
Waktu memang terasa begitu singkat jika kita begitu menikmatinya. Hari ini, adalah hari terakhir Salma bekerja di sekolah milik paman Arga itu. Sekolah yang menjadi tempat mengajarnya selama 20 bulan ini. Salma mengadakan perpisahan kecil-kecilan di sekolah, ia memesan makanan catering untjk makan siang guru dan staf sekolah. Sekalian untuk melepas lelah setelah tahun ajaran ini selesai.
Nisa dan Arga mengantar Salma hingga sampai ditempat mobil Salma terparkir, dan Asep telah menunggunya disana.
"Kalian berdua yang akur, jangan gampang ngambekan satu sama lain" ucap Salma.
"Lo ngomongin diri lo sendiri?" ketus Arga.
"Dasar!" jawab Salma sambil melayangkan pukulan pada lengan Arga.
"Sehat-sehat ya, Sal. Jangan lupa kabarin kita kalo kamu udah lahiran" ucap Nisa lalu memeluk Salma.
"Kalian juga jangan lupa ngabarin gue kalo udah mau lamaran atau nikah"
"Emang lo pasti bisa dateng?" canda Arga.
Salma melirik Arga dengan tajam. "Awas kalo ntar lo kangen godain gue ya" ancam Salma.
Arga tertawa, lalu mendekat dan memeluk Salma sebentar. "Bilangin ke suami lo, tugas gue ngawasin lo di sekolah udah kelar. Jadi kalo lo muntah-muntah di rumah, komplain aja ke Asep hahahaha"
"Kok jadi saya, mas?" tanya Asep kebingungan.
"Ga usah didengerin, Sep. Orang gila ini mah" jawab Salma sambil membuka pintu mobil. "Gue balik duluan ya, jangan pada kangen" sambungnya.
"Yang ada aku kangen ditendangin sama anak kamu" ucap Nisa.
"Makannya dikurangin, biar lo ga kayak buntelan lepet gitu"
"Berisik lo ah, suami gue aja demen kok" jawab Salma sambil menjulurkan lidahnya.
Arga membantu menutup pintu mobil, lalu keduanya melambaikan tangan pada Salma saat mobilnya bergerak meninggalkan halaman sekolah.
"Bakalan kangen sama bumil cantik satu itu deh" gumam Nisa.
"Baru aja dia pergi, masa udah kangen aja sih Nis"
"Ya kan aku sering bareng-bareng sama dia"
"Ya kan aku juga, tapi aku biasa aja"
"Au ah!" Nisa berjalan meninggalkan Arga.
"Kalo habis aku anterin balik gitu, kangen juga ga?"
"Enggak!" ketus Nisa.
"Kok gitu? Masa sama Salma kangen, sama aku enggak"
"Kamu mah ngomong doang di whatsapp bilang kangen, pas ketemu biasa aja. Nyebelin"
"Ya kan kalo udah ketemu, kangennya ilang"
Nisa menghentikan langkahnya, lalu berbalik menatap Arga yang berada dibelakangnya. "Kalo kangen ya dipeluk kek atau dicium gitu. Ini aku dielus-elus doang kepalanya, emangnya aku guguk" ucapnya lalu pergi meninggalkan Arga.
__ADS_1
"Laahhh... mancing dia" gumam Arga sambil menahan tawanya.
🎎
"Capek?" tanya Adit yang sedang mengusap-usap punggung Salma.
Akhir-akhir ini, Adit sering melakukannya karena Salma sering mengeluh pinggangnya sakit. Mungkin karena efek kandungannya yang kian membesar.
"Enggak, kan tadi aku setengah hari doang mas" Salma memegang tangan Adit, menghentikan kegiatannya lalu Salma mendudukkan tubuhnya bersandar headboard kasur.
Seperti disetel otomatis, Adit langsung saja merebahkan tubuhnya dipangkuan Salma, menghadap perut istrinya yang telah membesar, mengusap dan menciuminya.
"Mas... pengen kue pancong"
"Hah?" Adit mendongakkan kepalanya. "Emang jam segini ada yang jual?"
"Ya ga tau, mas"
"Pesen online aja ya, mau ga? Enggak harus papa yang nyari kan, nak?" tanyanya lalu mencium perut Salma.
Adit segera meraih ponselnya, mengetikkan kata kunci pada kolom pencarian.
"Ada nih, Sal. Tapi agak jauh, mau?"
Salma mengangguk. "Mas Adit pesenin ya, aku mau ke kamar mandi dulu"
"Oke" jawab Adit singkat sambil terfokus memesan makanan secara online itu.
