MENIKAH

MENIKAH
S2 - Bali (7)


__ADS_3

Happy reading 😊


***


Malam terakhir di Bali tidak bisa dilewatkan begitu saja oleh Rayyan. Ia benar-benar memindahkan semua barangnya menuju kamar Zahra setelah mengakhiri panggilan telpon dari Rafa. Laki-laki itu telah bertekad untuk menghabiskan waktu bersama sang kekasih karena ketika telah kembali ke Jakarta nanti dirinya pasti akan kesulitan untuk mendapatkan kesempatan berduaan seperti ini.


Selain itu, Rayyan juga menghindari Nadine. Beberapa kali panggilan telponnya ditolak, ia hanya membalas pesan yang dikirimkan oleh Nadine itu seperlunya. Rayyan benar-benar kesal atas sikap Nadine kepada Zahra dan juga perkataannya tentang Zahra.


"Sayang... pindah gih. Kak Nadine kan udah ngegepin kamu keluar dari sini, ntar kalo tau kamu ternyata tidur disini bisa heboh. Apalagi kalo sampai ke om Adit dan tante Salma." Zahra merengek, merayu Rayyan yang kini tengah menonton TV dan membawanya dalam pelukan.


Sejak siang tadi, keduanya telah berganti baju santai dan menikmati waktu berduanya hanya dengan menonton TV di kamar Zahra.


"Kenapa sih, sayang? Aku kan udah bilang enggak usah peduliin omongan dia. Misal papa mama tau, yaudah. Aku malah dengan senang hati kalo disuruh nikahin kamu dengan segera."


"Bukan cuma itu doang yang aku khawatirkan. Gimana kalo nanti berita ini sampai nyebar ke rekan bisnis yang lain?"


"Yaaa... enggak gimana-gimana. Misal mereka tau juga enggak akan berani ngomong langsung di depanku kan?"


"Terus aku gimana? Mereka emang enggak akan berani ngomong di depan kkamu tapi kan pasti mereka bakal berani ngomong ke aku."


"Kenapa kamu takut sih, Yang? Cukup bilang aja sama aku siapa aja yang berani ngomongin kamu, aku bisa pecat mereka saat itu juga. Udahlah, perkara kayak gini enggak usah dibuat pusing. Hal-hal yang menyangkut soal perasaan dan hati mana bisa diatur sama mereka."


Zahra menghela nafas, merasa percuma berdebat dengan Rayyan karena pasti ia tidak akan mendapatkan hasil apa-apa. Ia akan selalu kalah karena sifat Rayyan yang keras kepala.


"Tapi kak Nadine bakal nyebarin gosip kalo aku udah godain kamu untuk tidur sama aku."


"Iyain aja biar dia seneng." Rayyan masih menjawab dengan enteng.


"Bisa enggak sih serius dikit!" sebuah cubitan kecil mendarat di perut Rayyan, yang langsung membuat Rayyan mengaduh sambil mengusap perutnya.


"Aku serius, Yang. Emang nyatanya kita tidur bareng kan?"

__ADS_1


"Tidur dalam artian lain maksudnya."


"Yaaa... kita bisa lakukan pemeriksaan. Dokter pasti tau kan bedanya gadis perawan atau enggak?" Rayyan menahan seringaiannya diakhir kalimatnya, sengaja menggoda Zahra yang sepertinya sedang tidak dalam mood yang bagus itu.


"Udah deh ya, selama di Bali ini kamu sering banget mengkhawatirkan sesuatu yang belum kejadian, Zah. Percaya sama aku, aku akan handle semua masalah yang menerpa hubungan kita."


Sebuah kecupan di puncak kepala Zahra berlangsung cukup lama. Sebelum akhirnya Rayyan bangkit dari rebahannya, mengungkung Zahra dibawahnya dan mulai melancarkan ciumannya untuk menikati penghujung sore itu.


***


"Pak Wishnu bilang Rayyan pulang setelah terlibat pertengkaran kecil dengan Nadine. Tapi semuanya bisa dia selesaikan dengan baik melalui sambungan telpon." ucap Adit sambil melepaskan dasi yang masih terpasang rapi di kemejanya.


"Rayyan... berantem sama Nadine?" Salma mengulang perkataan suaminya. Ia masih belum mempercayai jika anak sulungnya terlibat pertengkaran dengan Nadine yang dulu pernah dicintainya.


Adit mengangguk, membenarkan pertanyaan istrinya. "Enggak ada yang tahu pasti penyebabnya apa, tapi pak Wishnu bilang ada hubungannya sama Zahra."


