MENIKAH

MENIKAH
S2 - Deal


__ADS_3

Happy reading 😊


***


"Ada masalah apa dengan Rayyan? Eowyn bilang... tadi kamu memanggilnya ke ruang kerja." tanya Salma saat memasuki kamar.


Adit yang sedang bersandar pada headboard kasur sembari memainkan ponselnya langsung menoleh ke arah Salma.


"Kamu penasaran?" Adit balik bertanya dan diangguki oleh Salma.


Kini Salma telah berada di ranjang, duduk bersebelahan dengan suaminya sambil menunggu cerita mengenai anak sulungnya. Adit meletakkan ponselnya di nakas, lalu berbalik menatap Salma dengan tersenyum.


"Memang benar jika Rayyan adalah copy pasteku sedari kecil." Adit merangkul bahu Salma yang duduk di sebelahnya dengan senyuman yang belum hilang.


"Kenapa masih menyangkal? Memangnya... ada kejadian apalagi?" Salma semakin penasaran.


"Rayyan mengajak Zahra untuk melihat apartemen kita. Dan...."


"Dan apa?" Wajah Salma berubah serius sekarang saat Adit dengan sengaja menggantung perkataannya.


"Dan... mereka bermesraan disana. Rayyan yang dominan." Adit menjelaskannya dengan tenang. Malah ada senyum tertahan yang muncul diwajahnya. Seolah mengingat kelakuannya dulu juga seperti apa yang dilakukan anaknya sekarang.


Berbanding terbalik dengan Adit, Salma justru membelalak setelah mendengar penjelasan darinya. Salma bahkan refleks mendorong tubuhnya menjauh dari dekapannya.


"Apa?" seru Salma dengan mata yang membulat sempurna. "M-maksud kamu, Rayyan dan Zahra sudah... melakukannya?"


Senyum yang tertahan itu akhirnya keluar menjadi tawa juga. Adit tertawa sambil mengusap punggung tangan istrinya lalu mengecupnya.


"Rayyan pun enggak akan seberani itu, sayang."


"Lalu? Kenapa tadi kamu bilang Rayyan yang dominan?"


"Oohh, itu. Maksudku, Rayyan yang mengambil alih situasi. Mereka menghabiskan sore di ruang tamu dengan berciuman."


"Oohhh yaa Allah... Rayyan!" Salma menggeram. "Diemnya dia ternyata lebih mengkhawatirkan dibanding Rafa. Kenapa sih harus persis banget kayak kamu pas muda dulu!" Salma menggerutu, bahkan diakhir kalimatnya ia melayangkan sebuah pukulan ke paha Adit.

__ADS_1


"Wajarlah, Sal. Dia anak kan anakku, anak pertama kita. Yaaaa... mungkin aja yang nembus sel telur kamu saat itu justru pasukan pembawa gen-ku yang paling dominan. Makanya Rayyan mirip aku jaman muda dulu." Adit menjelaskannya tanpa rasa bersalah atau marah sekalipun. Padahal tadi saat memanggil Rayyan, dia merasa begitu kesal. Tapi sekarang, ia justru merasa lucu. Seolah sedang mengingat masa mudanya dulu.


"Emang mas Adit sengaja ngikutin Rayyan?"


"Enggaklah, Sal. Ngapain juga aku repot-repot ngikutin Rayyan. Kamu tau sendiri kan tiap kartu itu nempel ke detector pasti diaku ada notifnya? Aku iseng liat cctv-nya, taunya Rayyan kesana sama Zahra. Makanya aku pantau."


"Jadi mas Adit cuma ngeliatin doang anaknya berbuat kayak gitu? Kenapa enggak ditelpon aja Rayyan biar berhenti."


"Ya biarin sih, Sal. Namanya juga anak muda."


"Itu sama aja mas Adit ngebiarin anaknya berbuat mesum!" Salma benar-benar kesal, entah berapa kali pukulan yang telah mendarat dipaha Adit.


"Ya kan cuma ciuman aja, kalo macem-macem baru aku stop, Sal."


Salma memijat pangkal hidungnya dan menggelengkan kepalanya. Entah kenapa dia tidak mengertindengan jalan pikiran suaminya kali ini.


"Bisa-bisanya mas Adit malah cuma ngeliatin anaknya lagi ciuman gitu."


"Aku liat bentar, Sal. Aku yakin anak-anak kita enggak akan ada yang berani ngelakuin hal begituan sebelum nikah."


"Tuh kan beneran mas Adit liat."


Malam itu, seperti layaknya anak muda yang tengah kasmaran, Adit dan Salma seakan enggan kalah oleh Rayyan. Seperti yang dibilang oleh Adit, malam itu bukan sekedar ciuman, namun juga melakukan olahraga yang selalu menjadi favoritnya.


