
Happy reading 😊
***
Hari ini, Rayyan mulai bekerja. Adit akan mulai menyerahkan perusahaan milik Papa Salma kepada Rayyan. Adit memang tidak akan langsung lepas tanggung jawab begitu saja, ia akan selalu memantau dan membantu Rayyan jika nantinya menghadapi masa sulit.
Sebagai anak sulung, tanggung jawab Rayyan begitu besar. Selain harus dapat melindungi adik-adiknya, terutama Eowyn, Rayyan juga harus menjadi role model bagi kedua adiknya. Meskipun dirinya sendiri tidak begitu yakin bahwa kedua adiknya akan meniru sikapnya, terutama Rafa yang jelas-jelas berbeda jauh dengan Rayyan.
"Hmm... gagahnya anak Mama." gumam Salma sembari membenarkan dasi yang telah terpasang di kemeja Rayyan.
"Iya dong, lihat dulu dong biangnya. Papa yang udah 55 tahun aja masih gagah begitu, gimana anaknya hehehehe...." jawab Rayyan dengan sombongnya.
"Buruan cari istri, biar ada yang bantuin siap-siap kalo mau kerja."
"Yeeee... Mama, baru juga Rayyan mau mulai kerja beneran. Udah disuruh nikah aja."
"Justru rejeki akan makin melimpah setelah kamu nikah, Rayyan."
"Tapi enggak sekarang juga kan, Ma. Calon aja belum ada, Rafa aja noh yang calonnya udah tersedia."
"Hahahaha... Rafa aja masih bingung mikirin uang jajan." jawab Salma sambil terkekeh. "Buruan turun terus sarapan, Mama mau ke kamar dulu ngecek Papa."
"Makasih, Ma." ucap Rayyan sembari mengecup pipi Salma sebelum sang Mama meninggalkan kamarnya.
Salma melangkah masuk ke kamarnya. Dan sesuai dugaannya, suaminya masih belum siap serta memasang wajah yang sedikit memberengut.
"Jadi aku dilupain nih karena Rayyan?" Adit memprotes Salma sembari mengancingkan kancing pada lengan kemejanya.
"Hahahaha... ini kan hari pertamanya Rayyan mulai kerja. Lagian biasanya juga mas Adit siap-siap sendiri." jawab Salma sembari memasangkan dasi.
__ADS_1
"Cuma mau protes aja."
"Eowyn bilang dia sama Zahra mau secepatnya bantuin di kantor, skripsi mereka udah mau kelar."
Adit mengangguk. "Semalam Eowyn udah bilang sama aku, dia bilang lebih cepat lebih baik. Seenggaknya pas liburan kuliah nanti dia udah dapet uang dari hasil kerjanya."
"Berarti dia ada semangat untuk bekerja, tinggal Rafa dong ya?"
Adit mengusap rambut Salma dengan lembut. "Dia pasti akan seperti Rayyan, Sal. Kau mendidik anak-anak dengan sangat hebat, Rafa hanya sedang asik main sekarang. Makanya kita harus mulai tegas sama dia."
🎎
Rayyan memulai hari pertama bekerjanya dengan baik. Setelah Adit mengenalkannya kepada para petinggi perusahaan bahwa mulai hari ini segala tugas san wewenang akan diambil alih olehnya, ia menjadi sangat sibuk sekarang.
Adit mengirimkan pak Hendra untuk sementara waktu agar membantu Rayyan beradaptasi dengan pekerjaannya. Banyak berkas yang harus Rayyan pelajari, yang tentu membutuhkan waktu karena kenyataan di dunia bekerja cukup berbeda dengan apa yang ia pelajari semasa kuliah.
"Saran saya, lebih baik Anda mulai mencari personal assistant untuk lebih memudahkan pekerjaan." ucap pak Hendra disela-sela makan siang.
"Apa sekertaris saja tidak cukup, Pak? Sudah ada Meta di depan."
Pak Hendra menggelengkan kepalanya. "Meta hanya mengurusi urusan pekerjaan secara umum, semua hal yang menyangkut perusahaan. Sedangkan personal assistant yang saya maksud akan lebih membantu Anda dalam mengatur jadwal pertemuan agar tidak tumpang tindih, bisa sebagai public relation juga, serta mengerjakan tugas administrasi lainnya. Seperti yang pak Adit lalukan dulu ketika merekrut saya, diusia yang tidak jauh berbeda dengan Anda. Masih muda dan pasti memiliki banyak kesibukan lainnya. Jadi dengan adanya PA ini, jadwal Anda akan aman dan tidak tumpang tindih."
