MENIKAH

MENIKAH
S2 - Belajar


__ADS_3

Happy reading 😊


***


Sekembalinya Rayyan dari kamar Rafa, Rayyan justru merasakan kekecewaan. Zahra sudah sudah tak ada lagi disana, meninggalkan tasnya, ponsel dan laptopnya yang masih menyala, menampilkan berbagai pilihan hotel yang sepertinya belum lama dilihat oleh Zahra.


Rayyan memutuskan untuk menelpon Zahra, namun kemudian suara pintu kamar mandi yang terbuka mengalihkan pandangan Rayyan.


"Maaf, Pak. Saya pakai kamar mandi Bapak karena saya kebelet pipis."


"Ehh... iya Zah, gapapa. Kamu... kenapa?" tanya Rayyan saat melihat Zahra yang tak kunjung beranjak dari ambang pintu kamar mandi.


"Pak... boleh enggak saya masuk ke kamar Eowyn? Ini... saya malah dapet. Saya lupa bawa pembalut, mau minta pembalut Eowyn dulu."


"Biar aku yang cariin, kamu tunggu disini aja." Rayyan meninggalkan Zahra begitu saja dan menuju kamar Eowyn.


Beberapa saat kemudian, Rayyan kembali masuk ke dalam kamarnya dan Zahra masih berdiri diambang pintu.


"Zah... aku udah cari tapi enggak ada pembalut di kamar Eowyn. Terus gimana?"


"Yaahh... yaudah kalo gitu saya minta tolong bi Yati aja deh, Pak."


"Biar aku yang beli." Rayyan langsung menawarkan dirinya untuk membelinya, membuat Zahra menjadi merona.


"K-kamu biasa pakai yang apa? Kirimin gambarnya ke aku, aku akan ke mini market depan. Ada lagi yang kamu butuhin?"


"Paling... cuma celana dalam sih pak, buat ganti." Zahra benar-benar malu saat mengucapkannya. Namun bagaimana lagi, dia membutuhkan dua benda itu sekarang.


"Celana dalam ya?" Rayyan menelan ludahnya dengan susah payah. "Nanti aku minta bi Yati deh untuk ambilin punya Eowyn. Kayaknya ukuran badan kalian enggak beda jauh. Karena... enggak mungkin kan aku beli-beli... celana dalam wanita." Rayyan menggaruk tengkuk lehernya.


Zahra pun tersenyum canggung, tidak menyangka jika hari ini ia akan dihadapkan dengan situasi yang begitu membuatnya canggung berulang kali.


"Kirimin aja fotonya, aku... pergi sekarang." ucap Rayyan sambil berjalan mengambil dompetnya dilaci meja lalu berjalan keluar kamar. Sementara Zahra sibuk dengan ponselnya mencari gambar pembalut yang biasa ia pakai untuk dikirimkan pada Rayyan.


***


Rayyan menenteng kantong belanja berukuran besar sambil menaiki tangga menuju kamarnya. Rayyan tidak hanya membeli pembalut. Memikirkan Zahra yang sedang mendapat tamu bulanannya, Rayyan kembali teringat pada Eowyn yang selalu memakan banyak cemilan saat sedang datang bulan. Adiknya itu selalu beralasan jika saat menjelang bahkan saat haid, dirinya menginginkan makan makanan yang pedas, asin dan sesuatu yang berkuah.


"Widiiihhh... ngeborong cemilan. Abang mau piknik di kamar sama kak Zahra?" goda Rayyan diujung anak tangga sambil tersenyum.

__ADS_1


"Nih pembalut!" Rayyan sengaja memukulkan kantong belanjaannya pada tubuh Rayyan.


"Laahhh... kalo bocor jadi gagal mantap-mantap dong, Bang? Jadi enggak perlu dikunci pintunya ya, Bang hehehehe...." Rafa kian gencar menggoda abangnya.


Rayyan menghentikan langkahnya, lalu memutar tubuhnya menatap Rafa dengan tatapan tajam.


"Bercanda, Bang. Abang mah bawaannya serius mulu. Harus kalem bang, banyakin bercanda biar kak Zahra enggak takut berada di deket abang."


Rayyan menghela nafasnya. Omongan Rafa ini mungkin memang ada benarnya. Jika ia masih bersikap dingin seperti ini, Zahra mungkin akan merasa takut untuk mendekat padanya.


