MENIKAH

MENIKAH
Pengalaman


__ADS_3

"Baiklah, untuk laporan printilannya nanti biar ditanggapi pak Hendra" ucap Adit sambil merapikan berkasnya.


Tya hanya mengangguk, dengan pergerakan yang lambat ia membereskan berkas-berkasnya.


"Kamu sakit, Tya?" tanya Adit sambil melirik Tya sekilas.


Wanita yang memakai blouse, rok span hitam selutut dan stiletto berwarna hitam itu hanya menggeleng. Pandangannya tetap terfokus pada susunan berkasnya.


"Enggak biasanya kamu kayak gini, kamu ada masalah?"


Tya mendongak menatap Adit. "Sungguh kau mau mendengarkannya?"


"Kenapa enggak? Kamu butuh tambahan minum? Aku bisa minta tolong pak Hendra untuk mengambilkannya lagi"


Tya menggelengkan kepalanya. "Jangan bebani pak Hendra dengan perintah yang ga penting itu"


Adit terkekeh. "Bicaralah, siapa tau aku bisa membantumu"


"Ceh... enggak biasanya kamu peduli sama masalah orang kayak gini, Salma bener-bener mengubahmu"


"Hahahaha... bicaralah"


"Aku menghindari perjodohan, tapi papa mengancamku dengan segala caranya"


"Perjodohan?"


Tya mengangguk. "Kau beruntung enggak ngalamin perjodohan dalam hidupmu"


"Hahahaha... kau salah besar, Tya. Aku dan Salma bisa menikah karena sebuah perjodohan"


"Serius?"


Adit mengangguk. "Sama sepertimu, aku juga awalnya menolak. Terlebih saat mendengar bahwa wanita yang akan menikah denganku baru akan diwisuda, aku udah ga bisa bayangin bagaimana nantinya akan menjalani pernikahan dengannya. Tapi begitu ketemu, semuanya berubah"


"Kau jatuh cinta dengan wajah cantik Salma kan? Hahahahaha"


"Tentu saja. Aku langsung menyukai semua tentangnya" Adit tersenyum mengingat kejadian perjodohannya. "Enggak ada salahnya kamu terima perjodohan itu, siapa tau memang dia jodohmu"


"Gimana kalo ternyata enggak? Aku selalu parno jika nantinya dia akan menyiksaku, melakukan kekerasan dan sebagainya"

__ADS_1


"Jangan terlalu berpikiran seperti iitu pemikiranmu itu terlalu ekstrim hahahaha"


"Wajar, Dit. Kamu ga kenal bagaimana orang itu sebenarnya, tiba-tiba kamu harus nikah sama dia, menjalani sisa hidup bersamanya. Iya kalo dia akhirnya mau mencintai dan menerima, kalo enggak? Aku mau nikah karena kami salinh jatuh cinta, Dit. Bukan karena perjodohan. Menikah dengan pesta dan orang yang aku inginkan, jadi aku enggak akan menyesal menghabiskan banyak uang untuk menggelar pestanya"


"Budget nikah sama kehidupan pernikahanmu nanti itu enggak bisa dikaitkan, Tya. Yang terpenting dalam pernikahan adalah komitmen. Aku bisa ngomong kayak gini karena aku udah ngalamin hal ini. Aku dan Salma mengenal dalam waktu yang singkat sebelum akhirnya kita menikah, berjanji kepada Tuhan untuk mengasihi satu sama lain seumur hidup. Dari situ aku belajar, jatuh cinta aja ga cukup untuk modal kamu menikah"


"Tapi kamu jatuh cinta sama Salma" sela Tya degan cepat.


"Iya, makanya tadi aku bilang kalo jatuh cinta aja ga cukup. Semuanya butuh komitmen. Kalo kamu nikah cuma karena jatuh cinta, suatu hari nanti ketika pasanganmu lagi nyuekin kamu, kamu merasa enggak mendapatkan perasaan cinta yang biasa kamu dapatkan dari pasanganmu, lalu seseorang dari luar datang dan memberikan perasaan yang hilang darimu itu, kamu tau yang akan terjadi?"


"Selingkuh?" jawab Tya ragu-ragu.


Adit mengangguk. "Yep! Kamu bakal ngerasa jatuh cinta lagi, dengan orang yang berbeda. Orang yang memberikanmu perasaan seperti yang kamu dapat dari pasanganmu sebelumnya. Bahaya kalo kamu nikah cuma karena jatuh cinta"


Adit menjeda perkataannya, ia menegakkan posisi duduknya. "Ga ada salahnya kamu coba ketemu orangnya dulu. Setelahnya kamu putuskan"


"Aku butuh tempat untuk menyendiri, kalo di rumah papa mama bakalan berisik tiap liat aku" keluh Tya.


