MENIKAH

MENIKAH
S2 - 'Pemandangan'


__ADS_3

Happy reading 😊


***


Setelah selesai makan siang di restoran cepat saji, Rafa meminta turun di sebuah mall yang mereka lewati. Rafa memang berniat untuk tidak ikut sampai ke kantor abangnya, karena ingin menemani Alita berjalan-jalan disana.


Rafa berlari kecil menuju sebuah outlet pernak-pernik, tempat yang tadi diberitahukan oleh kekasihnya itu. Meskipun sempat ragu untuk masuk ke dalam, namun akhirnya Rafa masuk juga demi Alita. Mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru toko tersebut untuk mencari keberadaan Alita, Rafa justru menarik perhatian beberapa gadis muda berseragam sekolah yang terlihat begitu terpesona dengannya.


Rafa menghela nafasnya. Jika dulu ia akan dengan sangat senang hati meladeni hal-hal seperti itu, kini tidak lagi. Ia hanya memfokuskan dirinya untuk Alita, tidak akan ada gadis lainnya lagi. Buru-buru Rafa melangkahkan kakinya, menghampiri Alita yang nampak sedang fokus memilih warna cat kuku.


"Serius amat." ucapnya sambil mengusap rambut Alita.


"Iiihhh... ngagetin aja deh." Alita menyenggolkan sikunya ke pinggan Rafa. "Cepet amat sampainya?"


"Iya, tadi pas kamu balas chat udah deket-deket sini. Kebetulan banget bisa menghindar segera dari abang."


"Emangnya kamu bikin kesalahan apa sama abang kamu?" tanya Alita sambil.terus berfokus pada botol-botol cat kuku di depannya.


"Hahahaha... enggak, tadi cuma aku isengin aja." jawab Rafa sambil cengengesan. "Yang ini warnanya bagus, kak Eowyn pernah pake warna yang kayak gini." ucap Rafa sambil menunjuk botol cat kuku yang dipegang ditangan kiri Alita.


"Aku belum pernah coba, tapi warnanya bagus sih. Yaudah, karena ini pilihan kamu jadi aku beli." Alita melemparkan sebuah senyuman manisnya kepada Rafa.


"Mau beli apa lagi?" Rafa mengekori Alita berpindah ke rak di seberangnya.


"Hmm... banyak. Tiba-tiba aja aku pengen beli banyak aksesoris gitu. Jepit rambut sama bando mungkin."


"Dalam rangka apaan?" Rafa sedikit bingung dengan jawaban Alita, karena tidak biasanya kekasihnya ini ingin berpenampilan dengan memakai aksesoris. Sedari awal mengenal Alita, gadis itu selalu menggerai rambut sebahu andalannya tanpa aksesoris apapun. Dan sekarang dia ingin memakai bando dan jepit rambut?


"Biar keliatan lucu, jadi kamu enggak tertarik sama para dedek gemes yang ngeliatin kamu di rak depan tadi."


Rafa sontak tertawa mendengar jawaban dari Alita. "Sayang, kalo dulu sebelum aku kenal kamu mungkin iya aku seneng banget digodain sama mereka. Tapi sekarang setelah ada kamu, cuma kamu sama mama yang selalu bikin aku jatuh hati."

__ADS_1


"Bisaan aja kalo ngomong." Alita melayangkan sebuah cubitan ke perut Rafa. "Kenapa kak Eowyn enggak? Bukannya hubungan kalian deket banget."


Rafa menggelengkan kepalanya sambil ikutan sibuk memilih jepit rambut di rak depannya. "Karena mama adalah cinta pertamaku dari aku lahir sampai kapan pun. Katanya cinta pertama kan sulit dilupakan kan? Hehehehe."


"Aku penasaran kamu belajar ngomong manis gitu dimana." Alita menggelengkan kepalanya sambil tersenyum lebar.


***


Rayyan dan Zahra baru saja tiba di kantor. Setelah Rafa meminta untuk turun di depan mall tadi, keduanya hanya terdiam disepanjang sisa perjalanan. Entah apa yang sedang dipikirkan Zahra sekarang, yang jelas Rayyan masih memikirkan omongan Rafa tadi perihal lelaki yang mengobrol dengan Zahra di restoran cepat saji.


Rayyan ingin menanyakannya, namun tidak memiliki ide kalimat pembuka untuk mengutarakannya. Tidak mungkin Rayyan langsung menyebut nama lelaki itu dan melemparkan tuduhan seperti yang Rafa katakan tadi. Bisa-bisa Zahra semakin mendiamkannya.


"Selamat siang, Pak. Baru saja Nona Nadine datang dan sekarang sedang menunggu di dalam." ucap bu Meta begitu Rayyan dan Zahra berjalan mendekat ke mejanya.


