
Happy reading 😊
***
Rayyan bilang, ia ingin menghabiskan waktu honeymoon-nya hanya di dalam kamar. Tapi saat Zahra sudah merengek untuk berjalan-jalan, Rayyan bisa apa? Lelaki itu akhirnya menuruti kemauan istrinya untuk berjalan-jalan. Bahkan tadi justru Rayyan yang terlihat antuasias saat Zahra mengajaknya untuk berburu cinderamata siang tadi.
Sambil menunggu pesanan makan malam mereka diantarkan ke kamar, Rayyan dan Zahra memutuskan untuk menonton TV. Tapi sepertinya itu hanya rencana diawal saja, karena saat ini hanya Zahra yang sedang menikmati program televisi. Sementara Rayyan asik merebahkan tubuhnya sambil menenggelamkan kepalanya di dada istrinya, area yang kini menjadi salah satu favoritnya.
"Sayang, pulang dari honeymoon... boleh enggak aku ketemu temen-temen kuliah? Bareng Eowyn. Kebetulan ada teman kami yang mau ngadain baby shower gitu." tanya Zahra dengan ragu-ragu. Jemarinya sengaja membelai rambut Rayyan dengan lembut, berharap itu akan membuat Rayyan memberinya izin untuk datang ke acara temannya bersama Eowyn.
"Emang Eowyn enggak kerja?" masih dengan kepala yang terlihat nyaman didada Zahra dan tangan yang melingkar seolah memeluk pinggang Zahra, Rayyan berucap dengan nada sedikit malas.
"Eowyn bilang... dia mau ambil cuti hari itu. Dia... temen deket kami pas kuliah ddulu jadi... aku dan Eowyn pengen banget datang ke acaranya. Boleh ya? Lagian kan aku enggak ada kerjaan lagi." Zahra terlihat memanyunkan bibirnya, merasa putus asa karena Rayyan pasti akan mengatakan 'tidak'.
"Emang aku bilang enggak ngebolehin kamu?" Rayyan akhirnya mendongakkan kepalanya, menatap Zahra yang masih terlihat cemberut itu.
"Aku kan cuma tanya 'emang Eowyn enggak kerja?', itu bukan berarti aku ngelarang kamu kan?" dengan sengaja, Rayyan berucap sambil mencubit pipi Zahra dengan gemas.
"Jadj boleh nih?" kini raut wajah Zahra dengan cepat berganti menjadi raut wajah bahagia.
"Ya bolehlah. Kamu kalo mau pergi, pergi aja. Asal kamu bilang dulu sama aku, dan aku ngasih ijin ke kamu. Mau bawa temen main ke rumah boleh aja, asal jangan temen cowok. Pokoknya semuanya harus atas ijin dariku." Rayyan mengucapkannya dengan nada tegas. Sebelum akhirnya kembali menenggelamkan kepalanya di dada istrinya.
Zahra menghela nafasnya. Sebenarnya ia merasa terkekang, namun ia juga menyadari jika sekarang dirinya telah menjadi istri Rayyan. Jadi wajar jika apapun yang akan ia lakukan harus atas ijin dari Rayyan.
"Besok kita ke pantai ya, sayang? Hari ini kan enggak jadi liat sunset." Zahra kembali mengusap rambut Rayyan dengan lembut dan berucap dengan nada manja.
"Liat sunset kan dari balkon kamar kita juga bisa, ngapain harus keluar segala."
__ADS_1
"Ya kalo gitu ngapain kita harus jauh-jauh kesini kalo enggak kemana-mana?" Zahra benar-benar kesal sekarang. Bahkan ingin rasanya ia menjitak kepala Rayyan karena susah untuk diajak pergi kemana-mana untuk honeymoon ini.
"Ya kan tadi udah keluar, emangnya kamu enggak capek? Lagian kita disini kan seminggu, masih ada hari lainnya, sayang. Kamu enggak lupa kan tujuan kita kesini apa?"
"Au ah!" Zahra menggeser paksa tubuhnya, sehingga kepala Rayyan tak lagi bersandar ditubuhnya.
Bukan Rayyan namanya jika akan langsung membiarkan Zahra pergi, dengan gerakan yang tak kalah cepat Rayyan sudah menarik tubuh Zahra untuk kembali mendekat padanya dan ia kembali menyerukkan kepalanya ditempat favoritnya.
"iya deh, besok sore kita ke pantai. Berarti kita keluarnya ya?"
"Kok sore sih? Terus siangnya ngapain dong?" Zahra kembali memberengut kesal pada Rayyan.
"Ya tadi kamu bilangnya mau ke pantai liat sunset, itu berarti kita keluarnya sore, sayang." Rayyan kembali mencubit gemas pipi sang istri. "Lagian kalo siang tuh panas banget, Zah. Enakan juga di kamar, adem karena ada AC."
