MENIKAH

MENIKAH
S2 - Kalah dari Cokelat


__ADS_3

Happy reading 😊


***


Rencana kencan yang tadi diutarakan oleh Rayyan nyatanya gagal karena suhu tubuh Zahra yang masih agak demam. Rayyan tidak kecewa, ini lebih baik daripada nantinya memperburuk kondisi Zahra. Sebagai gantinya, Rayyan memutuskan untuk memesan makanan melalui ojek online untuk dimakan berdua dengan Zahra.


Menenteng kantong berisi makanan yang baru saja diambilnya dari beberapa pengemudi ojol yang ditemuinya di lobi hotel, Rayyan berjalan menuju kamar Zahra dengan wajah sumringahnya. Entahlah, setelah menyiratkan perasaannya pada Zahra sore tadi, ia benar-benar merasa bahagia. Ya, meskipun mereka belum benar-benar terikat dalam suatu hubungan.


Rayyan merogoh saku celananya untuk mengambil kartu kamar Zahra dan menempelkannya pada detector. Matanya langsung bersirobok dengan Zahra yang maskh duduk bersandar disandar sambil menatapnya. Jika Rayyan langsung mengulas senyum manisnya pada Zahra, yang disenyumin justru memalingkan kepalanya berpura-pura mencari sesuatu dibalik selimutnya.


Rayyan menarik kursi dan membawanya ke samping ranjang, berdekatan dengan Zahra, lalu mengeluarkan makanan yang dipesannya tadi di meja kecil di sebelah kasur.


"Banyak banget beli makanannya, Pak?" tanya Zahra begitu melihat beberapa bungkusan makanan yang disusun Rayyan di nakas.


"Kita kan enggak makan malam, jadi aku beli banyak biar nanti kita enggak kelaparan."


Rayyan menyodorkan kardus berisi martabak yang dipotong menyerupai pizza dengan aneka topping itu. Zahra memandangi setiap potongan martabak itu dan mencoba memilih potongan dengan topping yang ia suka. Dan pilihannya jatuh pada potongan dengan penuh coklat diatasnya.


"Cewek emang suka coklat ya." gumam Rayyan sambil menyomot martabak dengan parutan keju diatasnya.


"Siapa juga yang bisa nolak cokelat, Pak. Lagian... ini kan toppingnya kebanyakan cokelat, rasanya aja yang beda. Greentea yang ini juga dalam bentuk cokelat kan?"


Rayyan mengangguk. Suasana hening melingkupi kamar itu saat keduanya asik menikmati sekotak martabak yang dipangku Zahra.


"Mau coba makanan yang lain?" tanya Rayyan sambil menyodorkan botol minuman pada Zahra. "Aku juga beli burger sama french fries. Atau mungkin kamu mau makan donat?"


Zahra menggelengkan kepalanya. "Bapak mau buat saya gendut ya?"


"Aku enggak bilang begitu. Aku kan cuma nawarin makanan yang aku beli tadi."


"Makan martabak tiga potong aja saya udah kenyang, Pak. Trus juga kan belum lama saya habis makan nasi."


"Bisa enggak kalo kita lagi berdua begini dan enggak lagi di kantor kamu jangan panggil aku 'Pak'? Itu terlalu kaku, Zah." protes Rayyan.


"Terus... Bapak maunya dipanggil apa dong?"


"Terserah kamu." jawab Rayyan singkat sambil menyuap kentang goreng ke dalam mulutnya.


"Kok terserah saya?"


"Kalo terserah aku, emang kamu yakin akan menyanggupinya?"


"Emangnya... Bapak minta dipanggil dengan sebutan apa?"

__ADS_1


"Sayang." jawab Rayyan sambil tersenyum ke arah Zahra. Sementara Zahra langsung memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan wajah meronanya.


"Bisa kamu panggil aku dengan sebutan itu mulai sekarang?" imbuh Rayyan.


"Masalahnya kita enggak ada hubungan apa-apa, Pak. Mana bisa saya manggil Bapak dengan sebutan itu." Zahra mengalihkan kegugupannya dengan menyomot kentang dibungkusan yang dipegang Rayyan.


"Kalo maumu begitu, kita perjelas aja hubungan kita sekarang. Dan... bukannya tadi sore aku udah bilang ke kamu kalo aku akan mengajakmu kencan malam ini? Aku juga nyium kening kamu kan? Bukannya aku udah ngasih sinyal ke kamu?"


Zahra kembali memalingkan wajahnya. Kenapa pula Rayyan kembali mengungkit masalah Rayyan yang mencium keningnya tadi sore? Membuat detak jantung Zahra heboh lagi saja!


"Aku juga udah ngasih tau clue-nya lewat bunga tulip. Aku tau kamu paham maksudku apa." Rayyan meletakkan bungkusan kentang ditangannya lalu mengelap tangannya dengan tisu.


Ia berpindah duduk dipinggir ranjang berhadapan dengan Zahra yang masih bersandar pada headboard kasur. Tangan Rayyan terulur untuk menggenggam telapak tangan Zahra yang terasa dingin itu, padahal tadi saat Rayyan mengecek dahinya masih terasa panas.


"Katakan padaku, diartikel yang kamu baca, apa maksud dari warna bunga tulip yang aku kasih ke kamu?"


Zahra mendongakkan kepalanya, menatap Rayyan yang sudah berada dihadapannya dengan menggenggam tangannya.


"Tapi... itu kan perumpamaan untuk wanita Belanda, Pak. Jadi... mungkin enggak bisa dipakai di negara kita. Bisa jadi... maksudnya lain kan?" Zahra menjawab dengan terbata.


