MENIKAH

MENIKAH
S2 - First Day


__ADS_3

Happy reading 😊


***


Rayyan terbangun lebih dulu sebab merasa ingin segera buang air kecil. Menuruni kasur dengan perlahan, Rayyan berusaha agar istrinya tidak terbangun kemudian. Berjalan santai dengan tubuh polosnya menuju kamar mandi, Rayyan kembali tersenyum saat malam tadi dirinya kembali menyatukan dirinya dengan Zahra tanpa bisa ditahan lagi.


Meskipun sudah berusaha sekuat mungkin untuk tidak mengajak Zahra berhubungan badan lagi, tapi dengan tubuh polos Zahra yang menempel pada tubuhnya itu benar-benar godaan. Ditambah lagi dengan status mereka yang kini sah menjadi suami istri, hal itulah yang membuat Rayyan kembali merayu istrinya untuk kembali bercinta.


Setelah selesai dengan urusannya, Rayyan keluar kamar mandi dengan bathrobe yang telah menempel ditubuhnya. Kembali naik ke ranjang dimana istrinya masih tertidur lelap, Rayyan berencana untuk tidak kembali tidur.


Memandangi wajah Zahra yang terlihat tenang dalam tidurnya, Rayyan tahu jika Zahra pasti merasa kelelahan bahkan kesakitan akibat ulahnya. Menaikkan selimut untuk menutupi tubuh polos istrinya sebatas bahu, Rayyan kembali tersenyum saat melihat banyaknya tanda yang berhasil ia buat ditubuh Zahra semalam.


Mengalihkan perhatiannya agar tidak tergoda untuk membangunkan Zahra dan menerkamnnya kembali, Rayyan meraih ponselnya yang berada di nakas. Memeriksa banyaknya pesan masuk yang sebagian besar berisi ucapan selamat atas pernikahannya.


Seringaiannya muncul saat membaca nama adik bungsunya ternyata mencoba menelponnya semalam. Mungkin panggilan telepon yang ia abaikan itu berasal dari Rafa. Diam-diam Rayyan bersyukur dalam hati karena mengabaikan deringan telepon itu dan memilih fokus pada malam panasnya dengan Zahra. Karena ia yakin adik bungsunya itu menelpon untuk berbicara hal-hal yang tidak penting.


Merasakan adanya pergerakan dari Zahra, Rayyan mengulurkan tangannya untuk membelai rambut istrinya. Namun hal itu justru membuat Zahra kaget dan segera terduduk dengan cepatnya. Sambil memegangi selimut yang menempel ditubuhnya agar tidak melorot dan tubuhnya terekspos dihadapan Rayyan, tatapan Zahra benar-benar kebingungan pagi itu.


"Jangan bilang kalo kamu kaget gara-gara ada aku disjni." ucap Rayyan sambil menahan senyum melihat istrinya yang terlihat shock tapi malah menggemaskan baginya.


Zahra masih terdiam, mungkin sedang mengumpulkan kesadarannya. Lalu Rayyan meletakkan ponselnya kembali ke nakas, dan mendekati Zahra yang masih terdiam itu.


"Kita udah menikah, sayang. Kamu enggak lupa kan?" sambung Rayyan sambil merangkul bahu istrinya dan menunjukkan cincin pernikahan mereka.

__ADS_1


"A-aku... enggak lupa. Aku cuma... kaget aja bangun-bangun ada orang lain disebelahku dan... aku... enggak pakai baju." Zahra menjawab dengan terbata.


"Hm." Rayyan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum menggoda ke arah Zahra. "Semalem kita terlalu capek hanya sekedar untuk memakai baju tidur. Tapi... aku rasa, tidur tanpa baju pun juga nyaman. Apalagi kalo sambil pelukan kayak semalem."


"Mesum!" Zahra mendorong tubuh suaminya yang mencoba menggodanya sepagi ini.


Pipi Zahra memerah saat ingatannya kembali memutar bagaimana malam pertama mereka semalam. Rayyan bahkan kembali merayunya dengan mulai berucap manis sambil mengecupi bibir dan lehernya sebelum akhirnya memulai kembali permainannya.


"Ini pipi kenapa? Kok jadi merah gini? Keinget yang semalem ya?" Rayyan kembali menggoda sambil mencolek pipi Zahra yang terlihat merona itu.