***


Setelah mendapat ejekan dari Rafa tadi, Rayyan tidak langsung kembali ke kamarnya. Ia justru ikut masuk ke kamar Rafa dengan menyeret kerah kaos yang dikenakan oleh Rafa.


"Duuhhh... bang, kecekek nih Rafa!" ronta Rafa saat diseret masuk ke dalam kamarnya oleh Rayyan.


"Sorry deh, Bang. Rafa bercanda tadi, Rafa enggak ada maksud buat ngejek abang." kini demi keselamatan nyawanya, Rafa bahkan harus menarik segala ejekan yang tadi ia lontarkan pada Rayyan.


Rayyan menyentakkan tangannya, melepaskan kerah kaos Rafa yang sedari ditariknya. Rafa mengusap lehernya yang terlihat memerah.


"Sakit tau, Bang. Ntar Rafa aduin ke mama baru tau rasa lo." gerutu Rafa sambil mengusap lehernya.

__ADS_1


"Lo udah denger semua kan apa yang tadi papa omongin ke gue?"


"Ohhh, yang abang mesumin kak Zahra di apartemen papa ya?" Rafa kembali menyindir Rayyan. Dan sindirannya itu sukses memancing kembali amarah Rayyan.uang telah mereda. Tangan Rayyan bergerak dengan cepat menyentil bibir Rafa.


"Aduuuhhh!" pekik Rafa dengan kedua telapak tangannya yang menutupi bibirnya. "Abang kenapa sih? Rafa kan ngomong apa adanya."


"Gue butuh bantuan lo."


"Bantuan apaan, bang?"


"Enggak usah pura-pura enggak tahu deh, Fa! Lo pasti denger semuanya tadi."


Rafa menampilkan senyum lebar dari bibirnya, lalu berjalan menuju ranjangnya dan duduk dipinggirannya.


"Abang butuh bantuan Rafa buat nyiapin acara ngelamar kak Zahra?" kata Rafa dan direspon anggukkan kepala oleh Rayyan.


"Bisa diatur, Bang. Tapi Rafa butuh bantuan Sabian untuk dokumentasiin semuanya. Dia kan jago moto. Jadi yaaa... abang harus bayar Sabian juga. Gimana?"


"Lo aturlah semuanya, gue terima jadi."


"Abang mau konsepnya kayak gimana?"


Konsep? Rayyan langsung terdiam cukup lama setelah mendapat pertanyaan itu dari Rafa. Hal seperti ini bahkan tak pernah terpikirkan olehnya. Mungkin benar kata Eowyn jika dirinya terlalu kaku.


Ngomong-ngomong soal konsep, Rayyan teringat perkataan Zahra beberapa hari yang lalu. Zahra tidak menginginkan sebuah lamaran yang mewah atau pun romantis. Kekasihnya itu hanya menginginkan sebuah lamaran yang menunjukkan usaha Rayyan untuk menikahinya. Mungkin maksud Zahra, dia hanya ingin lamaran yang berkesan bagi dirinya sepanjang masa.


"Terserah, yang penting keluarga kita sama keluarga Zahra harus ada ditempat itu saat gue ngelamar Zahra. Kayak pesta kejutan ulang tahun gue kemarin, semua keluarga ngumpul tanpa dia sadari. Cari tempat yang nyaman karena ipar Zahra punya baby, soal detailnya, gue percaya sama elo. Lo tinggal ngomong aja biayanya, ntar gue transfer."


"Gitu doang?" tanya Rafa sedikit kebingungan. Bahkan untuk acara lamarannya sendiri saja abangnya tidak bisa memikirkan bagaimana detailnya.


Rayyan mengangguk, mengiyakan segala maksud yang tidak diutarakan oleh Rafa.


"Kalo lamaran gue nanti diterima, motor lo gue balikin. Gue juga yang bayarin uang taruhan Eowyn ke elo, gue tambahin bonus."


Rafa langsung mengembangkan senyum lebarnya. Dalm hati, dia menggerutu kenapa abangnya ini hanya bisa jatuh cinta dan memikirkan soal pernikahan sekali saja. Coba bisa dilakukan berulang-ulang, mungkin ia tak harus repot-repot bekerja. Cukup mengandalkan abangnya saja.

__ADS_1


"Sip, deal ya? Besok Rafa mulai siapin deh, Rafa ajakin Alita sama Sabian."


Rayyan kembali mengangguk, lalu menepuk bahu Rafa sambil mengucapkan terima kasih dan keluar kamar Rafa.


__ADS_2