
Happy reading 😊
***
Tok... tok...
Mendengar suara ketukan pada pintu kamarnya, Eowyn bergegas mematikan hair dryer dan menyuruh seseorang yang mengetuk pintu untuk masuk ke dalam.
Sosok Rayyan menyembul seiring terbukanya pintu kamar. Sang abang yang telah mengenakan pakaian santai berjalan mendekati Eowyn yang masih berkutat di depan rias, lalu Rayyan menarik kursi rias untuk tempatnya duduk.
"Tadi pulang jam berapa?" tanya Rayyan sambil mendongak ke arah Eowyn yang tengah menyisir rambutnya.
"Hmm... sebelum maghrib, Bang. Tadi nganterin Zahra pulang dulu, jadi kena macet."
"Kamu ketemu Andrew kan?" ucap Rayyan tanpa basa-basi dan langsung membuat wajah Eowyn pucat pasi.
Eowyn menurunkan sisir rambutnya, pandangan menunduk tidak berani menatap Rayyan yang sedari tadi terus mengawasinya.
"Kenapa? Apa karena dia baru pulang dari UK terus kamu mau kangen-kangenan gitu?"
"Enggak gitu, Bang. Andrew bilang mau ngasih oleh-oleh, aku juga ketemuannya ngajakin Zahra kok." Eowyn berucap lirih.
"Bukan masalah sama siapa kamu ketemuan sama dia, tapi kamu selalu enggak pernah mau dengerin kata abang atau Rafa kalo udah menyangkut Andrew."
"Tapi kita cuma ngobrol, Bang. Ada Zahra juga, di tempat umum, jadi aman."
"Itu sama aja kamu ngasih jalan ke Andrew untuk deket-deket kamu."
"Lagian kenapa sih, Bang? Cuma ketemuan sama Andrew aja selalu jadi masalah. Dia kan anaknya Tante Michelle sama Om Ryan. Mama sama Papa juga pasti enggak masalah kalo aku ketemu sama dia."
"Itu karena Papa sama Mama enggak tau gimana kelakuan Andrew!" suara Rayyan mulai meninggi, membuat Eowyn berjingkat karena kaget dan beringsut mundur selangkah.
Abangnya benar-benar sedang marah. Rayyan termasuk orang yang cuek. Meskipun dalam kondisi marah, ia akan memilih untuk diam hingga emosinya menguap dengan sendirinya. Tapi jika Rayyan memilih untuk bersuara, habislah sudah!
"Udah berapa kali abang bilang ke kamu untuk jauhin Andrew? Sampai abang harus ke LA pun, abang minta Rafa untuk mantau kamu. Abang cuma enggak mau kamu dibuat mainan buat Andrew."
"Aku udah gede, Bang. Bisa jaga diri sendiri."
__ADS_1
"Tinggal nurut aja apa susahnya sih, Wyn?" geram Rayyan.
"Abang... kejadian itu tuh udah lama banget. Itu cuma taruhan enggak bermutu yang dilontarkan Andrew sama abang. Kalo emang Andrew berniat untuk jadiin aku mainannya, mungkin udah dari dulu Bang. Ini sampai aku mau lulus kuliah pun dia masih biasa aja ke aku."
Rayyan terdiam. Ingatannya kembali pada saat SMA dulu, saat ia dan Andrew berada di kelas 12. Hanya karena pertandingan basket, Rayyan dan Andrew hampir saja berkelahi. Awalnya karena Andrew merasa patah hati karena Rayyan memacari Nadine yang selama ini menjadi incarannya.
FLASHBACK
"Lo sengaja kan nikung Nadine dari gue?" bentak Andrew sembari mencengkeram kerah baju Rayyan.
Rayyan tersenyum sinis. "Nadine yang lebih milih gue untuk jadi pacarnya, bukan elo. Jadi harusnya lo introspeksi diri, bukan melampiaskan kemarahan lo enggak jelas kayak gini."
Andrew melepaskan cengkeramannya pada kerah baju Rayyan. "Gue yang lebih dulu deketin Nadine."
"Tapi sayangnya Nadine enggak tertarik sama elo." ucap Rayyan dengan sinis.
Kemarahan Andrew semakin memuncak, lalu kembali melangkahkan kakinya mengikis jaraknya dengan Rayyan. Matanya benar-benar memancarkan amarah, bahkan tangannya begitu gatal rasanya ingin meninju wajah Rayyan yang masih terlihat santai menghadapinya.
