MENIKAH

MENIKAH
S2 - Rencana


__ADS_3

Happy reading 😊


***


"Udah, enggak usah ngebantah lagi. Aaaaakkkk...." Rayyan telah membuka mulutnya dan mau tidak mau Zahra menyuapinya.


"Pudingnya jadi lebih enak gara-gara kamu yang suapin"


Jika kemarin Rayyan harus bersusah payah menahan rasa saikitnya, hari ini giliran Zahra yang harus menahan emosinya. Zahra menghela nafasnya, mencoba meredam emosinya agar tidak keluar umpatan yang kini sedang disembunyikannya.


Suapan demi suapan puding telah dilewati dalam diam. Rayyan sibuk terfokus pada gamenya sedangkan Zahra sibuk mengumpat dalam hati.


"Zah, mau pudingnya lagi."


Mendengar perintah itu datang kembali, Zahra lalu menoleh ke arah Rayyan dan menatapnya dengan tajam.


"Bapak kelaperan?" tanya Zahra dengan begitu geram.


"Kemarin malem sama tadi pagi belum bisa makan banyak, Zah. Baru sekarang ngerasa laper. Tau sendiri kan kemarin lambungku melilit banget." Rayyan tak sedikit pun mengalihkan pandangannya dari layar televisi.


Zahra menggerutu dalam hati, lagi-lagi Rayyan menyinggung perihal sakit lambung dan langsung menyeruakkan rasa bersalahnya. Meskipun kesal, Zahra menuruti perintah Rayyan juga. Memotongkan puding kembali dan menyuapinya.


"Bapak tuh udah kayak anak kecil lagi susah makan tau enggak? Sekalinya mau makan pake dirayu dibolehin main game."


"Kamu menganggapku kayak gitu? Berarti aku imut banget dong ya sampai kamu bilang aku kayak anak kecil."


Zahra berdecak kesal. Selain menyebalkan, bosnya ini juga ternyata memiliki tingkat kepedean diatas rata-rata. Yah, seperti Rafa. Namanya juga kakak adik kan, pasti sifatnya enggak jauh beda kan?


Disuapan terakhir, Zahra sedikit menyentakkan gagang sendok sehingga membuat Rayyan mengaduh.


"Duuhhh... kamu bikin aku sariawan ya, Zah?" Rayyan menoleh kearah Zahra sambil memegangi bibirnya.


Namun Zahra tidak merespon, ia beranjak pergi dari kasur Rayyan menuju sofa yang tadi ia duduki. Lalu meraih ponselnya dan hendak berjalan keluar kamar.


"Mau kemana?" tanya Rayyan saat tangan Zahra telah meraih gagang pintu kamarnya.


"Ke bawah, Pak. Saya mau sama bi Yati aja."


"Kenapa?"


"Saya risih Pak di kamar Bapak berduaan kayak gini, lagipula-"


"Kayak baru pertama kali aja, bukannya pas di Bandung juga kita udah pernah di kamar berdua." Rayyan menyela, dan ucapannya terdengar menyindir Zahra yang mungkin saja lupa dengan kejadian di Bandung minggu lalu.

__ADS_1


"S-saya ngantuk Pak kalo harus duduk manis nemenin Bapak main game. Mending saya dibawah aja sama bi Yati."


"Terus kalo aku butuh bantuan kamu, gimana?"


"Bapak punya hape kan? Yaudah telpon saya aja, sama kayak di kantor kalo Bapak butuh saya telpon lewat intercom." tanpa menunggu jawaban dari Rayyan, Zahra bergegas keluar dari kamar.


Berada di kamar Rayyan membuatnya detak jantungnya berdebar lebih cepat. Apalagi saat Rayyan kembali mengingatkan kejadian saat di Bandung. Ahh, dia jadi teringat kala Rayyan mengecup keningnya dan mengajaknya berkencan. Tanpa sadar, Zahra memegangi keningnya sambil menuruni anak tangga.


"Kak Zahra sakit?" suara Rafa yang tiba-tiba muncul dari dapur membuat Zahra menghentikan langkahnya dianak tangga terakhir.


"Iiihhh... ngagetin aja lo, tiba-tiba muncul kayak setan."


"Mana ada setan yang gantengnya kayak aku." ucap Rafa dengan santai sambil mengekori Zahra.


"Bi Yati mana?"


Rafa mengendikkan bahunya. "Di kamar paling, lagi istirahat. Kak Zahra butuh sesuatu? Atau abang?"


"Enggak, cuma mau ngobrol aja sama bi Yati daripada nemenin abang kamu." Zahra menarik kursi makan dan duduk disana diikuti oleh Rafa.


