MENIKAH

MENIKAH
S2 - 'Kita'


__ADS_3

Happy reading 😊


***


Ponsel Zahra berdering, menampilkan nama Rayyan disana. Zahra buru-buru mengangkat telponnya dan meninggalkan Rafa yang masih terduduk di ruang tamu.


"Hadeh... pada suka aja pake umpet-umpetan kayak gitu. Dikira main petak umpet?"


Zahra menaiki anak tangga dengan terburu-buru, karena Rayyan mengatakan ada tugas penting yang harus segera ditangani. Entah tugas apa yang dimaksud, namun Zahra begitu mudahnya mempercayai omongan Rayyan. Padahal ia tahu sendiri jika dari tadi bosnya itu sibuk main game.


Zahra menghela nafasnya saat kembali memasuki kamar Rayyan. Lelaki itu menelponnya, mengatakan ada hal penting yang harus dikerjakan. Tetapi nyatanya lelaki itu masih sibuk dengan gamenya.


"Tugas penting apa sih, Pak? Kirain Bapak ngecekin dokumen, taunya masih main game." Zahra menggerutu sambil duduk di sofa.


"Tolong pesen tiket untuk ke Bali minggu depan, Zah. Hari Selasa sampai Kamis, penerbangannya mau yang jam berapa terserah." lagi-lagi Rayyan berbicara tanpa menoleh ke arah Zahra.


"Perlu saya tanyain kak Nadine dia ambil penerbangan yang jam berapa, Pak?"


"Ngapain?" kali ini Rayyan menatap Zahra untuk beberapa saat dengan tatapan tidak suka.


"Ya barang kali mau barengan gitu berangkat sama pulangnya."


"Biarin aja dia sendiri, aku kan ada kamu."


"Jadi saya ikut, Pak?"


"Kalo kamu enggak ikut ngapain kamu repot-repot jadi personal assistant?"


"Kalo tugas pentingnya cuma buat pesen tiket, Bapak kan bisa ngomong ditelpon tadi. Enggak perlu saya capek-capek naik ke atas, capek tau Pak."


"Emang kamu dibawah sibuk apa? Paling ngeghibah artis kan sama bi Yati? Bi Yati kan suka nonton acara gosip."


"Enggak, saya ngobrol sama Rafa."


"Rafa?" lagi-lagi Rayyan menengok untuk beberapa saat. "Ngobrolin apaan?"


"Kenapa Bapak jadi pengen tau?"

__ADS_1


"Cuma tanya topik obrolan aja kamu curigain."


"Banyaklah Pak topik obrolannya."


"Kayak nyambung aja ngomong sama Rafa." ucapan Rayyan terdengar menyindir, belum senyum tipisnya yang terkesan sedang mencemooh Zahra.


Zahra berdecak kesal. Semakin lama ia bekerja dengan Rayyan malah bagaikan Tom and Jerry yang tak pernah akur ketika bertemu.


"Sebelum saya kenal Bapak, saya lebih dulu kenal Rafa. Lagian Rafa juga sering curhat sama saya?"


"Curhat? Sama kamu?" Zahra mengangguk saat Rayyan menanyakan dua hal itu.


"Udah kayak mamah Dedeh aja kamu jadi tempat curhat. Curhat dong, Zaaahhh...." goda Rayyan dan hal itu sukses membuat Zahra merasa tak bisa lagi menahan rasa kesalnya.


"Udah deh, Pak. Saya mau pulang aja. Gaji saya hari ini dipotong aja enggak apa-apa, saya ikhlas daripada disini." Zahra meraih tasnya.


Baru beberapa langkah berjalan, pergelangan tangan Zahra telah dicekal terlebih dulu. Rayyan bergerak dengan cepat, bahkan sampai Zahra tidak menyadari jika Rayyan telah berada di dekatnya.


"Iya-iya, sorry Zah. Aku kan cuma bercanda tadi hehehehe...." Rayyan tersenyum dengan canggung untuk mencairkan suasana.


"Aku udahan deh main gamenya, sekarang aku ngecek dokumen yang kamu bawain lagi deh ya. Oke?" Rayyan benar-benar seperti sedang merengek, mungkin benar kata Salma dan Rafa yang mengatakan jika Rayyan sedang cari perhatian dengan alasan sakitnya ini.


Tanpa menunggu lagi, Rayyan bergegas mematikan play stationnya. Melihat Zahra telah memilah beberapa dokumen, Rayyan langsung duduk di kursinya yang berada di sebelah Zahra.


