
Happy reading 😊
***
"Terimakasih udah mau nyamperin kesini" ucap Rama begitu Adit tiba dimeja cafe tempat ia duduk. Tangannya terulur untuk mengajak Adit bersalaman, namun Adit tak menghiraukannya. Adit langsung saja duduk, segera merogoh kotak kalung dari saku jaketnya dan melemparnya dimeja ke arah Rama.
Rama memandangi kotak tersebut, lalu tersenyum kecut sambil melirik ke arah Adit.
"Gue ga mau istri gue nyimpen barang dari lo atau dari pria manapun. Apalagi lo dengan sengaja naruh surat cinta menggelikan dan ukiran nama yang begitu kecil dibelakangnya"
Rama tersenyum, lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.
"Tenang dulu, ini semua bisa gue jelasin"
"Gue ga butuh penjelasan apapun, gue kesini cuma mau balikin itu"
Adit yang mulai akan beranjak dari duduknya ditahan oleh Rama. "Kalem bro, ini semua salah gue. Jangan salahin Salma, gue yang paksa dia untuk nerima ini"
Adit kembali mendudukkan dirinya pada kursi sambil mengibaskan cekalan tangan Rama.
"Salma udah nolak, tapi gue paksa dia untuk mau nerima ini. Lo pasti tau kalo Salma ga pernah sekalipun pake kalung ini" Rama mengambil kotak kalung dan membukanya. "Dulu gue mau ngasih ini ke Salma, gue pengen nyatain perasaan gue ke dia. Tapi semuanya urung karena gue pikir dia pacaran sama Arga. Tapi nyatanya Arga pun hanya bisa memendam perasaannya ke Salma, sama seperti gue. Lo tentu kenal baik dengan Arga kan? Sejauh ini, mereka berdua tetep aja ga terpisahkan" imbuhnya sambil mengusap ukiran nama Salma pada kalung itu.
Adit melirik tajam ke arah Rama, nafasnya mulai memburu. Perasaannya benar-benar campur aduk. Rama kembali menutup kotak kalung itu dan mendorongnya ke arah Adit.
"Gue minta tolong kasih ijin Salma untuk nyimpen kalung ini. Cukup simpan aja, gue ga akan pernah paksa dia untuk pakai kalungnya"
Adit tersenyum sinis. "Lo pikir gue ga mampu beliin kalung untuk Salma?"
"Bukan itu maksud gue, gue cuma..."
Adit beranjak dari duduknya, lalu memasukkan kedua telapak tangannya pada saku jaket.
__ADS_1
"Mendingan lo nikah dan punya anak. Jika anak lo perempuan, gue ga keberatan lo namain anak lo dengan nama 'Salma'. Trus lo kasih kalung itu untuk anak lo" sinis Adit dan segera melangkahkan kakinya keluar cafe untuk kembali ke rumah.
🎎
Salma segera membuka pintu mobil dan berlari masuk ke dalam rumah.
"Ada apa mbak? Kenapa lari-lari?" tanya bu Sari ketika melihat Salma berlari masuk ke dalam rumah.
Salma tak menghiraukannya, ia segera berlari ke atas menuju kamarnya.
"Mas Adit" teriak Salma sesaat setelah membuka pintu kamarnya.
Dilihatnya box cokelat sudah tak ada lagi di dekat lemari. Salma mengecek laci dimeja riasnya, beberapa aksesoris telah tersusun rapi disana. Itu berarti Adit telah selesai membongkar isj box cokelat tersebut. Salma berjalan menuju kamar mandi dan mengetuknya.
"Mas Adit" panggilnya kembali.
Salma membuka pintu kamar mandi dan melongok ke dalam kamar mandi yang tak ada orang itu. Ia buru-buru berjalan keluar kamar, mencoba untuk mengecek ruang kerja Adit dan tempat berolahraganya. Hasilnya tetap sama, ia tak dapat menemukan Adit.
"Mas Adit" ucap Salma lirih dan masih membeku di depan pintu ruang kerja.
"Sini... kamu ga mau peluk aku?"
Salma melangkah, menghampiri Adit dan segera memeluknya. Adit mendekapnya dengan erat, menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Salma.
"Maaf mas..." Salma berucap lirih.
Adit hanya diam, lalu merenggangkan pelukannya dan menatap Salma sambil tersenyum. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Adit meraih tengkuk leher Salma dan mulai menciumnya. Ciuman yang dalam dan terkesan menuntut.
"Enggak lagi dapet kan?" tanya Adit sesaat setelah melepaskan pangutan bibirnya.
Salma menggeleng, lalu Adit meraih tangan Salma dan menggandengnya masuk ke dalam kamar. Membaringkan istrinya di ranjang, kembali menciuminya, dan melepas pakaian yang mereka kenakan. Ciuman yang kemudian turun ke area leher dan dada, serta meninggalkan beberapa jejak disana. Tak perlu waktu terlalu lama bagi keduanya untuk memulai pergumulan di sore hari itu, saling menjamah dan memuaskan satu sama lain.
__ADS_1
Adit melepaskan penyatuan mereka sesaat setelah pelepasan terakhirnya terjadi. Dia masih merasa diatas tubuh Salma, nafasnya masih blum beraturan. Dipandanginya Salma dan mengelap peluh dikedua pelipis Salma dengan ibu jarinya.
"Aku kembalikan kalung itu pada Rama. Dia ga berhak maksa kamu untuk menyimpannya" ucap Adit sambil mencoba mengatur nafasnya.
"Maaf mas, aku udah bohong ke mas Adit soal kalung itu"
Adit menggelengkan kepalanya. "Itu bukan salahmu. Terimakasih karena sedari awal kamu udah menolaknya dari Rama"
Salma terdiam, ia terlalu bingung untuk merangkai perkataannya.
"Rama udah jelasin semuanya. Dia yang maksa kamu untuk menyimpannya. Kamu ga keberatan kan kalo nanti anak ceweknya dia namanya kayak naman kamu?"
"Maksud mas Adit?"
"Tadi dia maksa biar kamu tetep nyimpen kalung itu, tapi aku tolak. Aku ga akan biarin kamu menyimpannya, terlebih dengan ukiran namanya dibelakang namamu serta surat cinta yang menggelikan itu"
Salma mengernyitkan dahinya. Ia benar-benar tidak mengerti maksud perkataan Adit.
"Dibelakang ukiran namamu, ada ukiran nama Rama yang cukup kecil. Lalu dibawah busanya ada sepucuk surat cinta. Aku tau kamu pasti belum melihatnya kan?"
Salma menggelengkan kepalanya.
"Good!" ucap Adit dengan mengecup sekilas bibir Salma. "Itu membuatku cemburu dan marah. Bisa-bisanya dia memberikan itu pada wanita yang telah beristri. Makanya aku bilang supaya dia cepet nikah. Dan jika anaknya perempuan nanti, berikan nama 'Salma' agar kalung itu bisa dipakai anaknya"
"Mas Adit ga marah sama aku?" tanya Salma dengan ragu.
"Enggak. Kecuali kalo aku pernah liat kamu memakainya, pasti aku akan marah"
"Tapi kan aku udah bohong soal kalung itu"
"Itu karena kamu ga punya pilihan lain ketika memutuskan untuk membawanya pulang dan menyimpannya"
__ADS_1