"Eciieee... jadi kak Zahra kesini karena nemenin abang?"


"Gue kesini karena disini nganterin berkas ya!"


"Lahh... tadi bilangnya nemenin abang."


"Hahahaha... mau-mauan aja dikerjain abang. Itu orang kalo sakit minta diperhatiin, Kak. Ini pasti karena mama pergi arisan, makanya cari perhatiannya ke kakak."


Zahra mengernyitkan dahinya, mengingat kembali apa yang dikatakan Salma saat ia datang tadi. Sebegitu manjanyakah bosnya itu?


"Kalo ada yang mau ditanyain soal abang, ngomong aja kali Kak. Gue tau semuanya." ucap Rafa dengan bangganya sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dan bersedekap.


"Tanya apaan?"


"Udah, jujur aja sama gue. Barusan kak Zahra mikir kalo abang manja kan?"


Zahra mengerjapkan matanya saat perkataan Rafa sesuai dengan apa yang ia pikirkan.


"Abang emang gitu, Kak. Tapi kalo lagi sakit doang. Mungkin karena perannya sebagai abang jadi harus selalu keliatan kuat didepan gue sama Eowyn, tapi kalo sakit ya gitu. Kemarin aja sampai nangis guling-guling tuh di kasur, mama udah cerita belum?"


Zahra menganggukkan kepalanya, membenarkan apa yang diucapkan Rafa.


"Tapi... itu beneran abang lo sampai nangis guling-guling gitu?" tanya Zahra yang tak kuat lagi menahan rasa penasarannya.

__ADS_1


Rafa mengangguk dengan cepat. "Sayangnya enggak gue videoin karena hape gue dipake mama buat telpon dokter. Coba kalo ada, bisa punya senjata rahasia kita buat ngancem abang hehehehehe...."


"Dasar!" Zahra memukul lengan Rafa yang duduk di sebelahnya.


"Terus, mau aku kasih tau rahasia lagi enggak?"


"Apaan?"


Rafa mendekatakan tubuhnya pada Zahra, lalu mulai merendahkan suaranya.


"Pas di tempat makan kemarin, kakak kan ketemu temen kakak tuh. Abang mulai ngomel enggak jelas pas liat kakak ketawa sama itu cowok."


"N-ngomel kenapa?"


"Ngomelnya kayak orang cemburu, kebakaran jenggot. Abang nyuruh-nyuruh gue buat nyamperin kakak karena abang lagi laporan sama papa, ya tapi kan tangan gue udah kotor. Gue enggak maulah. Abang bilang itu cowok udah punya pacar, takut kalo kakak dimanfaatin doang. Cih, sebegitu posesifnya abang sama personal assistant-nya. Sampai kakak ketemu temenny sendiri aja dicemburuin."


"Emang... sebelumnya abang lo pernah ketemu temen gue?"


Rafa mengendikkan bahunya. "Gue rasa... abang suka sama lo, Kak."


Zahra langsung melirik tajam ke arah Rafa. "Jangan sembarangan kalo ngomong!"


"Sembarangan apa sih, Kak. Kakak lupa gimana sepak terjang gue soal percintaan? Apalagi gue cowok, dengan ngeliat sikap abang kayak gitu ke kakak mah gue yakin 100% kalo abang suka sama kakak."


Zahra terdiam. Pikirannya lagi-lagi melayang pada pernyataan Rayyan yang mengatakan jika ia telah menyukai dirinya sejak pertemuan pertama mereka.


"Kalo kakak mau buktiin omongan gue, gue ada ide. Mau enggak?"


"Apaan?"


Rafa langsung mendekatkan bibirnya ditelinga Zahra dan membisikkan rencananya. Zahra terdiam, nampak menimbang usul yang diberikan Rafa padanya.


"Gue enggak mau, Fa. Gue masih butuh kerjaan ini. Itu terlalu beresiko." akhirnya Zahra memilih menolak usulan Rafa.


"Yaelah, enggak sampai dipecat kali kak."


"Enggak-enggak, pokoknya gue enggak mau."


"Yaudah terserah, gue juga enggak masalah kok."


Ponsel Zahra berdering, menampilkan nama Rayyan disana. Zahra buru-buru mengangkat telponnya dan meninggalkan Rafa yang masih terduduk di ruang tamu.


"Hadeh... pada suka aja pake umpet-umpetan kayak gitu. Dikira main petak umpet?"

__ADS_1


***


Terima kasih banyak untuk vote-nya semalam. Luar biasa banget dan udah mau tembus ke 100 besar. Enggak apa-apa ya, mungkin emang belum waktunya daku untuk ngasih crazy up hehehehe....


__ADS_2