MENIKAH

MENIKAH
Salma


__ADS_3

"Dufan?" seru Salma saat mobil mereka memasuki tempat wisata itu.


Adit mengangguk, pandangannya masih terfokus mencari tempat parkir. "Kayaknya seru kalo kita naik wahana sambil gandengan, teriak dan ketawa bareng"


"Aku malah ga kepikiran mas Adit bakal ngajak aku kesini, padahal kemarin nyinggungnya ke kebun binatang hahahaha" jawab Salma sembari melepas seatbelt-nya.


"Kalo kamu mau nanti kita bisa sekalian kesana, Eco park atau Seaworld. Pokoknya hari ini kita akan kencan seharian" ucap Adit lalu mencondongkan tubuhnya ke Salma dan mengecup pipinya.


Keduanya keluar dari mobil, lalu berjalan dengan berdampingan dengan pertautan jari yang enggan terlepaskan.


"Mas, mau nyoba naik wahana yang itu ga?" tanya Salma sambil menunjuk salah satu wahana yang cukup ramai di depannya.


"Hah, kora-kora doang mah kecil Sal"


"Kita coba dari yang biasa dulu, baru ke yang ekstrim. Biar jantungnya enggak kaget hahahahaha"


"Tapi beneran kamu bisa kan? Ntar malah kejadian apa-apa"


"Emang mas ngarepin kejadian apa-apa? Trus kalo beneran terjadi, mas mau ngapain?"


"Nikah lagilah, aku kan masih muda hehehehe"


Salma menarik tangannya dari genggaman Adit. Tatapan wajahnya berubah menjadi sinis dan kedua tangannya mengepal. Adit membalikkan badannya, lalu menyadari situasi yang genting itu.


Ia berjalan beberapa langkah mendekati Salma, lalu meraih kedua telapak tangan Salma yang masih terkepal keras itu. Adit mencium kedua punggung tangan Salma, lalu ibu jarinya mengelus punggung tangan itu.


"Aku bercanda, sayang. Maaf... seharusnya aku ga ngomong kayak gitu. Tapi beneran, itu tadi cuma bercanda. Aku sama sekali enggak mau kehilangan kamu, Sal"


"Mas Adit sendiri kan yang bilang kalo omongan kita itu doa, nanti kalo dikabulin sama Allah gimana?"


Adit mengingat kembali pertengkaran mereka beberapa waktu yang lalu. Ia memang mengatakan hal itu pada Salma, malah dengan nada bicara yang kasar. Tentu hal itu masih sangat menyakitkan untuk Salma dan akan terus diingatnya sepanjang hidup.


"Iya Sal, aku... bener-bener minta maaf. Aku mohon jangan marah lagi ya, kita kan mau kencan seharian" rayu Adit.


"Jadi kalo kita ga kencan seharian, aku bebas mau marah gitu?"


Duh, memang susah menghadapi wanita yang sedang ngambek. Apapun yang Adit ucapkan pasti bisa Salma putar balikkan dengan sempurna dan membuatnya mati kutu.


"Enggak gitu, sayang. Maksudku..." Adit benar-benar kehilangan kata-katanya. Ia takut kata-kata yang nantinya keluar dari mulutnya malah akan semakin memicu pertengakaran mereka.


"Maaf, Sal. Aku bener-bener minta maaf, aku menyesalinya"

__ADS_1


Hanya itu kata yang akhirnya dipilih Adit untuk diucapkannya. Ia sudah pasrah, kalau pun nanti kencannya bakal gagal sebelum dimulai dan akhirnya kembali bertengkar dengan Salma.


Salma masih memandangi wajah suaminya yang sekarang tertunduk, merasa bersalah hingga tak berani menatap mata istrinya yang sedari tadi masih menatapnya. Tangan Adit masih menggenggan tangan Salma, ibu jarinya juga masih bergerak naik turun mengelus punggung tangannya.


"Hari ini, aku maafin. Tapi lain kali kalo mas Adit bercandaan kayak gitu lagi, aku langsung balik ke rumah mama. Lebih lama lagi dari yang kemarin"


"Jangan dong, Sal. Kamu tega nyiksa aku kayak gitu lagi?"


"Ya makanya kalo mau bercanda dipikir dulu, mas. Pake ngomong mau nikah lagi, jangan bilang sekarang lagi ngincer cewek lain!" jawab Salma sembari mencubit pinggang Adit.


Adit mengaduh kesakitan menerima serangan dadakan dari Salma itu. "Enggak sayang, demi Allah!"


"Awas aja kalo berani deket-deket cewek lain ya"


"Enggak sayaaaaang... Tapi, beneran dimaafin kan ini?"