"Bang, bagi duit dong buat beli boba." Rafa mengulurkan telapak tangannya pada Rafa.


"Beli sendiri, lo kan juga punya duit."


"Yaelah bang, pelit amat cuma dimintain buat beli boba. Kalo enggak kasih nanti aku bilangin mama loh kalo abang tadi mau nyium kak Zahra."


Rayyan mendengkus kesal. Nampaknya ia telah salah karena berurusan dengan Rafa. Akhirnya Rayyan merogoh dompet disaku celana pendeknya dan mengeluarkan selembar uang berwarna biru.


"Ini mah cuma dapet segelas, Bang. Kalo Rafa mau beliin buat Alita, nombok dong."


"Cuma nambah belasan ribu juga, miskin amat sih lo!" gerutu Rayyan sambil kembali mengambil selembar uang berwarna biru.


"Nih!" sodor Rayyan dengan nada kesal.


Suami siaga?


Entah kenapa Rayyan langsung tersenyum sambil memegang dada kirinya hanya karena titel suami siaga yang ia harapkan akan tersemat untuknya dikemudian hari.


"Fa...." panggil Rayyan dari lantai atas.


"Jangan pergi lama-lama, jam 3 lo anter Zahra balik. Ntar gue kasih duit bensin."


Rafa tersenyum lebar. Nampaknya berurusan dengan abangnya akan membuat keuangannya menjadi semakin membaik.


"Siiiaaap, Bang. Ini aku cuma mau beli boba terus dianter ke rumahnya Alita hehehehe...."


Rayyan mengangguk sambil mengacungkan jempolnya pada Rafa, lalu.kembali berjalan menuju kamarnya dan menatap Zahra yang masih enggan untuk duduk disofa. Zahra memilih berjalan mondar-mandir di depan pintu kamar mandi.


"Lama ya, Zah? Tadi antri kasirnya banyak banget." ucap Rayyan sambil menyerahkan pembalut pesanan Zahra.

__ADS_1


Zahra mengangguk. "Makasih, Pak. Bapak beli cemilan banyak banget."


"Iya, buat temen ngecek laporan." Rayyan beralasan.


"Celananya... udah?" tanya Rayyan ragu-ragu.


"I-iya udah Pak, tadi udah diambilin sama bi Yati."


Rayyan mengangguk, lalu Zahra berlari kecil menuju kamar mandinya.


"Zah...." panggil Rayyan saat Zahra baru saja melangkahkan satu kakinya di lantai kamar mandi.


"Kenapa, Pak?"


"Kayaknya... kamu juga harus pinjem rok atau celananya Eowyn deh. Soalnya... darahnya nembus tuh."


Zahra refleks mengecek bagian belakang rok spannya berwarna abu-abu. Dan benar saja, ada noda darahnya disana. Wajahnya benar-benar memerah, entah harus berapa kali ia harus mengalami hal memalukan seharian ini.


"Kamu masuk aja dulu, aku akan cariin rok gantinya di kamar Eowyn."


Setelah berjalan beberapa langkah, Rayyan kembali memutar tubuhnya untuk kembali berbicara pada Zahra.


"Kalo kamu butuh handuk, pake aja handuk aku dulu. Itu barusan ganti pagi tadi. Tapi kalo mau yang lain, aku mintain ke bi Yati dulu."


Zahra mengangguk, ia terlalu malu untuk mengangkat wajahnya dan menatap Rayyan.


"Makasih banyak Pa, maaf saya banyak ngerepotin hari ini."


"Never mind, Zah. Aku juga lagi belajar kan?"


"Belajar?" Zahra menggumamkan kata yang diucapkan Rayyan.


"Iya, belajar untuk jadi suamimu yang siaga. Jadi saat kamu butuh, aku akan selalu ada."


Jawaban itu membuat Zahra kian merona, detak jantungnya benar-benar porak poranda karena Rayyan. Karena saking malunya, Zahra menutup pintu kamar mandi dengan tergesa-gesa. Sedangkan Rayyan masih berdiri disana sambil terkekeh melihat ekspresi wajah merona Zahra barusan.


Ahh... keahlian Rafa memang harus diakui!


***

__ADS_1


Ini yang nulis jadi ikutan mesem-mesem karena si abang, yang baca begimane? Baper enggak? 😆😆😆


Votes-nya jangan lupa, rankingnya merosot jauh lagi nih dari 100 😢


__ADS_2