
Happy reading 😊
***
Eowyn sedang berada di kamar Rayyan, menunggu abangnya yang sudah sejak tadi berada di kamar mandi untuk membersihkan diri. Saat membantu mamanya menyiapkan makan malam tadi, mamanya berkata jika mungkin Rayyan dan Zahra akan segera menikah.
Hal itu tentu saja mengejutkan bagi Eowyn. Apalagi Zahra tidak berkata apapun kepadanya perihal pernikahan ini. Jadi setelah makan malam tadi, ia memutuskan untuk menelpon Zahra. Merasa kurang puas dengan jawaban sahabatnya, oleh sebab itulah ia berada di kamar abangnya.
Eowyn merebahkan dirinya di ranjang Rayyan sambil bertukar pesan dengan Zach. Tentu saja membicarakan perihal kabar pernikahan abangnya dan juga Zahra.
"Ngapain disini?" tanya Rayyan saat keluar dari kamar mandi. Rayyan berjalan menuju almari bajunya sambil menggosok rambutnya yang basah. Lalu mengambil kaos dan memakainya.
"Mama bilang, abang mau nikah ya sama Zahra? Kenapa enggak ada yang ngasih tau aku sih?" dengus Eowyn dengan kesal, lalu mendudukkan dirinya.
"Itu mama kasih tau lo kan?" jawab Rayyan dengan santai sambil menyampirkan handuknya dikursi.
"Iiihhh... abang! Maksudku bukan gitu. Kenapa abang atau Zahra diem-diem aja enggak ngasih tau aku?"
"Belum fix, Wyn." Rayyan meraih ponsel dan remote TV dinakas, lalu merebahkan tubuhnya di ranjang.
"Belum fix gimana maksud abang?" Eowyn memutar tubuhnya menghadap pada Rayyan yang tengah sibuk mengganti saluran TV.
"Zahra belum nerima lamaran gue."
"Hah? Terus, kenapa mama udah yakin aja abang mau nikah sama Zahra?"
"Kita pasti nikah, Wyn. Cuma belum tau kapannya. Zahra masih butuh waktu buat mikir."
"Mikir? Emang Zahra belum yakin sama abang?"
Rayyan hanya mengendikkan kedua bahunya. Matanya terfokus pada tayangan televisi yang ia tonton, namun sesekali mengecek ponselnya saat ada notifikasi pesan masuk.
"Emang abang ngelamar Zahra dimana?" tanya Eowyn penasaran.
"Di kantor." jawaban santai dari Rayyan barusan sontak membuat Eowyn membulatkan matanya seketika.
__ADS_1
"Serius abang ngelamar Zahra di kantor?" tanya Eowyn memastikan dan mendapat jawaban berupa anggukan kepala oleh Rayyan.
"Duuhhh bang! Abang ini kenapa kaku banget sih? Romantis dikit kek, masa iya ngelamar pacarnya buat nikah kok di kantor?"
"Itu spontan, Wyn. Dia habis cemburu karena Nadine datang lagi ke kantor. Yaudah gue ajakin dia nikah aja biar dia enggak cemburuan lagi."
"Ya meskipun spontan tapi kalo Zahra minta waktu buat mikir enggak seharusnya abang santai-santai begini!" Eowyn merasa geram dengan abangnya.
"Si Rafa noh Bang, kan bisa diberdayakan. Minta tolong aja sama dia buat atur acaranya, abang juga duitnya banyak kan? Palingan Rafa cuma minta duit buat dia kencan. Abang tuh jangan lempeng-lempeng aja, mentang-mentang Zahra bilang butuh waktu tapi abang enggak ada usahanya."
Rayyan masih terdiam. Matanya memang menatap ke layar televisi, tapi pikirannya mencoba mencerna maksud dari perkataan Eowyn.
"Bang...." panggil Rafa bersamaan dengan terbukanya pintu kamar Rayyan.
"Tuhh, panjang umur orangnya." ucap Eowyn sambil menunjuk Rafa, namun Rayyan seolah tidak peduli.
"Kenapa?" tanya Rayyan pada Rafa yang masih berdiri diambang pintu.
"Dipanggil papa, disuruh ke ruang kerjanya."
Rayyan beranjak dari posisi rebahannya, ia segera memakai sandalnya lalu keluar kamarnya menuju ruang kerja papanya.
Rafa mengangkat kedua bahunya, lalu pergi menuju kamarnya.
***
Rayyan sedikit merasa gugup saat memasuki ruang kerja papanya. Sejak kecil, ia selalu beranggapan jika segala sesuatu yang dibicarakan di ruang kerja papanya, pastilah sesuatu yang penting.