"Kenapa tidak bisa saya percayakan pada Meta? Dia sekertaris saya disini, itu juga bisa jadi bagian dari tugasnya kan, Pak?"
"Benar, tetapi dengan adanya PA, pekerjaan Anda akan jauh lebih mudah. Karena tugas Meta hanya sebatas mengurusi pekerjaan disini, sementara PA bisa membantu Anda untuk mengatur jadwal yang bersifat pribadi."
Rayyan masih terdiam, ia nampak sedang mempertimbangkan saran dari pak Hendra.
"Anda tidak harus memutuskannya sekarang. Anda bisa coba selama seminggu ini dengan bergantung pada Meta. Saya tahu Meta bisa diandalkan, dia sudah bekerja disini hampir 10 tahun. Tapi tentunya dengan hadirnya seorang PA akan lebih memudahkan pekerjaan Anda dan juga Meta."
__ADS_1
"Apa... Papa sering minta Pak Hendra untuk menyusun jadwal pribadi?"
Pak Hendra nampak terkejut dengan pertanyaan Rayyan, namun dengan cepat pak Hendra tersenyum dan menjawabnya.
"Pak Adit tergolong orang yang pelupa, bahkan pesan dari sekertarisnya yang mengingatkan perihal rapat sering terlewatkan. Dengan direkrutnya saya sebagai PA pak Adit, yang selalu menempel padanya, segala urusan berjalan lancar. Bahkan ditengah kesibukannya bekerja, beliau dapat mempersiapkan honeymoon dengan baik dengan bantuan saya. Pak Adit cukup memberikan gambaran lokasi dan berapa lama beliau ingin stay disana, saya yang mengurus segala hal dari mulai tiket pesawat, booking hotel, bahkan hingga ke hadiah yang disiapkan untuk bu Salma. Jadi urusan kerjaan lancar, begitu juga dengan urusan pribadi."
Pak Hendra menjeda perkataannya, melihat respon Rayyan yang menyimak perkataannya dengan serius meskipun sambil menyuap makanan.
"PA juga bisa Anda andalkan saat Anda berhalangan untuk menemui klien. Baik di perusahaan maupun perjalanan bisnis ke luar kota." sambungnya.
"Berarti... dia harus paham betul tentang pekerjaan yang saya kerjakan ya?"
Pak Hendra mengangguk. "Itu sebabnya saya menyarankan Anda merekrut seorang PA sedini mungkin. Jika Anda mendapatkan minggu ini, tentu dia masih berada dalam bimbingan saya. Jadi Anda tidak perlu repot untuk mendidiknya mengenai pekerjaan."
"Baiklah, akan saya pertimbangkan Pak. Nanti... akan saya coba bicarakan dengan Papa."
🎎
"Maaf, mulai sekarang aku bawa motor. Yang kemarin... mobil abangku." jelas Rafa pada kekasihnya, Alita.
Siang ini, Rafa telah berjanji akan menjemput kekasihnya yang beda kampus untuk diantar pulang. Memang sejak Rayyan kuliah di luar negeri, mobilnya selalu dipakai Rayyan. Entah berapa mantan pacarnya yang telah merasakan diantar jemput dengan mobil Rayyan. Begitu pula dengan Alita, yang selama lima bulan ini sering diantar jemput Rafa dengan menggunakan mobil.
"Enggak masalah, emangnya aku bakal protes?" ucap Alita sembari menerima uluran helm dari Rafa.
"Aku... takut aja kamu enggak suka naik motor." jelas Rafa sambil membantu Alita mengaitkan kaitan helm.
Alita menggelengkan kepalanya. "Aku enggak masalah, malah... bisa lebih romantis kan karena aku bisa peluk kamu sepanjang perjalanan?" Alita berucap sembari naik ke atas motor sport milik Rafa dan bersiap untuk pulang.
Tangannya melingkar di perut Rafa, memeluk erat seolah takut akan jatuh saat dibonceng oleh Rafa. Senyuman lebar tersungging di bibir Rafa, tangannya mengusap punggung tangan sang kekasih yang berada di perutnya.
__ADS_1
"Mama... Papa... Rafa enggak masalah deh enggak dibeliin mobil!" serunya dalam hati.
"Pegangan yang kenceng. meskipun aku ngendarainnya pelan, jangan sekali-kali kamu lepas pelukan ini sebelum sampai di rumah." ucap Rafa yang sontak membuat Alita tertawa dan memukul pundaknya.