Salma mengangguk. "Jangan diulangi lagi! Kalo diulangi lagi, enggak akan semudah ini maafinnya, mas"


"Aku janji!" seru Adit yang kemudian mengecup kening Salma.


"Iihh.. malu tau mas diliatin orang-orang"


"Ya kenapa, kan udah sah"


Adit dan Salma menikmati kencan seharian di taman wisata. Berjalan bergandengan tangan dan enaiki berbagai wahana dengan canda tawa yang tak pudar dari wajah keduanya, mengesampingkan panasnya sengatan panas matahari siang itu.


"Udah Sal, kamu kebanyakan minum dingin siang ini" ucap Adit yang menghentikan langkah Salma untuk membeli minuman dingin yang kesekian kalinya.


"Kan minumnya berdua sama mas Adit, lagian panas banget ini mas"


"Tapi tetep aja, kita bisa tepar ntar karena kebanyakan minum dingin. Kepalaku udah agak nyut-nyutan ini"


Tangan Salma terulur mengusap pelipis Adit. "Yaahhh, maaf mas. Kita udahan aja ya?"


Adit menggelengkan kepalanya. "Kalo kamu masih mau keliling gapapa, asal jangan minum dingin lagi"


"Kita pulang aja ya? Tapi mampir buat makan siang dulu, ini udah hampir jam 3 dan kita belum makan siang. Dari tadi malah nggelongong minum es mulu ehehehehe"


"Yakin mau udahan kencannya?"


"Kita bisa lakukan lagi kapan-kapan, mas"

__ADS_1


"Oke, kita balik sekarang ya. Mau makan seafood?"


"Pake ditanya hahahahaha" jawab Salma sambil terkekeh yang disambut dengan usakan rambutnya dari tangan Adit.


🎎🎎🎎🎎🎎


"Tumben lo ikutan ngumpul" ucap Arga saat Rama datang ke kafe tempat ia dan teman-teman SMAnya nongkrong.


"Hahahaha dulu kan gue ga disini, jadi gimana mau ikutan ngumpul?"


Arga tersenyum mendengar jawaban Rama.


"Gimana hubungan lo sama cewek kemarin? Salma bilang itu pacar lo"


Arga menggelengkan kepalanya. "Belum resmi"


"Terus mau diresmiin kapan?"


"Nunggu waktu yang tepat" jawab Arga lalu menyalakan rokoknya.


"Masih belum bisa move on dari Salma?"


Arga melirik sinis ke arah Rama. Sungguh ia tak berniat untuk menjawab pertanyaan Rama ini.


"Gue tau lo suka sama Salma dari SMA, aneh aja lo sama sekali ga bisa dapetin dia. Padahal hubungan kalian udah deket banget"


"Bukan urusan lo" jawab Arga sinis.


"Emang susah buat ngelupain Salma gitu aja, gue pun juga kesusahan. Dulu gue mundur karena beredar gosip lo pacaran sama Salma. Sakit hati banget gue, harus kalah sebelum maju perang. Jadi... gue bisa bayangin gimana perasaan lo"


"Jadi lo ikutan nongkrong cuma mau bahas masalah itu?"


"Slow, Ga. Gue cuma penasaran aja, gimana ceritanya Salma bisa secepat ini nikahnya. Dan parahnya, dia nikah bukan sama elo yang selama ini gue anggep sebagai pacarnya Salma"


"Lo bisa tanyain itu ke Salma"


Rama tergelak, dia menyambar bungkus rokok Arga dan menyalakan rokok yang diselipkan dibibirnya. "Lo tau sendiri dari dulu dia selalu ngehindarin gue. Kemarin gue ajakin makan soto aja dia sinis banget" Rama menghembuskan asap rokoknya ke atas, lalu menatap Arga yang menatapnya dengan pandangan tak suka. "Pasti Salma pacaran sama orang lain dan lo ga tau?"


Arga berdecak, ia menegakkan duduknya. Arga memalingkan pandangannya dengan terus menikmati rokoknya.


"Ayolah, gue tau Salma pinter nutupin perasaannya. Mungkin lo juga ga tau kalo Salma suka sama lo, lo juga terlalu cemen untuk ngakuin perasaan lo ke Salma. Dan karena lo ga nembak dia, makanya dia pacaran sama cowok lain. Tebakan gue bener kan?"

__ADS_1


"Kalo lo tau jawabannya, ngapain lo sibuk jadi wartawan dari tadi. Banyak bacot lo!" ucap Arga sembari mematikan rokoknya dan beranjak dari duduknya.


"Gue duluan ya, ada urusan mendadak" ucap Arga pada teman-temannya yang lain tanpa mempedulikan Rama.


__ADS_2