
Happy reading 😊
***
Pagi tadi, kedua orangtua Adit dan Salma telah kembali ke rumah sakit. Karena hari ini hari Sabtu, beberapa teman Salma juga turut serta datang. Widya, Taufik, Nisa dan Arga datang untuk menyemangati Salma dan menyambut kehadiran bayi yang juga telah mereka nantikan.
Teman-teman Salma bahkan membawa beberapa barang untuk menghias kamar inap Salma. Mereka cukup kesulitan untuk memilih hiasannya, karena Adit dan Salma memilih untuk tidak mengetahui jenis kelamin anak. Hanya hiasan balon foil bertuliskan 'Welcome to the world, baby' dan hiasan beberapa pita berwarna pastel yang terpasang di ruang inap Salma. Namun itu cukup membuat semuanya menjadi semakin tidak sabar menanti kehadiran sang bayi dalam hitungan menit.
Adit mencium kening dan punggung tangan Salma sesaat sebelum Salma dibawa ke ruang operasi. Salma juga meminta maaf kepada orangtua dan mertuanya atas kesalahan yang telah ia perbuat. Tak lupa ia meminta doa untuk proses c-section yang akan ia jalani kepada suami, orangtua dan teman-temannya.
🎎
Diluar ruang operasi, semuanya terlihat tegang. Meskipun mereka mencoba untuk terlihat santai, tapi tetap saja hal itu tidak bisa disembunyikan dengan mudahnya. Terutama Adit, yang tidak bisa ikut masuk ke dalam ruang operasi karena tidak mendapat ijin dari dokter Vania.
Hingga akhirnya pintu ruang operasi terbuka, menampilkan dokter Vania. Semuanya berdiri dengan serentak, berjalan mendekat ke arah dokter.
Dengan senyum yang lebar, dokter Vania menghampiri Adit dan mengucapkan selamat.
"Operasinya berjalan lancar, tapi bu Salma masih belum sadar. Tadi terpaksa kita berikan obat penenang karena tekanan darahnya sempat naik. Mungkin bu Salma begitu tegang. Bayinya laki-laki, sekarang sedang diperiksa oleh dokter anaknya. Sebentar lagi akan dibawa keluar oleh perawat"
"Alhamdulillah..." seru semua orang yang ada disana.
"Terimakasih banyak, dok" ucap Adit.
"Sama-sama, saya permisi dulu" dokter Vania melangkah pergi.
Tangis Adit langsung pecah ketika papanya menghampiri dan memeluknya.
"Tanggung jawabnya udah bertambah satu lagi, Dit. Harus lebih bertanggung jawab dan dewasa lagi. Selamat, kamu jadi seorang ayah sekarang" ucap papa Hari sambil memeluk anaknya.
Tak berapa lama seorang perawat keluar dengan mendorong boks bayi. Semuanya semakin heboh melihat bayi montok dengan mata yang terbuka lebar itu menggeliat. Para kakek dan nenek semakin tidak sabar untuk segera bisa menggendongnya. Adit mengikuti langkah perawat menuju kamar bayi untuk mengecek kondisi anaknya dan mengadzani. Sementara yang lain masih bertahan di depan ruang operasi untuk menunggu Salma.
🎎
__ADS_1
Adit kembali dari ruang bayi menuju ruang inap Salma. Istrinya baru saja membuka matanya dan tengah mengobrol bersama orangtua dan teman-temannya. Semuanya segera menyingkir dari ranjang Salma begitu mengetahui Adit masuk ke dalam ruangan. Mereka harus memberi waktu sejenak pada pasangan suami istri yang baru saja resmi menjadi orangtua ini.
"Hei" sapa Adit yang langsung mencium bibir Salma sekilas. "Sakit ya?"
Salma menggelengkan kepalanya. "Biusnya belum ilang. Mas Adit fotoin anak kita ga? Aku tadi liat cuma sekilas, enggak bisa IMD juga karena pandangan udah burem"
Adit mengangguk dan tersenyum. Ia merogoh ponsel disaku celananya dan menunjukkan beberapa foto yang berhasil dia ambil di kamar bayi tadi dan menyerahkannya pada Salma. "Aku ga bisa foto banyak, terlalu gemes mandangin dia. Bentar lagi perawat akan membawanya kesini"
Adit mengecup pipi Salma yang terlihat menahan tangisnya sambil memandangi foto bayinya. "Montok ya, mas" ucapnya lirih.