"Sudah, cepat katakan."


"Katanya... jika warna ungu pada bunga tulip berarti... cinta pada pandangan pertama." Zahra berucap lirih diakhir kalimat dan menundukkan kepalanya.


"Apanya, Pak?"


Rayyan menahan senyumnya melihat kepolosan Zahra. "Kalo aku udah menaruh rasa padamu sejak pertama kamu masuk ke kantorku sebagai personal assistant yang direkomendasikan Eowyn." Rayyan tersenyum, mengingat kembali bagaimana detak jantungnya berdebar hebat saat menatap Zahra untuk pertama kalinya. Dan beruntung selama ini dia bisa menahannya dengan baik meskipun selalu berada di dekat Zahra.


Zahra hanya terdiam. Menatap Rayyan dengan pandangan tak percaya dengan apa yang baru saja Rayyan ungkapkan.


"Karena omelanmu juga aku jadi tau bagaimana aku harus bersikap saat berhadapan dengan Nadine. Karena perasaanku sekarang saat ketemu Nadine bukan lagi karena aku masih menyimpan perasaan untuknya, tapi lebih kepada perasaan takut mengingat kejadian yang dulu."


"Ahh... saya tau soal itu."


"Kamu tahu?"


Zahra mengangguk. "Eowyn yang menceritakannya pada saya."


"Syukurlah kalo kamu udah tau, jadi aku harap kedepannya kamu enggak lagi salah paham denganku."


"Memangnya, saya pernah salah paham?"


Rayyan tersenyum dan satu tangannya bergerak untuk mencubit pipi Zahra dengan gemas. "Kalo kamu enggak salah paham, mana mungkin kamu bakal ngomel-ngomel seharian padaku waktu Nadine datang ke kantor kala itu?"

__ADS_1


"Oohhh... yang itu?" kini Zahra merasa malu dan kembali menundukkan kepalanya.


"Jadi sekarang... apa bisa kita memperjelas hubungan kita?"


Pertanyaan Rayyan kembali membuat Zahra terdiam. Ia benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Disisi lain ia merasa senang karena Rayyan secara tidak langsung telah menyatakan ketertarikannya pada dirinya. Namun disisi lain, ia juga merasa ragu untuk menjalin suatu hubungan dengan Rayyan.


"Entahlah, Pak. Saya tidak yakin."


Raut wajah Rayyan yang sedari tadi nampak sumringah langsung berubah menjadi muram.


"K-kenapa?"


"Kita... berbeda, Pak."


"Hah? Jelas kita berbeda, Zah. Aku laki-laki dan kamu perempuan, kalo kita sama aku mana mau mengajakmu menjalin sebuah hubungan?"


"Bukan itu maksud saya, Pak. Tapi... saya jelas berbeda dari Bapak. Bapak tau sendiri bagaimana keluarga saya, tentu sangat berbeda kan dengan keluarga Bapak? Mungkin... Bapak bisa dapet wanita dengan golongan yang sama dengan keluarga Bapak, seperti mantan kekasih Bapak itu misalnya."


Rayyan menghela nafasnya kasar, tidak terima dengan alasan yang diberikan oleh Zahra barusan.


"Katakan padaku... selama kamu berteman dengan Eowyn, apa keluargaku pernah menganggapmu remeh atau memperlakukanmu dengan tidak baik?" tanya Rayyan dan dijawab gelengan kepala oleh Zahra.


"Apa Eowyn pernah bercerita padamu kalo kedua orangtuaku menentang hubungannya dengan Zach? Padahal Papa mengetahui latar belakang keluarga Zach dan membiayai kuliah S2 Zach demi merekrutnya."


Zahra kembali menggelengkan kepalanya sambil tetap tertunduk. Dirinya benar-benar tak punya nyali untuk menatap Rayyan sekarang ini. Laki-laki dihadapannya nampaknya sedang marah karena ia menolaknya.


Rayyan kembali menghela nafasnya dan melepaskan genggamannya pada tangan Zahra. Rayyan mengusap wajahnya dengan kasar, mencoba menenangkan dirinya akibat penolakan Zahra secara tidak langsung ini.


"Jadi ternyata aku kalah telak dengan cokelat yang kamu makan tadi." Rayyan tersenyum tipis mengingat perkataan Zahra saat memakan martabak tadi.


"Mungkin kamu hanya perlu waktu, Zah. Aku akan memberikannu waktu untuk memikirkan perasaanmu sendiri, ini terlalu tiba-tiba bukan?" Rayyan beringsut menjauhkan diri dari Zahra, ia merasa canggung sekarang.


"Besok aku akan minta petugas hotel untuk menghangatkan makanan ini, kita bisa memakannya dalam perjalanan. Aku... akan kembali ke kamar sekarang. Kamu beristirahatlah."


Setelah mengusap rambut Zahra, Rayyan melangkah keluar meninggalkan kamar Zahra dengan perasaan yang kecewa. Nampaknya acara kencannya malam ini gagal total!


***


Yaahhh... baru aja pada baper kemarin, sekarang udah sedih lagi. Maafkan daku ya readers, tapi memang harus begini alurnya hehehehe....


Btw, terima kasih banyak untuk votes kalian kemarin. Bener-bener luar biasa deh, sampai kaget aku baca riwayat vote points dari kalian. Thank you ya 😘❤️


Maafkan juga karena hari ini cuma bisa up 1 eps lagi, karena lagi banyak kerjaan di rumah. Nanti kalo pas longgar lagi, insya Allah dikasih up yang banyak deh ya 😁🙏

__ADS_1


__ADS_2