" tanya Alita dengan sangsi yang langsung diangguki oleh Rafa.
"Kata orang, mantan itu cuma masa lalu. Jadi aku enggak mau kembali ke masa lalu, aku cuma mau fokus aja ke masa depan."
Alita tersenyum mendengar perkataan Rafa, entah kenapa dia merasa kini Rafa bukan hanya pandai berbicara manis, tapi juga semakin dewasa.
"Silahkan, tuan puteri. Hamba akan segera mengantar Anda menuju tempat makan favorit kita." kata Rafa sambil membungkuk dan membukakan pintu untuk Alita.
"Kita akan makan steak?" tanya Alita dengan sumringah.
"Tentu saja, aku baru aja dikasih uang jajan sama abang karena bantuin acara lamarannya dia."
"Abang Rayyan emang yang terbaik."
__ADS_1
Sesaat setelah Alita masuk, Rafa berjalan memutar menuju kursi kemudinya dan bergegas untuk mengisi perut mereka yang telah keroncongan sedari tadi.