MENIKAH

MENIKAH
S2 - Makan Siang


__ADS_3

Tok... tok...


Suara ketukan pintu pada ruangan Rayyan mengalihkan konsentrasi Rayyan yang sedang fokus pada berkas-berkas di depannya. Setelah memerintahkan sang pengetuk pintu untuk masuk, Rayyan terlihat malas begitu mengetahui bahwa Eowyn-lah yang datang.


"Yaelah Bang, gitu amat ekspresinya. Harusnya seneng dong adiknya yang cantik dateng ke kantor abang." goda Eowyn sambil berjalan menuju sofa.


"Ngapain kamu?" tanya Rayyan sedikit ketus tanpa menatap Eowyn yang sibuk mengeluarkan isi tas tentengnya di meja.


"Mau ngajakin makan siang bareng. Zahra mana, Bang?"


"Lagi ikut pak Hendra, trial ketemu klien." Rayyan mendongakkan wajahnya, menatap Eowyn yang masih sibuk dengan barang bawaannya.


"Kamu kalo enggak ada urusan disini, mending kamu pulang aja deh. Abang lagi banyak kerjaan. Besok-besok juga jangan kesini kalo enggak ada urusan penting."


"Abang galak amat sih. Aku kesini disuruh Mama nih bawain makan siang buat kita bertiga. Yang buat Bu Meta sama Pak Hendra juga ada nih!" jawab Eowyn sambil menunjuk kotak-kotak makanan yang telah tersusun di meja.


"Tapi seenggaknya kamu kasih tau abang kalo kamu mau kesini, enggak.main asal dateng aja."


"Iiihhh... abang kalo mau komplain, sama Mama tuh! Kqn aku dateng kesini juga Mama yang nyuruh. Kalo enggak disuruh mah ngapain aku kesini, mending di rumah aja bisa ngirit uang bensin." jawab Eowyn dengan nada kesal sambil mencebikkan bibirnya.


Rayyan tersenyum melihat ekspresi adiknya itu. Meskipun Eowyn bukan anak terakhir, namun sifat manjanya bisa dibilang melebihi Rafa yang sebagai anak terakhir. Mungkin karena dia satu-satunya anak perempuan dan menjadi kesayangan Papanya, makanya sifat manjanya luar biasa.


"Nanti abang ganti uang bensinnya." ucap Rayyan lalu melanjutkan pekerjaannya.


Tak berapa lama, pak Hendra dan Zahra masuk ke dalam ruangan. Senyum ceria langsung mengembang dibibir Zahra begitu melihat keberadaan Eowyn disana.


"Tetap duduk disitu, Eowyn!" ucap Rayyan saat Eowyn akan beranjak dari duduknya untuk memeluk Zahra yang baru saja masuk. Zahra segera menarik tangannya yang telah terlentang, sambil memperhatikan raut wajah Rayyan yang nampak serius itu.


"Biar Zahra laporin dulu hasil ketemu klien tadi. Ini masih dalam jam kerja, tunggu beberapa menit lagi dan tetap diam duduk disitu." sambung Rayyan dengan nada memerintah.


Zahra dan pak Hendra segera menghadap Rayyan. Dengan berbekal catatan diblock notenya, Zahra menyampaikan hasil pertemuan dengan klien barusan. Eowyn terpaku melihat Zahra yang terlihat sudah seperti PA profesional.


Untuk mengalihkan rasa bosannya mendengarkan tiga orang yang sedang rapat di dekatnya, Eowyn memutuskan untuk keluar sebentar ke meja bu Meta dan menyerahkan makan siang untuknya. Setelah ngobrol beberapa saat, Eowyn kembali masuk ke ruangan Rayyan dan melihat tiga orang tersebut masih terlibat pembicaraan serius.


Begitu selesai, pak Hendra bersiap untuk menuju ruangan yang ia pakai selama membantu Rayyan. Namun segera dihadang oleh Eowyn dengan sebuah kotak makanan ditangannya.

__ADS_1


"Pak Hendra, ini makan siang untuk bapak." ucap Eowyn sambil menyerahkannya.


"Wahh... terima kasih banyak, nona Eowyn."


"Apa bapak mau ikut makan siang bersama kami disini?" tanya Eowyn.


"Hmm... sebaiknya saya berada di ruangan saya saja. Masih ada hal yang harus saya selesaikan, silahkan dinikmati makan siang bersamanya. Dan... tolong sampaikan terima kasih kepada Nyonya untuk makan siangnya."


Setelah kepergian pak Hendra, Eowyn menarik tangan Zahra untuk duduk disebelahnya dan membukakan kotak makan untuknya.


"Abang... udahan sih kerjanya! Sini makan dulu, keburu dingin makanan dari Mama." omel Eowyn sambil membuka kotak makan lainnya.