"Itu mah akal-akalan kamu doang! Ngamar mulu pikirannya."
Zahra tersenyum, mengenang kembali saat Rayyan memaksa untuk tinggal di kamar hotelnya kala itu. Zahra juga masih ingat betul bagaimana semua orang di kantor menggosipkan dirinya dan menilainya dengan sebelah mata.
Suara bel kamar berbunyi, Zahra dan Rayyan menoleh ke arah pintu kamar bersamaan.
"Kamu disini aja, biar aku yang buka pintunya." ucap Rayyan sambil beranjak dari posisinya.
***
Selesai dengan rutinitas perawatan kulit wajahnya sebelum tidur, mama Salma berjalan menuju sisi ranjang tempatnya tidur. Seperti biasa, papa Adit telah berada disana. Menyandarkan punggungnya disandaran ranjang sambil membaca sebuah buku.
"Buku baru?" tanya mama Salma sambil mendekatkan tubuhnya pada sang suami.
__ADS_1
Papa Adit melebarkan tangan kanannya dan membawa mama Salma masuk dalam pelukannya.
"Iya, ada rekan bisnis yang ngasih ini. Kebetulan dia dekat dan dia tahu kalo aku lagi nyari buku ini." papa Adit menutup buku itu dan menunjukkan sampul bukunya pada mama Salma. "Churchill: A Life oleh Martin Gilbert."
"Kamu tertarik dengan dunia politik sekarang?" mama Salma mengernyitkan dahinya sambil menatap wajah suaminya yang entah kenapa kini menyukai hal-hal yang berbau politik itu.
"Hahahaha... enggak, sayang. Aku cuma pengen baca aja." papa Adit meletakkan buku tersebut di nakas sebelah tempat tidurnya. "Aku udah tua, Sal. Dan politik itu terlalu berat. Aku malah pengen segera melimpahkan jabatan perusahaan ke Rayyan dan juga Rafa, jadi aku bisa duduk santai dan menikmati masa tua. Mungkin nanti sambil momong cucu."
"Rayyan dan Zahra baru menikah beberapa hari yang lalu, kita masih harus bersabar kalo mau segera momong cucu."
Keduanya tersenyum, sambil merebahkan tubuh mereka di kasur dan saling berhadapan dengan tangan yang memeluk satu sama lain.
"Aku enggak kebayang gimana rasanya punya cucu nanti. Kalo mau punya anak dulu, aku bisa bayangin gimana repotnya kita akan ngurus bayi newborn. Tapi kalo cucu? Aku enggak tau gimana rasanya, Sal."
"Hmmm...." mama Salma nampak berpikir sejenak. "Mungkin enggak akan beda jauh dengan kita saat akan punya Rayyan dulu, tapi bedanya kita enggak turun langsung dalam setiap pengasuhannya."
"Tapi ku rasa kamu terlalu muda untuk punya cucu, Sal." goda papa Adit sambil mengusapkan jemarinya dipipi mama Salma. "Kamu akan jadi hot grandma nantinya, bahkan sampai saat Rafa punya anak nanti."
"Hahahaha... usiaku udah hampir setengah abad, mas, tentu aja udah cocok jadi nenek." kini giliran mama Salma yang mengusapkan jemarinya dipipi papa Adit. "Kamu juga bakal jadi hot grandpa nantinya, sampai kita punya cucu banyak sekalipun. Bandingin aja sama temen-temen seusia mas Adit lainnya, badan mas Adit masih kekar, masih kuat gendong-gendong aku, bahkan masih tahan lama kalo diranjang." mama Salma setengah berbisik dengan nada menggoda diakhir kalimatnya. Tentu saja hal itu memancing gelak tawa keduanya.
"Sal... nanti kalo Rayyan sama Zahra udah punya anak, sekali-kali kita ajak anaknya ngemall berdua ya. Terus kalo ada yang tanya, iyain aja kalo itu anak kita. Kayaknya seru tuh!" papa Adit terlihat bersemangat dengan idenya tersebut.
"Boleh. Kita berdoa aja biar kita cepet bisa gendong cucu kita sendiri."
"Apa kita mau nambah anak sendiri aja ya, Sal? Biar Rafa kecewa dia bukan lagi jadi anak bungsu."
"Ngimpi!" mama Salma refleks memukulkan tangannya ke lengan papa Adit. "Enggak ada nambah-nambah anak lagi ya, mas. Malu tau sama temen-temen kita. Lagian aku juga udah enggak bisa."
__ADS_1
Dan malam pun berlalu dengan keasikan sejoli itu membicarakan bagaimana masa-masa awal mereka memiliki anak. Ditambah dengan cerita lainnya membesarkan ketiga anaknya yang kini telah dewasa semua.