
Happy reading 😊
......................
Bisa dibilang semalam Eowyn tidak bisa tidur dengan nyenyak. Tentu saja karena dia tidur dengan ibu Zach. Percakapan mereka terhitung seru, bahkan tak jarang terdengar suara tawa dari keduanya. Eowyn tidak bisa tidur karena takut akan menimbulkan banyak gerakan dan menendang ibu Zach dengan tidak sengaja.
"Tidur aja, kamu keliatan ngantuk banget." Zach mengusap rambut Eowyn sebelum akhirnya menjalankan mobilnya, meninggalkan parkiran vila tempatnya menginap bersama keluarganya.
Eowyn menggelengkan kepalanya. "Aku enggak mau kamu nyetir sendirian dan enggak ada temennya ngobrol."
Zach tersenyum, tangannya kembali terulur untuk membelai rambut kekasihnya. "Its okay, sayang. Lagian ini kan juga masih di dalam kota. Jaraknya enggak begitu jauh."
" Aku bisa tidur nanti begitu sampai di rumah."
Zach mengecup punggung tangan Eowyn dan tidak melepaskan genggamannya, membuat Eowyn mengomel dan meminta Zach untuk fokus menyetir.
"Lagian kenapa sih semalem enggak bisa tidur? Tempatnya kurang nyaman ya?"
Eowyn menggelengkan kepala. Ia menghela nafasnya mengingat alasannya tidak tidur nyenyak semalam.
"Bukan. Aku justru nyaman banget disitu. Aku bisa tidur dimana aja asal ada bantal, tapi bukan itu masalahnya."
__ADS_1
"Terus karena apa? Kangen mama?"
"Bukaaaaannnn... tapi karena...." Eowyn menjeda kalimatnya, merasa malu untuk mengungkapkan alasannya.
Zach menoleh sebentar menatap Eowyn, lalu kembali terfokus pada jalanan di depannya.
"Aku takut pas tidur enggak sengaja nendang bunda, atau tanganku kena wajah bunda, dan juga... bunda liat aku ileran atau wajah jelekku saat bunda bangun tidur."
Zach tak kuasa menahan tawanya. Tawanya terdengar nyaring dimobil dan tentun saja membuat Eowyn kesal.
"Memangnya kenapa? Bukannya harusnya yang kamu takutin itu aku?"
"Maksudku, saat kita udah nikah nanti, aku akan selalu ada disamping kamu saat kamu akan bangun dan saat bangun tidur. Aku mungkin akan bangun lebih dulu dan ngeliat wajah kamu saat tidur, bagaimana gaya tidur kamu dan sebagainya. Tapi justru malah kamu takutnya sama bunda."
"Kamu kan cinta banget sama aku, pasti kamu akan terima aku apa adanya. Bahkan kamu pasti akan muji aku tetap cantik meskipun aku ileran sekalipun. Tapi bunda...." Eowyn kembali menghela nafasnya.
"Bunda mungkin akan jijik sama aku." sambung Eowyn dengan nada putus asa.
Zach kembali membelai rambut Eowyn. Sebenarnya Zach masih ingin tertawa dan mencubit dengan gemas pipi Eowyn, tapi dia menahannya.
"Enggak akan, sayang. Bunda enggak kayak gitu. Aku malah tidurnya ngorok, kata bunda bahkan aku sering ngelindur, tapi bunda biasa aja."
__ADS_1
"Kamu kan anaknya."
"Udahlah, kamu enggak usah mengkhawatirkan hal-hal kecil yang enggak penting kayak gitu." Zach mencoba menenangkan Eowyn. "Aku seneng banget semalem kamu sama bunda asik ngobrolnya. Aku denger dari luar, kalian banyak ketawanya."
"Kamu nguping ya?" Eowyn melotot ke arah Zach. Tentu saja ia takut Zach mendengar semua percakapan dirinya dengan ibu Zach, karena percakapan semalam membahas segala sesuatu tentang Zach.
"Ya mana kedengeran. Aku cuma denger suara ketawa kalian aja. Emang kalian ngomongin apaan?"
"Rahasialah."
"Ngomongin aku ya?" Zach menggelitik pinggang Eowyn agar mau buka suara.
"Iiihhh... aku bilang kan rahasia." Eowyn menyingkirkan tangan kiri Zach dari pinggangnya.
"Awas aja kalo kalian ngomongin aku, bakal aku cium kamu." ancaman Zach barusan sama sekali tidak membuat Eowyn takut. Eowyn justru tertawa dan menantang Zach.
"Cium aja, emang kenyataannya ngomongin kamu kok. Weekkk...." Eowyn menjulurkan lidahnya ke arah Zach.
Tanpa Eowyn duga, Zach menepikan mobilnya dan benar-benar menciumnya. Ciumannya tidak berlangsung lama, karena Zach segera melepaskan pagutannya beberapa saat setelah melancarkan serangannya.
"Terima kasih karena udah berusaha dekat dan sayang pada keluargaku."
__ADS_1