Selain menyiapkan makan siang, Salma juga membawakan buah potong, pudding dan kue brownies buatannya yang selalu jadi favorit Rayyan.


Rayyan segera menutup map berkasnya, lalu berjalan menuju sofa tempat Eowyn dan Zahra yang telah mulai makan. Eowyn lalu menyodorkan kotak bekal yang telh disiapkan khusus dari sang Mama untuk abangnya.


"Ini spesial buat abang dari Mama. Tumis sawinya diganti Mama sama buncis." ucap Eowyn.


Rayyan hanya mengangguk, lalu segera mengambil kotak makannya dan melahapnya.


Rayyan hanya menjawabnya dengan anggukan. Sedangkan Zahra segera meraih block note-nya dan menuliskannya disana.


"Ngapain?" tanya Eowyn penasaran.


"Cuma nulis kalo pak Rayyan enggak suka sawi. Jadi nanti kalo sewaktu-waktu dibutuhkan, aku bisa ingat."


Eowyn hanya ber-oh ria.


"Dulunya abang suka tau. Dari kecil tuh abang contoh teladan, semua sayur sama buah mau makan. Cuma gara-gara makan bakso sama temen-temennya terus nemu ulat digulungan daun sawinya, habis itu anti sama sawi." jelas Eowyn.


"Tapi... kalo ada ulatnya gitu kan berarti sayurnya bebas pestisida, Pak." ucap Zahra seraya menatap Rayyan yang masih asik menikmati makan siangnya.


"Bukan masalah bebas pestisidanya, itu berarti si penjual baksonya enggak bersih. Buktinya ada ulat didaun sawinya aja dia enggak tau."


"Ya salah abang, harusnya bisa milih tempat makan yang bersih itu dimana." Eowyn menimpali.

__ADS_1


"Lagi pula, kalo Tante Salma yang masak yang pasti bersih Pak. Apapun yang diolah sendiri pasti lebih mengutamakan kebersihan bahan dan peralatannya." imbuh Zahra.


"Naahhh... itu Zah yang dulu bikin Mama pusing. Sampai Mama kasih liat daun sawinya udah dicuci bersih, enggak ada ulatnya, abang tetep enggak mau makan."


"Kalian enggak ngalamin sendiri, makanya bisa ngomong seenaknya sendiri."


"Yaelah Bang, itu mah emang dasarnya abang yang jijik. Cuma ulat aja dipermasalahin seumur hidup."


Rayyan melotot ke arah Eowyn. "Kalo udah selesai makan, cepetan pulang Wyn. Abang masih banyak kerjaan."


"Yeeeee... abang jangan marah dong! Masa aku diusir gitu sih? Aku kan juga belum sempet ngobrol sama Zahra."


"Zahra banyak kerjaan yang harus dikerjakan, enggak kayak kamu yang masih pengangguran."


Eowyn memanyunkan bibirnya. "Seenggaknya kasih waktulah Bang sampai bekal dari Mama habis. Tuh masih ada buah sama pudding. Aku kan juga harus bawa balik kotak-kotak makannya. Kalo enggak bisa berabe diomelin sama Mama kalo kotak makannya enggak komplit. Ya?"


"Terserah. Tapi jangan disini, karena kamu pasti akan gangguin abang sama Zahra kerja."


"Terus... aku kudu dimana dong?"


Rayyan hanya mengendikkan bahunya sambil terus menyuap makanan ke dalam mulutnya.


"Tuh Zah, liat sendiri kan abang gue galaknya kayak gimana? Lo tahan-tahan aja ya kalo...."


"Kalo Zahra enggak melakukan kesalahan juga enggak bakal abang omelin, Wyn. Jaga bicaramu kalo kamu masih mau uang dari abang."


"Hehehehe... iya Bang, maaf."


Tanpa mempedulikan sang adik dan Zahra, setelah selesai makan Rayyan segera kembali ke meja kerjanya dengan menenteng kotak berisi kue brownies buatan Mamanya.


"Bang, itu kue buat bareng-bareng. Emang abang bisa ngabisin sendiri?"


"Nanti aku mau lembur, kue ini pasti akan habis. Kamu tenang aja, kamu sama Zahra bisa habisin pudding sama buahnya."


Eowyn mendengus kesal, lalu meraih block note milik Zahra dan menyerahkannya pada Zahra. "Tulis, Zah! Abang itu paling demen sama kue brownies, terutama yang toppingnya pake kacang almond. Tapi lebih demen lagi kalo kuenya yang buat Mama. Kalo udah gitu, liat sendiri kan pelitnya tingkat kabupaten!"

__ADS_1


__ADS_2