"Pasti itu terjadi karena Nadine enggak tahu hubungan antara Rayyan sama Zahra, makanya Nadine seenaknya sendiri sama Zahra." Salma mengulurkan pakaian ganti untuk Adit dan membawa pakaian kotor yang diterimanya untuk dimasukkan ke dalam keranjang baju kotor.


"Aku yakin masalahnya seperti itu. Rayyan jelas-jelas cinta sama Zahra, mana mungkin dia terima dengan perlakuan Nadine yang seenaknya pada Zahra." imbuh Salma.


Salma menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Dia pandai menjaga rahasia sekarang. Demi motornya kembali ke tangannya dengan segera mungkin. Dua anak itu seneng banget sih malakin abangnya."


"Salah Rayyan sendiri selalu ada dalam posisi terhimpit yang bisa dimanfaatkan mereka."


"Rayyan memang pandai untuk urusan pelajaran dan juga pekerjaan, tapi untuk urusan percintaan? Aku enggak yakin dia sejago Rafa. Rayyan itu kaku, sama kayak kamu pas pertama kali kita ketemu. Bahkan aku baru tau sifat aslimu kayak apa itu setelah menikah, karena saking jaimnya kamu."


"Udah deh, Sal. Enggak usah bahas yang dulu-dulu lagi." Adit memang selalu merasa kesal saat Salma mengingatkannya pada momen kebersamaan mereka dulu. Hal itu benar-benar merasa malu karena dulu yang bersikap dingin dan kaku kepada Salma, namun sekarang justru ia yang selalu mendamba Salma.


***


"Mau masuk dulu?" tanya Eowyn saat mobil Zach baru saja memasuki pekarangan rumahnya.

__ADS_1


Zach menggelengkan kepalanya dan tersenyum ke arah Eowyn. "Aku udah terlalu sering mampir, sayang. Enggak enak sama papa kamu. Bagaimana pun juga, aku kan karyawannya."


"Tapi papa kan udah bilang kalo jangan bawa-bawa jabatan ketika udah ada di rumah."


Zach kembali tersenyum menatap Eowyn yang merajuk itu. Zach mengangkat y


tangannya untuk mengusap rambut Eowyn dengan lembut.


"Lain kali ya, sayang. Terlebih, aku juga punya banyak deadline, kamu tau kan?" Zach memberikan alasannya yang kemudian diangguki oleh Eowyn.


"Masuk sana, sebentar lagi jam makan malam tiba."


Eowyn dengan berat hati melepas Zach yang akan pulang ke rumah. Lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Zach dan memeluknya dengan erat.


"Besok aku akan bawain bekal spesial, oke?" ucap Eowyn yang masih dalam pelukan Zach.


"Itu ide yang bagus. Tampaknya aku tidak peduli dengan kenaikan berat badanku selama berpacaran sama kamu."


Belum juga Zach mendaratkan bibirnya untuk memberikan sebuah ciuman diwajah Eowyn, Rafa telah lebih dulu mengetuk jendela mobil disisi penumpang. Zach dan Eowyn segera melepaskan pelukannya, lalu tangan Eowyn menekan tombol untuk membuka kaca jendela pada sisinya.


"Kenapa?" tanya Eowyn dengan ketus.


"Enggak apa-apa, gue mau gangguin aja barang kali kalian butuh masukan hehehehe...." jawab Rafa dengan tanpa rasa bersalah.


"Sialan lo!" Eowyn menggeram, yang kemudian tengkuknya ditarik oleh Zach untuk mengecup sekilas bibir merah muda itu.


Tampaknya duo adik dari abang Rayyan ini memang memiliki hobi mengganggu orang pacaran. Dan saat mereka yang biasa mengganggu kini diganggu oleh saudaranya, makan rasa kesal yang dirasakan oleh Rayyan akhirnya dapat mereka rasakan.


***


Halo semuaaaaaa... maaf banget dua hari kemarin enggak up ya, karena krucil di rumah dari meriang dan maunya nemplok emaknya mulu.

__ADS_1


Terima kasih banyak untuk readers semua yang mau dengan setia nungguin kelanjutan ceritanya, maaf kalo up-nya telat dan enggak sesuai dengan harapan 😅😅😅 Nanti diusahakan untuk up yang banyak deh ya hehehehehe....


Votesnya jangan lupa, rankingnya udah merosot drastis banget ini 😢


__ADS_2