
Happy reading 😊
......................
Seperti rencana mereka, akhir pekan ini Eowyn akan ikut berlibur dengan keluarga Zach. Tentu saja Eowyn merasa gugup, karena ini adalah kali pertama Eowyn akan menghabiskan waktu yang cukup lama dengan keluarga Zach.
Awalnya, Eowyn memang canggung. Meskipun ia seeing datang berkunjung ke rumah Zach, ternyata itu bukan jaminan untuknya mengakrabkan diri dengan mudah. Tapi lama-lama, ia dapat dengan mudah membaur dengan keluarga Zach.
"Malam nanti bunda pengen tidur sama kamu. Kamu keberatan?" ucap Zach saat kini keduanya duduk dibibir pantai.
Eowyn terkejut dengan perkataan Zach. Eowyn bukannya keberatan atas kemauan bunda Zach, ia hanya merasa takut. Takut kalo bundanya akan melontarkan banyak pertanyaan yang bisa membuatnya kehilangan skor untuk menjadi mantu idaman.
"Bunda pengen kenal kamu lebih dekat. Cuma ngobrol ringan sebelum tidur, bunda enggak bakal ngapa-ngapain kamu." Zach terkekeh melihat wajah Eowyn yang nampak ketakutan itu.
"Aku enggak takut diapa-apain bunda. Aku... cuma takut nanti bunda jadi enggak suka sama aku kalo selama ngobrol, aku kurang menyenangkan untuk bunda."
Zach menarik tubuh Eowyn lalu memeluk dan mengecup puncak kepalanya. "Jangan berpikiran yang macam-macam. Bahkan selama kita pacaran kamu lebih disayang sama bunda dibanding aku yang merupakan anak kandungnya."
Eowyn tersenyum. Ia mengeratkan pelukannya pada Zach sembari menenangkan diri.
"Terus ayah tidur sendiri dong kalo bunda lebih milih tidur sama aku?"
Zach menganggukkan kepalanya. "Iya, itu kesepakatan ayah sama bunda. Katanya lebih baik ayah tidur sendiri dan bunda tidur sama kamu daripada ngebiarin kamu tidur sendirian."
"Kenapa?" Eowyn mendongakkan kepalanya. "Biasanya aku juga tidur sendiri."
"Karena ayah sama bunda takut tengah malam nanti aku akan pindah tidur sama kamu." bisik Zach dengan nada menggoda.
__ADS_1
"Emang kamu seberani itu?"
"Beranilah." jawaban Zach barusan langsung membuat Eowyn melepaskan pelukannya. "Rayyan aja berani, aku pasti juga beranilah. Cuma... aku masih sayang nyawa aku aja. Takut nanti langsung digantung sama pak Adit."
Eowyn menghela nafasnya lega. "Syukur deh kalo kamu masih punya rasa takut."
"Tapi... kalo minta cium, boleh kan?"
Eowyn nampak berpikir, sebelum akhirnya menoleh kekanan dan kekiri untuk memastikan jika mereka ada dalam kondisi aman.
......................
Hari ini, Zahra memilih untuk berada seharian di rumah. Ia menyibukkan dirinya dengan membersihkan rumah karena Rayyan belum memberikan izin asisten rumah tangga untuk datang ke rumah. Zahra pun tidak keberatan. Hitung-hitung itu termasuk olahraga karena juga membakar kalorinya.
Selesai mandi, Zahra mengernyitkan dahinya saat terdengar suara pintu pagar rumah yang terbuka. Zahra melongok ke jendela dan mendapati suaminya telah pulang ke rumah. Sambil berjalan keluar kamar, Zahra melilitkan handuk ke rambutnya yang masih basah. Buru-buru ia berlari membukakan pintu rumah untuk suaminya.
Senyumnya terukir lebar saat mendapati Rayyan keluar mobil dan tersenyum ke arahnya. Matanya juga tertuju pada plastik yang ditenteng oleh suaminya.
Zahra menerima uluran plastik makanan yang diberikan Rayyan. "Untung aku udah masak untuk makan malam, kamu mau makan sekarang?"
"Iya, tadi siang aku cuma makan dikit karena banyak kerjaan."
Keduanya berjalan menuju ruang makan, dan Zahra dengan telaten menyiapkan makanan untuk suaminya. Sembari menunggu makanannya disiapkan oleh Zahra, Rayyan menelpon seseorang untuk menanyakan soal pekerjaan yang tengah ditangani. Hingga makanan itu tersaji, Rayyan belum juga usai dengan percakapannya ditelpon.
Hingga saat Zahra akan meninggalkan ruang makan, Rayyan buru-buru mengakhiri panggilannya dan buru-buru menghalangi Zahra agar tidak ngambek dan membiarkannya makan sendirian.
"Kamu ngambek ya karena aku kelamaan telpon? Maaf sayang, tadi cuma ngomongin kerjain. Jangan ngambek ya, kita makan bareng-bareng."
__ADS_1
Zahra sedikit kebingungan dengan apa yang Rayyan lakukan barusan. "Iya, kita makan bareng kok. Tapi, aku mau pipis dulu hehehehe...."
Rayyan tertawa. Menertawakan dirinya sendiri yang terkesan berlebihan. "Oke, aku tunggu."
Mereka pun menghabiskan makan malam bersama, sesekali membicarakan rencana akhir pekan ini dan menceritakan kegiatan mereka seharian ini.
"Udah makan nasi makan donat juga?" Rayyan mengomentari Zahra yang nampak asik melahap donat yang ia belikan tadi.
"Tadi aku makan dikit doang." Zahra beralasan.
Rayyan berdehem, lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi sambil menatap Zahra.
"Kamu tau, kenapa donat itu tengahnya bolong dan enggak utuh?" tanya Rayyan.
Zahra nampak berpikir, lalu menatap donat lainnya yang masih ada di dalam kotak.
"Enggak tau." Zahra menggelengkan kepalanya. "Emang modelnya begini kali, sayang."
"Salah. Kamu pikir dulu sih, jangan langsung nyerah gitu aja."
"Aku emang enggak pandai main tebak-tebakan, sayang. Ayolah, kasih tau jawabannya."
Rayyan melipat kedua tangannya dimeja dengan wajah yang sedikit condong ke arah Zahra.
"Karena yang utuh cuma cintaku padamu."
Mendengar jawaban suaminya, hampir saja Zahra tersedak donat yang tengah ia makan. Dari sini dirinya semakin yakin jika sebenarnya suaminya itu tidak jauh beda dengan Rafa, sama-sama bermulut manis. Hanya saja suaminya ini lebih kalem.
__ADS_1
"Enggak ya! Bomboloni itu tengahnya enggak bolong, dia utuh, dan juga masuk ke dalam keluarga besar donat!" sanggah Zahra.
Rayyan langsung menundukkan kepalanya. Istrinya ini benar-benar sulit sekali dirayu. Padahal mungkin gadis lain akan tersipu malu saat ia melontarkan candaan manis seperti tadi.