"Udah, Zah. Kamu booking tiket pesawat sama hotel gih." Rayyan mengambil alih dokumen yang berada didepan Zahra.


"Saya tanya bu Meta dulu ya, Pak. Soalnya kan itu lokasi proyek baru dan jauh banget dari hotel milik keluarga Bapak. Jadi baiknya gimana."


"Enggak usah, kamu tinggal pesen aja. Cari aja hotel yang kamu seneng, anggap aja ini bukan kunjungan kerja tapi liburan kita."


"Kita?" Zahra mengernyitkan dahinya.


"Iya, 'kita'. Kan yang pergi ke Bali aku sama kamu, berarti 'kita' kan? Aku enggak salah pilih kosakata kan?"


Meskipun merasa canggung dengan pemakaian kata 'kita', akhirnya Zahra menganggukkan kepalanya. Bagi Zahra, kata 'kita' itu terlalu dalam maknanya. Apalagi saat Rayyan mengatakannya 'liburan kita', Zahra merasa itu sudah seperti kalimat romantis yang menyihirnya.


Melihat Zahra yang masih berdiri mematung di sebelahnya, Rayyan kembali mendongakkan kepalanya. Menatap wajah Zahra yang nampak sedang memikirkan suatu hal yang serius.

__ADS_1


"Aku enggak masalah Zah kita mau nginep dimana, enggak harus di hotel milik keluarga atau yang terdekat dengan lokasi proyek. Kalo kamu pengen kita nginep di villa gitu juga enggak masalah, jadi kamu tinggal cari aja hotelnya."


Duh, kata 'kita' lagi!


"I-iya, Pak. Saya mulai cari-cari hotelnya deh Pak."


"Sini aja, Zah." Rayyan beranjak dari duduknya, lalu bergegas mengambil kursi kecil yang biasa ia pakai saat memakai sepatu.


Rayyan meletakkan kursi itu di sebelah Zahra. Dengan gerakan cepat yang tanpa bisa diduga oleh Zahra, Rayyan telah merebut ponsel Zahra dan menyalahkan laptopnya.


"Pake laptop aja Zah biar kita bisa liat barengan." ucap Rayyan sambil mengetikkan password laptopnya. "Udah tuh, buruan cari."


"Apa... sebaiknya saya tanya kak Nadine dulu ya, Pak? Biar penerbangan sama hotelnya barengan?"


"Buat apa sih, Zah? Mau kita barengan juga enggak akan dapet diskon. Buruan deh pesen, aku juga mau liat pilihan hotelnya."


Zahra menengok menatap Rayyan saat perintah itu selesai diucapkan. Wajah Zahra langsung memerah, mendapati wajah Rayyan yang begitu dekat dengannya. Seolah enggan untuk berkedip, keduanya saling menatap satu sama lain.


Hembusan nafas Rayyan bahkan semakin terasa menerpa kulit wajah Zahra. Wajah Rayyan semakin mendekat, bahkan lengan Zahra telah merasakan dada Rayyan yang telah menempel disana. Degup jantungnya berdetak dengan kencang saat wajah Rayyan telah semakin dekat dengannya. Hingga tanpa sadar, Zahra menutup rapat kedua matanya.


"Bang, pinjem cas-an dong!" pintu kamar Rayyan tiba-tiba terbuka menampilkan Rafa disana, yang menangkap dengan jelas adegan mesra yang sepertinya tertunda karena kehadirannya.


Mengetahui dirinya akan langsung menjadi bulan-bulanan Rayyan, Rafa bergegas menarik handle pintu untuk menutup pintu kamar.


"Sorry, Bang." ucap Rafa sebelum pintu itu tertutup rapat.


Zahra telah membuka matanya, mengamati bagaimana ekspresi wajah Rayyan yang nampak menahan amarah serta ekspresi wajah ketakutan Rafa diambang pintu.


"Shit!" Rayyan mengumpat. Lalu meraih charger ponselnya dan beranjak dari duduknya untuk keluar mencari Rafa dan melampiaskan amarahnya.


Mengganggu saja!


***


*Eeaaa... gagal maning deh si abang! Susah banget mau mesra-mesraan aja. Makanya buruan dihalalin, Bang. Fans berat abang udah pada minta tuh abang buruan halalin neng Zahra. Uhuuyyy.... 😝😝


Votes, likes, comments-nya jangan lupa ya. Janjinya masih sama kok, kalo masuk 100 besar aja nanti dikasih crazy up hehehehe*....

__ADS_1


Sehat terus ya readers 😘


__ADS_2