"Papa manggil Rayyan?" tanya Rayyan saat memasuki ruang kerja papanya.
Adit nampak sibuk, seperti sedang mencari-cari dokumen pada tumpukan map dimejanya.
"Hm, ada yang mau papa omongin." Adit mendongak sekilas, lalu kembali berkutat pada dokumennya.
"Tadi kamu pergi melihat apartemen?"
__ADS_1
"Iya, Pa."
"Sama Zahra?" tanya Adit kembali dan dijawab dengan jawaban 'iya' oleh Rayyan.
"Kembalikan ke papa kartu apartemennya." suara Adit terdengar tegas, bahkan telapak tangan kanannya disodorkan ke hadapan Rayyan.
"Kartunya ada di kamar Rayyan, Pa. Biar Rayyan ambil dulu bentar."
"Nanti aja." sela Adit yang langsung menghentikan langkah kaki Rayyan. "Papa cuma mau ngasih penjelasan ke kamu."
"Penjelasan apa, Pa?" seperti biasa, Rayyan masih tenang. Meskipun papanya terlihat menahan amarahnya.
"Kamu inget kan semalam papa ngasih pinjem kamu apartemen buat apa?"
Rayyan mengangguk. "Buat... Rayyan sama Zahra tinggal sementara setelah nikah."
"Itu ya, harusnya kamu paham maksud papa. Papa kasih kartu itu ke kamu sekarang itu biar kamu bisa liat kondisi apartemennya gimana. Barangkali kamu pengen ngerubah cat atau furniture-nya, bukan untuk mesum ya, Rayyan!"
Rayyan tergeragap. Wajahnya mungkin langsung pucat pasi saat mendengar kalimat yang diucapkannya barusan. Jadi, papanya tau jika sore tadi ia telah ******* habis bibir Zahra tanpa ampun di apartemen itu?
"Ada kamera kecil yang papa pasang dijam dinding itu, Rayyan. Makanya papa bisa tau tadi kamu ngapain aja disana."
"Maaf, Pa." Hanya itu kalimat yang keluar dari bibir Rayyan dengan kepala yang tertunduk.
Adit menghela nafasnya, entah kenapa ia merasa kesal. Padahal dulu dirinya juga sering bersama Michelle di apartemen itu dan melakukan hal yang sama dengan yang Rayyan lakukan. Mungkin karena sekarang dirinya telah menjadi orang tua dan tidak ingin anaknya terjerumus dalam pergaulan yang salah. Maka sebab itulah dia merasa kesal, tidak hanya kepada Rayyan, tapi juga dirinya sendiri. Mungkin papanya dulu juga akan merasakan hal yang sama jika mengetahui dia sering berduaan dengan Michelle di apartemen.
"Enggak usah kelamaan ulur waktu lagi, Rayyan. Kita harus segera melakukan pertemuan dengan keluarga Zahra. Papa yakin dengan kita sekeluarga kesana pasti Zahra akan mengatakan 'iya'."
Rayyan mendongakkan kepalanya, menatap papanya yang sedari tadi menatapnya. "Iya Pa, nanti Rayyan minta bantuan Rafa untuk ngatur acaranya."
Adit menganggukkan kepalanya. "Untuk hal semacam ini memang Rafa bisa diandalkan. Tahan sebentar dulu, Rayyan. Jangan sampai kau melakukan tindakan kayak sore tadi di kantor, itu bisa menimbulkan berita heboh yang akan susah untuk diredam begitu saja. Lagipula ketika kalian sudah menikah nanti, kalian bisa sepuasnya melakukan hal-hal yang menyenangkan itu. Untuk sekarang, kamu sabar dulu. Jangan nambah dosa dengan nurutin keinginanmu sendiri tanpa memikirkan hal lainnya." ucap Adit dengan tegas.
"Baik, Pa. Rayyan... minta maaf."
"Hm, istirahatlah. Jangan lupa untuk mengembalikan kartunya, papa baru akan berikan jika tanggal pernikahan kalian sudah pasti."
__ADS_1
Rayyan menganggukkan kepalanya lalu berjalan keluar meninggalkan ruangan papanya. Tanpa diduga, ternyata Rafa sedari tadi menguping di luar ruangan papanya.
"Buseeeetttt dah, abang ternyata lebih ganas dari yang Rafa duga." sindir Rafa sambil menggelengkan kepalanya, tersenyum mengejek dan berjalan menuju kamar tidurnya.