MENIKAH

MENIKAH
S2 - Bertemu Kembali


__ADS_3

Karena cuaca siang hari yang begitu terik, Rafa dan Alita memutuskan untuk duduk di pinggiran pantai sambil menikmati es kelapa muda dan beberapa makanan ringan. Meskipun Alita sangat ingin bermain pasir dan ombak, namun panasnya matahari menyurutkan niatannya hanya karena takut menjadi hitam.


"Emang kenapa sih kalo kulitnya gosong? Aku juga bakal tetep cinta kok sama kamu." ucap Rafa sambil mengusap rambut Alita yang sedang menikmati es kelapa mudanya.


"Halah, kamu mah sekarang aja ngomong kayak gitu. Ntar kalo aku gosong beneran, kamu nyari cewek lain."


"Tuh kan kamunya udah enggak percayaan sama aku duluan."


"Bukan enggak percayaan, sayang. Aku cuma takut aja sifat kau yang dulu muncul lagi."


"Enggak akan, aku janji." ucap Rafa sambil menyodorkan jari kelingkingnya.


Setelah cukup lama menunggu hingga sang matahari mulai menurun, Alita akhirnya bangkit dari duduknya dan mengajak Rafa untuk bermain air. Rafa segera mengemasi barang-barang mereka dan memasukkannya ke dalam waistbag-nya.


Menemani Alita bermain pasir dan ombak, serta berjalan bergandengan tangan menyusuri bibir pantai terasa sangat romantis baginya. Tentu ini adalah kali pertamanya, karena semua pacarnya yang terdahulu selalu mengajaknya berkencan ke mall dan berbelanja.


"Kamu main gini aja senengnya udah kayak anak kecil dikasih jajan." ucap Rafa sambil mengikuti langkah kaki Alita.


"Karena udah lama banget enggak dapet vitamin sea hehehehehe...."


"Yaudah, nanti aku sering-sering ajak kamu ke pantai deh ya."


Alita mengangguk dengan cepat. "Tapi nanti bawa bekal juga, bawa tikar, jadi biar kayak lagi piknik."


"Malah repot, sayang. Kalo makanan kan bisa beli, duduk di pasir juga enggak masalah kan?"


Alita menghentikan langkah kakinya, lalu berbalik menatap Rafa yang sedari tadi berjalan di belakangnya. Lalu berjinjit dan mencondongkan badannya untuk mengecup pipi Rafa.


"Kenapa?" tanya Rafa sambil tersenyum dan menatap Alita.


"Enggak. Aku... cuma pengen cium aja."


"Tapi aku maunya bukan yang kayak gitu, sayang." jawab Rafa dengan nada menggoda. "Kamu tau kan ciuman bagiku itu kayak gimana?"

__ADS_1


"Disini tempat umum." Alita mencubit perut Rafa.


"Yang rame kan disana, disini cuma ada kita berdua." Rafa mengikis jaraknya dengan Alita.


"Kamu loh yang mancing duluan, jadi jangan salahin aku kalo nanti bibirmu bengkak kayak sebelum-sebelumnya."


Alita hanya tersenyum, lalu melingkarkan tangannya pada leher Rafa dan saling membalas ciuman.


🎎


Rayyan sedang dalam perjalanan menuju sebuah butik bersama Zahra. Ia memutuskan untuk berangkat lebih awal karena akan memilih baju yang akan mereka kenakan nanti serta membeli hadiah untuk anak klien mereka yang sedang berulang tahun.


Namun sesampainya di butik, Zahra terlihat bingung ketika diminta Rayyan untuk memilih gaun yang akan ia kenakan. Sedari tadi ia terus melihat-lihat gaun yang disediakan dan belum mencoba satu pun.


"Masih belum nemu juga?" tanya Rayyan yang menghampiri Zahra dengan pakaian formalnya yang telah melekat ditubuhnya.


"Emang harus banget ya Pak pakai gaun seformal ini? Ini kan cuma makan malam biasa. Terlebih undangannya cuma makan malam karena anaknya pak Rendy ulang tahun."


"Tapi setidaknya kita menghargai tuan rumah, Zah." Rayyan berjalan mendekati deretan gaun di depan Zahra, lalu mulai melihat model gaunnya satu per satu.


"Tolong carikan sepatu yang senada dengan gaun itu." ucap Rayyan kepada karyawan butik yang berdiri tak jauh dari Zahra.


Zahra segera menuju ruang ganti untuk mengganti bajunya dengan dress pilihan Rayyan. Ketika keluar dari ruang ganti, seorang karyawan butik telah berdiri di depannya dengan membawa sebuah stiletto berwarna senada dengan dressnya.