"Lo bisa aja dapetin Nadine, tapi gue... akan segera dapetin Eowyn. Dia... masuk kriteria cewek idaman gue, meskipun gue enggak suka sikap manjanya dia. Tapi seenggaknya, suaranya pasti akan begitu indah begitu kena sentuhan gue." ucap Andrew dengan nada mengancam, yang kemudian pergi meninggalkan Rayyan yang masih berdiri mematung di tengah lapangan basket.
----
Mata Rayyan mengerjap dan langsung mendongak menatap Eowyn yang telah berdiri dihadapannya. Rayyan berdiri, lalu menghela nafasnya untuk mengatur emosinya.
"Abang lakuin ini semua karena abang enggak mau terjadi apa-apa sama kamu, terlebih karena Andrew. Abang enggak akan biarkan itu terjadi, karena itulah kamu harus nurut sama omongan abang." Rayyan berucap lirih, matanya terlihat berkaca-kaca. Ancaman Andrew masih begitu menghantuinya meskipun telah terjadi bertahun-tahun lamanya.
"Maaf, Bang. Lain kali aku akan lebih berhati-hati." jawab Eowyn sembari memeluk abangnya.
Meskipun ia merasa abangnya terlalu berlebihan, tapi ia merasa bersyukur karena memiliki saudara laki-laki yang selalu siap sedia melindunginya.
***
Zahra melangkahkan kakinya menuju ruangan Rayyan bersama Meta. Untuk pertama kalinya ia mengenakan rok span selutut saat bekerja. Selama ini, ia terlalu nyaman mengenakan celana jins. Berbeda dengan Eowyn yang lebih girly dengan seringnya memakai dress.
"Jadi kamu temannya nona Eowyn?" tanya Meta dengan senyuman ramah.
"Iya, betul."
__ADS_1
"Nantinya kita akan bekerja sama, meskipun usiaku jauh diatasmu, tapi aku mohon panggil aku dengan sebutan 'Kak' ya. Aku enggak mau terlihat tua hehehehe...."
"Ahahahaha... baiklah, dengan senang hati Kak Meta."
"Tunggu disini sebentar, aku akan masuk untuk memberitahu pak Rayyan." ucap Meta yang kemudian masuk ke dalam ruangan Rayyan.
Setelah beberapa saat menunggu, Meta akhirnya keluar dan mempersilahkan Zahra untuk masuk ke dalam ruangan, dan langsung menangkap sosok pria tampan yang ia yakini sebagai kakak temannya itu bersama seorang pria paruh baya yang sedang berdiskusi berhadapan di sofa. Sejenak, mata Zahra terpaku memandangi sosok Rayyan yang begitu menawan baginya.
"Eowyn, benar-benar beruntung hidupnya karena selalu dikelilingi pria-pria tampan." gumamnya dalam hati.
"Selamat pagi, Pak." sap Zahra setelah berhasil menguasai dirinya.
Rayyan melirik sebentar ke arahnya, kemudian matanya kembali fokus pada dokumen yang tengah dipelajarinya.
"Kamu Zahra, temannnya Eowyn?" tanya Rayyan.
"Benar, Pak."
"Kamu udah siap mulai kerja hari ini kan?"
Zahra mengangguk sambil tersenyum.
"Pak Hendra yang akan membantumu mempelajari hal-hal yang harus kamu kerjakan. Aku akan lihat kinerja kamu sampai kamu wisuda nanti. Jika kinerjamu bagus, aku bisa berikan kontrak pengangkatan sebagai pegawai tetap. Untuk hal lain yang ingin kamu tanyakan, kamu bisa tanya itu ke pak Hendra atau Meta."
"Baik, Pak."
"Mari ikut saya ke ruangan sebelah." ucap pak Hendra sembari membawa beberapa map dokumen dan berjalan mendahului Zahra.
Setelah membungkukkan badan pada Rayyan, Zahra bergegas mengikuti langkah pak Hendra yang telah lebih dulu meninggalkan ruangan Rayyan.
Dunia kerja yang sesungguhnya akan segera dimulai. Meskipun ia harus melewati masa uji coba selama dua bulan ke depan, tapi Zahra tidak mempermasalahkannya. Ini lebih baik daripada harus di rumah dan tidak mengerjakan apa-apa.
***
*Masih pada puasa kan?
Semoga puasanya lancar dan sehat selalu ya. Jangan lupa untuk mampir ke novelku yang lain, ada Cupcake's Love dan Lean On Me. Monggo yang mau likes, comment dan bagi vote-nya, disarankan banget ya ehehehehe....
__ADS_1
Terima kasih* 😊😘