
Happy reading 😊
***
Alita melangkah dengan cepat, menuju parkiran kampus dimana Rafa telah menantinya disana. Sore ini, Rafa berjanji akan menemaninya jalan-jalan. Tujuan mereka adalah mall. Setelah sekian lama, ini adalah kali pertama mereka kembali berkencan dengan mengunjungi mall. Sebelumnya, baik Alita atau Rafa lebih suka pergi ke pantai atau sekedar keluar untuk makan bersama.
Rafa tersenyum begitu melihat sosok gadis tercintanya berjalan mendekat padanya. Jika saja ini tidak di kampus, mungkin ia akan segera menarik Alita dalam pelukannya dan menghujani ciuman untuk gadisnya. Namun sayang, ini di kampus. Ia juga tak lagi mempunyai motor yang membuat Alita dapat memeluknya dengan erat sepanjang jalan. Motor itu telah berpindah tangan pada sang kakak, dan Rafa tidak pernah menyesali keputusannya itu.
"Mau makan dulu enggak? Aku laper." keluh Alita begitu mendekat pada Rafa yang berdiri disamping mobilnya.
Rafa tersenyum sambil mengusap lembut kepala Alita. "Iya, mau makan apa?"
"Mie ayam ya? Yang di deket mini market tuh. Kamu mau kan?"
"Maulah, kan makannya sama kamu. Cepetan masuk, kita pergi sekarang."
Mobil Rafa segera meluncur menuju tempat makan yang dimaksud Alita yang menjual mie ayam dan bakso kesukaannya. Setelah memarkirkan mobilnya, keduanya masuk dengan bergandengan tangan. Hingga seorang wanita menghampiri Rafa dan Alita yang baru saja duduk sambil menunggu pesanannya.
"Hai, Fa. Udah lama enggak ketemu." ucap Keira, mantan kekasih Rafa yang entah ke berapa pun Rafa tidak mengingatnya.
"Makan mie ayam juga lo?" tanya Rafa tanpa canggung. Begitu juga dengan Alin yang nampak santai menyaksikan pertemuan para mantan kekasih itu.
"Iya. Enggak nyangka aja bakal ketemu lo disini. Itu... pacar lo?"
Rafa mengangguk, lalu memperkenal Alita pada Keira. "Namanya Alita. Lo bisa kenalan sendiri kalo lo mau." Rafa mengusap rambut Alita dengan lembut.
"Semoga lain kali kita bisa punya banyak waktu untuk ngobrol ya, Ta. Maaf banget gue buru-buru sekarang. Semoga lo betah ya ngedampingin Rafa yang nyebelinnya enggak ada saingannya ini."
"Iya, terima kasih banyak wejangannya." Alita tersenyum sambil menundukkan kepalanya. Dan tak berapa lama, Keira pergi meninggalkan mereka.
"Ciieee... yang ketemu mantan!" goda Alita sambil menerima uluran pesanan mie ayam mereka.
__ADS_1
"Biasa aja, aku malah tadi kaget dia itu temen atau mantanku." Rafa menjawab dengan santai sambil menyedot es tehnya.
Alita menggelengkan kepalanya, lalu dengan sengaja memukul lengan Rafa. "Aku jadi penasaran dulu itu kamu kayak gimana. Bisa-bisa sampai lupa sama mantan sendiri."
"Ya orang aku cuma main-main, makanya enggak inget. Beda sama.kamu yang aku seriusin." goda Rafa sambil menjawail hidung Alita.
"Udah aah, aku kesini mau makan bukan buat dengerin gombalan kamu. Cepet habisin, ntar bisa kesorean jalan-jalannya."
***
Mobil Zach baru saja sampai di depan rumah Eowyn. Seperti biasa Zach mengantar Eowyn pulang, turun sebentar untuk sekedar menyapa Salma jika berada di rumah, lalu pulang. Zach memang tidak sering mampir dalam waktu yang lama karena masih merasa canggung jika harus berhadapan dengan Papa Eowyn.
"Mama kayaknya masih di rumah nenek deh. Kamu mau masuk ke dalam?" tawar Eowyn sambil melepaskan seatbelt-nya.
Zach menggelengkan kepalanya. "Aku langsung pulang aja ya, enggak enak mampir kalo di rumah enggak ada orang."