"Iya. 3,6 kilo, dia kan makannya banyak"
Semua perhatian teralihkan saat perawat membuka pintu kamar dan mendorong masuk boks bayi itu ke dalam ruangan.
"Maaf, untuk yang lainnya bisa tunggu di luar dulu sebentar? Hanya sebentar saja" kata perawat kepada kedua orangtua dan teman-teman Salma.
"Ibu kan tadi belum bisa IMD, kata dokter bisa dilakukan sekarang. Bapak bisa bantu buka kancing baju ibu untuk baby-nya mulai nyusu" ucap perawat itu sambil mengangkat bayi itu dan memposisikannya didekapan Salma.
"Terimakasih udah berjuang selama ini untukku dan anak kita. I love you" bisik Adit ditelinga Salma dan mengecup kembali pipinya.
"Malu ih mas, ada perawat juga" gumam Salma.
"Gapapa, perawatnya juga bakal ngertiin kok"
Setelah proses IMD selesai, kedua orangtua dan teman-teman Salma masuk kembali ke dalam ruangan. Para kakek dan nenek mulai berebutan ingin menggendong sang cucu. Namun akhirnya ditengahi oleh Adit. Dengan penuh kehati-hatian, Adit mengangkat bayinya dari boks. Ia mencoba menerapkan ilmu yang telah dipelajarinya secara singkat beberapa waktu yang lalu.
"Hati-hati, Dit. Kamu jangan banyak gerak, mama ngeri jatuh itu anakmu" ucap mama Mei.
"Tenang ma, Adit udah belajar" jawabnya sambil duduk dipinggir ranjang.
"Jadi siapa namanya? Kita udah ga sabar pengen manggil namanya hehehehe" tanya Widya.
Adit melirik ke arah Salma, lalu mencium kening bayi yang tertidur itu sekilas.
__ADS_1
"Rayyan Mahawira Widjaja" ucapnya sambil tersenyum memandangi wajah sang buah hati.
"Rayyan artinya ganteng, arti Mahawira kalo ga salah pahlawan. Dia akan jadi pahlawan ganteng dikeluarga kita yang melindungi semuanya" lanjut Adit.
Salma tersenyum mendengar penjelasan nama yang diberikan suaminya untuk anak mereka. Ia tidak menyangka suaminya itu akan begitu memikirkan doa yang terselip pada nama anak mereka.
"Jangan khawatir sayang, kita akan berjuang untuk mendapatkan Eowyn sesuai keinginanmu" goda Adit pada Salma.
Salma dengan refleks memukul paha Adit. "Ini aja jahitan baru kelar dibikin udah mikirin anak lagi" dengusnya dengan kesal.
"Gapapa Sal, kita para aunty cantik dan uncle tampan siap bantuin momong kalo weekend kok ehehehehehe" seru Nisa.
Salma menggelengkan kepalanya. "Gue mau fokus dulu sama Rayyan. Nanti kalo Rayyan udah mau sekolah baru mikirin buat nambah"
"Iihhh... lamanya, Sal. Nanti kita semakin rebutan loh buat gendong-gendong Rayyan" protes mama Tari.
"Sekalian repot, Sal. Kita juga ga keberatan kok kamu titipin Rayyan mulu" imbuh mama Mei.
"Tuuhhh kan, semua pada dukung aku" goda Adit.
"Mas Adit mah enak tinggal buat doang, aku yang terkapar kayak gini"
"Kan demi Eowyn, sayang" lanjut Adit.
"Iya, tapi ga dalam waktu dekatlah"
"Berarti setuju ya nambah anak lagi? Mumpung banyak saksinya nih"
Salma mengangguk.
"Sampai dapat Eowyn kan?"
"Enak aja!" Salma kembali memukul paha Adit. "Katanya terserah aku mau punya anak berapa. Nambah satu lagi aja pokoknya, mau Eowyn atau Aragorn, aku ga peduli"
__ADS_1