"E-enggak! Aku... aku cuma ngerasa... dingin aja." Zahra mengeratkan pegangannya pada selimut yang menutupi tubuhnya. Sebenarnya saat ia terbangun dengan tiba-tiba tadi, Zahra telah memasang mode siaga jika sewaktu-waktu Rayyan akan kembali menindihnya.


"Enggak usah diinget-inget, Zah. Kita bisa ulangin lagi kok sekarang atau kapan pun yang kamu mau, aku siap." jawab Rayyan dengan santainya, tanpa mempedulikan jika kini wajah Zahra benar-benar memerah bak kepiting rebus.


"Sayang, tutup mata deh!" Zahra sengaja menyela pembicaraan Rayyan yang belum selesai itu. Zahra tahu kemana arah pembicaraan itu akan bermuara, jadi sebelum dirinya masuk ke dalam perangkap Rayyan, alangkah baiknya ia membebaskan diri terlebih dulu.


"Ngapain sih aku harus tutup mata segala?" tanya Rayyan kebingungan.


"A-aku... mau pakai baju dulu. E-enggak mungkin kan aku bawa selimut ini masuk ke dalam kamar mandi?"


Jawaban Zahra tentu saja membuat Rayyan terbahak dan justru semakin merapatkan tubuhnya Zahra yang tak lagi bisa bergerak karena telah berada dibatas pinggiran ranjang.


"Ngapain masih malu sih, sayang? Semalem kan aku udah bilang kalo kamu harus terbiasa liat aku enggak pakai baju, jadi kamu pun juga harus terbiasa untuk enggak pakai baju di depanku. Kita ini udah sah, Zah. Enggak ada yang perlu kamu tutup-tutupin dari aku. Aku bahkan udah hafal setiap lekuk tubuh kamu."

__ADS_1


Tepat saat Rayyan menyelesaikan kalimatnya, Zahra sudah berpasrah jika memang ia harus melayani suaminya pagi ini. Terlebih saat tangan Rayyan mulai menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya sedari tadi, Zahra tahu jika suaminya sedang ingin membakar kalorinya pagi ini dengan jenis olahraga yang sedang menjadi favorit suaminya.


Saat bibir Rayyan kembali mengecupi dan menelusuri tubuhnya, Zahra bahkan tak lagi merasakan nyeri yang semalam menyerangnya dengan begitu hebatnya.


Kruuukkk...


Suara pengganggu yang berasal dari perut Zahra pun memaksa Rayyan untuk menghentikan aksinya. Rayyan mendongak, menatap istrinya yang nampak tersenyum canggung kepadanya.


"Aku... tidak makan seperti biasanya kemarin, dan semalam... sepertinya kamu udah nguras simpanan tenagaku. Maaf." kata Zahra dengan lirih.


"Untuk apa meminta maaf, Zah?" Rayyan yang tadinya sedang bermain di area dada Zahra pun segera menaikkan kepalanya dan mengecup bibir Zahra yang nampak bengkak karenanya itu.


"Berpakaianlah, aku akan memasak untuk sarapan kita pagi ini." sambungnya dengan kembali mengecup bibir Zahra.


"Kamu... bisa masak?" tanya Zahra dengan nada ketidakpercayaannya.


"Kamu lupa jika aku pernah jauh dari mama selama dua tahun? Aku bisa masak menu-menu yang simpel, dan aku yakin kamu akan menyukainya. Aku akan segera ke dapur karena istriku ini pasti sudah kelaparan." kembali mendaratkan bibirnya pada bibir Zahra, Rayyan menyudahinya dengan cepat sebelum hasratnya kembali menguasai dirinya dan akan membuat Zahra kelelahan.


Bergegas untuk segera berpakaian, Zahra bahkan tidak sabar ingin segera melihat suaminya beraksi dengan peralatan dapur dan mencicipi hasil masakannya.


***


*Udah dibilangin enggak akan ada adegan mantap-mantap lagi ya, makanya itu tadi enggak jadi dilakuin hahahahaha.... Yang penting abang udah SAH, berdoa aja kali-kali entah kapan daku jadi kepengen nulis adegan mantap-mantap, tapi tetep ya bukan adegan sevulgar yang kalian harapkan. Karena jujur, daku merasa risih banget loh 😂😂😂

__ADS_1


Jangan lupa votesnya dan ramaiin juga ceritaku yg lain ya. Yang terbaru ada Back to You, sementara yang udah selesai ada Cupcake's Love dan Lean On Me. Terima kasih* 😘😘


__ADS_2