Adit beranjak dari duduknya, berjalan menuju tas kerjanya yang digantung dan mengeluarkan sebuah kartu. Ia menyodorkan kartu itu pada Tya.


"Kamu bisa memakainya beberapa hari, tapi jangan membuatnya berantakan, jangan memindahkan, mengganti perabot dan semuanya. Pokoknya cukup kau gunakan untuk istirahat aja"


"Aku enggak masalah, aku cuma ngebantu kamu untuk menjernihkan pikiran sebelum kamu mengambil tindakan bodoh"


Tya mengambil kartu yang disodorkan Adit. "Thanks, Dit"


"Never mind" ucap Adit sambil berjalan ke arah meja kerjanya untuk meletakkan berkasnya.


"Permisi pak, sebentar lagi rapat akan dimulai" ucap pak Hendra dari ambang pintu ruang kerja Adit.


"Oke, sebentar lagi saya ke ruangan"


Tya berdiri dengan menenteng tas dan map berkasnya. "Aku balik dulu, beberapa hari lagi akan aku kembalikan kartu ini padamu"


Adit mengangguk. "Jangan ambil tindakan yang bodoh"


Tya tersenyum dan mengangguk.


"Dan satu lagi, menikahlah dengan orang yang mau membangun cinta yang sama setiap harinya, dengan orang yang sama pula. Jangan cuma bergantung pada perasaan jatuh cinta"

__ADS_1


Tya terkekeh sambil mengacungkan jempol ke arah Adit. "Baiklah pak guru Adit, saya permisi dulu"


"Oke, hati-hati di jalan"


🎎


"Abis dari mana?" tanya Adit yang baru saja keluar kamar mandi sambil menggosok rambutnya dengan handuk.


Adit melihat Salma baru saja masuk ke dalam kamar. Padahal sebelumnya Salma sedang asik menonton TV sambil memainkan ponselnya.


"Abis nemuin bu Sari, mas. Aku minta dibikinin garang asem lagi hehehehe" jawab Salma sembari mendekati Adit dan mengambil alih handuknya untuk menggosok rambut Adit yang masih basah.


"Ayam atau ikan?"


"Ayam aja, kalo ikan katanya enaknya pake ikan bandeng. Banyak durinya"


Adit mengangguk. "Emang enak sih, seger. Nanti aku bilangin biar ngasih cabenya satu aja, ga kayak kemarin sebungkus bisa sampai empat cabe"


"Mas Adit kepedesan?"


"Enggak. Kan masih cabe gelondongan, cuma aku mules sendiri liat kamu ngunyah cabenya itu" Adit bergidik mengingatnya.


"Hahahaha... justru itu yang bikin garang asemnya makin enak, mas"


"Jangan makan makanan yang terlalu pedes, aku ga mau pencernaan kamu kenapa-napa. Kamu udah pernah kena typhus juga kan"


"Iya sayangkuuuuu..." Salma turun dari tempat tidur untuk menggantung handuk di kamar mandi. "Oiya mas, sabtu atau minggu kita makan di luar yuk. Aku pengen makan ikan bakar di restoran yang kita habis kencan di Dufan itu"


Adit mengangguk. "Enggak masalah, nanti kita bungkusin sekalian untuk bu Sari sama Asep. Biar bu Sari istirahat"


"Bu Sari sama Asep mau ijin, mas. Sabtu Minggu ini mereka mau balik ke kontrakan"


"Ohhh... kangen ya tinggal disana?"


Salma menggeleng. "Kemarin kita ngobrol bareng bertiga sambil makan mie ayam yang aku beli pas balik sekolah, aku bilang mending tinggal disini aja. Lumayan kan ga ngeluarin uang untuk bayar kontrakan yang ga ditempatin? Terlebih Asep juga pengen lanjut kuliah. Aku minta untuk bawa barang yang dibutuhin aja, sisanya bisa mereka tinggal atau dijual"


Adit mengangguk dengan senyuman lebar yang terukir dibibirnya. "You're the best, Sal" ucapnya sembari menarik Salma dalam pelukannya.


"Of course, cause I'm your wife" jawab Salma sambil membalas pelukan Adit dengan erat.

__ADS_1


__ADS_2