"Oke, terima kasih." Rayyan melangkahkan kakinya beberapa langkah, lalu berhenti dan menoleh ke arah Zahra.


"Kamu bisa ikut ke dalam, Zah. Nadine kesini untuk ngebahas proyek kerja sama kita dengan papanya yang di Bali."


"Aku bawain brownies." Nadine menunjukkan sebuah paper bag polos berwarna cokelat yang sepertinya berisi brownies itu. "Kamu masih suka brownies kan? Makanya aku sengaja buatin ini untuk kamu tadi pagi saat papa nyuruh aku untuk datang ketemu kamu." Nadine tersenyum dengan lebar saat menunjukkan hasil karyanya.


Zahra yang masih berdiri di dekat sofa tempat Rayyan dan Nadine duduk sengaja mengintip brownies buatan Nadine itu. Lalu setelahnya, ia berusaha keras untuk menahan tawanya.


"Tahan, Zah. Yang sopan lo! Dia tamu penting loh. Itu brownies, Zah. Brownies! Bukan kue gambang yang kalo buat ngegetok kepala lo sakit." gumam Zahra dalam hati.


"Aku nyoba buat brownies yang fudgy kayak bikinan mama kamu, tapi ternyata aku salah perhitungan. Jadinya begini deh." imbuh Nadine sambil memotong kue yang ia pangku itu.


Rayyan tersenyum dengan canggung, lalu menerima potongan kue yang Nadine berikan untuknya. Dengan terpaksa, Rayyan menggigitnya dengan memasang ekspresi wajah yang biasa saja. Ia tahu akan seperti apa rasa kue ini, tapi ia harus menghargai Nadine yang telah bersusah payah membuatnya.


"Iya, teksturnya beda kayak kue buatan mama." kata Rayyan setelah menggigit kue itu.


"Aku akan mencoba membuatnya lain kali ya, pasti akan berhasil dan seenak buatan mamamu." ucap Nadine sambil menutup kotak brownies itu. Sepertinya Nadine sengaja melakukannya, karena tidak ingin membaginya dengan Zahra. Karena kue itu ia buat spesial untuk Rayyan.

__ADS_1


Nadine beranjak dari duduknya, lalu meletakkan kue itu di meja kerja Rayyan. "Aku letakkan disini ya, kamu bisa memakannya sambil kamu kerja nanti. Oke?"


Rayyan mengangguk sambil bersusah payah menelan gigitan kue terakhir itu, lalu menoleh ke arah Zahra yang berada dibelakangnya.


"Zah, tolong ambilin minum dong. Seret banget ini." ucap Rayyan sambil berbisik.


Zahra tidak mendengar dengan jelas apa yang Rayyan katakan, lalu ia memutuskan untuk maju selangkah dan membungkuk. Rayyan justru gelagapan, saat pandangan matanya mengarah pada garis baju Zahra dibagian dada yang sedikit terbuka mengarah padanya. Pemandangan gratis yang sangat disukai oleh semua kalangan pria, termasuk dirinya. Namun Rayyan segera bangkit dari duduknya dan mendekati Zahra.


"Jangan pernah lagi membungkuk kayak gitu lagi dihadapan orang lain." bisik Rayyan dengan nada mengancam.


"Kenapa, Pak? Saya... tadi kan enggak dengar Bapak ngomong apaan." Zahra berbalik berbisik kepada Rayyan.


"Pokoknya jangan! Dadamu kelihatan, Zah. Meskipun enggak sepenuhnya sih."


Meskipun diucapkan Rayyan dengan berbisik, perkataan itu sangat membuat Zahra menjadi malu dan refleks menatap Nadine dengan tatapan terkejut.


"Kalian... lagi ngomongin apa?" tanya Nadine yang penasaran melihat Rayyan dan Zahra saling berbisik.


"Eee... ini, pak Rayyan kan lagi... lagi suka minum jeruk nipis tuh. Jadi pak Rayyan tanya... buat ngasih itu ke kak Nadine. Makanya saya... kaget tadi hehehehe...." jawab Zahra dengan terbata.


Rayyan yang menoleh ke arah Nadine pun mau tak mau memamerkan senyum terpaksanya untuk mengiyakan alasan Zahra barusan.


"Boleh, aku mau coba. Tapi... kalo enggak habis jangan dipaksa ya." Nadine menjawab sambil kembali duduk disofa.


"Baiklah, akan saya siapkan dulu."


Sebelum Zahra pergi meninggalkan ruangan Rayyan, tangannya terlebih dulu dicekal oleh Rayyan.


"Awas kamu nanti ya!" ancam Rayyan sambil menyentil kening Zahra.


***

__ADS_1


Vote, like, comments-nya jangan lupa ya. Terima kasih udah mau sabar nungguin lanjutan ceritanya ehehehehe... 😘


__ADS_2