"Jadi kamu menganggap Pak Wahyu sama Bi Yati itu apa?" Eowyn tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Kamu masih menghindari Papa?"
"Bukan menghindar, aku hanya terlalu gugup untuk berhadapan langsung dengan Pak Adit. Untuk urusan kantor aja aku udah gugup, gimana kalo ini menyangkut anak gadisnya."
"Papa tidak segalak seperti yang kamu bayangkan."
Zach mengangguk, mengiyakan ucapan kekasihnya. "Papamu tegas, itu beda tipis."
"Kata abang, kamu punya pengalaman tak terlupakan karena Papa."
"Rayyan enggak cerita sama kamu?" tanya Zach dan dijawab gelengan kepala oleh Eowyn.
"Tau kan kalo dulu aku magang di kantor bareng sama Rayyan?" Eowyn kembali mengangguk.
__ADS_1
"Waktu itu pak Hendra bilang kinerjaku sebagai anak magang sangat diatas rata-rata. Pak Adit ingin mempekerjakanku, tapi dengan syarat aku harus S2 agar bisa menjadi pemimpin tim. Tentu aja syarat itu enggak bisa aku penuhi karena kondisi ekonomi keluarga yg biasa aja. Bisa lulus S1 aja aku udah bersyukur banget, sayang. Pengennya juga buru-buru kerja biar bisa bantu ekonomi keluarga." Zach menjeda perkataannya, menghela nafas sambil mengingat kejadian masa lalunya itu.
"Tapi pak Hendra bilang Pak Adit siap ngebiayain S2-ku, asal aku harus kembali ke perusahaan Pak Adit lagi. Pas ngobrol sama ayah bunda, mereka ngasih izin. Jadi ya aku terima tawaran dari Pak Adit. Itu sebabnya aku selalu merasa sungkan sama beliau."
"Sungkan kenapa? Papa kan biasa aja sama kamu."
"Aku cuma takut Pak Adit mikir kalo aku itu ngelunjak. Habis dibiayain sekolah, ehh... sekarang minta anak gadianya." Zach mencolek dagu Eowyn.
Eowyn tersenyum sambil menahan tangan Zach yang akan mencolek dagunya kembali.
"Colek-colek, emangnya aku sabun colek." canda Eowyn. "Mama Papa emang gitu. Om Asep bilang juga dulu dikuliahin sama Mama Papa karena Nazar mereka."
"Nazar?"
Eowyn mengangguk. "Dulu Mama Papa nunggu lama buat akhirnya bisa hamil. Begitu Mama hamil, langsung deh nyuruh om Asep buat daftar kuliah. Padahal waktu itu om Asep udah nabung, tapi disuruh nyimpen aja."
"Mama Papamu memang orang baik. Banyak uang tapi enggak membuat mereka merasa berada di atas."
"Itu sebabnya aku kerja nih di kantor Papa, tujuannya ya biar dapet uang jajan. Padahal kalo anak pengusaha yang lain, belum tentu kan kayak aku? Belum lagi Mama yang selalu ngajarin anak-anaknya ngerti soal kerjaan rumah. Makanya kamu jangan protes kalo tiba-tiba tanganku enggak halus lagi kayak gini. Itu berarti aku banyak disuruh Mama bantuin ini itu hahahaha...."
"Emangnya aku pernah protes? Justru aku seneng karena kamu mau bantuin Mama kamu ngerjain kerjaan rumah. Seenggaknya kamu belajar buat jadi ibu rumah tangga." Zach tersenyum penuh arti sambil mengusap punggung tangan Eowyn.
"Kamu pulangnya hati-hati ya, jangan lupa kabarin kalo udah sampai di rumah. Salam juga untuk Ayah, Bunda, om Deri, Tante Vina, Oma, Opa, sama Edwin juga boleh hehehe...."
"Nanti kita atur jadwal buat makan malam lagi ya?" Eowyn menyetujui usulan dari Zach.
Zach lalu menarik tubuh Eowyn dan memeluknya sambil mengecupi puncak kepala Eowyn.
"Masuklah, kita udah kelamaan ngobrol di mobil."
"Hm. Hati-hati ya." Eowyn mengecup pipi Zach lalu menarik handle pintu mobil dan keluar. Lambaian tangan Eowyn pada Zach bertahan cukup lama hingga mobil Zach menghilang dari pandangannya.
__ADS_1