"Tuan Rayyan meminta Anda untuk menuju ruang make up. Silahkan ikuti saya." ucap karyawan butik itu setelah membantu Zahra mengenakan heels-nya.


Zahra mengikuti karyawan itu ke sebuah ruangan, dimana telah terdapat seorang wanita yang telah menunggunya. Wanita itu tersenyum dan mengatakan akan mendandani dirinya sesuai permintaan Rayyan. Tak ada hal lain yang bisa Zahra lakukan selain menuruti semuanya.


Setelah selesai dimake up, Zahra keluar ruangan dan mencari Rayyan yang ternyata telah menunggunya di kursi dekat kasir sambil memainkan ponselnya.


"Kenapa jadi saya yang rempong sih, Pak?" keluh Zahra pada Rayyan.


Rayyan mendongakkan kepalanya, menatap Zahra yang telah berubah penampilannya. Dengan rambut yang dibiarkan tergerai dan make up tipisnya, entah kenapa kecantikan Zahra bertambah berlipat-lipat.

__ADS_1


"Kalo kamu enggak suka, kamu bisa ganti semua biayanya. Tapi kalo suka, itu semua gratis." ucap Rayyan sambil beranjak dari duduknya, lalu berjalan menuju kasir untuk melakukan pembayaran.


Setelahnya, mereka mampir ke sebuah toko bunga. Zahra memutuskan membawakan se-bouquet bunga untuk acara makan malam nanti. Dan pilihannya jatuh pada perpaduan bunga gerbera pink serta bunga lili.


Rayyan kembali melajukan mobilnya menuju lokasi yang dikirimkan oleh Pak Rendy. Kondisi jalanan yang cukup macet di Sabtu malam ini membuat perjalanan mereka sedikit tersendat.


"Maaf, kami terlambat." ucap Rayyan sambil menyalami pak Rendy dan istrinya yang menyambut mereka di teras rumah.


"Tidak apa-apa, jalanan kesini memang selalu jadi langganan macet. Mari, silahkan masuk ke dalam."


"Eeee... nyonya, saya dengar putri Anda hari ini berulang tahun. Jadi kami membawakan ini untuk hadiahnya." kata Zahra sambil menyerahkan bouquet bunga yang ia bawa.


"Aahhh... iya. Terima kasih banyak, saya akan menyerahkannya pada putri saya. Dia tengah bersiap-siap. Ayo, silahkan masuk." istri pak Rendy menerima bunga yang diserahkan oleh Zahra dan membawanya ke belakang.


Setelah mengobrol beberapa saat, istri pak Rendy masuk kembali ke ruang makan. Nampak dibelakangnya ada seorang gadis yang berjalan mengikutinya.


"Maaf karena lama menunggu." kata istri pak Rendy sambil menggandeng tangan putrinya.


"Selamat malam." sapa gadis berambut sebahu itu dengan penuh senyuman.


"Nadine?" Rayyan melebarkan kedua matanya. Dirinya sangat terkejut jika Nadine merupakan anak dari rekan bisnisnya.


Nadine dan ibunya segera duduk di kursi yang berseberangan dengan Rayyan. Wajah Rayyan berubah pucat, setelah sekian lama menghindar, malam ini justru ia bertemu dengan Nadine.


"Ohh, jadi benar kalian telah saling kenal ya? Nadine mengatakan padaku jika dulu kalian adalah teman saat SMA. Dan dia bersikeras memintaku untuk mengundang Anda kesini saat hari ulang tahunnya." jelas pak Rendy sambil terua menyunggingkan senyuman diwajahnya.


"Kau pasti terkejut kan, Rayyan? Ini rumah yang kami tempati selama tiga tahun ini. Bukan rumah yang dulu waktu kamu sering nganterin aku balik sekolah." ucap Nadine dengan mata berbinar menatap Rayyan.


Rayyan hanya mengangguk, sementara Zahra merasa terjebak dalam situasi yang membosankan baginya. Mereka saling mengenal, oleh sebab itu ia merasa asing disana.


"Siapa dia Rayyan?" tanya Nadine penasaran sambil menunjuk ke arah Zahra.


Setelah beberapa saat menunggu Rayyan yang tak kunjung mengenalkan dirinya, Zahra akhirnya mengulurkan tangannya ke arah Nadine.

__ADS_1


"Saya Zahra, personal assistant-nya pak Rayyan." ucap Zahra sambil mengulas senyum dibibirnya.


__ADS_2