"Hati-hati, sayang" Adit menyusul Salma dan menuntunnya menuruni anak tangga. "Kenapa ikutan turun?" tanyanya.
"Mau makan dibawah aja, bareng bu Sari sama Asep"
"Mau duduk dimana?"
"Sofa aja mas, mau selonjoran sekalian nonton TV"
Sambil menunggu pesanannya datang, Adit dan Salma bercengkrama sambil menonton TV. Bu Sari telah membuatkan teh manis sebagai teman makan kue pancongnya nanti.
Kemudian Asep masuk ke dalam rumah dengan membawa kantong plastik dari makanan yang dipesan Adit.
"Mau dipindah dipiring, mbak?" tanya bu Sari.
"Ga usah, bu. Biar gitu aja"
Salma menerima uluran makanan yang dibungkus styrofoam itu dan membukanya.
"Kok kayak gini, mas?" seru Salma begitu membuka wadah makanan yang diterimanya.
"Emang kenapa? Salah ya?" tanya Adit yang mulai nampak panik. Begitu pula dengan bu Sari dan Asep.
"Mas Adit bener pesen kue pancong? Ini mah pukis, mas"
"Eh? Aku beneran pesen kue pancong, sayang" Adit mulai panik, lalu mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan riwayat pemesanannya kepada Salma.
__ADS_1
"Iihhh ini pukis, mas. Kue pancong mah ga kayak gini"
"Tapi tulisannya kue pancong, Sal. Liat aja nih"
"Eeeee... beda versi, mas. Setau saya emang ada dua jenis, yang ini kue pancong terigu, emang kayak pukis. Mungkin... yang dipengen mbak Salma yang kelapa, yang warnanya putih" ucap bu Sari.
"Yaaahhh... mana saya tau, bu. Kiraih sama kayak yang dipengenin Salma" Adit mulai lesu. Pikirannya langsung berkecamuk, memikirkan bagaimana cara merayu Salma yang bakal ngambek ini.
Dan entah mengapa mata Salma langsung berkaca-kaca, air matanya lolos begitu saja. Sedari tadi telah membayangkan memakan kue pancong yang sangat diinginkannya, tapi ternyata malah salah barang.
"Besok aja kita cari di pasar pagi ya, Sal. Kan banyak yang jual jajanan tuh, sekarang yang ini dimakan dulu, oke?"
"Enggak mau, orang pengennya makan kue pancong!"
"Ya tapi kan ini namanya juga kue pancong, Sal. Coba dimakan dulu ya, barangkali baby-nya mau yang ini"
Salma menggeleng dengan cepat. "Bedalah mas, aku maunya yang kelapa"
"Yaudah sabar dulu ya, besok kita cari deh ya sampai dapet. Oke?"
"Kalian aja yang makan, aku enggak mau" ucap Salma lalu beranjak menuju kamarnya.
"Bu, abisin aja ya sama Asep. Saya makan sebungkus aja ini yang udah dibuka Salma" Adit menenteng styrofoam makanan itu lalu berlari menyusul Salma.
Setelah berusaha keras membujuk istrinya yang terus saja diam dari tadi itu akhirnya membuahkan hasil. Salma akhirnya mau melirik dan terlihat menahan senyumnya saat Adit melontarka sebuah candaan kepadanya.
"Jadi mau makan ini kan?" tanya Adit dan dijawab dengan gelengan kepala oleh Salma.
"Mas Adit aja, aku ga pengen kue pancong yang kayak gini"
"Tapi udah ga ngambek kan?"
Salma kembali menggelengkan kepalanya. "Tapi belanja kebutuhan baby-nya harus besok ya, semuanya harus kebeli besok. Aku ga akan kuat kalo puasa nanti harus muter-muter buat belanja"
"Ya kan kamu ga puasa gapapa, Sal. Udah mau deket lahiran juga kan"
"Tapi masa iya aku makan disaat orang-orang sama mas Adit lagi puasa"
"Ya gapapalah, mereka juga bakal ngerti sama kondisi kamu"
"Jadi ga mau belanja kebutuhan baby besok nih?"
"Iya, Sal... besok kita belanja ya, biar kamar baby-nya cepet keisi barang-barang"
"Iya, makanya besok harus langsung kebeli semua. Minggu depan udah puasa, ga ada waktu lagi mas"
"Iya sayangkuuuuu" jawab Adit lalu mengecup perut Salma.
"Jadi yang dipanggil 'sayang' ya mana nih, aku atau baby-nya?" Salma mencebik.
Adit terlihat menahan tawa, anaknya belum lahir saja keduanya sudah saling cemburu.
"Iya, 'sayang' buat mamanya juga" ucap Adit dengan mengecup pipi Salma.
__ADS_1