
Happy reading 😊
...****************...
"Kenapa sih, dari tadi kamu diem aja?" Rafa kembali bertanya pada Alita.
Sepanjang perjalanan menuju tempat makan, Alita nampak melamun dengan menatap ke arah luar jendela. Padahal biasanya gadis itu akan banyak berbicara, membicarakan berbagai macam topik yang begitu menarik perhatiannya.
Namun kini saat Alita-nya lebih banyak terdiam, Rafa merasa tidak nyaman. Sedari tadi bahkan dirinya telah berpikir keras hal apa yang menyebabkan Alita menjadi diam. Apakah ada sikapnya selama menemani Alita sedari pagi tadi ada yang salah?
"Enggak apa-apa, aku cuma capek."
"Beneran?" Rafa tampak kurang puas dengan jawaban Alita.
Untuk soal wanita, Rafa memang telah banyak mengerti karena pengalamannya berpacaran yang tak terhitung jumlahnya. Ia paham betul jika seorang wanita mengatakan tidak apa-apa, padahal sebenarnya ada apa-apa. Dia hanya merasa sangat marah atau ingin si lelaki mencari tahu sendiri penyebabnya. Jika si lelaki tidak menemukan penyebabnya juga, maka stempel lelaki tidak peka akan langsung disematkan padanya.
"Kalau ada apa-apa ngomong aja, sayang. Apalagi kalo kamu marahnya karena ada sikapku dari pagi tadi yang enggak kamu suka."
"Enggak ada. Justru aku yang nyusahin kamu karena maksa kamu untuk nemenin aku di backstage dan bikin kamu bosen." Alita menjawab dengan tatapan yang lurus ke depan, menatap jalanan yang cukup padat siang itu.
Rafa memilih untuk menganggukkan kepalanya. Ia tidak ingin memaksa Alita untuk bercerita, karena ia yakin pasti akan menyulut pertengkaran mereka. Rafa hanya butuh sabar dan berdoa semoga saja setelah makan amarah Alita akan menguap begitu saja.
__ADS_1
"Sampai deh." seru Rafa saat selesai memarkirkan mobilnya.
Saar diparkiran kampus tadi, Alita mengatakan jika dia ingin makan di restoran cepat saji. Dan kini, keduanya telah sampai ditempat makan yang diinginkan Alita, tapi tak terlihat rona wajah bahagia diwajahnya. Padahal biasanya, Alita akan langsung bersemangat jika Rafa memenuhi keinginannya.
Berjalan masuk ke dalam restoran sambil bergandengan tangan, Rafa berulang kali menengok ke arah Alita. Mungkin ini yang dirasakan para mantannya yang terdahulu, saat ia dengan sangat malasnya mengantarnya ke suatu tempat. Rafa akan terus terdiam dan berbicara seperlunya, bahkan cenderung mengabaikan dan memilih memainkan ponselnya.
Namun kini, dirinya yang merasakan hal tersebut. Diacuhkan oleh kekasih saat sedang bersama ternyata begitu menyesakkan. Meskipun Rafa tidak menyukainya, tapi tetap saja ia merasa bodo amat saat mengingat dulu para mantannya mengalami hal seperti ini.
"Kamu duduk aja disini ya, biar aku yang pesen. Menu kayak biasanya kan? Atau menu yang lain?"
"Yang biasa aja, sama aku mau mocha float."
Rafa mengangguk sambil tersenyum manis ke arah Alita, lalu meninggalkan Alita untuk memesan menu makan siang mereka.
...****************...
Tapi ia juga butuh waktu. Waktu untuk menerima semua perkataan mahasiswi yang tidak ia kenal tadi dan berlapang dada menerima segala kesalahan Rafa dimasa lampau.
Hatinya sendiri tidak begitu yakin jika kekasihnya ini melakukan hal-hal yang tidak senonoh dengan mantan kekasihnya. Selama lebih dari setahun ini berpacaran dengannya, kontak fisik yang ia dan Rafa lakukan hanya bergandengan tangan, berpelukan, dan berciuman saja.
Jika memang Rafa telah melakukan hubungan badan dengan mantan kekasihnya, seharusnya tangan lelaki itu sudah begitu nakal menjamah tubuhnya. Tapi Rafa tidak melakukan hal itu padanya.
__ADS_1
Bahkan kata William, hanya dengan dirinyalah Rafa berpacaran hingga selama ini. Dengan para mantan kekasih sebelumnya hanya bertahan maksimal empat bulan. Itupun Rafa lakukan karena hanya sekedar penasaran akan gadis yang dikencaninya. Dan kebanyakan dari mereka senang memanfaatkan uang Rafa.
Lalu, apakah alasan Rafa memacarinya karena merasa penasaran padanya? Apakah Rafa benar-benar mencintanya seperti yang sering Rafa ucapkan?
"Hey! Kamu kenapa sih? Enggak enak badan?"
Rafa telah kembali dari memesan makanan mereka. Setelah meletakkan nampan makanan dimeja, tangan Rafa segera terulur untuk memeriksa kondisi Alita. Rafa menempelkan telapak tangannya di dahi Alita untuk mengecek suhu tubuh kekasihnya.
"Aku enggak apa-apa, sayang. Aku cuma capek." Alita menurunkan tangan Rafa dan dahinya. Tak lupa menyelipkan sebuah senyuman agar Rafa percaya jika memang benar dirinya tidak apa-apa.
"Habis ini aku antar pulang ya. Kamu emang harus istirahat."
Alita mengangguk, mengiyakan perkataan. Ia memang butuh waktu untuk menyendiri. Jika bersama Rafa lebih lama, ia akan semakin merasa bersalah karena terus terdiam.
"Buruan dimakan." Rafa menyodorkan bungkusan burger yang baru saja ia buka pada Alita. "Aku sengaja beli burger satu lagi. Buat jaga-jaga kalo kamu masih laper, karena dari pagi tadi kamu banyak mondar-mandir kesana-sini."
"Makasih." jawab Alita sambil menerima uluran burger dari Rafa.
Alita tidak bisa terus-terusan seperti ini. Setidaknya, ia harus membuktikan sendiri kebeneran dari perkataan yang ia dengar tadi. Lalu ia akan memutuskan bagaimana sikapnya kepada Rafa.
Alita ingin membuktikannya sendiri, tanpa bertanya kepada Rafa atau pun William. Ia ingin mencari tahunya sendiri, meskipun sebenarnya ia juga takut akan terluka jika semua perkataan itu benar.
__ADS_1
Ia tidak ingin melepaskan Rafa, tapi mungkin dirinya juga tak bisa menerima begitu saja kesalahan Rafa dimasa lalu. Sepanjang perjalanan tadi bahkan pikiran Alita berkelana terlalu jauh. Dirinya sudah membayangkan bagaimana jika nanti hadir sosok wanita yang meminta pertanggung jawaban dari Rafa. Apakah ia harus mengalah nantinya? Kenapa pula masalah seperti ini hadir ketika cintanya pada Rafa telah tumbuh begitu dalam?